
Iyash Wiyahasa Ardhana. Dua hari ke depan mungkin dia akan menjadi bahan pembicaraan. Sebenarnya aku sering mendengar nama itu karena Om Hasa selalu membanggakannya, tapi aku belum pernah melihat wajahnya. Hanya saja sewaktu kecil aku pernah bertemu dengannya, satu atau dua kali, aku lupa. Yang aku ingat, keluargaku pernah diajak makan malam di rumahnya.
Dulu aku sempat mengaguminya karena satu hal. Waktu itu aku berusia enam tahun dan mungkin dia baru lulus Sekolah Dasar. Malam itu bajuku tak sengaja terkena kuah soto bumbu kuning. Aku menangis karena tubuhku terasa lengket dan bajuku terlihat begitu kotor, padahal itu adalah baju putih kesayanganku.
Saat aku tengah menangis, aku mendengar suara dari arah samping. “Pakai ini.”
Aku berhenti menangis dan langsung menatapnya. Sejak saat itu aku mengagumi kebaikan hatinya. Aku pulang menggunakan bajunya dan sampai sekarang baju itu masih kusimpan. Entah dia ingat atau tidak, tapi kurasa dia sudah lama melupakannya.
Bagi anak umur enam tahun kejadian itu cukup berkesan, namun, setelah kejadian ini, mungkin kesan tersebut hilang. Pria yang sempat kukagumi itu berubah menjadi sosok yang kasar dan angkuh.
“Kenapa jadi begini?” tanyaku setelah beberapa menit terdiam.
“Om minta maaf atas sikap Iyash sama kamu. Dulu Iyash tidak seperti itu. Tapi, setelah kecelakaan semuanya berubah, Dokter bilang kalau dia tidak bisa mengingat sebagian dirinya. Om rasa itu adalah salah satu penyebab dia menjadi sangat pemarah seperti sekarang.”
Aku mengangkat wajah dan menatap Om Hasa. “Kenapa Om bilang kalau almarhum Papa punya saham di sini?” tanyaku hati-hati.
“Tadinya agar kamu aman.”
“Aman dari anak Om?” tebakku.
“Iya, tapi–”
“Malah begini,” tukasku menyela perkataan Om Hasa. “Gimana kalau aku kena masalah gara-gara Om bohong soal Papa punya saham di sini?”
“Kamu tenang aja, Om janji nggak akan ada masalah lagi.”
“Udah ah, nggak apa-apa. Icha pulang aja.” Aku lekas bangkit. Namun, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu. Kalau dia lagi, aku malas melihatnya.
Aku memilih duduk kembali dan membelakangi pintu, sehingga aku tidak tahu siapa yang datang.
“Masuk,” titah Om Hasa.
“Pak, ada orang yang mau melamar pekerjaan.”
“Loh.” Om Hasa bangkit. “Di bidang apa? Kita nggak butuh karyawan baru,” kata Om Hasa seraya berjalan ke dekat pintu.
“Kemarin Pak Iyash yang minta buat membuka lowongan pekerjaan lagi.”
“Kamu panggil Iyash sekarang.”
“Baik, Pak.”
Setelah wanita itu pergi, aku kembali bangkit. “Om, aku pulang aja.”
“Tunggu di sini, kita selesaikan semuanya.” Wajah Om Hasa terlihat kesal. “Maunya apa Iyash ini,” gumamnya.
Tak berapa lama anak bungsu Om Hasa datang. “Kenapa lagi, Pa?”
“Kenapa kamu membuka lowongan pekerjaan lagi?”
__ADS_1
“Semuanya sudah jelas, ‘kan, Pa. Kemarin tiga orang pelamar nggak ada yang masuk kriteria, jadi wajar aku cari yang lebih kompeten.”
Terdengar decakan Om Hasa. Aku sendiri tak berani menatap wajah pria sombong itu.
“Berapa orang yang melamar?” tanya Om Hasa.
“Satu orang, Pak, sekarang ada di lobi,” jawab wanita yang belum sempat kulihat wajahnya.
“Kalau laki-laki terima aja,” kata pria sombong itu.
“Yash, masa kamu terima orang karena jenis kelamin, bukan karena kemampuan.” Lagi-lagi kudengar Om Hasa begitu kesal.
“Biasanya perempuan itu ribet dan laki-laki jauh lebih simpel.”
“Icha,” panggil Om Hasa.
Dengan sangat terpaksa aku bangkit dan berbalik. Sebisa-bisa aku menghindari wajah songong itu lagi.
“Karena kamu sudah diterima di sini, bagaimana kalau kamu ikut ke proyek.”
Seketika aku terperangah menatap Om Hasa.
“Yah, tapi, Pa–”
“Sama seperti yang lain, Iyash hanya karyawan. Yang menentukan kamu kerja di sini adalah Om, bukan dia.”
Pria itu berjalan lebih dulu dan kami mengikutinya dari belakang termasuk wanita tadi. Kami berada satu lift, namun, tak ada yang memulai pembicaraan termasuk Om Hasa.
Tiba-tiba ponselku berdering dan panggilan masuk dari Tante Mila.
“Om, izin angkat telepon,” izinku pada Om Hasa yang sedang berdiri di depanku dengan pria itu, sementara aku berdiri di belakangnya bersama wanita tadi.
Om Hasa menoleh dan mengangguk, sedangkan anaknya yang congkak berdiri tegak tanpa menggerakkan kepala sedikitpun, tapi aku yakin dia melirik dengan ekor matanya.
“Halo, Tante,” sapaku setelah panggilan tersebut kuterima.
“Kamu di mana, Cha?” tanya Tante Milla langsung tanpa menjawab sapaanku.
“Icha di kantor.”
“Oh udah mulai kerja?”
“Iya, Tante.”
“Cha.” Tante Milla menghela napas. “Kakeknya Edgar meninggal.”
“Innalillahi wa Inna ilaihi rojiun.”
“Tapi, sampai sekarang Edgar nggak bisa dihubungi.”
__ADS_1
“Hah, memang Kak Edgar kemana, Tante?” Aku melangkah keluar bersama dengan yang lain dan berjalan menuju lobi.
“Itu dia, nggak ada yang tahu dia pergi kemana, padahal nomornya aktif, tapi panggilan kami nggak ada yang diangkat.”
“Ya ampun, Kak Edgar kemana? Jangan-jangan HP nya ketinggalan di rumah.”
“Nggak tahu. Kalau bisa kamu ke sini, Cha.”
Aku termangu menatap punggung Om Hasa dan anaknya yang sedang berjalan menuju lobi. “Icha nggak enak, Tante, masa hari pertama udah izin. Nanti ditanya hubungan Icha sama keluarga yang meninggal apa. Terlalu jauh untuk dijelasin.”
“Ya udah. Kamu coba telepon Edgar, siapa tahu telepon kamu diangkat.”
“Iya, Tante.”
“Kalau ada apa-apa kabarin. Ini Tante lagi di rumah Om Ganjar. Kita nggak ke rumah sakit, bantu Faran aja siapin semuanya, soalnya Aruna nggak mau keluar kamar.”
“Ya wajar, Tante, Kak Aruna, ‘kan lagi berduka.”
“Ehhem!”
Aku mengerjap saat anak bungsunya Om Hasa sudah berbalik menatapku. “Kamu sedang berada di kantor, tidak diizinkan untuk berlama-lama menerima telepon.”
“Tante, u–”
Aku termangu saat anak bungsunya Om Hasa merampas ponselku dengan lancang. Dia mematikannya, lalu mengembalikan ponsel itu padaku.
“Saya tidak akan seperti ini kalau kamu bersikap sopan,” kata pria itu.
Aku baru sadar kalau sejak tadi kami sudah berada di lobi. Seorang pria berwajah tegang tengah berdiri di depan kami.
“Kamu akan bersaing dengannya, yang paling bagus akan tetap bekerja di sini dan yang tidak bisa bekerja dengan baik silakan angkat kaki dan cari pekerjaan lain,” kata Kak Iyash tegas. [Sorry aku harus menyebut namanya dan menyematkan ‘Kak’ di depannya karena walau bagaimana pun dia lebih tua dariku].
“Jadi, saya diterima?” tanya pria berwajah tegang itu.
Kurasa aku tidak setegang dirinya saat melamar pekerjaan kemarin. Yang ada wajahku merah padam lantaran kesal menahan amarah saat dihina dan diseret Kak Iyash.
“Percobaan,” tukas Kak Iyash.
“Berapa lama kalau boleh saya tahu?”
“Bisa sehari, dua hari, seminggu, bahkan mungkin sebulan, kita lihat nanti.” Kak Iyash menatapku sekilas dan aku memilih untuk tidak melihatnya, atau kalau tidak, aku akan semakin membencinya.
“Yash, Papa harus bicara sama kamu.”
Aku mengangkat wajah dan menatap Om Hasa yang baru saja berbicara pada anaknya.
“Soal dia?” Kak Iyash menunjukku. “Kita bisa bicarakan itu nanti, yang jelas mereka akan tetap masuk masa percobaan.”
Aku membasahi tenggorokan. Om Hasa menatapku prihatin. Dia mungkin takut aku tidak lolos karena yang kudengar tadi, Kak Akbar sudah empat tahun bekerja di perusahaan yang bergelut di bidang yang sama.
__ADS_1