Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Can't Help Falling in Love with You


__ADS_3

Celline tersenyum manis sambil menatap Daniel. "Ya, aku tahu."


Itu adalah kebenaran. Daniel menyukainya dan dia tahu hal itu dengan cukup jelas. Tapi dia masih belum bisa membuat mereka bersama. Ada saja hal-hal yang membuatnya menggantungkan hubungan mereka. Lebih dari teman tapi bukan kekasih.


Apa dia terlalu kejam?


"Makasih," ucap Daniel lalu dia memberanikan diri untuk mencium kening Celline. "Jangan lupa minum obat lagi ya kalau panasnya belum turun."


Celline mengangguk mengerti. Lalu dia melihat kepergian Daniel dengan senyum yang tersungging. Seandainya matahari akan tetap bersinar atau jika bumi masih terus berputar, bisakah dia tetap menyimpannya?


Sebelumnya dia tidak pernah merasakannya. Jantung yang berdetak tidak normal atau pipi yang memerah hangat. Ini seperti cinta yang orang-orang katakan. Menjadi bahagia.


Namun semuanya memiliki resiko. Lalu apa yang terjadi jika dia tetap seperti ini?


***

__ADS_1


Daniel keluar dari tempat kost Celline dan menjalankan sepeda motornya. Hari ini dia bolos kuliah, namun dia tidak merasa menyesal. Ya, itu karena dia melakukannya dengan alasan 'untuk orang yang dia cintai'.


Dia terkekeh saat mengingat momen kebersamaan yang terjadi dengan Celline. Bibir merah itu dan bagaimana manisnya ... ah, jika dia terus mengingatnya mungkin pikirannya bisa gila.


Setelah beberapa menit, akhirnya dia sampai di depan kostnya sendiri. Dia memarkirkan motornya di halaman yang lumayan teduh. Namun ketika baru saja melepas helm, dia mendengar ada seseorang yang memanggilnya.


Daniel menoleh dan apa yang dia lihat hanya membuatnya mengerutkan kening. Dia tidak tahu kenapa Nancy bisa ada di sana, dan lihat, gadis itu melambai padanya. Benar-benar membuatnya merasa tidak senang.


"Dan!" seru Nancy yang berdiri di depan pintu sambil memegang paper bag berwarna putih.


"Ih kamu lama banget, sih," ucap Nancy dengan nada yang terkesan manja.


"Emang kenapa? Aku tadi nelpon kamu taunya Celline yang angkat. Kamu nggak ngapa-ngapain 'kan sama dia?" Nancy bertanya dengan intens, seolah-olah dia sedang menginterogasi pacarnya sendiri.


"Bukan urusanmu, Nan," jawab Daniel dengan tidak senang. Sejak kapan Nancy berperilaku seperti itu padanya? Dia hanya sebatas membantunya ke rumah sakit kemarin, tapi sepertinya gadis itu terlalu berpikir berlebihan.

__ADS_1


Nancy sedikit mengerutkan bibirnya, tapi dia segera membenarkan ekspresinya. "Ehm, maaf. Aku datang ke sini mau ngasih ini sebagai tanda ucapan terima kasih."


Dia menyerahkan paper bag di tangannya pada Daniel. Namun lelaki itu tidak bergeming dan hanya menatap tanpa ekspresi pada tangannya.


"Nan, kayaknya nggak perlu. Aku bantuin kamu ikhlas kok," ucap Daniel.


"Nggak papa, Dan. Kebetulan orang tuaku baru pulang dari Eropa, jadi anggep aja oleh-oleh." Nancy tetap berusaha untuk memberikan hadiah itu pada Daniel.


Daniel menatap Nancy dengan perasaan yang rumit. Dia tidak mau menerima hadiah dari orang yang terlalu asing untuknya. Dia membantu Nancy juga karena kemarin jalanan sedang sepi. Jika ada orang lain yang menolong gadis itu pasti dia tidak mau repot-repot melakukannya.


"Nan-"


"Kalau kamu nggak mau, aku janji nggak akan pulang dan tetep di sini aja sampe besok." Sebelum Daniel menyelesaikan kalimatnya, Nancy sudah memotong dengan ancamannya yang sudah terlalu pasaran.


Akhirnya Daniel hanya bisa mengembuskan napas kasar. "Oke. Aku terima ini, kamu boleh pulang sekarang."

__ADS_1


"Nanti dulu. Masa aku disuruh pulang gitu aja?" tanya Nancy dengan tidak senang.


Daniel merasa tidak berdaya menghadapi Nancy. Apakah gadis-gadis lain sama merepotkan seperti Nancy? Mungkin memang benar, hanya Celline yang bisa membuatnya nyaman.


__ADS_2