Berbagi Kekasih

Berbagi Kekasih
Rumor


__ADS_3

"Cell!" Teriak seseorang dari jauh.


Celline merasa akrab dengan suara itu dan langsung menoleh. Ternyata Desi yang memanggilnya. Gadis itu berlari ke arahnya sambil melambaikan tangan.


"Hah ... hah ...." Napas Desi tersengal ketika sudah sampai di hadapan Celline.


"Tumbenan kamu dateng agak telat," ucap Desi.


"Iya, tadi kesiangan. Ayo cepet masuk, nanti telat," ucap Celline sambil berlalu pergi.


Desi menyusulnya dari belakang. Dia adalah teman sekelas yang cukup akrab dengan Celline. Mungkin karena mereka tinggal terpisah jadi tidak selalu kelihatan bersama.


"Eh?" Desi menghentikan langkahnya dengan spontan. Matanya fokus pada layar ponsel di tangannya. Dia melihat berita yang sangat mengejutkan dari instatoon miliknya.


Celline menyadari bahwa dia hanya melangkah sendirian. Tidak ada suara langkah kaki yang mengikutinya. Dia langsung menoleh dan melihat Desi yang sedang berdiri dengan wajah terbengong.


"Des, cepetan!" serunya untuk menyadarkan Desi.


"Sebentar, Cell. Kamu udah tahu berita yang lagi booming belum?" tanya Desi setelah mendekat ke Celline.

__ADS_1


"Berita apa?"


Desi menatap Celline ragu-ragu. Sebenarnya saat dia tahu tentang hubungan antara Nancy dan Daniel dia sangat terkejut. Sepengetahuannya, orang yang dekat dengan Daniel adalah Celline, tapi kenapa pria itu menjalin hubungan dengan Nancy?


Seperti sekarang. Dia baru mendapat berita kalau Nancy akan menikah dengan Daniel. Bagaimana dia tidak terkejut?!


Selain itu, dia juga tahu kalau Celline dan Daniel pernah saling menyukai. Bagi Desi yang merupakan orang sensitif, tentu saja dia bisa membaca bagaimana perasaan seseorang hanya dari bagaimana mereka berinteraksi.


Oh, haruskah dia memberitahu Celline tentang hal ini?


"Kenapa malah bengong? Berita apa?" tanya Celline sekali lagi. Dia merasakan keraguan dari Desi dan hal itu justru membuatnya merasa lebih penasaran.


"Em, aku pikir aku harus ngasih tahu sekarang daripada ditunda nanti-nanti malah terlambat." Desi berkata dengan cepat namun pasti.


"Daniel sama Nancy mau menikah ...."


'Mau menikah ....'


'Daniel sama Nancy mau menikah ....'

__ADS_1


Kalimat itu terus menerus diputar di kepala Celline. Wajahnya hanya menunduk, menatap kosong pada kertas yang ada di hadapannya. Sekarang selera belajarnya menghilang. Dia ingin pulang. Dia tidak baik-baik saja.


Untungnya waktu memihak kepadanya. Ketika kelas selesai, dia bergegas keluar dari ruangan. Bahkan teriakan Desi tidak dia hiraukan. Ya, saat ini dia hanya ingin pulang.


Dalam perjalanan dia mendengar banyak gosip tentang pernikahan Daniel dan Nancy, tapi dia tetap tidak berhenti melangkah. Ya, dia sudah memutuskan di malam sebelumnya bahwa dia akan melupakan semua tentang Daniel.


Memangnya untuk apa dia membakar semua kenangan itu? Itu karena dia sudah memutuskan untuk berhenti. Ya, dia harus mengakhiri semuanya.


Ketika dia sampai di gerbang, ternyata Morvin ada di sana sedang mengamatinya. Pria itu melambai padanya.


Celline ragu, tapi dia masih tetap menghampirinya. "Kakak kenapa ke sini?"


"Mau main sama Boni?" Bukannya menjawab, Morvin malah melemparkan pertanyaan untuknya.


Mata Celline berbinar. Mendengar nama Boni membuat dia merasa moodnya sedikit membaik. Ya, kucing lucu itu belum dia temui lagi. Mungkin ini hal baik untuk melupakan masalah tentang pernikahan Daniel.


"Kakak kok bisa tahu kalau aku pulang jam segini?" tanya Celline yang tidak mengerti.


Sebenarnya dia masih memiliki kelas, tapi karena suasana hatinya tidak terlalu bagus akhirnya dia memutuskan untuk pulang. Dia tidak menyangka kalau Morvin ada di sana dan mengajaknya pergi. Tidak mungkin 'kan Morvin tau dia hendak membolos?

__ADS_1


Atau jangan bilang kalau ....


"Kakak nunggu dari pagi?"


__ADS_2