
Aku masuk ke dalam mobil Kak Iyash. Dia memutar kemudi dan perlahan mobil melaju meninggalkan kediaman Tante Miranti.
“Kamu punya dua pilihan, jawab jujur atau saya turunkan kamu di jalan.”
“Hah? Dari mana Kak Iyash tahu aku bohong?”
“Saya cukup bisa menebak mana yang suka bohong dan mana yang terbiasa jujur.”
Aku mendecih. “Oke kalau begitu buktikan.”
“Kenapa kamu bisa kenal dengan keluarga ini?”
“Maksudnya?”
“Saya yakin kamu cukup mengerti dengan pertanyaan saya,” katanya tanpa menoleh sedikitpun.
Bagaimana dia akan tahu aku jujur atau bohong kalau sejak tadi dia bahkan tak menatapku sama sekali?
“Maksudnya keluarga Tante Miranti?”
“Iya, memang siapa lagi?”
“Kan, tadi di mobil udah aku jelasin ke Om Hasa.”
“Sekarang kamu jelaskan lagi.”
“Nggak ada kewajiban untuk itu.”
Seketika dia menginjak rem dan berhenti di tengah jalan, bahkan tak sempat menepi sama sekali. “Turun.”
“Kak, bahaya, kalau berhenti di tengah jalan secara tiba-tiba begini. Gimana kalau ada kendaraan di belakang?”
“Berisik! Kamu jawab, atau turun dan pulang sendiri.”
Aku mengedarkan pandangan. Jalanan cukup sepi dan aku tidak pernah pulang selarut ini.
“Jadi, Kakaknya Mamaku, namanya Tante Mila. Nah Tante Mila ini menikah dengan saudara sepupunya Tante Miranti. Om Ben namanya. Puas?”
Perlahan dia kembali mengemudi. Jantungku bertabuh, aku takut dia berhenti di tengah jalan lagi seperti tadi.
“Sudah berapa lama kamu mengenal Ed-gar?” Dia memisah nama Kak Edgar, seperti takut salah atau enggan mengucap namanya.
Aku menggaruk kepala. Kalau aku bilang sudah lama, mungkin dia tak akan percaya, tapi kenapa tidak.
“Sudah lama. Dari SMA,” bohongku.
“Saya tahu kamu bohong.”
“Ya pastilah, ‘kan tadi pagi di di depan Om Hasa sudah aku jelasin.”
“Ingat pilihannya cuma dua. Jawab jujur atau kamu turun,” katanya sembari kembali melaju. “Semakin mengelak, semakin aku tahu kamu bohong.”
Aku membasahi tenggorokan. “Iya, aku memang belum seminggu kenal dengan keluarganya, tapi sudah cukup lama aku tahu Kak Edgar, dia penulis buku yang kubaca.”
“Belum seminggu, tapi sudah seagresif ini?”
“Aku nggak agresif, aku cuma mudah akrab,” sanggahku.
“Jadi, kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga mereka.”
“Kata siapa, aku tahu,” kataku sembari merapikan cardigan.
Dia menoleh dan menatapku nyalang.
“Kamu tahu kalau Papa saya punya hubungan sama Tante Miranti.”
“Iyalah,” tukasku keceplosan. Kedua mataku membola dan aku langsung menepuk-nepuk mulutku sendiri. “Bund, maaf, Bund, nggak sengaja,” gumamku.
__ADS_1
“Oh, jadi kamu tahu.”
“Nggak kok, nggak.”
“Jangan bohong, atau kamu–”
“Iya-iya.” Aku bosan mendengar ancamannya. “Sekarang antar aku pulang, jangan nanya lagi.”
Kak Iyash mendengkus dan langsung memutar kemudi. Aku menghela napas panjang. Semoga dia nggak nanya yang aneh-aneh lagi.
“Kamu tahu kalau Edgar itu–”
“Please jangan.” Aku mengatupkan tangan di depannya. “Jangan nanya lagi. Aku udah janji sama Tante Miranti.”
“Berarti benar.” Belum satu meter dia mengemudi, dia kembali berhenti, namun kali ini di pinggir jalan, tapi aku tetap saja takut.
“Iya, memang benar. Tadi, Tante Miranti sendiri yang bilang, itu sebabnya Kak Edgar pergi.”
“Kemana?”
“Aku nggak tahu.”
“Kemana?” Dia mencondongkan tubuhnya.
“Aku beneran nggak tahu, Kak.”
“Minta nomornya.”
“Nggak mau.” Aku memeluk tasku.
“Mana nomornya?” Dia bersikukuh.
“Jangan Kak.”
“Ya sudah, kamu turun. Turun.” Dia mendorongku.
Aku tak berpikir panjang, selain aku turun dari mobil itu dan pulang sendiri. Aku hendak membuka pintu, namun dia langsung mengunciku.
“Mau Kak Iyash apa? Katanya tadi aku disuruh pulang sendiri?”
“Saya cuma mau minta nomornya.” Dia memelankan suaranya.
Aku benar-benar merasa dongkol. Aku ingin melawannya, tapi dia pasti akan melakukan hal yang tidak aku inginkan. Mengancamku, mendorong dan menarikku dengan kasar. Mama dan Papa saja tidak pernah melakukan hal itu padaku.
“Cepat.”
Aku terpaksa merogoh tas dan mengambil ponsel, lalu memberikan ponselku padanya.
“Buka. Kamu tinggal sebutin nomornya.”
“Aku malas.”
Dia merebut ponselku. “Sandinya apa?”
“Tanggal dan tahun lahirku.”
“Jawab yang benar,” katanya datar.
“Beda dua hari enam tahun dari tanggal lahir Kak Iyash.”
Dia berdecak. Kemudian menatapku kesal.
Aku mendorong tubuhnya. “Keluar biar aku yang bawa mobil.” Satu hal yang aku pelajari darinya, aku tidak boleh takut pada pembully, karena biasanya orang seperti dia akan memanfaatkan rasa takut orang lain dan semakin aku menunjukkan rasa takutku dia akan semakin menekanku.
“Cepat turun,” pintaku pada pemilik mobil.
Dia menatapku.
__ADS_1
“Kamu tinggal sebutin berapa sandinya dan kita jalan.”
“Nggak, nggak perlu, kamu tinggal turun dan mikir sendiri.”
Dia turun. Dan aku benar-benar merasa menang. Kami menukar tempat duduk dan aku melajukan mobil tersebut dengan cepat. Untung aku pernah kursus mengendarai mobil, setidaknya untuk keadaan mendesak seperti sekarang ini dan ketika Mama ingin diantar menggunakan mobil.
“Kamu bohong, ‘kan?” tanyanya ketika hampir sampai di dekat perumahan tempatku tinggal.
“Aku nggak bohong. Tanya sana sama Tante Ira.”
“Memangnya kamu tahu tanggal lahir saya?”
“Aku tahu,” balasku sengit.
“Berapa?”
“Ya, kalau nggak salah ingat dua hari sebelum tanggal lahirku dan enam tahun sebelum tahun lahirku.”
“Sssstttt. Kamu tinggal bilang berapa?” tanyanya kesal.
Aku berhenti tepat di depan komplek. Kurasa dia tidak tahu kalau kami sudah sampai. “Bisa berhitung nggak sih.” Aku merebut ponselku darinya. “Makasih udah dianterin. Lain kali dicatat, aku nggak pernah takut sama cowok sombong kayak kamu.”
“Hei. Marissa!” teriaknya dari dalam mobil.
Aku turun dan membanting pintu mobilnya. Dia berteriak memanggil namaku dari jendela mobil yang terbuka.
Aku segera masuk ke area komplek, beruntung Pak Satpam sudah menutup pagarnya, sehingga mobil tak ada yang bisa masuk. Tubuhku yang kecil dan ramping bisa menyalip dengan hanya berjalan miring. Aku yakin Kak Iyash tidak akan bisa melakukannya jika dia bersikukuh untuk menyusulku.
Aku mencebikkan bibir, menjulurkan lidah dan mengejeknya. Lalu kulambaikan tangan seraya berjingkrak sebagai bentuk kalau aku telah menang dan dia kalah dariku.
Waktu menunjukkan pukul setengah dua belas malam dan aku yakin Mama pasti belum tidur. Dia akan menungguku, sama seperti ketika dia menunggu Papa pulang beberapa tahun lalu sebelum Papa meninggal.
Aku melewati beberapa blok dan akhirnya aku sampai di rumah ternyamanku.
Aku mendial nomor Mama dan Mama langsung menjawab panggilanku, itu tandanya Mama memang tidak tidur dan sedang menungguku. “Ma, Icha di depan.”
“Dari mana aja kamu pulang malam-malam begini?” cecar Mama di telepon.
“Bukain, Ma. Icha capek.”
Mama membuka pintu dan berjalan beberapa langkah menuju pagar.
“Assalamualaikum, Ma.” Aku mengecup punggung tangannya sesaat setelah Mama membuka pintu.
“Waalaikumsalam. Dari mana aja? Mana motor kamu?” Dia memegang kedua bahuku dan memutar tubuhku untuk melihat ke belakang. “Kamu kena begal?”
“Amit-amit,” gumamku seraya masuk ke dalam rumah dan Mama langsung mengunci pagar, lalu kemudian dia mengikutiku ke dalam.
Aku ke dapur dan langsung mengambil minum. “Kemana dulu? Mama telepon Hasa katanya kamu sudah pulang dari sore.”
“Emang Om Hasa nggak bilang?”
“Bilang apa?”
“Pulang dari kantor aku langsung melayat.”
“Oh. Mau makan?”
“Besok aja ah, malas ngunyah.”
“Ya udah sekarang kamu istirahat. Besok berangkat pagi, ‘kan?”
“Hm. Icha langsung ke kamar ya, Ma. Capek.”
“Iya.”
Malam itu aku pergi ke kamar dan tidur. Namun, aku tak bisa berhenti memikirkan Kak Iyash. Kira-kira pria sombong itu sudah pulang atau masih di depan komplek?
__ADS_1