Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Bagas is Back


__ADS_3

Celline mendengarkan cerita Morvin dengan perhatian. Dia tidak menyangka ternyata kakak kelasnya itu sudah pernah mengalami kehidupan pernikahan. Lebih terkejutnya lagi ternyata statusnya sudah berganti menjadi duda.


Ini benar-benar di luar pemikirannya. Morvin masih muda dan terlihat fokus dengan karir. Siapa yang akan menduga kalau ternyata dia sudah mengalami masalah pelik tentang suami istri.


"Tapi ini udah lama, aku juga udah lupa." Morvin terkekeh mengakhiri obrolannya. Sepertinya dia terlalu berlebihan jika harus menceritakan semuanya lebih jauh.


"Pasti nggak mudah Kak," ucap Celline pelan.


"Em. Gimana? Kamu udah tenang? Aku liat kamu sedikit tertekan tadi," ucap Morvin dengan senyum yang mengembang.


"Ini udah lebih baik. Makasih ya, Kak. Em, tapi aku pengin pulang," ucap Celline yang dibalas dengan tatapan heran dari Morvin.


"Kamu nggak suka tempat ini? Atau nggak suka jalan sama aku?" tanya pria itu.


Celline buru-buru menggelengkan kepala dan tersenyum canggung. "Bukan begitu, Kak. Aku nggak nyaman soalnya abis keringetan."


Morvin terkekeh dengan jawaban Celline. Iya memang benar, mungkin dia kurang tepat mengajak Celline ke sini sekarang. Jika ada waktu lagi mungkin dia akan mengajaknya ke lain tempat.


"Ya udah, ayo pulang."


***

__ADS_1


Dalam waktu kurang lebih setengah jam, akhirnya Celline sampai di depan tempat kostnya. Perasaannya sekarang telah menjadi lebih baik berkat Morvin yang menghiburnya. Dia harus berterima kasih kepadanya.


"Mau mampir dulu nggak, Kak?" tanya Celline dengan ramah.


"Mungkin lain kali, Cell. Nggak enak udah malem juga," ucap Morvin menolak tawaran Celline. Mungkin jika ini masih siang dia akan mengobrol dengan gadis itu sedikit lebih lama.


Celline mengangguk mengerti. Dia tersenyum manis pada pria itu. "Ya udah. Ngomong-ngomong makasih ya, Kak."


Dia melihat Morvin yang terkekeh sambil menggelengkan kepala. Sebenarnya pria itu cukup menyenangkan dan sepertinya juga bukan tipe pria yang kurang ajar.


"Kalau gitu aku pulang dulu ya," ucap Morvin sambil mengacak rambut Celline.


Saat itu Celline mendadak ingat dengan orang lain. Biasanya Daniel yang akan memperlakukannya seperti ini, tapi sekarang ... tidak ada lagi hal seperti itu. Ya, dia harus ingat bahwa hubungannya dengan Daniel sudah tidak sama lagi.


Dia melambai dan menyaksikan kepergian Morvin. Setelah bayangan itu benar-benar menghilang dia berbalik pergi untuk masuk. Akan tetapi dia langsung dikagetkan dengan sosok lain yang muncul di hadapannya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Celline dengan wajah yang tidak senang. Orang yang paling dia benci kembali muncul, pasti tidak ada hal menyenangkan yang akan terjadi.


"Bodoh! Masih ngarepin Daniel?" Bagas berjalan mendekatinya dengan seringaian yang menggantung di bibir.


"Bukan urusanmu."

__ADS_1


"Itu urusanku karena ...." Kata-katanya terhenti tanpa dilanjutkan.


Hal itu membuat Celline mengerutkan kening tidak senang. Namun melihat Bagas yang semakin dekat dengannya membuat dia merasa tidak nyaman. Dia langsung melangkah mundur untuk menjauh darinya.


"Apa lagi yang kamu mau?"


Bagas terkekeh. Dia menarik tangan Celline dengan kasar dan membawanya ke sudut gelap.


"Lepasin!" Celline berontak mencoba untuk melepaskan diri dari cengkeraman Bagas. Namun pria itu tidak melepaskannya, sebaliknya mendorong tubuhnya dengan kasar ke dinding tembok.


Dia meringis kesakitan. Jika ada cahaya yang lebih terang mungkin dia bisa melihat tangannya yang memerah. Baru kali ini dia diperlakukan dengan kasar, hatinya menjadi sedikit takut.


"Cell, kamu mau kita ngulang lagi? Kita bisa jadi sepasang kekasih lagi kayak dulu," ucap Bagas tepat di telinganya.


Celline mendorong Bagas untuk menjauh. Tetap saja tenaganya masih kurang. Dagunya dicengkeram dengan kuat oleh pria itu.


"Kamu nggak mau?" Bagas tertawa dengan sinis. Gadis di depannya ini terlalu sulit untuk didapatkan. Sepertinya akan menyenangkan jika dia bisa menjatuhkannya.


Seringaian terbentuk di bibirnya, lalu dengan kasar dia menarik Celline mendekat. Mengecup bibir merah yang sudah lama tidak dia rasakan.


Celline membelalakkan matanya. Dia memberontak, memukul Bagas berkali-kali agar segera melepaskannya.

__ADS_1


"Kamu akan menjadi milikku, Celline."


__ADS_2