Bias Rasa

Bias Rasa
Memberi Makan Beruang


__ADS_3

Menjelang tidur pukul sembilan usai aku memberi obat pada Kak Iyash. Aku mendapat telepon dari Tante Miranti. Dia bilang kalau Edgar menelepon dan memberitahunya akan pulang besok pagi.


“Makasih, Cha. Berkat kamu Edgar mau bicara lagi sama Bunda dan dia mau pulang.”


Bibirku tersungging. “Dia pulang karena keinginannya, Bund.”


“Nggak. Ini berkat kamu, Cha.”


“Bunda udah transfer bonus buat kamu.”


“Bund, nggak usah,” tolakku cepat. “Icha nggak melakukan apapun, Kak Edgar pulang atas keinginannya sendiri.”


“Tapi, berkat kamu juga, Cha.”


Aku kembali menghela napas. “Ya udah makasih.” Tak baik menolak rejeki, walau aku merasa terhina, karena sejatinya aku hanya seharga dengan sejumlah uang yang Tante Miranti berikan. Mungkin benar kata Mama, kalau mereka hanya ingin memanfaatkanku saja. Atau ini hanya prasangka burukku saja karena sedang merasa insecure.


“Bunda, sebenarnya malu memberi kamu uang sedikit, tapi–”


“Ini sudah cukup kok, Bund. Nggak dikasih pun sebenarnya nggak apa-apa. Icha cuma ingin bantu kok.”


“Iya, Bunda tahu.”


“Bund, udah dulu ya, ada telepon masuk,” bohongku.


“Eh iya, besok kamu pulang sama Edgar, ‘kan?”


“Belum tahu, Bund.”


Aku lekas menutup panggilan. Sebelum Bunda Miranti kembali bertanya tentang kepulanganku besok. Aku tak bisa menjabarkan apa yang aku rasakan saat ini. Semuanya seperti gamang dan membingungkan. Aku tidak suka perjalanan hidupku saat ini. Sebelum Kak Iyash dan Kak Edgar hadir, hidupku baik-baik saja.


Awalnya memang berniat berbohong, tapi ternyata ponselku kembali bergetar dan panggilan masuk dari Mama. Tadi Mama sudah menelepon dan bertanya kondisi Kak Iyash, mungkin sekarang pun dia akan bertanya hal yang sama. Aku malas membahas pria itu, sehingga aku memutuskan untuk tidak menjawab panggilan Mama. Sampai akhirnya Mama mengirim pesan.


[Tante Ira dan Om Hasa besok ke sana.]


“Syukurlah, aku bisa pulang,” pikirku sebelum membalas pesan tersebut.


[Cha, ada apa ya, perasaan Mama nggak enak, soalnya mereka mengajak Mama ke sana.]


[Ma, katanya dulu, Papa sering ke sini, mungkin Kakek sama Nenek ingin bertemu Mama, karena sejak Icha di sini mereka selalu membicarakan Papa dan mereka juga bertanya tentang kabar Mama.] balasku tenang.

__ADS_1


[Oh begitu.] Balas Mama singkat.


Aku mengirim emotikon senyum. Berharap Mama tidak mengkhawatirkan apapun itu tentang hari esok. Aku mengerti kalau Mama takut ketinggian, semoga besok Om Hasa dan Tante Ira tidak mengajak Mama naik pesawat. Namun, walau itu tetap terjadi, aku yakin Mama akan baik-baik saja. Sudah beberapa kali Mama naik ke lantai dua rumah kami, pikirku mungkin Mama sudah sembuh dari fobianya, meski tak dapat disamakan dengan naik pesawat, tapi bagiku itu sebuah kemajuan karena sejak beberapa tahun lalu, saat aku ingin rumah dua lantai, baru beberapa kali saja Mama naik ke atas. Lututnya selalu gemetar setiap menaiki anak tangga.


[Cha, kemarin Om Rudi ke sini.]


[Terus?]


[Dia melamar Mama.]


[Hah, bukannya dia punya istri?] tanyaku kaget.


[Sudah bercerai. Menurut kamu apa Mama terima dia?]


Aku mengirim emoticon tertawa dengan mata berair.


[Kenapa tertawa? Ini nggak lucu, Cha.]


[Ma, memang Mama udah bosan hidup tanpa Papa?] tanyaku serius.


[Mama cuma berpikir ke depan. Kamu akan menikah dan dibawa sama suami kamu, terus Mama tinggal sendiri.]


[Ma, katanya kalau perempuan menikah lagi, nanti di surga dia nggak akan ketemu dan kumpul sama suaminya yang sudah meninggal lebih dulu.]


[Mama ih, memang Mama berani memilih antara Papa atau Om Rudi?]


Kali ini Mama yang mengirim emoticon tertawa. Hidup kami memang tampak seperti lelucon. Aku dan Mama terbiasa menertawakan apapun yang justru membuat rumit hidup kami. Namun, sekarang aku merasa hidupku terasa berat, perasaanku pada Kak Edgar mungkin menggantung dan kalimat Nenek Alma masih terngiang.


***


Ini hari pertama aku di pegunungan dan merasakan sejuknya udara di sini. Tak ada deru mesin kendaraan dan asap knalpot di sini. Ada pun hanya beberapa motor yang kebetulan lewat, tapi tak sepadat dan sebanyak di kota besar.


Pandanganku tertuju pada sebuah rumah dengan jendela yang menghadap lurus ke kamar Kak Iyash. Semalam bulan tepat berada di atasnya.


Semalam Kak Edgar keluar dari kamarku tanpa bertanya apapun lagi usai aku bilang kalau cuma Kak Iyash yang tahu jalan ke sini. Dan pagi ini aku melihatnya pulang tanpa berpamitan sama sekali.


“Cha,” panggil Nenek di depan pintu kamarku. Aku lekas beranjak dari kasur untuk membukakan pintu.


“Edgar, pulang dan katanya dia sudah berpamitan sama kamu.”

__ADS_1


Aku terdiam beberapa detik. Kenapa dia harus berbohong?


“Cha?”


“Iya.” Aku mengangguk.


Nenek tersenyum. “Kenapa dia harus pulang, padahal rumah ramai ada dia di sini.”


Aku menarik napas dalam. “Sudah terlalu lama dia pergi, Nek. Kasihan ibunya.”


“Oh memang ayahnya di mana?”


Andai aku bisa bilang kalau ayahnya  adalah Om Hasa. Namun, aku sadar kalau aku tidak perlu ikut campur terlalu jauh. Urusanku saja semakin rumit di sini.


“Tapi, nenek senang ada kamu di sini.” Nenek merangkul lenganku. “Rumah jadi wangi.”


Aku tersenyum kikuk. “Kalau ada kak Edgar rumah jadi ramai, ada Icha rumah jadi wangi, terus kalau ada Kak Iyash rumah jadi apa? Membeku?”


Nenek tertawa. “Iyash tak sedingin itu. Udah Yuk, temui Iyash. Beruang kamu nggak mau sarapan kalau bukan pawangnya yang suapin.”


“Nek, tapi Icha–”


“Iya, Nenek tahu. Tapi, Iyash harus  minum obat.” Entah apa yang Nenek tahu. Aku malah takut membuatnya bersedih, sehingga aku mengikuti semua sandiwaranya.


Di depan pintu kamar yang sudah terbuka itu aku mematung. Sementara Nenek sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar.


“Kalau pagi, cahaya mataharinya masuk ke kamar Iyash. Jadi, kamu bisa sekalian berjemur,” kata Nenek. Dia kemudian menoleh padaku. “Icha, ayo cepat, Iyash sudah lapar.”


Kak Iyash hanya duduk terdiam di atas ranjang. Perlahan aku mendekat dan duduk di dekat kakinya. Lalu kuambil mangkuk berisi bubur hangat dan mulai menyuapinya. Aku malas bicara jika itu berujung ketegangan dan memancing pertengkaran. Jadi, lebih baik aku diam dan menghemat energiku.


Sampai bubur tersebut habis, Kak Iyash juga tak mengajakku bicara. Aku ingin kegiatan ini cepat selesai, sehingga aku cepat-cepat memberinya obat. Sementara sedari tadi Nenek duduk di sofa menyaksikan kebekuan kami. Setelah aku selesai menyuapi Kak Iyash, Nenek keluar lebih dulu dan aku segera mengikutinya.


“Apa karena ada Nenek, kalian jadi diam terus?” tanya Nenek saat kami sama-sama di dapur.


“Mungkin.”


“Kamu juga kenapa diam terus? Kayak boneka kehabisan baterai,” seloroh Nenek.


Aku tersenyum. “Komunikasiku sama Kak Iyash lagi nggak sehat, Nek.”

__ADS_1


“Oh, dia cemburu melihat kamu sama Edgar semalam.”


“Ngarang,” dengkusku seraya duduk di dekat meja. Tak dapat dipungkiri semangatku hilang setelah Kak Edgar pergi.


__ADS_2