
Di sepanjang perjalanan Celline hanya diam. Dia tak mengatakan sepatah katapun pada Morvin kecuali jika lelaki itu bertanya padanya.
"Bukannya cowok tadi yang suka sering sama kamu ya Cell, pas di sekolah dulu?" tanya Morvin dibalas senyum kecut oleh Celline.
"Iya kak," jawab Celline lemah. Sebenarnya ia tak ingin membahas hal tersebut dengan Morvin.
Sudah beberapa hari ini ia bersusah payah untuk menghindar dari bayangan Daniel. Namun nampaknya usahanya selama beberapa hari itu sia-sia. Dengan munculnya Daniel di depannya membuat perasaan yang ia tata kembali hancur lagi.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Morvin, memandang wajah Celline dari samping. Ia merasa jika gadis itu mendadak berubah karena kejadian tadi.
Celline mengangguk. Dia tersenyum semampunya pada Morvin.
"Kamu tunggu di sini sebentar." Morvin meminta Celline untuk menunggunya di taman yang tak jauh dari petshop-nya.
Kemudian lelaki itu berlari dan mengambil motornya. Entah apa yang akan ia lakukan namun hal itu membuat Celline benar-benar merekahkan senyumnya.
"Yuk naik!" ajak Morvin ia menunjuk jok belakang motornya dengan matanya.
Tanpa bicara Celline langsung naik ke atas motornya. Dia tak ingin menyia-nyiakan niat baik dari Morvin.
__ADS_1
Morvin memberikannya sebuah jaket untuk dikenakan oleh Celline karena matahari sudah mulai terbenam dan hawa dingin mulai merambat.
"Aku mau ngajak kamu ke jembatan berbintang," ucap Morvin bangga. Sepertinya dia sudah pernah ke sana dengan seseorang yang spesial.
Namun Celline malah teringat lagi dengan Daniel. Bagaimana lelaki itu pernah menjanjikannya untuk mengajaknya ke jembatan berbintang.
Katanya di sana bagus kalau malam. Bisa melihat bintang jika cuaca sedang bagus. Karena terletak di atas bukit maka bawahnya akan terlihat lampu-lampu rumah penduduk yang akan mirip seperti bintang yang berwarna-warni.
Celline meneteskan air matanya. Namun dia tersenyum. Meskipun tak bisa ke sana bersama dengan Daniel namun dia dapat pergi ke bukit berbintang bersama Morvin.
"Cell," panggil Morvin lembut. Suaranya hampir menyatu dengan angin malam itu.
"Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, tapi aku gak tahu gimana ekspresi kamu nanti."
Celline diam dan mendengarkan ucapan dari Morvin baik-baik.
"Ngomong aja Kak." Celline mengeratkan tangannya pada pinggang Morvin ketika motor itu ditambah kecepatannya oleh pemiliknya.
"Nanti aja deh. Kalau udah sampe." Morvin tersenyum dan motor itu melaju dengan mulus melewati jalan yang menanjak menuju bukit.
__ADS_1
**
Celline dan Morvin sudah duduk di hamparan rumput hijau di sekitar bukit. Ada beberapa orang juga di sana. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan kekasih, kecuali Celline dan Morvin.
Celline memandang kagum bukit yang menampakkan bintang malam itu dengan jelas. Mood-nya kembali membaik saat menatap bintang yang berkelip seakan menggodanya.
Ia melupakan sejenak kuliahnya. Gadis itu ingin melepaskan penatnya di sana. Di sampingnya, ia melihat Morvin sama sepertinya. Menatap kagum pada bintang-bintang.
Celline kemudian teringat pada Morvin yang ingin mengatakan sesuatu hal padanya.
"Tadi mau ngomong apa Kak?" tanya Celline, Morvin sontak menoleh ke arah gadis itu.
Morvin tersenyum.
Celline menautkan kedua alisnya. Dia penasaran dengan Morvin. Ia ingin tahu bagaimana selama ini cinta pertamanya itu menjalani hidup.
"Aku duda Cell," lirih Morvin pelan. Ia membuang wajahnya begitu mengatakan hal itu pada Celline.
Nampak sekali jika ekspresi wajah Morvin mendadak menjadi serius. Ia tersenyum kelu. Ada hal yang tidak diketahui oleh Celline.
__ADS_1
Celline hanya diam. Mendengarkan lelaki itu menceritakan kisah pahitnya dengan mantan istrinya yang meninggalkannya demi pria lain.