Bias Rasa

Bias Rasa
Perceraian Itu Bukan Tanggung Jawabku


__ADS_3

Aku tak bisa berhenti menangis di pelukan Mama, dan belaian lembutnya membuatku semakin teriris. Mama pun tampaknya tak bisa menahan tangisan. Tujuh tahun terakhir ini kami menjalani semuanya berdua. Berat dan aku tak sanggup jika harus pergi meninggalkan Mama. Dia segalanya dan sekarang aku harus menurut pada pria yang sudah sah menjadi suamiku. Aku harap aku bisa menggagalkan pernikahan ini sebelum Om Hasa mendaftarkannya ke KUA.


Perlahan aku melepas pelukanku. Lalu sungkem pada Tante Ira. Dia memelukku dan membisikan sesuatu. “Jangan sesedih itu, kamu akan tetap bisa merawat ibu kamu, selama Iyash mengizinkannya.”


Kalimat itu membuat dadaku sesak. Bagaimana kalau Kak Iyash menginginkan seluruh hidupku untuk mengikuti semua keinginannya? Bagaimana kalau dia tidak mengizinkanku tinggal di rumah bersama Mama?


Aku segera beralih pada Om Hasa. Pria yang sudah kuanggap seperti ayahku sendiri itu berkata, kalau aku berhasil menaklukan kerasnya pertahanan Kak Iyash. Dia memintaku membawanya kembali ke jalan yang benar.


“Memang dia tersesat?” pikirku.


Setelah sungkem, orang-orang bergantian mengucapkan selamat kepada kami. Lantunan doa memenuhi kediaman kedua orang tua Om Hasa. Sebelum aku sungkem pada Mama, aku lebih dulu sungkem pada Kakek dan Nenek. Sepasang orang tua itu berdoa, agar pernikahan kami utuh seperti pernikahannya. Kak Iyash mengaminkan doa tersebut, aku merasa seperti tak percaya jika pria itu mengaminkannya, sedangkan aku sendiri ingin menggagalkan ini. Pria itu benar-benar sulit ditebak.


Sebagian orang menikmati jamuan malam ini. Sedangkan aku sudah tak bernafsu, meski perutku terasa lapar karena menangis membuatku kekurangan banyak energi.


Sepupu Kak Iyash yang dipanggil Mas Iqbal mendekat dan mendoakan kami. Dia bilang agar aku menjaga sepupunya.


“Tunggu. Kayaknya kebalik deh, Mas. Dia yang harusnya jaga aku.”


Kak Iqbal tersenyum. “Hidup kamu berwarna, Yash. Kamu beruntung mengenal Icha.”


“Jangan berlebihan,” dengkus Kak Iyash


Aku berdecak kesal mendengar Kak Iyash berkata demikian. Sehingga aku memutuskan pergi dan mengobrol dengan Kak Rasya, kurasa dia kakak yang sempurna, anehnya kenapa dia harus memiliki adik seperti Kak Iyash?


Acara tersebut selesai pukul sepuluh. Kini kami duduk di tepi ranjang, aku di sebelah kiri dan dia di sebelah kanan. Aku malas memulai obrolan jika ujung-ujungnya dia membuatku gondok dengan kalimat pedasnya. Kurasa dia juga tak ada niat untuk mengawali pembicaraan atau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi saat ini. Duduk diam selama beberapa menit membuatku kesal, sehingga aku memutuskan untuk pergi ke kamar mandi dan mengganti pakaian. Jangan berharap akan ada malam pertama yang indah. Karena pernikahan ini saja tidak pernah aku harapkan.


Di balik kamar mandi aku mendengar dia berbicara dengan seseorang di telepon. Namun, saat aku keluar dari kamar mandi, dia mengakhirinya. Pandangan kami sempat bersirobok, tapi aku segera mengalihkannya. Dia mungkin akan gila melihatku lebih lama, jadi sebaiknya aku pergi ke kamar Mama.


Di depan pintu kamar Mama. Aku mendengar suara Kak Rasya yang mungkin kebetulan dia baru kembali dari dapur.


“Cha, malam pengantin malah pakai baju kayak gitu.”


“Yang penting Icha nggak pakai daster. Gimana? Sudah cukup menggoda?” tantangku sembari melenggokan tubuh. Aku sudah kesal menganggap ini sebagai sebuah keharusan.


“Mmmm.” Kak Rasya mencebikkan bibir. “Kurang sih sebenarnya, harus ada effort lebih untuk menggoda Iyash.”


“Bodo amat,” dengkusku. Kudengar Kak Rasya tertawa geli. Tadi di pernikahanku dia bilang kalau dia kasihan padaku karena mau menikah dengan cowok kaku seperti Kak Iyash. Sekalian saja ku bilang kalau sebenarnya aku terkena pelet.

__ADS_1


Saat aku masuk ke dalam kamar Mama, aku tercenung melihatnya menangis.


“Mama.”


Mama menoleh. “Icha.”


Perlahan aku mendekat.


“Mama minta maaf.” Lagi-lagi kudengar penyesalan Mama. Kurasa dia tahu kalau Tante Ira sempat menghinaku.


“Nggak apa-apa. Ngapain minta maaf. Papa selalu bilang kalau menangis sewajarnya. Mama lihat, Icha baik-baik aja, kok. Icha bisa jaga diri.”


Mama menarik napas seraya mengangguk. Aku memang sudah sah menjadi istri Kak Iyash, tapi aku memiliki rencana untuk membatalkan pernikahan ini, sebelum Om Hasa mendaftarkannya ke KUA. Aku yakin akan ada jalan untuk setiap permasalahan.


“Ini sudah malam, Cha, cepat kembali ke kamar, suami kamu pasti sudah menunggu.”


“Mama, ‘kan tahu, Icha nggak mau menikah sama dia.” Aku naik ke atas kasur. “Jadi, kenapa kalau Icha tidur di sini?” Aku lalu tidur di atas pangkuan Mama.


“Kamu sudah dewasa, seharusnya kamu mengerti,” kata Mama sembari membelai kepalaku, perlahan aku mulai mengantuk.


“Icha ngerti kok, apa yang harus dilakukan sepasang pengantin di malam pernikahan mereka,” kataku dengan mata terpejam.


“Mmm, nggak usah deh. Biarin aja dia melayani dirinya sendiri,” dengkusku pelan dan aku mulai tertidur di pangkuan Mama.


***


Semalam aku mendapat pesan dari Kak Edgar kalau dia sudah sampai ke rumah, dia juga meminta maaf atas sikapnya padaku. Aku tidak membalas pesannya karena aku menghapus centang biru di pengaturan whatsapp ku, sehingga mungkin dia berpikir, aku belum membaca pesannya.


Pagi hari usai melaksanakan shalat subuh, aku pergi ke kamar Kak Iyash untuk mengambil peralatan mandiku, tapi saat aku hendak keluar, aku tak sengaja bersirobok dengannya.


“Saya mau bicara,” kata Iyash seraya menerobos masuk. Tentu saja aku lekas bergeser sebelum dia melakukan tindakan yang tidak menyenangkan, seperti mendorongku mungkin.


“Dengar,” kataku segera sesaat setelah dia berbalik dan menatapku. “Icha terpaksa menerima pernikahan ini demi Mama, jadi, jangan pernah berharap Icha akan mencintai Kak Iyash.”


Dia terdiam menatapku hingga beberapa detik. Kemudian dia pergi ke depan jendela, lalu membukanya. Aku hanya bisa mengernyit dan kembali merasakan kedongkolan itu.


Daripada semakin gondok, aku memilih untuk kembali ke kamar Mama. Namun, kemudian kudengar dia berdehem.

__ADS_1


“Pernikahan ini hanya formalitas, jadi, jangan pernah membicarakan cinta.”


Jantungku mencelus ngilu. Baik, aku mendengar perkataannya dan aku akan merekamnya di dalam ingatanku.


Aku lekas pergi ke kamar yang ditempati Mama. Dan mematung di balik pintu kamar tersebut.


“Kamu kenapa?” tanya Mama.


“Mama mau kemana?” tanyaku kaget melihat Mama mengemas pakaian. Memisahkan milikku dan miliknya.


“Pulang.”


“Kapan?” Aku mendekat.


“Nanti siang.”


“Kalau begitu, Icha akan pulang sama Mama.”


“Loh, nggak boleh.” Mama bangkit. “Iyash, ‘kan belum sembuh, sebagai istri, kamu harus merawat dia.”


“Oh. Icha ngerti.”


Ya, aku baru saja mengerti satu hal. Mereka datang ke sini untuk menikahkan kami. Lalu aku menjadi perawat pribadinya.


Aku kembali ke kamar Kak Iyash. Saat membuka pintu kulihat dia masih melamun di depan jendela yang terbuka dengan pemandangan pagi yang masih gelap.


“Icha nggak ngerti apa yang Kak Iyash pikirkan, Icha cuma nggak nyangka Kak Iyash akan melakukan ini.”


Pria itu menoleh dan menatapku, namun tak bicara apapun. Inilah yang membuatku sedih, kenapa dia bahkan tidak mau bicara padaku?


“Kenapa harus libatkan Icha?” tanyaku lirih sampai tak sadar air mataku jatuh melintas di pipi.


Lagi-lagi dia tidak menanggapiku. Mau sampai kapan? Aku merendahkan diri di depan pria seperti dirinya?


“Perceraian Om Hasa dan Tante Ira, bukan tanggung jawab Icha,” lanjutku.


“Saya–” Dia menahan kalimatnya.

__ADS_1


“Jika ini soal balas budi, kenapa waktu itu Kak Iyash harus mengorbankan nyawa?” Aku menarik napas seraya menyeka pipi yang basah. Lalu pergi meninggalkan kamar tersebut. Sudah cukup! Aku punya batasan sampai mana aku harus berbuat.


Kupikir setelah sembuh dari sakit hatiku terhadap Arka, aku lupa caranya menangis, tapi setelah Kak Iyash hadir, aku seakan lupa caranya berhenti dari menahan air mata ini.


__ADS_2