
Kami berada satu mobil, Om Hasa dan Kak Iyash duduk di kursi tengah, sementara aku dan Kak Akbar duduk di kursi paling belakang. Yang mengemudikan mobil itu sendiri adalah sopir perusahaan.
“Kita belum kenalan,” kata Kak Akbar sembari menganjurkan tangannya ke depanku. “Muhammad Akbar Fatahillah.”
Aku tersenyum mendengar namanya yang islami. “Marissa Indrawan, tapi bisa dipanggil Icha, aja, Kak.” Aku menjabat tangannya sebentar.
“Oke, Icha. Sudah ada pengalaman sebelumnya?”
“Nggak, kebetulan baru lulus,” kataku kikuk.
“Wah hebat, langsung diterima di perusahaan besar.” Pria beralis tebal itu tersenyum.
“Percobaan.” Aku menirukan gaya bicara Kak Iyash yang datar dan tegas.
Kak Akbar tersenyum tipis. Dia tahu aku sedang menyindir siapa.
Aku menatap lurus ke depan. Tiba-tiba kami mendengar ponsel berdering, rupanya itu adalah ponsel Kak Iyash. [Baik, aku melunak dengan memanggilnya begitu. Ingin bersikap keras dan menyaingi keangkuhannya, tapi, aku sadar itu bukan bagianku karena Mama selalu bilang, di atas langit masih ada langit].
Pria itu tak menjawab panggilan dan kulihat dia sedang membalas pesan.
“Yash, soal Mama–”
“Nggak usah dibahas, Pa, itu urusan pribadi, kita bisa bicarakan itu nanti.”
Seketika kedua alisku terangkat. Aku tidak menyangka kalau dia begitu profesional, tapi mungkin antara profesional dan tidak mau masalahnya didengar orang lain, atau mungkin dia tidak ingin membahas hal itu. Ada banyak kemungkinan dan aku terbiasa menebak dari beberapa sudut pandang.
Aku baru ingat kalau Tante Milla memintaku menghubungi Kak Edgar. Mumpung di dalam mobil, jadi aku bisa menelepon, karena mungkin nanti aku tidak bisa melakukannya.
Aku mencondongkan tubuh ke depan sehingga bisa berbicara pada Om Hasa cukup dekat. “Om, Icha boleh menelpon sebentar, soalnya ini penting.”
“Boleh, Cha.”
“Biasakan panggil, Pak,” sahut Kak Iyash tanpa menoleh.
“Nggak apa-apa, ‘kan, Om, panggil Om aja, soalnya anak Om juga menunjukkan kekuasaannya di sini.”
Om Hasa terkekeh seraya mengangguk.
“Kakak lihat, Om Hasa nggak ada masalah.”
Pria itu menoleh dan mengacungkan telunjuknya padaku. “Panggil saya Bapak. Bukan Kakak, saya ini atasan kamu, bukan kakak kamu.”
“Iya, Bos,” dengkusku tak rela jika harus memanggilnya begitu. Aku tidak ingin diperbudak olehnya.
“Om, tahu nggak, Tante Ira, ‘kan sering main ke rumah, dia sering menceritakan kisah tentang anak sombong yang pernah dia lahirkan, dari cerita yang sering kudengar kayaknya dia menyesal pernah melahirkan anak seperti–”
“Berhenti bicara atau turun dari mobil. Pak Engkus berhenti!” teriak Kak Iyash.
Seketika aku tergemap.
“Om,” rengekku pada Om Hasa.
“Yash, jangan terlalu keras.”
“Bela aja terus. Sebenarnya anak Papa ini aku atau dia.”
“Akulah,” kataku bangga. “Om Hasa pengen punya anak perempuan dan aku orangnya.”
“Astaga, terserah kamu!”
Om Hasa malah terkekeh melihat Kak Iyash yang akhirnya kalah oleh argumenku.
Aku mencebikkan bibir seraya mengedikkan alis dan bahuku bersamaan.
__ADS_1
“Kamu mungkin lupa bagaimana kamu dan Icha dulu. Kalian itu sangat dekat, persis seperti Kakak dan adik, bukan seperti anjing dan kucing.”
Sementara Om Hasa bercerita tentang aku dan Kak Iyash sewaktu kecil, aku memilih untuk menghubungi Kak Edgar. Nada sambung yang berdering di telingaku persis seperti suara angin yang meresahkan. “Kak, angkat,: gumamku khawatir.
“Hallo.” Tiba-tiba kudengar suaranya yang ramah.
“Hai, Kak.” Akhirnya dia menjawab panggilanku. Aku bahagia karena dari sekian panggilan yang dia abaikan, dia tak mengabaikan panggilanku.
“Kakak di mana?”
“Kamu di suruh Bunda untuk menanyakan itu?”
“Nggak. Bukan begitu, aku cuma takut aja Kak Edgar terbang dan tinggal lagi di Amerika, nanti kalau mau ketemu susah.”
“Ngapain terbang, sayap aku ada di Jakarta.”
Seketika bibirku tersungging. Aku tak ingin besar kepala dengan berpikir akulah sayap yang dia maksud, tapi perasaanku sudah terlanjur melambung ke angkasa.
“Sayapnya dibawa aja, Kak, biar bisa terbang bareng,” godaku.
“Kalau bukan Bunda yang menyuruh kamu, terus kamu mau apa?”
“Galak banget. Aku disuruh Tante Milla buat memberi tahu Kakak kalau–” Aku terdiam sejenak dan mencoba memfokuskan diri. Aku tak ingin menyampaikan kabar duka ini, tapi aku harus melakukannya, kasihan Kak Edgar. Sekarang bisa dihubungi, belum tentu nanti masih bisa.
“Cha?” panggil Kak Edgar. Sudah kuduga, dia menungguku.
“Kak, Opa–”
“Kenapa Opa?”
“Opa meninggal.”
Seketika kurasakan hening. Hanya ada suara angin dan sejak saat itu aku kehilangan suaranya.
Aku menghela napas. Seketika aku bersedih karena aku harus menyampaikan kabar duka itu pada Kak Edgar.
“Cha?”
“Iya, Om?” Aku mengangkat wajah dan menatap Om Hasa.
“Yang kamu telepon itu siapa?” tanya Om Hasa.
“Kak Edgar, Kakaknya Kak Ashilla sama Kak Aruna.” Aku termenung. Aku lupa kalau Om Hasa mungkin tidak mengenal nama-nama yang aku sebutkan barusan. “Ah, maaf. Om ingat, ‘kan, waktu di nikahannya Kak Ashilla sama Kak Angkasa, nah waktu itu aku minta Om Hasa fotoin aku sama dia sama Yuri juga.”
“Oh.”
“Yang meninggal siapa?” tanya Om Hasa.
“Opanya.”
“Maksud kamu Pak Ganjar?” tanya Om Hasa lagi.
Aku mengangguk.
“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.” Om Hasa menghela napas.
“Papa kenal?” tanya Kak Iyash pada ayahnya.
“Papa tahu pas datang ke nikahan Angkasa, Yash, beliau jadi walinya Ashilla, ‘kan?” Om Hasa terlihat gugup. “Pak Engkus, kita putar arah ya.”
“Kemana, Pak?” tanya sang sopir.
Om Hasa terdiam cukup lama.
__ADS_1
“Jalan aja, Pak.” Kak Iyash mengambil alih perintah.
“Yash, kita harus melayat.”
“Itu bisa nanti, Pa.”
“Kamu kok gitu?”
“Kita udah jauh, Pa. Nggak mungkin buat muter arah, yang ada kita cuman menghabiskan banyak waktu di jalan.”
“Setidaknya ada usaha, Yash.”
“Nanti aja, kita bisa ke sana setelah semuanya tenang.”
Sama seperti Om Hasa, aku juga tergemap dibuatnya. Aku baru tahu kalau Kak Iyash bisa begitu otoriter bahkan terhadap ayahnya sendiri.
“Maaf, aku hanya berusaha berpikir praktis. Lagian kalau kita melayat sekarang, kasihan Akbar, kasihan Pak Engkus juga.”
“Kamu benar.”
Aku sudah salah paham, padahal apa yang dikatakan Kak Iyash memang ada benarnya. Berpikir praktis bukan berarti otoriter.
“Cha?” Om Hasa kembali menoleh padaku.
“Iya, Om?”
“Sejak kapan kamu kenal Edgar?”
“Belum lama kok, Om. Sehari sebelum pernikahan Kak Ashilla. Itupun dikenalkan sama Tante Milla.”
“Oh.”
“Kenapa, Om?”
Om Hasa menggeleng.
“Yash, Pak Ganjar donatur di panti asuhan kakek kamu, ‘kan?”
Kak Iyash mengangguk. “Kalau begitu tanya Pak Marwan, apakah mereka sudah pergi melayat.”
Kak Iyash langsung menelepon seseorang. Mungkin orang yang dia telepon adalah orang yang dimaksud Om Hasa.
Kudengar Kak Iyash cukup sopan pada pria di telepon. Awalnya dia bertanya tentang kapan melayat, namun ujung-ujungnya dia memberi tahu siapa yang meninggal. Rupanya orang yang di telepon belum mendapat kabar duka tersebut.
Aku sendiri lekas memeriksa ponsel dan memberitahu Tante Mila kalau aku sudah memberi tahu Kak Edgar dan aku merasa bersalah.
[Ini takdir, kamu nggak perlu merasa bersalah, Edgar tidak akan membenci kamu hanya karena kamu menjadi perantara untuk menyampaikan kabar buruk itu padanya.] Balas Tante Mila melalui pesan singkat.
Aku segera menghubungi nomor Mama. Aku hanya ingin ada orang yang mengobati resahku hari ini.
“Cha?”
“Mama … Opanya Kak Edgar meninggal.”
“Iya, Mama tahu, Tante Mila tadi telepon.”
“Mama mau melayat?”
“Mama nggak kenal keluarga mereka. Lagi pula Tante Mila juga sudah cukup.”
“Ma, nggak kenal juga nggak apa-apa. Mama temui aja, nanti, ‘kan mau besanan.”
“Ih, kamu ini. Kena racun Tante kamu pasti.”
__ADS_1
Aku tersenyum tipis. Setidaknya resah itu hilang dalam sekejap jika aku sudah bercanda dengan Mama.