Bias Rasa

Bias Rasa
Menjaga Beruang


__ADS_3

Setelah Mama, Om Hasa dan Tante Ira pergi, aku segera ke toilet untuk membersihkan diri. Saat kembali dengan pakaian yang bersih dan rapi dengan aroma yang menyegarkan kulihat Kak Iyash sedang terlelap.


Wajah angkuhnya tak terlihat jika dia memejamkan mata. Hanya terlihat wajah pria baik-baik yang mau menolong tanpa pamrih. Dia tak minta aku untuk berterima kasih, dia juga tak memintaku untuk membalas budi. Semoga prasangka baik ini benar adanya.


Dari pada aku menunggu dia bangun dan kami bertengkar lagi, lebih baik aku makan. Kebetulan Mama sudah membawakan makanan kesukaanku, macaroni schotel.


Saat sedang menikmati sarapan tiba-tiba ponselku berdering. Panggilan masuk dari Yuri. Sudah lama aku tak mendengar suaranya. Sejak dia bekerja di perusahaan asing, dia sangat sibuk dan tak ada waktu jika kuajak pergi. Hanya aku mungkin yang belum benar-benar mendapat pekerjaan. Kemarin-kemarin kubilang hanya iklan, bukan pekerjaan yang sebenarnya karena aku tak ingin pria sombong itu menghina kemampuanku lagi.


“Bu Yur,” sapaku di telepon.


“Mak Cha, apa kabar, lama nggak ada kabar. Semalam kudengar kamu diculik?”


“Ish.” Aku memutar malas bola mataku.


“Ih, Mama kamu semalam menelpon, dia nanya apa aku kenal Ellen. Kujawab nggak, memang dia siapa, Cha?”


“Teman SMP-ku.”


“Tadi kulihat dia masuk acara berita pagi ini sama cowok.”


“Marlo, maksudnya?” tanyaku.


“Iya, itu.”


“Dia kakaknya Ellen.” Kuhela napas panjang seraya menatap Kak Iyash yang masih terlelap. “Kemarin aku ngumumin di grup-grup, kalau aku butuh pekerjaan.”


“Oh, iya, heem, aku juga baca, terus?”


“Ellen japri, dia bilang kalau di tempatnya kerja, lagi butuh karyawan baru.”


“Kamu nggak nanya dia kerja apa?”


“Dia nggak bilang. Katanya nggak bisa jelasin ditelepon. Semalam aku datang ke rumahnya, tapi dia juga nggak bilang. Udahlah, tiba-tiba minta dianterin berangkat kerja.”


“Di sana kamu dijebak?”


“Awalnya aku juga mikir gitu.”


“Eh. Ngapain cari kerja lagi, bukannya udah kerja?”


“Aku nggak diterima kerja di sana, ‘kan udah bilang.”


“Oh iya.”


Kulihat Kak Iyash sedang melihat ke arahku. Entah sejak kapan dia menguping pembicaraanku. Mungkin aku terlalu berisik hingga membuatnya terbangun.


“Cha?”


“Hm?”

__ADS_1


“Jadi, gimana kamu lolos dari mereka?”


“Ada pahlawan berhelm datang bantuin aku.”


Yuri tertawa. “Pahlawan berhelm?”


Aku sudah gatal ingin menceritakan ini pada teman SMA-ku itu. Kulihat Kak Iyash menatapku tajam. Aku mencebikkan bibir seraya mengedikkan bahu. Aku tak peduli karena aku sengaja ingin membicarakannya pada Yuri dan di depan orangnya langsung.


“Iya. Culun nggak sih? Tapi, dia jago juga, walau akhirnya tangan kanannya harus tertembak.”


“What?”


Kulihat Kak Iyash mendelik.


“Yur, udah dulu ya, ini aku dapat tugas buat jagain dia. Nanti aku ceritain lagi.”


“Ih, kamu ini bikin penasaran.”


Aku tersenyum kecil.


“Ya udah, istirahat dulu. Salam buat pahlawan berhelm kamu.”


“Nggak ah.”


Segera kumatikan sambungan teleponku dengan Yuri, lalu kulihat Kak Iyash. Namun, pria itu langsung memalingkan wajahnya dariku.


“Nggak.”


“Mau makan?”


“Nggak.”


Kutatap nampan berisi nasi putih lengkap dengan lauknya. Disamping makanan yang disajikan rumah sakit itu juga terdapat teh hangat yang terlihat masih mengepulkan asap. Kulirik juga tangan kanannya yang disangga arm sling. Mungkin dia lapar, hanya saja tak berani menyuruhku.


Aku duduk di sebelahnya tepat di atas ranjang. “Sini Kak, Icha suapin,” kataku sembari mengambilkan nampan tersebut dan kuletakkan di atas pangkuanku.


Dengan menyebut namaku, bukan berarti aku melunak terhadapnya. Dia tetap pria menyebalkan yang pernah membuatku sakit hati dengan ucapannya, hanya saja aku sadar dengan tak berdayanya dia di sini, itu semua karena untuk menyelamatkanku. Aku mungkin berutang nyawa terhadapnya.


“Kak,” panggilku pelan sembari mendekatkan sendok ke depan wajahnya. Namun, Kak Iyash tak langsung menyantapnya, dia malah menatapku. “Makan,” pintaku lembut.


Perlahan Kak Iyash mendekatkan mulut ke sendok yang kupegang. Dia lalu mengunyahnya, namun, sembari menatap ka arah jendela.


Aku menundukkan kepala dan sibuk dengan ponselku. Berita tentang Ellen terpampang di beberapa grup. Aku hanya membaca tanpa berniat membalasnya satupun.


“Tolong ambilkan HP saya di laci.” Sebuah suara menginstruksi.


Aku lekas mengangkat wajah dan menatapnya, lalu turun dan menyimpan nampan ke meja. Kuambilkan ponsel milik beruang itu tanpa banyak bicara.


“Makan lagi,” kataku sembari kembali ke posisi semula. Aku mendekatkan sendok ke mulutnya dan dia makan dengan tenang, meski tanpa menatapku sama sekali.

__ADS_1


Tiba-tiba ponselnya berdering. Namun, dia mengabaikan panggilan tersebut hingga suara dering itu tak terdengar lagi. Hal itu membuatku penasaran. Namun, aku tak begitu peduli karena aku tahu batasanku.


Aku masih menyuapinya sampai kemudian ponselnya kembali berdering. Dia lalu menatapku. “Kamu bisa keluar sebentar, saya harus terima telepon.”


Aku termangu menatapnya. Mungkin itu terlalu pribadi sampai aku tak boleh mendengarnya. “Oke,” kataku tak keberatan.


Aku bangkit dan kuletakkan nampan di atas meja. Kulihat dia sudah menerima panggilan tersebut, namun tak bicara. Kurasa dia benar-benar menungguku pergi dari tempat itu.


Aku duduk di koridor yang cukup jauh dari ruangan tersebut karena seperti pesannya, aku tidak boleh menguping.


Aku sibuk memainkan ponsel dan tak memperhatikan orang yang berlalu lalang. Sampai beberapa menit aku menunggu, tiba-tiba beberapa orang perawat dan satu orang melewatiku. Mereka kemudian masuk ke dalam ruangan Kak Iyash.


Aku segera mengikuti mereka masuk ke dalam kamar tersebut. Kulihat Kak Iyash sudah selesai menerima panggilan. Wajahnya terlihat seperti baru saja melepaskan beban. Aku mendekat dan kulihat dia berbincang dengan Dokter, lalu Dokter memeriksa keadaannya, salah seorang perawat menuliskan sesuatu yang diinstruksikan Dokter, sementara perawat yang lain menyiapkan obat.


Kak Iyash meringis saat Dokter menyuntikkan obat. Aku ingin melihat ekspresinya lebih dekat. Mungkin sewaktu peluru menembus bagian terdalam kulitnya, ekspresinya lebih memalukan dari ini. Mungkin itulah kenapa dia menutupi wajahnya dengan helm.


“Dok, saya sudah boleh pulang, ‘kan?” tanya Kak Iyash.


Dokter tersenyum. “Setidaknya dua puluh empat jam setelah operasi, Pak.”


“Tapi, ini penting, Dok, saya harus pergi.”


Aku terpegun, kurasa ini berhubungan dengan telepon yang dia terima sebelumnya.


“Kalau untuk sekarang belum, terlalu rawan, Pak.”


Kak Iyash menghela napas. Dia kemudian melirikku sekilas. Aku tak bisa berkata apa-apa, kalau dia mau pulang, biarkan saja, resiko dia yang tanggung sendiri. Orang keras kepala sepertinya tak bisa dicegah, aku yakin itu.


“Cuma sehari, Dok,” kata Kak Iyash.


Wanita berjas putih itu sampai menghela napas karena mungkin dia baru bertemu pasien yang tidak peduli dengan kesehatannya sendiri.


“Saya tahu kok, Dok kondisi saya, saya merasa kalau saya baik-baik aja,” kukuh Kak Iyash.


“Kak,” sentakku kesal. “Kenapa sih, memang mau kemana?”


“Kamu diam aja,” kata Kak Iyash.


Aku mendengkus. “Dok, kalau dia mau pergi, biarin aja, resiko dia yang tanggung sendiri.”


Dokter malah tersenyum ke arah kami, sedetik kemudian dia dan rombongannya pergi. Kurasa Dokter juga sudah tak peduli.


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Kak Iyash.


“Lagian siapa yang mau? Kalau bukan karena Tante Ira yang minta, aku udah pulang dari tadi.”


“Kalau begitu kamu buat apa kamu di sini?”


“Ya udah. Jangan minta bantuan apapun, kalau butuh apa-apa ambil sendiri,” dengkusku seraya mengambil goodie bag di atas meja, setelah itu aku lalu pergi.

__ADS_1


__ADS_2