Bias Rasa

Bias Rasa
Bertemu di Pesawat


__ADS_3

Perjalananku tak sesingkat apa yang kutuliskan dalam buku diary. Kupikir semua akan lancar seperti lembar pertama ke lembar berikutnya. Namun, semua salah ketika aku melihat pria dengan penyangga tangan itu duduk di sebelahku.


“Kamu?” sapanya kaget. Tidak, itu bukan sapaan.


Keningku seketika mengernyit. Kemana tujuannya pergi sampai dia bersikeras dan menentang Dokter, bahkan mengorbankan kesehatannya?


“Bukannya Dokter melarang Kak Iyash pergi? Ngapain di sini?” cecarku.


“Loh, suka-suka saya. Kamu sendiri, buat apa di sini?”


Aku melipat kedua tanganku di depan. “Suka-suka saya.”


“Kamu disuruh Mama untuk mengintai saya?”


“Hah?” pekikku kesal. “Amit-amit.” Aku mengetukkan sendi jari ke kepala. “Dibayar berapapun aku nggak akan sudi.”


Sesaat kemudian aku bangkit. “Mbak,” panggilku pada salah satu pramugari. “Bisa saya duduk di tempat lain?”


“Nggak bisa, Mbak. Kecuali, ada yang mau bertukar kursi dengan Mbak.” Aku tahu itu. Aku hanya ingin menunjukkan kalau aku keberatan duduk dengan pria itu.


Kulihat dia sedang menggaruk telinga dengan ujung jari kelingkingnya. Dengan sangat terpaksa aku duduk kembali. Pramugari menjelaskan dan meminta kami bersiap karena pesawat akan segera lepas landas.


Sepertinya aku gagal menikmati perjalananku siang ini. Entah kenapa kami harus berada di dalam satu pesawat? Setidaknya, meski tujuan kami sama, kenapa Tuhan tak bedakan waktunya. Atau setidaknya, meski kami berada dalam satu pesawat, kenapa Tuhan harus membuat kami berada di tempat duduk yang sama? Seolah kami memesan tiket dalam waktu yang bersamaan.


“Satu setengah jam, seperti memakan waktu satu setengah tahun. Lama,” dengkusku.


“Pesawat baru terbang sekitar sepuluh menit,” kata pria itu tanpa menatapku. Sepertinya dia tidak ada masalah dengan keberadaanku di dekatnya, seharusnya aku juga merasa begitu karena urusanku bukan dengan dirinya.


Untuk membunuh kebosanan, akhirnya aku memilih untuk membaca buku. Buku Ekspektasi karya Edgario Wijaya. Ya, dari setiap kata yang pria itu curahkan membuatku tersadar dan aku seperti tertampar oleh kehidupan. Pria itu membuatku merasa semakin kagum dengan isi kepalanya.


Aku suka kalimat yang dia tuliskan, “Semakin dewasa, semakin tak pernah berekspektasi, karena semakin besar ekspektasi, semakin besar peluang untuk kecewa.”


Tak sadar aku membacanya terlalu keras, sampai pria yang duduk di sebelahku pun ikut berkomentar. “Ekspektasi itu harus, selama kamu punya batasannya.”

__ADS_1


Aku mengernyit dan menjauhkan buku dari pandangan. Kutatap wajah yang terlihat lebih tenang itu. Kurasa wajar jika dia berkata demikian, orang sepertinya mungkin belum pernah merasa dikecewakan, tidak tahu rasanya ditampar keadaan. Dia mungkin tidak pernah kesulitan karena apapun yang dia minta akan dipenuhi terutama oleh Om Hasa. Sedangkan aku tahu bagaimana Kak Edgar. Lahir dan hidup berdua dengan sang ibu membuatnya berusaha keras untuk tetap bertahan agar tidak terjatuh, jika terjatuh pun dia berusaha untuk tidak merasakan sakit. Sama sepertiku. Sejak Papa pergi, aku tak pernah berharap apapun selain aku ingin Tuhan tetap menjaga Mama agar terus sehat dan terus berada di dekatku.


“Kenapa?” Dia menoleh dan aku lekas berpaling. Lalu kembali membaca buku.


Membaca buku ini membuatku ingin segera sampai pada penulisnya. Aku ingin kita berbagi rasa, aku ingin menjadi wadah untuknya meluapkan perasaan, agar dia tak perlu editor untuk memperhalus kalimatnya. Terkadang Memaki itu diperlukan.


Alih-alih membaca, aku malah terganggu dengan kalimat Kak Iyash yang terus terngiang di telinga.


“Batasan seperti apa yang harus aku miliki?” tanyaku pada akhirnya sembari aku menjauhkan buku bersampul langit gelap itu dari wajahku, kemudian kutatap wajah pria dua puluh delapan tahun tersebut.


“Manusia bebas berharap, selama harapan itu digantungkan kepada Tuhan. Manusia punya batasan, tapi Tuhan tidak. Dengan kamu berharap pada Tuhan, kemungkinan kamu kecewa sangat tipis, bahkan mungkin tidak ada.”


“Sok religius,” dengkusku.


Dia tersenyum sinis. “Karena Tuhan tahu apa yang terbaik buat kamu.”


“Waw.” Aku terbungkam dan kembali menyembunyikan wajahku di balik buku. Dia tidak boleh tahu kalau aku baru saja merasa kagum padanya. Aku mencoba mengintip dibalik buku. Tampak dia sedang terpejam dengan menyandarkan kepalanya. Aku menghela napas dan duduk tegak seraya terus menatap wajah lelahnya. Kalau ini memang urusan pekerjaan, apa dia tak bisa meninggalkannya sebentar saja? Tidak adakah orang yang dia percaya untuk pergi ke Surabaya?


Aku segera menghadap ke depan dan ikut terpejam. Jika mengingat kembali bagaimana Kak Iyash ngotot untuk pergi dari rumah sakit, rasanya aku curiga kalau ini bukan urusan pekerjaan. Dan menilik lagi ke belakang, aku ingat saat dia memaksa untuk meminta nomor Kak Edgar. Jangan-jangan ini ada kaitannya dengan Kak Edgar.


“Kemana tujuan kamu sebenarnya?” tanya Kak Iyash seraya hendak bangkit.


Aku lekas menahan tangannya sebelum dia pergi meninggalkan pesawat. “Kalau tujuan kita sama, bisakah kita pergi bersama?” tanyaku ragu. Ragu jika dia bersedia pergi bersamaku.


Dia terpegun menatapku.


Aku tak peduli dengan sikap angkuhnya. Nada bicaranya yang datar dan mulutnya yang pedas. Satu yang aku tak takut adalah, aku tak bisa bertemu Kak Edgar.


“Kemana?” tanya Kak Iyash akhirnya.


“Aku di sini, diminta Tante Miranti untuk pergi menyusul Kak Edgar dan membawanya kembali.”


Kak Iyash menghela napas. “Meski kamu nggak tahu dia di mana?”

__ADS_1


Aku mengangguk.


“Saya juga belum tentu bertemu dengannya.” Dia pada akhirnya bangkit dan meninggalkan kursi. Aku segera menyusul pria itu.


“Memang tujuan Kak Iyash ke Surabaya apa? Ini nggak mungkin soal pekerjaan, ‘kan?”


Seketika dia berhenti dan aku tak sengaja menabrak punggungnya.


“Pekerjaan atau bukan, itu bukan urusan kamu. Kalau kamu ikut jangan banyak bertanya dan ikut saja.”


Aku terdiam, meski dia sudah turun terlebih dahulu. Mendadak kakiku lemas dan aku tak tahu kemana harus pergi. Meski hobiku traveling nyatanya aku tak pernah pergi membawa tanggung jawab, selain pada diriku sendiri. Sekarang aku harus bertanggung jawab pada Tante Miranti.


Perlahan aku keluar dari pesawat dan tak kusangka Kak Iyash ternyata menungguku. Aku tak ingin bertanya apapun, aku hanya bisa terus menjadi ekornya. Setidaknya selama aku ada disini.


“Percepat langkahmu. Saya di sini tidak memiliki banyak waktu,” kata pria itu. Sedetik kemudian dia berbalik, lalu melangkah pergi. Aku lekas mengikuti langkahnya yang lebar.


Dia menghentikan taksi dan kami melesat pergi. Aku memang mendapat lokasi nomor ponsel Kak Edgar, tapi itu seminggu yang lalu. Mungkin sekarang dia sudah berkelana entah kemana. Yang kutahu dia tidak akan diam di satu tempat dalam waktu lebih dari satu minggu. Sejak hari itu, bahkan aku tak bisa menghubungi nomornya. Itu artinya, aku sudah kehilangan keberadaannya.


Kak Iyash berkomunikasi dengan sopir taksi, kemana kami akan pergi. Lalu kudengar ponselnya berdering. Pun dengan ponselku secara bersamaan.


“Halo,” sapaku bersamaan dengan pria itu, tentu saja pada ponsel yang berbeda. Kami saling menatap dan mengabaikan orang dibalik telepon, sampai kudengar Mama kembali memanggil namaku.


“Icha, Iyash pergi dari rumah sakit,” adu Mama panik. “Tadi Mamanya nelpon, dia bertanya kenapa kamu nggak jagain Iyash.”


“Dia di sini,” jawabku singkat.


“Hah, kamu ajak Iyash pergi sama kamu? Kalau nggak sanggup, kenapa sampai kamu harus melibatkan dia?”


“Mama, Icha nggak sengaja ketemu dia di pesawat. Dia pergi nggak ada urusannya sama Icha. Dia punya urusan lain di sini.”


Tiba-tiba Kak Iyash merebut ponselku.


“Tante, bilang sama Mama, saya baik-baik saja, saya di sini ada urusan penting. Besok malam saya janji, sudah ada di Jakarta,” kata Kak Iyash di telepon.

__ADS_1


Aku termangu menatap pria itu. Sampai tak sadar dia sudah mengembalikan ponselku.


__ADS_2