
Pagi itu aku pergi meninggalkan kediaman kedua orang tua Om Hasa. Melarikan diri memang bukan kebiasaanku, tapi tak ada salahnya aku mencari ketenanganku sendiri, karena aku juga butuh waktu untuk menyendiri.
Rasa sesak di dada membuatku tak dapat menikmati udara pagi ini. Embun dan kabut di mataku membuat pandanganku kabur, berkali-kali aku terjatuh diantara jalan yang licin, meski begitu, aku terus berjalan menyisir perkebunan teh.
Perlahan kulihat cahaya yang membuat langit sedikit lebih terang, sehingga aku bisa melihat lahan hijau membentang di sepanjang jalan tempatku berpijak. Indah, tapi tak membuat suasana hatiku membaik. Sejak semalam aku ingin marah, tapi tak bisa. Sekarang aku bisa marah, tapi tak ada lawan untuk bertengkar karena belum apa-apa, aku sudah kalah.
Aku berpapasan dengan beberapa orang yang hendak pergi ke kebun membawa keranjang besar di punggung. Sementara aku seperti orang sakit yang sedang meratapi nasib.
Tak ada yang bisa mendefinisikan perasaanku pagi ini. Sejak semalam aku merasa sudah tak bisa menggenggam hidupku sendiri. Aku kehilangan kesempatan untuk mendapatkan pilihan. Jika aku boleh jujur, ini bukan jalan yang kumau. Aku lebih baik kehilangan banyak harta, hidup miskin dan kelaparan karena setidaknya aku masih bisa memperjuangkan hidupku sendiri.
Aku sudah terlalu jauh berjalan, hingga tak sadar aku berada di suatu tempat dengan suguhan pemandangan yang indah. Aku berada di hulu sungai dengan air yang jernih dan suasana terasa begitu dingin. Mungkin saja aku berada di penangkaran buaya? Entahlah yang jelas keberadaanku disini mengingatkanku pada satu kejadian.
Dulu, Papa akan selalu memastikan kami tidak kelaparan. Papa juga akan mengabulkan apapun yang aku minta. Beliau selalu bilang, aku adalah anak kesayangannya.
“Pa, jika Papa tahu apa yang terjadi pada Icha saat ini apa yang akan Papa lakukan? Gumamku seraya terus berjalan. “Jika pernikahan ini bukan kemauan Icha, apa Papa akan tetap memaksa Icha menikah?”
Kegetiran membuatku semakin teringat Papa. Pernah suatu hari menjelang ulang tahunku yang kedua belas, aku mengalami sakit yang cukup parah sampai harus rawat inap selama dua minggu lebih. Waktu itu Papa berkata, jika aku sembuh, apapun yang aku mau akan Papa kabulkan.
Bodohnya aku waktu itu, malah meminta Papa untuk mendatangkan Kak Iyash di pesta ulang tahunku nanti.
Papa bilang itu nggak mungkin, karena waktu itu Kak Iyash sekolah di Surabaya dan sedang mempersiapkan ujian kelulusan. Tapi begonya, aku bersikukuh sampai tidak mau makan. Akhirnya Mama bilang kalau Papa pergi ke Surabaya untuk menemui Kak Iyash.
__ADS_1
Waktu itu aku merasa senang bukan main. Menurutku, dulu itu adalah hal yang indah, tapi sekarang itu adalah yang paling buruk untuk dikenang.
Waktu yang aku nantikan tiba. Pesta yang aku mau dibuat semeriah mungkin, semua orang diundang dalam acara tersebut dan Kak Iyash datang membawa kado. Waktu itu tubuhnya tak segagah sekarang. Dia hanya pria kurus yang baru beranjak dewasa.
Pita satin berwarna pink adalah pasangan gaun yang kukenakan waktu itu. Dan aku terkejut karena pria itu menyimpan pita tersebut di ranselnya. Bercak darah di ujung pita itu adalah darah yang keluar dari hidungku sepuluh tahun yang lalu.
Waktu itu kami mengadakan game, entah ide dari siapa, yang jelas aku harus menutup mata untuk mendapatkan hadiah yang aku inginkan. Kami tak menemukan benda yang bisa menutup mataku, akhirnya Kak Iyash bilang, “Pakai saja pita itu.”
Mama setuju dan langsung melepas pita tersebut dari pinggangku, lalu digunakan untuk menutupi mataku, ujung pita menjuntai ke bahu lalu berakhir di dadaku.
Semua orang berdiri membentuk lingkaran dan memegang kado mereka masing-masing. Aku masih ingat saat tubuhku berputar kepalaku terasa berdenyut nyeri. Aku seperti berhenti bernapas dan seketika darah segar keluar dari hidungku sangat banyak bahkan sampai mengotori gaunku. Sejak saat itu setiap melihat darah segar yang mengucur membuat kepalaku berdenyut nyeri, dadaku sesak dan telinga terasa berdengung.
Aku dilarikan ke rumah sakit dan aku kembali mendapat perawatan. Itu adalah pesta terburukku, sejak saat itu aku tidak membutuhkan pesta apapun untuk merayakan ulang tahunku yang terpenting aku sehat.
Bertahun-tahun berlalu dan aku melihatnya di pesta pernikahan Kak Ashilla. Sedang duduk sendiri menikmati pesta. Aku hendak menyapanya, namun, tak sengaja dia bangkit dan langsung berbalik, pergerakannya sangat cepat sampai tak sengaja kopiku tumpah ke blazernya.
“Maaf,” kataku panik.
Kak Iyash marah dan menunjuk blazernya yang kotor.
“Iya-iya. Saya minta maaf, Kak,” kataku panik sembari membersihkan jasnya. Namun, dia memekik sampai membuatku terkesiap.
__ADS_1
“Kak?”
Kutatap wajahnya yang tegas dan sorot matanya yang tajam. Meski penampilannya berubah, tapi aku masih ingat kalau dia memang Kak Iyash.
“Memang saya Kakak Kamu?” tanyanya kesal.
“Iya, Mas,” sahutku gugup.
“Cih.” Dia menatapku sinis. “Saya nggak akan lupa malam ini,” ucapnya kesal sembari menunjuk wajahku.
Semalaman setelah pulang dari acara itu, aku tak bisa tidur dan terus memikirkannya. Sampai kemudian di Senin pagi, aku kembali melihatnya duduk di kursi Direktur dan mewawancaraiku.
Kupikir dengan menyebut namaku, dia akan ingat, tapi tidak. Apa aku berubah banyak, sampai dia tak bisa mengenaliku. Pagi itu kalimatnya benar-benar menjatuhkanku dan aku tidak bisa lagi mentolerirnya. Dia melupakanku, maka aku pun tidak akan mengingatnya, sehingga aku pura-pura tidak mengenalnya dan kurasa aku berhasil sampai Om Hasa kembali mengenalkan kami. Namun, dia bersikap dingin seolah aku tak pernah ada dalam memorinya. Bahkan aku seperti orang asing yang baru dia temui.
Om Hasa bilang dia mengalami kecelakaan sampai sebagian memorinya hilang. Awalnya aku percaya, tapi saat aku melihat pita milikku yang tersimpan di dalam ranselnya, aku tak yakin dia benar-benar lupa.
Sekarang semua itu tak ada gunanya. Dia memulai caranya sendiri dan aku akan mengakhiri semua dengan caraku sendiri.
Mungkin sudah sangat jauh aku berjalan mengikuti kemana air sungai itu mengalir, sampai akhirnya aku berada di atas air terjun. Jatuhnya air dari atas sini disambut oleh kumpulan teman-temannya.
Aku menarik napas, kemudian melompat dari atas. Tubuhku terasa melayang sampai beberapa detik sebelum akhirnya jatuh ke air yang cukup dalam, sesaat kesunyian seperti baru saja memelukku. Aku lekas berenang ke atas dan kuambil oksigen sebanyak-banyaknya. Aku bukannya takut mati, tapi di dalam air aku baru saja menemukan sesuatu yang menangkan.
__ADS_1
Sesaat mungkin aku tak dapat berpikir, namun saat aku di dalam air dan aku tengadah menatap langit di antara tingginya pepohonan, aku sadar kalau kuasa Tuhan tidak hanya sampai di sini. Tuhan memberiku masalah karena Tuhan tahu aku mampu menyelesaikan masalahku sendiri.