
Pemilik mata elang itu menatapku tenang. Dia seperti sedang memikirkan cara untuk memangsaku. Semalam aku mendapat ide darinya untuk mencari Kak Edgar dengan melacak nomor ponselnya.
“Bagaimana mengerti?” tanya Om Hasa. Aku lupa kalau aku sedang berada di ruang rapat.
“Aku rasa dia tidak mengerti tujuan kita di sini, Pa,” kata Kak Iyash seraya bangkit. “Dari tadi dia melamun dan tidak memperhatikan.”
Dia benar. Aku memang tidak memperhatikan apa yang dikatakan Om Hasa sejak tadi.
Tiba-tiba Kak Iyash mencondongkan tubuhnya ke depanku. “Kalau mau kerja, ya kerja jangan membawa urusan pribadi ke kantor. Jangan sombong, kamu belum tentu bisa bertahan di sini.”
Untuk kedua kalinya aku tak punya muka. Kalau untuk dipermalukan kembali, kurasa aku tak bisa bertahan di tempat seperti ini.
“Iyash, dia mungkin memang belum paham, seharusnya kamu jelaskan tugasnya di sini.”
“Tadi sudah Papa jelaskan, ‘kan?” Kak Iyash kemudian menatap Kak Akbar. “Kamu paham?”
Kak Akbar mengangguk.
Aku semakin malu. Kalau saja aku tak membayangkan seri di wajah Tante Miranti pagi tadi, mungkin aku tak akan seperti ini, tapi Itu semua karena aku merasa bahagia, bagaimana tidak, untuk kesekian kalinya aku bangga karena aku berhasil memenangkan hati Tante Miranti. Mungkin dengan begitu, aku bisa dengan mudah mendapatkan Kak Edgar.
“Cha,” panggil Om Hasa pelan. “Tolong kamu harus serius di bidang ini.”
“Aku yang akan mengajari dia,” tukas pria bernada datar itu.
Aku terperangah. Namun, kulihat Om Hasa malah tersenyum.
“Nggak, Om. Aku ngerti kok apa yang harus aku lakukan,” kataku sok paham.
“Nggak. Dia bohong.”
“Bagus kalau kamu mengerti, tapi Om rasa Iyash benar, kamu tidak bisa bekerja sendiri, jadi biarkan Iyash mengajari kamu.”
“Om, tapi–”
“Rapat ini selesai, jadi semua sudah beres, Akbar akan bekerja dengan Ando, dan Marissa bersama Iyash.”
“Bersama?” Aku terlalu heran dengan kata itu. “Om.” Kak Iyash menahan tanganku saat dia tahu kalau aku berniat mengejar Om Hasa yang baru saja keluar dari ruang rapat.
“Duduk, ini perintah,” titah pria congkak itu.
Alisnya yang tebal membentuk barisan seperti bala tentara yang siap menghadangku. Dengan sangat terpaksa kudaratkan kembali bokongku.
Kak Iyash kemudian berjalan ke depan dan mengambil alih pimpinan rapat tersebut. Dia memberitahu kalau dia baru saja membeli satu unit apartemen. Awalnya kupikir itu bukan hal yang penting, namun semua menjadi penting saat dia bilang kalau aku harus mendesain interiornya.
“Bagaimana paham?”
Aku terpaksa mengangguk.
__ADS_1
“Sedangkan untuk Akbar, saya cukup terkesan dengan hasil desainnya, kemarin dia menunjukkan gambar-gambar sebuah ruangan yang dia desain. Nanti biarkan Ando yang menentukan tugas kamu, selebihnya team Caroline akan mengurus pekerjaan kalian selanjutnya.”
Aku tidak peduli apa yang akan dikerjakan team Caroline. Aku hanya akan memikirkan cara bagaimana aku berhenti dari perusahaan ini dan secepatnya mencari pekerjaan di perusahaan lain.
Kak Iyash tak hentinya menjelaskan tentang perusahaan ini pada kami. Dia bilang selalu ada diskon lima puluh persen bagi mereka yang memiliki hari ulang tahun yang sama dengan perusahaan ini. Lagi-lagi aku tak begitu peduli.
Bergantian pimpinan kantor yang lain menjelaskan tugas mereka masing-masing. Setiap bidang memiliki dua anggota yang dipimpin oleh satu orang. Hanya karyawan baru yang bekerja dengan satu orang, yaitu aku dan Kak Iyash. Kak Akbar dan Pak Ando.
Semua orang membubarkan diri usai Kak Iyash menutup acara meeting itu, hanya aku yang malas pergi dari ruangan tersebut. Rapat hari ini membuat mentalku ditempa. Aku merasa aku tak bisa melindungi diriku sendiri dari beruang kutub itu.
“Kamu, ikut saya!”
Aku terkesiap mendengar suara baritonnya. Pria sombong, dingin dan menyebalkan itu langsung pergi tanpa menjelaskan kemana aku harus mengikutinya. Kalau begitu biarkan saja, aku tidak akan ikut sebelum dia menjelaskan kenapa aku harus mengikutinya. Dua menit berselang tiba-tiba saat sedang sendiri di ruang rapat, kudengar seseorang mengetuk pintu.
“Marissa, ditunggu Pak Iyash di tempat parkir.”
Jantungku mencelus.
Aku bangkit dan mengatur napasku. “Tuhan, beri aku stok sabar yang lebih banyak lagi karena setiap bersamanya stok sabarku menipis.”
Sebelum dua menit, aku sudah ada di depan mobil pria itu. Dia memberi isyarat agar aku masuk ke dalam mobilnya. Dan kini aku duduk di sebelahnya, sementara mobil dikemudikan Pak Engkus. Sepanjang perjalanan dia tak bicara dan bahkan tak menatapku sama sekali. Aku bosan karena aku tak bisa diam dalam waktu yang lama di sepanjang jalan, kecuali duduk sendiri aku mungkin sibuk bermain ponsel, tapi sekarang aku tidak diizinkan bermain ponsel, aku hanya boleh memperhatikan jalan.
“Kak,” panggilku ragu. “Aku boleh menelepon?”
“Jangan dibiasakan,” jawabnya tanpa menatapku.
“Ini penting.”
Aku membayangkan kalau aku baru saja menarik kerah bajunya dan membuatnya menatapku. Kurasa beruang kutub dari Alaska itu harus diberi pelajaran.
“Turun! Mau sampai kapan kamu di situ?”
Jantungku mencelus saat dia sudah keluar dari mobil.
“Pak, sudah sampai dari tadi?” tanyaku pada Pak Engkus.
“Baru sampai, Mbak.”
“Oh.”
Aku lekas turun dan mengikuti pria itu. Dia terus berjalan tanpa menghiraukanku, bahkan dia tak memberiku waktu untuk masuk ke dalam lift. Aku mematung saat lift hampir tertutup, tiba-tiba sebuah tangan menahannya.
“Makasih,” kataku pada pria berkacamata yang baru saja menahan pintu lift.
Dia tersenyum dan mempersilakanku masuk lebih dulu.
Aku berdiri di tengah, di antara Kak Iyash dan pria itu. Aku tak memperhatikan bagaimana wajahnya, aku hanya fokus pada kaca matanya saja.
__ADS_1
“Tinggal di lantai berapa, Mbak?”
“Saya nggak tinggal di sini, Mas. Kebetulan lagi ada pekerjaan.”
“Oh.” Dia menoleh menatapku. “Kerja apa?”
“Desain interior.”
“Wah, kebetulan. Saya baru pindah dan butuh orang untuk mendesain apartemen saya.”
“Oh ya?” tanyaku antusias.
Dia lalu mengulurkan tangan. Namun, saat aku hendak menyambutnya. Kak Iyash menyambar dengan memberikan kartu namanya. “Dia bekerja di perusahaan saya, kalau butuh jasa desain interior atau yang lainnya, bisa hubungi kami di nomor ini.”
Aku memutar bola mataku malas. Pria itu hanya tersenyum kikuk seraya menerima kartu nama tersebut. “Baik, terima kasih.”
Namun, tak berhenti di situ, dia kembali mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri. “Dion.”
Aku menyambut hangat perkenalan pria itu. “Marissa.”
Dia tersenyum seraya melepaskan jabatan tangannya. Lesung di pipinya membuatnya terlihat manis.
“Ehem!” Deheman Kak Iyash membuat kami gugup. Bersamaan dengan itu lift berhenti. Dia keluar lebih dulu dan aku segera menyusulnya, namun sebelumnya aku pamit pada pria bernama Dion itu.
Aku mengikuti Kak Iyash dari belakang. Namun, tiba-tiba saja beruang kutub itu berhenti dan aku tak sengaja menabrak punggungnya.
“Maaf,” kataku pelan.
Dia tak menyahut dan langsung membuka pintu sebuah ruangan. Lalu kemudian melangkah masuk. Aku mengikutinya dari belakang, lalu mengambil langkah ke arah lain, sebelum dia berhenti secara tiba-tiba seperti sebelumnya.
“Saya nggak peduli apa yang akan kamu lakukan dengan tempat ini, yang jelas saya mau kamu lakukan dengan benar dan semaksimal mungkin. Ingat, setiap benda ada nilainya.”
Aku membasahi tenggorokan seraya menatap punggung tegapnya. Bukannya mengiyakan kata-katanya, aku malah berpikir, sejak kapan dia berhenti tersenyum?
“Bukan ini yang akan menentukan kamu tetap bekerja di kantor atau tidak. Tapi, seberapa betah kamu bertahan dengan pekerjaan kamu.”
Aku tercenung. Kupikir disinilah aku menentukan akan diterima atau tidak. Padahal tadinya aku akan membuat dia tidak suka dengan hasil desainku, sehingga aku bisa keluar dan mencari pekerjaan di perusahaan lain. Namun, ternyata aku salah, justru di sinilah kualitasku dipertaruhkan.
“Siapkan desainnya hari ini, besok kita mulai.” Dia kemudian menoleh. “Dari tadi kamu diam, jangan-jangan kamu tidak paham.”
“Ngerti, Kak.”
“Satu lagi,” dia mengacungkan telunjuknya, “saya atasan kamu, bukan senior kamu, jadi berhenti panggil saya Kakak.”
“Kalau itu, aku nggak bisa, Kak,” tolakku halus.
Dia menoleh dan menatapku tajam, namun, tak memerintahku lagi. Dia malah keluar dan pergi dari ruangan tempatku berdiri.
__ADS_1
Aku termenung. "Apa yang salah?" Kutanyakan itu pada diri sendiri.
***