Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Another Day


__ADS_3

Tangan Daniel kemudian membuka seat belt dan memeluk Celline dengan erat. Dia menangis semakin kencang saat Daniel merengkuh tubuh kecil itu dalam pelukannya. Pelukan yang selama ini Celline rindukan. Pelukan yang sudah menjadi milik orang lain. Daniel mencium keningnya dan mengusap bulir air matanya.


la melanjutkan perjalanan, namun tidak untuk mengantarkan undangan. la membawa Celline ke rumah baru yang dihadiahkan untuknya nanti. Rumah yang sangat besar dan mewah. Ada kursi ayunan di depannya.


Celline hanya mematung dan berdiri di halaman namun tangan Daniel menggandengnya menuju ke dalam rumah.


Celline mencium bau cat yang masih baru, dan melihat ada beberapa kursi yang sudah ada di sana. Wanita yang bernama lengkap Celline Diana itu mengedarkan pandangannya, dan melihat beberapa kamar dirumah itu. Dia tersenyum kelu.


"Kamarnya banyak," ucapnya singkat.


"Ayah Nancy ingin punya cucu banyak." Senyumnya langsung memudar dan duduk disebuah kursi yang masih dibungkus oleh plastik.


"Sekali ini saja." Daniel menyadarkan kepalanya dipangkuannya dan memejamkan matanya.


Celline mengusap keningnya lalu membelai rambut hitam Daniel.


''Aku pengen nikahnya sama kamu," ucapnya tangan Celline berhenti membelai namun tangan Daniel menangkapnya dan menyuruhnya untuk membelainya lagi.

__ADS_1


''Ada yang salah sama ucapanku?"


Celline mengatupkan bibirnya dan hanya diam. Daniel membuka matanya, pria itu kemudian bangun dan duduk disampingnya. Wajahnya mulai mendekati wajah Celline. Ia menatap wajahnya dalam-dalam, tangannya menarik punggungnya hingga tak ada jarak diantara mereka berdua.


Bibirnya mulai mencecap bibirnya dengan lembut, dan anehnya Celline tak bisa menolaknya. Dia hanya mengikuti permainan Daniel waktu itu. Lalu ia kemudian membuka satu persatu kancing baju miliknya, Celline langsung menahan tangannya.


"Jangan Dan," lirihnya.


"Kenapa?" Suaranya terdengar parau. "Sekali ini saja Cell." Daniel menenggelamkan wajahnya pada ceruk leherku.


Celline merasakan betapa putus asanya dia, wanita itu memeluknya erat. Dan dia menatapnya kembali. Celline mencium bibirnya, sebagai pertanda jika dia telah mengijinkan Daniel untuk mengambil keperawanannya.


***


Cintanya pada Daniel membuatnya menjadi bodoh.


"Maaf pak, ini kunci mobilnya." Daniel menyerahkan kunci mobil pada ayah Nancy dan membawa Celline keluar dari halaman rumah itu.

__ADS_1


Mereka berdua pulang dengan transportasi umum. Nancy hanya memandangi kami berdua dengan bingung dan sedih.


***


Hari bahagia akhirnya datang. Celline melirik gaun putih yang menempel di tubuh Nancy sangat cantik.


"Terima kasih sudah mau jadi pengiring pengantinku," ucapnya pada Celline, ia tersenyum miring pada temannya itu.


Nancy memutuskan tetap ingin menikah dengan Daniel. Dia tak ingin kehilangan pria yang sudah berpacaran dengannya tidak sebentar itu, meski Daniel sudah menjelaskan apa yang terjadi pada Celline dan dirinya di rumah barunya saat itu.


Celline hanya tersenyum.


"Dan menghilanglah dari hidupku dan Daniel nanti," ucapnya sinis.


Celline mengambilkannya bunga dan mengangguk pelan. Itu adalah perjanjiannya dengan Nancy, Daniel tak tahu jika ada perjanjian seperti itu. Mungkin jika mengetahuinya dia akan menolak pernikahan ini.


Ayah Nancy tak mau menatap wajah Celline lagi, itu adalah hal wajar dan Celline nampak bisa menerimanya. Dari kejauhan wanita itu melihat Daniel rapi dengan setelan jas hitamnya. la nampak sangat tampan di hari pernikahannya.

__ADS_1


Celline tersenyum pada Daniel lalu keluar dari gedung itu dan meninggalkan mereka berdua untuk memulai lembaran barunya.


"Selamat tinggal, Daniel," lirihnya tanpa menoleh ke belakang lagi.


__ADS_2