
Aku meminta untuk pulang karena besok harus menghadiri acara pertunangan Yuri. Dan dia mengabulkan keinginanku, lagipula aku juga sudah sehat, begitupun dengan dirinya, sehingga Nenek dan Kakek pun mengizinkan kami pulang.
Pagi tadi, sebelum kami berangkat, Nenek berpesan, kalau kami harus menjaga pernikahan ini. Aku malah ingin tertawa mendengarnya. Ini seperti lelucon yang pernah aku tertawakan sebelumnya. Kurasa aku dan dia tidak akan pernah berhasil mempertahankan hubungan ini. Meski, dia bersikukuh untuk tidak akan menceraikanku, tapi aku yakin suatu saat dia akan melakukannya.
Memang kemarin waktu teman-temannya datang ke rumah, dia akhirnya jujur kalau dia dan aku baru saja menikah dan soal anak itu dia bohong, itu semua hanya untuk membuat teman-temannya penasaran dan datang untuk melihat selucu apa anak kami. Kurasa dia sudah gila. Dia benar-benar susah ditebak. Jadi, jangan harap aku mengerti jalan pikirannya.
Dan sekarang dia duduk di pesawat dengan mata terpejam sama seperti yang dia lakukan ketika berangkat.
“Orang yang selalu menutup mata, adalah mereka yang tidak bisa menikmati kehidupannya,” kataku. “Mereka juga tidak bisa menikmati perjalanan walau hanya satu jam.”
“Hm.” Hanya itu tanggapan yang kudengar.
“Aku nggak suka orang yang gengsian, seharusnya kalau aku benar, akui saja.”
Dia membuka penutup mata dan menatapku. “Iya, kamu benar.”
Aku mengalihkan pandangan dan menatap keluar jendela, kumpulan kapas itu membuatku seperti berada di dalam mimpi. Seperti baru kemarin aku pergi dan terkejut karena pria yang duduk di sebelahku adalah orang yang sengaja aku hindari. Dan sekarang, aku harus hidup dengannya. Setiap hari saat aku membuka mata, aku melihatnya. Setiap terjaga di tengah malam, aku juga melihatnya. Semoga nanti aku bisa merealisasikan keinginanku untuk berpisah darinya dan kembali hidup normal.
Kemarin juga teman-temannya memujiku, katanya dia beruntung mendapatkan perempuan ceria seperti diriku. Lalu apa kabar sang mantan yang berhasil membuatnya seperti mayat hidup? Aku jadi penasaran, siapa wanita yang dimaksud Pak Sugeng.
Mama pernah bilang kalau pacar yang selama ini dianggapnya sudah meninggal ternyata masih hidup. Atau Mama hanya mengarang? Tapi, Mama tahu dari Tante Ira, apa Tante Ira berbohong untuk menyembunyikan hal lain yang tidak ingin kami ketahui?
Aku tidak menghabiskan perjalananku dengan melamun karena meski sambil melamun pun aku tetap menikmatinya. Menikmati kopi yang disediakan, ngemil kue kering yang dibekalkan Nenek. Sementara aku baru tahu kalau Kak Iyash tak bisa makan atau ngemil dalam perjalanan, bahkan minum pun tidak. Setiap aku menawarkan makanan, dia hanya mengacungkan telapak tangannya tanpa menatap ke arahku. Baru kali ini aku menemukan pria sepertinya.
***
Usai turun dari pesawat, kami langsung memesan taksi. Meski sudah berkurang, tapi sikap sinisnya kadang masih terasa. Apalagi saat aku bilang kalau aku ingin pulang ke rumah Mama dan kita akan tinggal di sana. Dia malah berkata, “Barangku banyak dan mungkin kamar kamu nggak akan bisa menampungnya.”
“Kamu nggak perlu membawa semua barang-barang, ‘kan?”
Aku sudah lupa caranya bersikap. Tak ada lagi Icha, dan tak ada lagi Kak Iyash, sekarang hanya ada aku dan kamu. Dengan begitu aku lebih bebas membantahnya.
“Memang, tapi aku nggak bisa karena semua pekerjaan kadang dikerjakan di rumah.”
“Kadang? Jadi, lebih banyak d kantor, ‘kan?” tebakku. “Itu terserah sih, pokoknya kita tinggal di rumah masing-masing. Karena aku nggak bisa meninggalkan Mama sendirian di rumah.”
“Minta Mama kamu tinggal di rumahku.”
“Nggak. Enak aja,” dengkusku.
Dia terdiam beberapa detik dan sopir taksi menunggu keputusan kami kemana dia akan mengantar kami pulang.
“Pokoknya aku mau pulang ke rumah Mama.”
__ADS_1
“Ya sudah, ke rumah dia, Pak.”
“Di mana?” tanya sopir taksi bingung. Aku lekas memberitahu alamat rumahku. Kemudian mobil melesat pergi menuju kediamanku. Aku sudah merindukan Mama, rumah dan terutama kamarku yang wangi.
Akhirnya aku menang darinya. Meski tak ada menang atau kalah, yang ada hanya yang keras kepala dan yang mau mengalah.
Akankah suatu hari nanti dia mengalah dan mengabulkan keinginanku untuk berpisah?
***
Kami sampai di depan rumah dan Mama menyambutku, dia memelukku lama, lalu kemudian menatap Kak Iyash. Pria itu hendak bersalaman dengan Mama. Namun, Mama malah memeluknya tanpa canggung.
“Masuk. Ini juga rumah kamu.” Mama membuka pintu rumah dan pria itu masuk lebih dulu. Namun, Mama malah menahanku. “Gimana?” tanyanya.
“Nggak gimana-gimana.” Aku mengernyit heran.
Mama berdecak. “Ih, kamu ini. Maksud Mama dia gagah, ‘kan?”
“Mama bisa lihat sendiri, lagian yang dimaksud gagah itu seperti apa,” dengkusku seraya masuk.
Mama malah terkekeh.
“Aku mau mandi dulu,” kataku.
“Iya, nanti habis mandi kalian bisa makan. Eh sudah makan siang belum?”
“Loh kok beda?” tanya Mama.
“Dia makan di dalam tidurnya,” kataku seraya melengos pergi. “Makan dari mana, sejak di perjalanan dia tidur,” dengkusku.
Aku membuka pintu kamar. Aroma strawberry langsung mendarat di hidungku, meski aku belum masuk. Aku merindukan tempat favoritku yang manis, karena di sini aku bebas melakukan apapun.
Aku segera masuk dan langsung memutar radio tape, lagu Alan Walker, The Spectre langsung menggema di ruangan ini.
“Hello, hello.”
“Can you hear me?”
Musiknya yang khas mengajakku untuk berjoget sambil bernyanyi.
Aku lekas membuka baju, lalu melemparnya ke keranjang. Tepat di depan shower terdapat cermin besar yang menunjukkan seluruhnya tanpa ada kebohongan.
“Walk along the path unknown.”
__ADS_1
“We live, we love, we lie.”
Selesai mandi aku bersiap hendak mengenakan pakaian rumah. Namun, aku mendapat pesan dari Yuri dan dia memintaku datang karena ada seseorang yang ingin bertemu denganku.
[Siapa?] tanyaku membalas pesan singkat dari sahabatku itu.
[EO di acara pertunanganku besok.]
[Duh.]
[Cepat ke sini, aku tunggu.]
Aku menghela napas. Kalau Yuri bilang sudah menunggu, biasanya ada sesuatu yang dia persiapkan. Akhirnya aku memilih pakaian, berdandan dan mendadak aku ingin mencatok rambut menjadi sedikit curly.
Aku memakai blouse hitam biasa dengan celana jeans, dan kurasa semua tampak biasa. Namun, Mama mengomentari penampilanku.
“Beda, kalau sudah menikah, dandannya lebih rapi, memang mau kemana?”
“Lebih rapi gimana, emang biasa kayak gini,” kataku. Lalu aku meraih tangan Mama dan mengecupnya. “Icha mau ke rumah Yuri.”
“Ngapain?”
“Besok Yuri tunangan, Ma.”
“Terus kalau acaranya besok, sekarang kamu mau apa ke sana? Kasihan Iyash capek.”
Aku terpegun. Dan benar-benar lupa kalau ada dia di rumah ini. Kurasa tiga lagu Alan membuatku berhasil melupakannya.
“Sekarang dia dimana?” tanyaku.
“Tadi, ke atas nyusul kamu ke kamar.”
“Hah? Tapi, Icha nggak lihat dia.”
“Mungkin di balkon.”
“Ya udah ah. Icha berangkat aja, kasihan Yuri nungguin, udah lama juga nggak ketemu.”
“Ya kamu izin dulu sama suami kamu. Gimana kalau dia nggak ngizinin kamu pergi, apa kamu akan tetap pergi?”
“Udah izin kemarin, mangkanya sekarang pulang.”
“Oh gitu?”
__ADS_1
“Iya. Dah, assalamualaikum,” pamitku.
Aku segera mengeluarkan motor dari garasi, lalu melesat pergi tanpa berpikir bagaimana dengan pria yang Mama sebut sebagai suamiku.