
Tiga hari pertama Kak Iyash mengontrol pekerjaanku. Aku semakin tahu, selain tegas, dia juga keras dan dia begitu perfeksionis pada hal apapun. Aku tidak paham kenapa dia begitu dominan. Aku juga tidak tahan dengan keotoriterannya. Kenapa semua hal buruk ada pada pria itu? Atau hanya aku yang terlalu sensitif sampai tak kuat menghadapinya?
Pekerjaanku sudah hampir selesai, tapi dia memintaku mengulang semuanya dengan alasan dia tidak suka konsep yang kubuat. Padahal sebelumnya dia sempat bilang kalau aku bebas melakukan apapun pada apertemennya, dia bahkan mengatakan kalau dia tak peduli dengan apa yang akan aku lakukan.
Akhirnya dalam waktu empat hari, aku mengulang semuanya. Selama empat hari itu aku pulang malam. Aku bukannya memforsir diri, tapi aku hanya takut semuanya tidak selesai dalam waktu satu Minggu.
Kemarin malam aku sampai menginap di apartemen Kak Iyash, hanya agar pagi ini semuanya selesai dan aku tak punya urusan lagi dengan pria itu.
***
Tepat pukul delapan aku ke kantor untuk menyerahkan surat pengunduran diriku. Aku tak peduli apa yang akan terjadi, yang jelas aku sudah berjanji, jika tugas ini selesai aku akan pergi dan mencari pekerjaan lain.
Aku menemui Kak Iyash di ruangannya.
“Pekerjaan kamu sudah selesai, ‘kan?” tanya pria itu setelah aku duduk di depan mejanya.
Aku mengangguk. Pagi ini seperti mengulang kejadian di mana dia merendahkanku dalam wawancara kerja sepuluh hari yang lalu.
“Terus kenapa hari ini kamu datang siang?”
Kuletakkan surat pengunduran diriku di atas mejanya.
“Apa ini?”
“Aku keluar.”
“Kamu belum diterima.” Dia mengambil suratku dan membukanya. “Belum tanda tangan kontrak, ‘kan, untuk kerja di sini?”
Jantungku mencelus. Bodohnya aku tidak memikirkan hal itu sejak semalam.
“Kenapa harus capek-capek bikin surat pengunduran diri?” Dia memberikan surat itu padaku. “Kalau mau pergi, pergi aja, nggak akan ada yang mencegah kamu.”
Aku mengambil surat itu lalu pergi. Siapa yang peduli dengan mulut pedasnya.
“Kamu masih punya utang.”
Aku menghentikan langkah di depan pintu ruangannya.
“Masih ingat saat kamu bilang kalau saya calon suami kamu?”
Jantungku mencelus.
“Akan saya tagih bayaran kamu secepatnya.”
Aku berbalik dan menatap wajah angkuhnya. “Anggap pekerjaanku selama seminggu ini sebagai bayarannya.”
Dia bangkit dan meninggalkan kursinya. “Saya belum tentu suka dengan hasil kerja kamu.”
“Terus aku harus apa?”
Alih-alih menjawab, dia malah mengedikan bahu. Benar-benar menyebalkan. Aku tidak tahu kalau kemarin dia tidak menerima permintaan maafku. Aku lekas keluar karena aku malas sekali membiacarakan hal apapun dengannya.
Aku lupa kalau aku belum punya meja di kantor ini. Kak Iyash benar, buat apa semalaman aku membuat surat lamaran. Om Hasa bahkan belum menyiapkan dokumen perjanjian apapun denganku.
***
__ADS_1
Dua hari setelah aku mengundurkan diri dari perusahaan Om Hasa. Mama bertanya apa yang sebenarnya terjadi sampai aku memilih untuk tidak melanjutkan pekerjaan itu. Awalnya mungkin Mama hendak bersabar dan menunggu sampai aku mau menceritakan semuanya. Memang sejak awal aku niatkan pekerjaan tersebut karena Mama, tapi aku tetap tidak merasa nyaman dan malah merasa semakin tertekan.
“Cha, kamu pikir cari uang tidak membutuhkan skill? Maling aja butuh skill untuk bisa mencuri tanpa ketahuan,” kata Mama seraya meletakkan setoples kue sus kering di atas meja.
Aku tersenyum mendengar perkataannya.
“Cha, sebenarnya ada apa? Cerita sama Mama,” bujuk Mama setelah duduk.
Aku tahu Mama khawatir karena biasanya aku akan menceritakan apapun padanya, namun, selama seminggu ini aku menelan rasa tidak nyaman itu sendirian karena aku tidak ingin Mama menjadi khawatir.
“Kalau kamu nggak mau cerita, biar Mama tanya sama Om Hasa.”
“Nggak usah,” jawwabku seraya menatap layar televisi. “Icha tahu apa yang Icha mau, Ma.”
“Memang apa?” Mama mempertegas pertanyaannya. “Yang kamu mau belum tentu baik buat kamu, Cha.”
Aku menoleh dan menatap Mama. “Kalau ini yang terbaik, Icha tidak akan merasa tertekan, Ma.”
“Apa yang membuat kamu tertekan cerita sama Mama.”
Kulihat ada resah dibalik wajah lembut Mama. Wanita yang berjuang sendirian setelah Papa pergi itu terlihat begitu khawatir.
“Ma, Icha nggak apa-apa. Icha cuma pengen cari kerja di tempat lain aja.” Aku bangkit dari sofa beludru berwarna abu.
“Ngapain? Kita sudah sering bahas ini.”
“Om Hasa memang baik, Ma. Cuma Kak Iyash kayaknya nggak suka aku kerja di sana.”
“Loh, katanya yang menentukan kamu bisa kerja di sana itu Hasa, bukan Iyash. Hasa sendiri, ‘kan yang bilang kalau Iyash statusnya sama kayak karyawan lain?”
“Iya, tapi, tetap aja. Om Hasa bilang begitu cuma buat bikin anaknya diam di depan aku. Om Hasa juga bilang kalau Papa punya saham di perusahaannya cuma buat bikin aku aman di depan anaknya.”
Aku mengangguk, meski bukan itu yang sebenarnya terjadi .
“Cha, mungkin lama-lama kamu juga akan nyaman.”
Aku menghela napas. “Icha nggak habis pikir, Mama tetap ingin Icha kerja di sana, meski harga diri Icha diinjak-injak? Apa salah kalau Icha membela diri Icha sendiri?”
“Nggak. Nggak ada yang salah. Apa yang kamu lakukan sudah benar.” Mama membelai rambutku yang kugerai hingga menutupi punggung. “Mama minta maaf. Mama nggak tahu kalau kamu tertekan.”
Aku mengangguk dan bangkit. “Icha mau pergi, ada urusan, Ma.”
“Kemana?”
“Ke rumah Ellen, dia bilang ada lowongan di tempatnya kerja.”
“Kerja apa?”
“Icha nggak tahu. Ini makannya mau ditanyain.” Aku melenggang pergi, namun, Mama menyusulku sampai ke depan pintu.
“Mama kok nggak yakin.”
“Maksud–” Sejenak aku terdiam menatap Mama. Aku tahu Mama hanya ingin aku bekerja di perusahaan tempat Papa meregang nyawa. “Mama please.”
“Ya udah terserah kamu.”
__ADS_1
“Mama doain Icha, semoga bisa cari kerja lain yang gajinya lebih besar.”
“Mama berdoa untuk keselamatan kamu. Mau gaji besar atau kecil semua sudah ada takarannya, Cha.”
Aku menghela napas, lalu melengos pergi. “Icha kerja cari harta.”
“Buat apa kalau itu ngebahayain kamu?”
“Di perusahaan Om Hasa juga belum tentu Icha baik-baik aja. Icha akan tetap berjuang buat cari pekerjaan yang halal,” kataku sembari mengikat rambut.
“Cha, maksud Mama nggak gitu. Lagi pula kenapa kamu harus pergi malam-malam begini, Cha?”
Aku memakai helm, lalu pergi tanpa mengucap salam pada Mama. Aku kesal dan saking kesalnya aku lupa meminta doa keselamatan dari Mama. Tepat pukul sembilan kurang sepuluh menit, aku sampai di rumah Ellen.
“Maaf lama,” kataku setelah turun dari motor.
“Nggak apa-apa, aku juga belum berangkat.” Dia melirik arlojinya.
Penampilan Ellen sangat jauh dari yang aku bayangkan. Dia persis seperti wanita nakal, atau aku yang kurang bergaul sehingga dengan mudah mengomentari penampilan orang lain. Penampilannya sangat bertolak belakang denganku, tapi bukan berarti diriku menyebut aku lebih baik darinya. Hanya saja tak baik bagi seorang perempuan berpakaian seperti itu malam-malam begini. Di bawah cahaya lampu teras rumahnya, aku masih bisa melihat kalau dia mewarnai rambutnya dengan warna marun keunguan. Parfumnya menyengat. Roknya terlalu tinggi sampai aku bisa melihat bagian ****** ********. Setidaknya dia menutupi tanktop dengan jaket pink tua, meski belahan di dadanya masih bisa terlihat dengan jelas.
“El, memangnya kamu kerja apa?” tanyaku penasaran.
“Aku nggak bisa jelasin, kamu ikut aja dan lihat pekerjaanku nanti.”
“Kamu serius?”
“Iya.”
Perasaanku tidak enak. Kurasa ada sesuatu yang aneh dengan Ellen.
“Aku ke sini mau ngobrol tentang pekerjaan, tapi kamu mau pergi, jadi aku pulang aja.”
“Aku mau kerja, Cha. Kalau kamu mau ikut sekarang ayo. Kamu bisa langsung kerja bareng aku, nanti aku bilang sama bosku.”
“Kamu yakin?”
“Iyalah. Kamu butuh pekerjaan, ‘kan?”
Aku mengangguk.
“Ya udah aku bantuin.”
Aku membasahi tenggorokan. Seketika terngiang perkataan Mama sebelum aku memutuskan pergi ke sini.
“Kebetulan, motorku lagi di bengkel, nungguin ojek dari tadi belum datang. Kamu antar aku aja, ya. Aku udah telat banget.”
“Boleh.”
“Sebentar, aku ambil helm.” Dia masuk ke dalam rumah dan kembali dengan helm bogo berwarna hitam.
“Kamu yakin naik motor dengan pakaian kayak gini?” tanyaku ragu. Sebenarnya aku takut dia tersinggung.
“Nggak apa-apa aku udah biasa.”
“Oh ya udah.” Aku naik ke motor, begitupun dengan Ellen.
__ADS_1
“Nanti aku tunjukkan jalannya,” kata dia seraya memegang hoodie abuku. Sudah kukatakan kalau ini sangat bertolak belakang, kalau aku berpakaian seperti Ellen mungkin aku sudah masuk angin.
Sejak kemarin aku berusaha mencari pekerjaan dengan mengumumkan di setiap grup salah satunya grup SMP-ku. Kukatakan kalau aku sedang mencari pekerjaan. Tak berapa lama aku langsung mendapat pesan dari Ellen, dia bilang kalau di tempatnya bekerja sedang membutuhkan karyawan. Dia bilang kalau gajinya cukup. Tidak besar dan tidak terlalu kecil, kuulangi cukup. Cukup untuk jajan dan keperluan lain selama sebulan.