Bias Rasa

Bias Rasa
Terjebak


__ADS_3

Pagi hari aku duduk termenung di atas ranjang menikmati udara dingin yang masuk melalui jendela yang sudah terbuka entah sejak kapan. Semalam aku terpaksa tidur di kamar ini karena Tante Ira bersikukuh, sedangkan Mama tak mengatakan apapun. Sebelumnya Tante Ira tahu kalau di malam pertama pernikahan aku tidur bersama Mama.


Aku sadar kisahku mungkin tak seindah drama Korea yang kutonton. Jika di dalam drama sepasang pengantin yang terpaksa menikah akan membuat sekat di atas ranjang, atau mungkin salah satu dari mereka tidur di lantai beralas karpet. Tapi, tidak dengan kami. Aku tak bisa bernegosiasi dengan pria itu, sehingga kami tetap tidur di atas ranjang yang sama, meski kami tak saling bicara satu sama lain.


Ketika aku terbangun di tengah malam, aku melihatnya dan ketika aku bangun pagi tadi, aku juga melihatnya. Namun, saat ini aku tak melihatnya, apakah aku rindu? Tentu saja tidak, justru aku tak menginginkan dia ada di sini.


Sejak kemarin ponselku berdering, Kak Edgar mengabarkan kalau dia sudah merasa lebih baik, berdamai dengan keadaan adalah kuncinya hidup tenang.


Aku hanya tersenyum tipis membaca pesan tersebut. Apalagi saat dia bilang kalau dia sudah terbangun dari mati surinya.


Aku membalas pesan tersebut. [Mati seperti apa yang disebut suri. Sedangkan untuk suri sendiri memiliki arti teladan atau contoh yang baik.]


Dia mengirim emoticon tertawa. [Beda hal dengan ibu suri.]


[Oh seperti, Ibu Suri yang menjadi suri kami, kini telah mati suri.] Entahlah kenapa aku harus mengirim pesan seperti itu pada Kak Edgar. Aku hanya merasa aku butuh orang untuk diajak bicara dan bercanda.


Kak Edgar kembali mengirimku emoticon tertawa, tapi sayangnya aku tak bisa tertawa bersamanya. Mungkin aku juga sedang mengalami mati suri.


“Cha,” tiba-tiba kudengar suara dibalik pintu dan itu suara Mama. Aku lekas turun dari ranjang, lalu membukanya. Mama berdiri dan tersenyum menatapku, namun senyumnya tak selega seperti saat aku masih lajang. Mama tahu kalau aku masih ingin menikmati masa mudaku dengan bebas, bukan seperti sekarang, terkungkung di sebuah kamar dengan seorang pria.


 “Kamu baik-baik aja?”


Aku hanya mengangguk. Dibilang tidak pun mungkin percuma karena itu hanya akan membuat Mama khawatir.


“Mama minta maaf.” Mama menarik tanganku dan meletakan di pipinya. “Maaf.”


Aku menarik napas. Lalu mengangguk.


“Maaf karena Mama harus pulang pagi ini.”

__ADS_1


Jantungku mencelus. Pikirku Mama meminta maaf dan merasa bersalah untuk pernikahan dan kehidupanku yang dipilihnya, ternyata aku salah.


“Kamu mungkin harus di sini sampai kamu dan Iyash benar-benar sembuh.”


“Kenapa harus pulang secepat itu?” tanyaku pada akhirnya.


“Mama nggak bisa meninggalkan rumah lebih lama. Dari kemarin orderan sudah masuk. Utami tidak mungkin mengerjakannya sendirian. Seharusnya Mama pulang kemarin.”


Aku membasahi tenggorokan. Kurasa bukan itu alasan Mama pergi, tapi obrolan dan rencananya dengan Tante Ira lah yang membuatnya tega meninggalkanku di sini.


“Jam berapa Mama akan pulang?”


“Agak siangan, sekitar jam sepuluh.”


Aku mengangguk, tapi aku berharap Mama mengerti ekspresiku dan mengajakku pulang bersamanya.


“Sekarang kamu mandi gih, biar segar. Habis itu kita akan pergi belanja, Bude Mirasih mengajak kita ke pasar. Mama mau beli oleh-oleh.”


Untuk saat ini aku mengikuti semua keinginan Mama dan semua orang, mungkin mengalah adalah memberi waktu pada diri sendiri untuk menang.


Setelah Mama pergi keluar, aku lekas mandi, lalu bersiap. Kemudian pergi untuk sarapan. Kak Iyash sudah ada di sana dan dengan kompak mereka menyisakan satu kursi kosong di sebelah pria itu.


Aku terpaksa duduk, toh semalam juga aku terpaksa tidur di sebelahnya. Hampir semua orang menyantap nasi dan semur telur dadar dan kerupuk. Sedangkan aku hanya mengambil jeruk untuk sarapan.


“Icha nggak makan nasi?” tanya Nenek.


Aku menggeleng.


“Icha memang terbiasa sarapan buah-buahan, Bu,” jawab Mama.

__ADS_1


“Sama kayak Iyash,” sahut Tante Ira dan seketika aku menatap wanita itu. “Tuh, dia habis satu buah jeruk, nanti beberapa menit lagi dia akan makan dua butir terlur rebus. Kamu beruntung karena Iyash tidak akan merepotkan kamu di pagi hari. Dia bahkan merebus telur itu sendiri.”


Aku segera mengalihkan pandangan dari wanita itu. Aku tidak suka melihat ekspresinya ketika dia membanggakan anaknya dan menyepelekanku.


“Cha, kami masih penasaran kemarin kamu pergi ke mana?” tanya Om Hasa.


Sejak kemarin memang aku hanya mengurung diri di kamar dengan alasan lelah ingin istirahat. Jadi, tak ada orang yang ingin membahas kejadian kemarin bersamaku.


“Sepatu, baju, semuanya basah. Kamu kecebur?” tanya Tante Ira menyambung pertanyaan Om Hasa.


“Atau jatuh ke sungai?” tebak Nenek. “Sampai tangan kamu luka kayak kemarin. “Kamu juga kotor, banyak lebam. Nggak ada orang yang nyakitin kamu, ‘kan?”


“Jatuh, Nek,” jawabku singkat, padahal aku ingin bilang semua ini karena Kak Iyash. Tapi, untuk apa, dia juga tidak akan sadar sudah menyakitiku.


Aku hampir tak memperhatikan semua orang di sini dan siapa saja yang duduk mengelilingi meja dengan sajian di atas piring. Yang jelas, Kak Rasya, istri dan kedua anaknya masih ada, Pakde Irwan, istri dan kedua anak juga keempat cucunya pun belum pulang dari kediaman Nenek.


***


Setelah sarapan Bude mengantar kami menggunakan mobil yang dikendarai oleh suaminya. Tante Ira dan Mama duduk di jok tengah bersama Queensha, anak sulung Kak Rasya. Sedangkan Kak Rasya dan istrinya sendiri memilih pergi menggunakan motor karena sejak kemarin Prince rewel. Aku sendiri malah terjebak satu kursi dengan Kak Iyash di jok belakang.


Kenapa aku harus terjebak dalam situasi seperti ini bersama orang yang menghindari kehidupannya sendiri? Bahkan mungkin dia menghilangkan kemampuannya untuk berkomunikasi.


Meski berada satu kursi, aku memilih duduk sedikit berjauhan, tak seperti pengantin baru yang dimabuk asmara. Kami bahkan tak pernah berpegangan tangan. Namun, bukan berarti aku mau seperti pengantin baru pada umumnya. Aku hanya merasa asing dengan kehidupanku sendiri.


Aku menatap keluar jendela. Sementara itu aku menyumpal telinga dengan earphone, mendengarkan musik mungkin lebih baik, meski aku tak benar-benar memutar lagu. Semua playlist lagu di ponselku berisi lagu galau dan aku benci itu karena itu adalah playlist ku ketika putus dari Arka. Sekarang aku sendiri bingung dengan keadaan ini. Menangis tak ada gunanya karena tak membuatku baik-baik saja atau mengubah keadaan yang kubenci.


Kami sampai di pasar, aku dan Kak Iyash hanya mengikuti mereka yang berniat belanja. Sedangkan aku merasa tak perlu karena aku bisa membeli apa yang aku butuhkan di Jakarta.


Orang yang berlalu lalang, jalan yang sempit, membuat kami berdesakan. Aneh, kenapa ibu-ibu rela berdesakan seperti ini hanya untuk bisa mendapat harga yang lebih murah?

__ADS_1


Beberapa kali bahuku bersentuhan dengan dada pria itu karena desakan orang-orang yang lewat. Namun, kurasa itu bukan kesan, karena aku juga merasa itu hal yang biasa terjadi, aku bahkan bisa tak sengaja bersentuhan dengan yang lain, iya, ‘kan? Namanya juga pasar.


__ADS_2