
Serangan ribuan monster laut mengarah menuju pulau cahaya. serangan beruntun dari monster membuat penghalang berguncang hebat dari dalam.
"Hahaha, hancurkan penghalang itu kalian semua!!" Hamel tersenyum.
...………………...
[Di dalam Pohon Suci]
Guncangan hebat membuat seisi pulau bergetar.
"Guncangan apa ini?..... jangan-jangan ada yang menyerang tempat ini?" Pikir Sorithisa.
Saat Sorithisa terus berpikir seorang Elf pria datang dengan berlari setelah itu berlutut di depan Sorithisa.
"Lapor Great Elder!! di area luar kerumunan monster menyerang penghalang secara membabi buta" Pria itu melaporkan kejadian di area luar.
"Apa?... penghalang ini mampu menahan berbagai serangan kuat. bocah gila mana yang mencoba menyerang tempat ini?" Sorithisa bertanya.
"Lapor! dia memiliki kekuatan untuk mengendalikan monster di lautan jika tebakan saya benar dia adalah dewa air" Balas pria itu.
"Dewa Air?... Jangan-jangan Hamel!" Sorithisa tau satu-satunya dewa air di dunia ini adalah Hamel.
Sorithisa terkejut dengan fakta itu Dewa Air Hamel memiliki hubungan kuat dengan ras Elf. kejadian seperti ini membuatnya sedikit terkejut mengetahui serangan ini darinya. tiba-tiba sebuah ledakan aura terjadi di ruangan itu, Sorithisa melepaskan seluruh energi magis di dalam tubuhnya karena marah.
"Sepertinya dia ingin melawan kita.... bawa beberapa pasukan untuk melawan orang itu. jika bisa bawa seluruh pasukan Elf karena lawan kita adalah seorang dewa!" Perintah Sorithisa bergema di ruangan.
"Kami mengerti Great Elder!"
Setelah menerima perintah pria itu pergi dari ruangan dan bersiap mengumpulkan pasukan seperti yang di perintahkan Sorithisa. Sorithisa juga pergi dari ruangan itu melapisi tubuhnya dengan sihir element angin Sorithisa terbang untuk menyambut Dewa Air sendirian.
...…………………...
"Hm? aku merasakan aura yang meluap apakah itu berasal dari nenek tua itu" Hamel tersenyum.
Ribuan monster masih terus menyerang secara membabi buta untuk menghancurkan penghalang dari pulau cahaya. sekita monster yang menyerang penghalang terbunuh dalam sekejap mata.
!!!
Hamel melihat ke arah pancaran aura yang meluap-luap di udara dan dia adalah Sorithisa dengan wajah penuh amarah. kemarahan Sorithisa telah memuncak akibat dari serangan Hamel.
"Hamel apa yang sedang kau lakukan saat ini?" Nada Sorithisa dipenuhi amarah.
".... Melihatnya sudah jelan bukan?" Hamel mencibir.
"Kau!!!" Suara Sorithisa bergetar.
Dari atas sebuah lingkaran sihir terbentuk, lingkaran yang mengarah tepat ke arah Hamel. berbagai lingkaran terbentuk satu demi satu mengelilingi tubuh Hamel. satu persatu sihir keluar dari lingkaran, rentetan serangan sihir berelemen membuat ledakan di udara.
"Hahaha itu bagus nenek tua lebih hibur aku" Hamel tertawa keras.
__ADS_1
Serangan rentetan sihir bahkan tidak melukai tubuh Hamel sedikitpun. merasa sihir tak berguna Sorithisa menggunakan berkah alam untuk meningkatkan status serta pemulihan tubuhnya. menggunakan sihir alam Sorithisa melepaskan puluhan akar pohon mengarah pada Hamel.
Puluhan akar pohon menyerang Hamel seperti cambuk, Hamel menyeringai setelah itu lautan bergelombang. air laut mulai membentuk wujud seperti tentakel dan menahan seluruh akap pohon milik Sorithisa. tak sampai disana ratusan tombak air mengarah pada Sorithisa tapi itu segera ditahan oleh pusaran angin kencang.
"Kau dapat bertahan sebaik ini aku memujimu tapi tetap saja kau tidak akan bisa mengalahkan dewa!!" Hamel mengangkat tangan miliknya ke atas.
Lautan kembali bergelombang setelah itu membentuk wujud seekor naga.
...[Status]...
...God of Water [Dewa Air]...
...Nama : Hamel...
...Ras : Human...
...Title : [Dewa Air], [Penguasa Lautan]...
...Hp : 1.350.000...
...Mp : 550.000...
...Level : 320...
...[Statistik]...
...INT : 27000...
...VIT : 27000...
...DEF : 26000...
...AGI : 25000...
...LUK : 20000...
...[Skill]...
...Supreme Magic [Level 10], Supreme Elements Magic [Level 10], Super Regeneration [Level 10], Appraisal [Level 10], Magic Sense [Level 10], Mind Acceleration, Water God Poseidon...
[Water God Poseidon]
[Skill yang memiliki kendali penuh terhadap lautan, selama bertarung di dalam lautan pengguna skill akan memiliki kekuatan 2x dari yang seharusnya. skill yang mampu menciptakan apapun di dalam lautan termasuk memanipulasi lautan itu sendiri]
Naga air meraung keras di lautan suara itu mencapai hingga ke dalam pulau menggetarkan lautan dan langit. ratusan kepala naga bermunculan satu demi satu dari dasar laut. di dalam lautan Hamel tidak akan pernah terkalahkan karena itulah kekuatan ilahi miliknya.
"Great Elder! persiapan telah selesai" Seseorang berlutut dihadapan Sorithisa.
"Aku tidak akan memberi perintah banyak hanya satu saja....Habisi Bocah itu!!" Mata Sorithisa di penuhi amarah.
__ADS_1
"Baik!!"
Hamel yang melihat itu tersenyum lebar.
"Hahahaha.... sampai kapanpun pemberontak adalah pemberontak. karena kesalahan bodoh kalian di masa lalu dunia menjadi hancur, kau bilang Elf mencintai alam lebih dari apapun? hahahaha, itu sangat lucu untuk seseorang yang melakukan pemberontakan di masa lalu. apa otakmu rusak sialan? kalian mencintai alam tapi perbuatan kalian di masa lalu sangat bertolak belakang"
"Berhenti bermimpi nenek tua!! kalian adalah pemberontak jangan berharap kalian mampu menebus kesalahan kalian hanya karena menjadi baik. sejak dulu kami para dewa sangat enggan membiarkan kalian hidup, tapi karena peraturan kami tidak bisa melakukan apapun.......tapi saat ini kalian semua di tempat ini akan MATI!!" Hamel melepaskan aura miliknya.
Sorithisa bergetar karena perkataan Hamel, walaupun dia adalah Elf tetapi kesalahan masa lalu tetap saja menghantui dirinya. di saat ras bersalah menghantui hatinya langit menjadi gelap. Sorithisa menoleh ke atas dan melebarkan matanya. di langit ratusan naga menutupi seluruh langit di tempat itu.
"Telan mereka semua!!" Hamel mengepalkan genggaman tangannya.
Naga air meraung keras di langit setelah itu menerjang ke arah pasukan Elf. naga air membuka mulutnya lebar menelan ratusan ras Elf dalam sekejap mata, bau darah memenuhi udara. Sorithisa yang masih terguncang tak mampu bereaksi dan melihat pasukan Elf mati di depan matanya.
Hanya dalam sepersekian detik pasukan Elf telah binasa saat berhadapan dengan Hamel.
Sorithisa menggertakkan giginya, amarah miliknya meluap hingga ke udara.
"HAMELLLLL!!!" teriakan Sorithisa terdengar hingga ke telinga Hamel.
Melihat Sorithisa yang seperti itu Hamel menyeringai. Sorithisa yang di penuhi amarah menyerang secara membabi buta dengan sihir alam. mulai dari badai petir, ratusan akar pohon seperti cambuk, bilah angin yang tajam bahkan mampu memotong batu besar. rentetan serangan alam mengarah ke arah Hamel tapi dengan satu lambaian tangan serangan Sorithisa menghilang.
"!?" Sorithisa merasa jika pertarungan ini tidak berarti karena Hamel bahkan tidak serius.
"Kau membosankan, jika 500 tahun lalu kami tidak dihentikan oleh peraturan mungkin seluruh ras pemberontak seperti kalian sudah musnah. bersyukurlah karena aturan itu menyelematkan kalian dari kematian, selain itu ada satu dewa yang menentang kami untuk membunuh kalian" Hamel berkerut ketika mengingat pertarungan dia melawan dewa itu.
Satu-satunya dewa yang memiliki kekaguman terhadap kehidupan yaitu Mythia. 500 tahun lalu disaat kehancuran dunia yang disebabkan oleh para ras superior, para dewa murka dan ingin membinasakan mereka. tapi karena Mythia menentang itu karena jika semua ras mati energi kehidupan di dunia itu akan cepat menghilang. pada awalnya semua menentang Mythia, tapi Mythia tetap bersikeras untuk melindungi semua ras.
Alhasil Mythia melawan seluruh dewa di alam atas dan mengalahkan mereka semua dengan kemenangan telak. semua dewa merasa putus asa dan karena itu banyak dewa yang sangat membenci Mythia karena pertarungan itu.
"Karena aku mendapatkan kesempatan saat ini maka.... Matilah!!"
Jleb!
Jleb! Jleb!
Ribuan tombak air menusuk dada Sorithisa.
"...Kough...Uhuk...Uhuk"
Sorithisa memandang tombak yang menancap di tubuhnya setelah itu tersenyum sedih. cahaya dimatanya kini kian memudar, seperti kegelapan yang menelan jiwanya seorang pemimpin dari ras Elf kehilangan hidupnya melawan Dewa Air. jiwa Sorithisa kembali ke asal dimana semua jiwa mengalami proses Reinkarnasi yaitu Pohon Kehidupan.
Di sisi lain Shinji yang melihat semua pertarungan itu hanya terdiam tanpa berkata apa-apa. Luna juga menyaksikan pertarungan itu dengan tenang tanpa ikut campur sedikitpun.
"Apa yang akan kita lakukan Tuan?" Luna bertanya.
"Membunuh satu dua dewa tidak akan membuat dunia hancur, itu yang dia katakan! sepertinya aku harus menanggapi serius kata-kata itu karena membunuh satu dewa sama dengan melawan seluruh dewa di dunia ini" Jelas Shinji.
Jika harus melawan seluruh dewa Shinji telah siap kapanpun itu. pada akhirnya nasib dunia ini masihlah bergantung pada semua yang hidup di dunia Elysia ini.
__ADS_1