
Malam hari aku baru bisa melayat ke kediaman Tante Miranti. Di sana sudah ada Tante Milla dan Om Ben. Aku mengucapkan bela sungkawa pada keluarga almarhum. Namun, aku tak melihat Kak Aruna di sana. Aku duduk di sebelah Tante Miranti yang tampak begitu sedih, wajahnya pucat dan gairahnya hilang.
Sampai waktu menunjukkan pukul sepuluh malam aku masih duduk di sana melihat betapa bersedihnya mereka. Berkali-kali aku mengedarkan pandangan, berharap aku bisa melihat Kak Edgar malam ini. Aku ingin menjadi penawar dukanya.
“Cha, mau pulang sekarang?” tanya Tante Mila.
“Sebentar lagi Tante,” jawabku. Aku benar-benar ingin menunggu Kak Edgar pulang.
“Ya sudah kami pulang duluan, hati-hati kamu ya, jangan pulang terlalu malam,” pesan Tante Mila.
Aku mengangguk. Setelah kepergian Tante Mila dan Om Ben beberapa orang masih berdatangan untuk menyampaikan bela sungkawa, termasuk bosku yang super angkuh. Namun, dengan kerendahan hatinya dia datang dan mengucapkan rasa prihatinnya. Kupikir dia juga memiliki rasa takut akan mati. Hal yang wajar dirasakan manusia, meski mungkin orang sombong macam Firaun tak pernah merasakannya.
Aku tak bisa berhenti menatap wajah sombongnya. Namun, saat dia menatapku, aku mengalihkan pandangan dan pura-pura tak melihatnya.
Dia kemudian bangkit dan pergi meninggalkan tempat itu bahkan tak mengobrol apapun dengan keluarga almarhum. Hanya kulihat sebelumnya dia sempat berbincang dengan Kak Angkasa.
Tak berapa lama setelah kepergian Kak Iyash, kulihat Om Hasa juga datang mengucapkan bela sungkawa, mereka datang terpisah, sama sepertiku yang sehabis dari proyek kembali ke kantor lalu pulang menggunakan motor, sedangkan Om Hasa dan Kak Iyash yang kutahu mereka satu rumah, tapi, membawa mobil masing-masing. Inilah awal mula kemacetan terlalu banyak mobil yang ditumpangi oleh satu orang saja.
“Mir, aku turut berduka cita.” Om Hasa terdengar begitu akrab saat mengucapkan bela sungkawa pada Tante Miranti. Dia memanggil Tante Miranti saja dengan sebutan Mir. Kurasa Om Hasa memang cukup baik mengenal Tante Miranti.
“Ini semua gara-gara kamu.” Dengan berkata begitu, Tante Miranti baru saja menolak ucapan belasungkawa dari Om Hasa.
Aku melihat Om Hasa bersedih dengan tuduhan Tante Miranti. “Maksud kamu apa aku nggak ngerti.”
Aku semakin penasaran, tapi di sisi lain aku yakin ada sesuatu di antara mereka.
“Cha,” panggil Tante Miranti padaku.
“Iya, Bund?” Aku sedikit mencondongkan tubuh padanya.
“Bantu Bunda ke kamar.” Perlahan aku membantu Tante Miranti berdiri. Kutahu tubuhnya begitu lemah, mungkin dia terlalu lelah dengan kesedihannya malam ini.
“Mir, kalau memang ini salahku, aku minta maaf,” kata Om Hasa seraya ikut berdiri. Aku termangu menatap kedua mata Om Hasa yang berembun. “Miranti,” panggilnya sekali lagi.
Aku membantu Tante Miranti merebahkan tubuhnya di ranjang. Lalu menarik selimut dan menyelimutinya. Dia tampak menggigil, terlalu banyak bersedih memang terkadang membuat tubuh kita terasa dingin.
“Makasih, Cha.”
Aku mengangguk. “Kalau begitu, Icha pamit pulang ya, Bund.” Namun, tiba-tiba dia menahan tanganku.
“Pria tadi adalah ayahnya Edgar.”
Jantungku mencelus. Rasanya seperti tersambar petir beberapa kali. “Kok bisa, Bund?” Seketika aku berpikir kalau Tante Miranti adalah selingkuhan Om Hasa.
__ADS_1
“Ceritanya panjang. Gara-gara ini Edgar pergi dari rumah dan Bunda nggak tahu dia di mana. Kamu bisa, ‘kan, bantu Bunda cari tahu Edgar di mana.”
Aku membasahi tenggorokan yang tiba-tiba saja terasa begitu kering. Aku hanya tidak menyangka kalau Kak Edgar lahir bukan dari keluarga yang sah. Pantas saja tadi usai melihat Om Hasa, Kak Edgar langsung mematikan panggilan video dan tak menjawab telponku lagi.
“Makasih, tolong kamu jaga rahasia ini.”
Aku terpaksa mengangguk.
“Bunda, Icha pamit, ya, Bunda istirahat aja, jangan banyak pikiran.”
Tante Miranti mengangguk. Aku lekas keluar dari kamar beraroma peach tersebut. Pikiranku mengawang, seketika rasa penasaranku terjawab, mungkin inilah alasan kenapa Kak Edgar tak pernah mempersembahkan satu buku pun untuk ayahnya.
Saat aku keluar dari kamar Tante Miranti, semua orang menatapku. Aku bingung, apa yang sebenarnya terjadi?
“Bunda gimana?” tanya Kak Ashilla.
“Bunda tidur.”
“Dia ngomong apa sama kamu?”
Aku menggeleng. Dari awal saat Tante Mila mengenalkanku pada Kak Edgar, aku tahu Kak Ashilla tak menyukaiku.
“Jangan bohong, Bunda pasti cerita sesuatu sama kamu.”
Aku menghela napas. “Kalau Kakak nggak percaya, Kakak mending masuk terus tanya langsung sama Bunda,” kataku tenang.
Aku mengangguk. “Kalau begitu Icha permisi.”
Aku melewati sepasang suami istri itu, lalu pergi keluar rumah. Semua tampak sepi, angin bertiup begitu dingin. Rumahku cukup jauh dari sini, sementara ini sudah terlalu larut untuk pulang menggunakan motor.
Aku hendak masuk ke dalam rumah untuk meminta izin agar motorku tetap di sini dan aku pulang menggunakan taksi. Namun, baru dua langkah menuju pintu, seseorang menahan tanganku.
“Kak Iyash?”
“Ikut.” Dia menarikku sampai ke depan mobilnya. “Masuk,” titahnya usai membuka pintu mobil tersebut.
“Nggak bisa, aku mau izin dulu nitipin motorku di sini.”
“Gampang, sekarang kamu masuk.”
“Enak aja.” Aku hendak melarikan diri, namun, dia kembali menahan tanganku.
“Masuk.”
__ADS_1
Aku menghela napas dan meredam diri agar tak terpancing emosi.
“Kalau Kakak mau anter aku pulang, oke, dengan senang hati aku akan berterima kasih, tapi kasih aku waktu satu menit untuk izin sama pemilik rumah ini. Biar motorku juga aman.”
“Saya cuma mau tanya sesuatu sama kamu.”
“Tapi, sambil anter aku pulang, ‘kan?”
“Nggak.”
“Terus, kenapa suruh aku masuk mobil?”
“Biar nggak ada orang yang lihat.”
“Ya udah kalau gitu, sekalian anterin aku pulang.”
“Ya sudah cepat!”
Aku langsung menegakkan tubuh. Kulihat seorang wanita berdiri di depan jendela seraya menatap langit gelap malam itu. Dari rambutnya yang pendek, aku yakin kalau dia Kak Aruna. Dari sudut pandangku, Kak Aruna lebih baik dari pada Kak Ashilla.
Aku melambaikan tangan padanya. Namun, dia belum menyadari itu. Aku mengambil langkah dan mendekat ke jendela kamarnya. Akhirnya dia melihatku dan langsung membuka jendela kamarnya ke samping.
“Kak,” panggilku pelan. “Icha mau pulang, tapi nitip motor di sini ya, besok Icha ambil.”
“Pulang sama siapa?” kudengar suaranya yang parau.
Aku lekas menoleh ke belakang. Kak Iyash sudah berada di dalam mobil, sehingga aku tak bisa menunjukkan wajah sombongnya pada Kak Aruna. “Sama teman. Yang mobil putih itu.”
“Iya, hati-hati. Nanti aku minta Pak Yayan buat simpan motor kamu di garasi.”
Aku memberikan kunci motorku, lalu mengatupkan kedua tangan. “Makasih, Kak Aruna.”
“Iya sama-sama. Hati-hati ya.”
Aku mengangguk. “Semoga Kak Aruna dan bayinya sehat terus. Nanti kabarin Icha kalau udah lahiran.”
Senyumnya tampak begitu lembut. Namun, kata Tante Mila, dia jarang tersenyum, bahkan dia tak ramah sama sekali, tapi berbeda dengan sikapnya padaku, di pernikahan Kak Ashilla saja beberapa kali kami sempat mengobrol.
“Rencananya aku lahiran di Bali.”
“Icha janji langsung terbang. Nanti Icha bantu dekorasi kamar bayinya. Tinggal bilang aja.”
“Makasih, Cha. Cepat teman kamu nungguin tuh.”
__ADS_1
Aku mengangguk dan melambaikan tangan. “Sekali lagi, makasih, Kak.”
Kak Aruna mengangguk dan membalas lambaian tanganku.