Bias Rasa

Bias Rasa
Buang Sial


__ADS_3

Sekarang aku merasa bebas dan bagiku ini tidak terlalu sulit. Sehingga aku memutuskan untuk kembali ke darat dan naik lagi ke puncak air terjun. Aku ingin memastikan sekali lagi kalau aku bisa menaklukan tingginya air terjun ini. Sama seperti aku bisa menaklukan tinggi dan kerasnya semua orang terhadapku.


Lalu kembali kurasakan tubuhku melayang diudara sampai beberapa detik dan jatuh ke pelukan air sungai yang segar dan menyegarkan. Sekejap penatku hilang, pikiranku tenang dan bebanku ikut terhempas ke dasar sungai.


Aku kembali mengulanginya sampai aku benar-benar bisa menerima perasaanku sendiri. Sampai beberapa kali, aku masih baik-baik saja, sampai akhirnya lompatanku gagal dan tanganku tergores ranting pohon. Terasa perih dan begitu menyakitkan. Kurasa aku impas dengan luka di tangan Kak Iyash, meski ini masih tak sebanding, tapi seharusnya dia tak merenggut kehidupanku.


 Aku lekas naik ke darat dan duduk di atas batu, darah terus mengucur dari kulit di bawah siku. Kepalaku mulai berdenyut. Namun, aku berusaha bertahan untuk bisa menaklukannya. Sebelumnya aku pernah mengalami ini dan kurasa ini tak sulit bagiku, meski kepala terasa sedikit sakit.


Aku segera bangkit dan pergi mencari jalan pulang, entah berapa lama aku di sana yang jelas aku merasa matahari baru saja berada di atas puncak kepalaku. Perlahan ketika aku meninggalkan tempat itu, Aku melihat cahaya matahari dan mulai merasakan hangatnya.


Kurasa aku tak tahu jalan pulang, aku hanya berharap Tuhan menjaga kesadaranku saat ini. Jangan sampai aku pingsan karena darah yang kurasakan terus menetes diantara robekan kulitku. Syukurlah aku tak bisa melihat seberapa panjang luka itu, tapi mungkin memang besar karena begitu sakit untuk dirasakan.


Aku terus mengikuti kemana sungai itu mengalir. Seharusnya mungkin aku kembali ke hulu sungai dan pulang melalui jalan yang aku lewati sebelumnya. Cukup lama aku berjalan sampai kakiku terasa begitu pegal dan aku tak merasakan lagi air di dalam sepatuku. Aku juga tidak merasakan berat karena pakaian basah, terlebih sweaterku yang sejak tadi melorot karena basah. Namun, darah membuat celana putihku menjadi merah kecoklatan.


Kuedarkan pandangan dan aku melihat sebuah gedung tiga lantai. Aku berada di belakangnya. Syukurlah, mungkin aku sudah dekat. Aku lekas mencari jalan keluar dari tempat tersebut.


Seperti sebuah benda yang dilemparkan, tiba-tiba aku berada di pertigaan jalan. Aku tak sadar sudah berhasil keluar dari hutan itu, katakan saja begitu. Aku ingin tertawa, tapi ini tidak lucu karena sejak tadi aku belum bertemu dengan satu manusia pun.


Tepat di kanan pertigaan aku melihat warung. Perutku lapar, tapi mampir pun percuma aku tak bawa uang. Entah suatu keberuntungan, atau memang sudah ditetapkan. Aku melihat Mbak Lastri keluar dari warung tersebut dan berjalan ke arah kanan.


“Mbak,” panggilku. Namun, dia tak mendengar suaraku yang terlampau pelan. Aku menyeret kakiku yang sudah terasa lelah. Sekarang aku malah menyulitkan diriku sendiri.


Aku mencoba untuk tidak kehilangan Mbak Lastri, pembantu di rumah Nenek. Namun, saat aku berusaha mengejarnya, aku tak fokus dan tak sadar kalau sebuah motor melintas tepat di depanku dan suara klaksonnya memekik tajam.


Suara itu membuat telingaku berdengung dan aku tak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.


***


Samar kudengar banyak suara tumpang tindih menutupi pendengaranku, perlahan semua menjadi jelas dan jernih.

__ADS_1


“Cha.”


Aku membuka mata dan kulihat wajah Mama berada tepat di depanku. Mama memelukku erat.


“Lain kali kalau mau pergi, izin, jadi kami nggak bingung nyariin kamu.”


Aku terperangah mendengar omelan Tante Ira. Aku tersadar kalau inilah penangkaran buaya sebenarnya. Mungkin jika lengah sedikit, aku akan disantap hidup-hidup.


“Dari tadi, Iyash cari kamu,” tambah wanita itu, sementara Mama hanya diam. Kulihat wajah khawatirnya, aku tahu Mama mungkin takut tidak bisa bertemu lagi denganku, padahal sebelumnya aku sempat ingin mengakhiri semuanya.


“Kamu dari mana?” tanya Mama khawatir sembari menggenggam kedua pipiku. Aku sudah kehilangan sweaterku dan hanya menyisakan tanktop hitam yang masih terasa sedikit basah. Lukaku sudah diperban memanjang ke bawah, kurasa mungkin lukanya memang panjang.


“Cha, Mama khawatir.”


Aku lupa kalau aku tidak sendiri di dunia ini, meski Mama sempat ikut  memaksakan kehendak semua orang padaku, tapi Mama sudah meminta maaf semalam.


Seketika aku termangu. “Mama mau pulang?”


Mama mengangguk.


“Icha ikut.” Aku lekas duduk, namun, Mama menahan bahuku.


“Tetap di sana, Cha.”


“Ma.”


Tiba-tiba Mbak Lastri datang dan membawakan semangkuk sup dengan nasi hangat.


“Makan dulu.”

__ADS_1


“Rahma, kita harus bicara,” kata Tante Ira.


“Tapi, anakku lapar, dia harus makan,” kata Mama emosional. Kulihat kedua matanya berembun, tapi Mama berhasil menahannya agar tidak terjatuh. Kuakui Mama cukup tegar dan bisa mengendalikan semua perasaannya.


“Biar Iyash yang suapi Icha, dia suaminya,” ucap Tante Ira, seolah lupa bagaimana kondisi anaknya yang menyebalkan itu. Aku begini juga gara-gara dirinya.


Mama berdecak. “Kamu lupa, anak kamu bahkan masih kesulitan menyuapi dirinya sendiri.”


“Cukup! Anakku begini juga untuk melindungi anakmu. Jika tidak ada dia, sekarang kamu sudah kehilangan Icha.”


Kami semua terdiam, tak ada yang bersuara usai mendengar cercaan Tante Ira. Akhirnya aku lihat Mama menyerah dengan perasaannya sendiri. Dia tertunduk dan air matanya terjatuh.


“Ma.” Aku bangun kali ini dan aku hanya bisa memeluknya. Semua yang dikatakan Tante Ira memang benar, sehingga aku tak bisa membantah perkataannya. Sedangkan di sisi lain kulihat Kak Iyash berdiri tanpa berkata apapun, aku benci melihat wajahnya, jadi kuputuskan untuk terpejam dalam pelukan Mama, namun, sial wajahnya terbayang, kalimatnya terngiang. Dia memintaku untuk tidak membicarakan cinta.


Perlahan kulepaskan pelukan Mama dan Mama mengambilkan sepiring nasi yang sudah dia siram dengan kuah sop, potongan daging sapi dan syur mengambang diatasnya.


“Icha bisa makan sendiri.” Aku mengambil mangkuk tersebut dan langsung menyantapnya tanpa menghiraukan siapapun. Sampai perlahan semua orang pergi dan meninggalkanku, Mama, Tante Ira dan Kak Iyash.


“Rahma, kita harus bicara, biar Iyash yang jaga Icha.”


Mama menghela napas dan perlahan dia bangkit. Aku terperangah menatapnya. Aku tahu kalau Mama keberatan meninggalkanku sendiri dengan pria itu. Namun, Mama tetap pergi mengikuti Tante Ira dan meninggalkan kami.


Makanku jadi terasa tak nikmat. Mengunyah pun rasanya enggan.


“Dari mana?” tanya pria itu tanpa melihat kondisiku.


“Buang sial,” dengkusku seraya bangkit dan meletakkan piring di atas sofa, lalu pergi ke kamarnya. Aku mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi. Tak peduli apa yang terjadi, mungkin aku harus mencobanya lagi.


Sayangnya aku tak bisa lupa dengan apa yang terjadi pagi tadi, padahal saat aku melompat dari atas air terjun, aku bisa melupakannya meski sesaat, mungkin itu karena aku hanya memikirkan hidupku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2