Bias Rasa

Bias Rasa
Darah


__ADS_3

Aku terbangun di sebuah ruangan dengan sedikit penerangan. Kepalaku berdenyut nyeri dan sekujur tubuhku terasa lemas dan ngilu.


“Kamu tidak akan bisa pergi semudah kamu datang ke sini.”


Samar kudengar kalimat itu lagi, namun kali ini seperti orang bergumam.


“Kamu tahu kamu berurusan dengan siapa?” Perlahan kudengar derap langkah itu mendekat.


Pria itu berjongkok dan mengangkat daguku. “Hai, Sweetheart, remember me?”


“Marlo.” Harusnya aku tahu saat orang-orang menyebut nama itu.


“Right. Akhirnya kamu sampai di sini.” Dia membelai kepalaku dan aku segera menjauh.


Kenapa Ellen memberiku surat itu, jika memang kakaknya sendirilah yang menjadi bos dalam bisnis haram ini?


“Kamu aman, kalau kamu diam.” Ujung jemarinya kemudian membelai pipi kananku.


Aku segera duduk tegak.


“Siapa orang yang menolong kamu tadi?”


Aku menggeleng.


Dia menatapku lama. Lalu kemudian menyeringai.


“Mau kamu apa?” tanyaku.


Dia mencondongkan tubuhnya padaku. Aku mencoba mundur, namun, dia menahan punggungku. Lalu kemudian dia mendekatkan mulutnya ke telingaku. “Kamu akan menjadi jaminanku. You are in danger, if I am in danger. You are in trouble, if I am in trouble.”


Jantungku bergemuruh. Aku ingin memukul wajahnya dengan tinjuku. Namun, sial dia mengikat kedua tanganku.


“Kalau kamu ingin aku tidak melaporkan kamu dan bisnis harammu ini ke polisi, aku tidak akan melakukannya, asal biarkan aku pergi.”

__ADS_1


“Oke.” Dia bangkit.


Dengan sedikit kepayahan aku pun berdiri.


Perlahan kemudian pria itu memutar gagang pintu. “Aku yang akan mengantar kamu pulang.”


“Aku bisa sendiri,” kataku seraya mengambil langkah.


Dia tersenyum sinis. Lalu mengikutiku dari belakang.


“Siapkan mobil,” katanya entah pada siapa.


Aku benar-benar dalam masalah besar. Kukira masalahku hanya di kantor. Kukira pria sombong hanya Kak Iyash, ternyata ada yang lebih berbahaya. Satu masalahku belum selesai, sekarang ditambah masalah baru. Aku juga belum mendengar kabar tentang Kak Edgar. Kini malah terjerat dengan pria baru.


Aku menuruni anak tangga dan pergi dari lantai dua menuju lantai satu, lalu turun lagi ke baseman. Di sini ada banyak mobil bekas. Kurasa ini adalah pekerjaan untuk menutupi bisnis haramnya.


Kakiku mematung saat dia menodongkan senjata tajam tepat di punggungku. “Terus jalan. Mobilku warna abu, persis seperti warna kesukaanmu.”


“Kamu bingung dari mana aku tahu?” Dia kemudian tertawa.


Jantungku tak berhenti bertabuh. Aku takut dia menarik pelatuknya dan satu peluru melayang tepat di punggung, melewati jantung dan menembus ke bagian dada kiriku.


“Sudah kalian kosongkan?” tanyanya entah pada siapa lagi, aku tak melihat satu orang pun di sana. “Cepat lakukan sebelum polisi datang.”


“Kiri.” Dia menekan punggungku dengan pistolnya. Aku lekas ke kiri sebelum dia mendorongku lagi.


Dia membuka pintu mobil dan saat aku hendak masuk, seseorang menendang tangannya, hingga senjata yang ditodongkan ke punggungku itu terlempar jauh.


Aku menoleh dan kulihat pria berhelm itu. Aku menghela napas lega. Tuhan mengirim malaikatnya lagi. Perkelahian terjadi dan aku suka gayanya menyerang. Tenang dan terlihat berwibawa.


“John, turun! Ada orang di sini,” titah Marlo.


 “Dua lawan satu.” Aku melayangkan kaki dan mendarat di pipinya. “Harta nggak cukup membuatmu aman kalau kamu nggak bisa bergulat.” Aku kembali menyerang bergantian dengan pria berhelm itu. “Kita selesaikan malam ini juga.”

__ADS_1


Tenagaku masih cukup untuk menyerang dan menghindar, meski tanganku terikat ke depan.


“Cha, jangan main-main dengan Marlo.” Dia menyeka sudut bibirnya yang berdarah.


“Kamu catat baik-baik, Marissa Indrawan tidak pernah main-main.”


“Damar, tunjukkan!” teriak Marlo.


Seorang pria berlari ke arah kami. Lalu dia menunjukkan layar ponselnya padaku.


“Mama?” Seketika tubuhku terasa lemas. “Mama!” teriakku panik.


“Jangan pernah kamu menyentuh Mama. Kalau sampai kamu melukai Mama seujung kuku pun. Aku tidak akan segan-segan menghancurkan kamu Marlo!”


Marlo tertawa. “Come on, Honey. I told you, you are safe, if I am safe. You are in danger, if I am in danger. You are in trouble, if I am in trouble.” Dia berteriak hingga telingaku panas.


“Cuhh!” Aku meludah tepat di wajahnya.


“Kurang aja, berani kamu.” Dia menarikku dan mendorongku masuk ke dalam mobil.”


“Selesaikan dia, hilangkan jejaknya!” teriak Marlo sebelum masuk ke dalam mobil.


Aku segera bangun dan mencoba membuka pintu mobil. Bodohnya Marlo, dia lupa mengunciku di dalam. Aku lekas berlari untuk menolong pria berhelm itu dan membantunya melepaskan diri.


“Hei, Marissa!


“Awas!” Pria berhelm itu lari dan mendorongku. Seketika timah panas mendarat di lengan kanan bagian atasnya.


Aku menjerit ngeri melihat darah mengucur menembus jaketnya. Tubuhnya ambruk ke tanah.


“Tolong!” pekikku seraya mendekat. Beberapa orang polisi berhamburan ke arah kami dan yang lainnya membekuk Marlo kemudian menyeretnya ke kantor polisi.


Perlahan aku berlutut di depan tubuh pria berhelm itu. “Maaf,” satu kata terlontar dari mulutku sebelum akhirnya aku pingsan karena tak kuat melihat darah.

__ADS_1


__ADS_2