Bias Rasa

Bias Rasa
Bercak Darah di Ujung Pita


__ADS_3

Kulihat Kak Edgar sedang berada di ruang keluarga, mungkin dia meminta izin pada Kakek dan Nenek. Semoga kedua orang tua itu tidak mengizinkan Kak Edgar keluar malam ini.


Aku lekas mendekat. Dan benar saja dia sedang membujuk Kakek dan Nenek agar mau mengizinkannya pergi.


“Kalau Kak Edgar pulang malam ini, aku akan ikut,” kataku menyela ucapannya.


Kak Edgar seketika menoleh. Kulihat Kakek dan Nenek pun menatapku heran. Aku lupa memberi tahu mereka kalau tujuanku ke sini untuk menjemputnya pulang.


“Cha, kamu baru sampai tadi sore,” kata Kak Edgar.


“Memang kenapa?” tanyaku kesal. “Kak Edgar sengaja menghindari Icha? Atau Kak Edgar nggak mau sekamar dengan Kak Iyash?”


“Nggak, bukan begitu. Icha nggak akan ngerti.”


“Kalau gitu, jelasin, biar Icha ngerti.”


Dia menarik tanganku dan mengajakku pergi meninggalkan ruang tengah, lalu melewati ruang tamu dan kulihat Kak Iyash berdiri tak jauh dari sana. Tatapannya mengarah padaku dan Kak Edgar.


Kak Edgar berhenti di teras depan. Dia kemudian melepaskan genggamannya.


“Kenapa kamu harus masuk ke dalam hidupku?” tanya pria itu.


Jantungku mencelus mendengar Kak Edgar berkata demikian. “Maksud Kakak apa?”


“Dengar, aku bisa menyelesaikan masalahku. Pengalaman hidupku jauh lebih banyak dari kamu. Nggak seharusnya kamu ada di sini.”


Aku membasahi tenggorokan. Dadaku seperti tertusuk belati. Aku menangkap inti dari perkataan Kak Edgar. Dia tak ingin melihatku, sehingga mungkin itulah alasannya pergi malam ini juga.


“Icha ke sini nemenin Kak Iyash, kok.” Aku menoleh ke dalam dan kulihat Kak Iyash masih berdiri di sana melihat dan mungkin dia mendengar pembicaraan kami. “Kakak lihat tangan kanannya yang mengalami luka tembak, itu semua karena dia ingin melindungi Icha.”


Kak Edgar berpaling ke arah lain.


Aku tertunduk. “Icha memang cuma salah satu pembaca dari ribuan pembaca setia Kak Edgar. Icha tahu batasan Icha di sini, jadi–”


Dia merengkuh dan mendekapku ke dalam pelukannya. Kembali aku merasakan debar dibalik dadanya.

__ADS_1


“Terima kasih.”


Perlahan dia mengurai pelukannya. Lalu menggenggam kedua pipiku dan seketika aku tengadah menatap wajahnya. “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini, tapi aku berharap Iyash hanya orang yang kebetulan hadir dalam hidup kamu sama seperti yang lain.”


Jantungku mencelus.


Kak Edgar semakin menundukkan wajahnya, hingga begitu dekat dengan wajahku. Jantungku menggelepar, tapi, aku tak ingin melambung terlalu jauh, aku tidak yakin kalau dia benar-benar akan menciumku.


“Icha,” panggil Nenek Alma dari dalam.


Aku lekas menoleh dan kulihat beliau sedang berdiri tak jauh dari depan pintu.


“Bantu Nenek buka penyangga tangan Iyash. Katanya dia mau ganti pakaian.”


“Oh. Iya.” Aku segera pergi meninggalkan Kak Edgar sampai aku lupa pamit padanya. “Kak Iyashnya di mana, Nek?” tanyaku pada Nenek.


“Di kamarnya mungkin.”


Aku mengangguk dan segera pergi menyusul Kak Iyash. Nenek tak berbohong, kulihat memang Kak Iyash sedang kesulitan melepas penyangga tangannya. Aku segera masuk dan meraih tali arm sling dan membantu pria itu melepaskannya.


“Kenapa di sini?” tanya Kak Iyash.


“Aku nggak apa-apa.”


Aku terpegun menatapnya. Dia melupakan sikap formalnya dengan mengganti kata saya menjadi aku. Tapi, bukan itu yang terpenting untuk saat ini.


“Nggak-nggak.” Aku menggeleng dan lekas menyentuh keningnya dengan punggung tanganku. “Kak Iyash lupa nggak minum obat?”


“Jangan sok peduli,” dengkusnya seraya pergi ke dekat lemari.


Aku berdecak kesal. “Kalau nggak mau ada orang lain yang peduli sama Kak Iyash, kenapa waktu itu Kak Iyash peduli sama aku? Padahal Kakak bisa biarkan Marlo menembakku? Kalau begitu, ‘kan, aku nggak perlu repot peduli sama Kakak, aku tinggal peduliin diriku sendiri.”


“Sekarang nggak perlu. Kamu bisa pedulikan diri dan kepentingan kamu sendiri, lagi pula kamu ke sini untuk dia, ‘kan? Jadi, nggak perlu repot- repot merawatku.”


Aku tak peduli apa yang ingin dia katakan. “Di mana obatnya?” tanyaku khawatir.

__ADS_1


Namun, Kak Iyash mengabaikanku dan dia malah membuka lemari lalu mengambil kaos biru laut. Aku langsung mendekat dan merebut kaos tersebut, lalu membantunya memakai baju.


“Semenyebalkan-menyebalkannya Kak Iyash, aku nggak akan lupa apa yang Kak Iyash lakukan. Karena seharusnya, aku yang merasakan sakit itu. Seharusnya aku yang ada di posisi Kak Iyash saat ini.”


Aku tak melihat bagaimana wajahnya saat ini. Sekali-kali dia harus menurutiku. “Jangan banyak bergerak, tangan Kak Iyash bengkak. Gimana kalau ini gejala infeksi?”


Aku mencoba bertanya kembali di mana dia meletakkan obatnya. Namun, lagi-lagi dia mengabaikanku. Aku tak peduli dengan sikap angkuhnya yang jelas aku tidak bisa lupa bagaimana dia mendorongku sampai peluru itu menembus lengannya, bagaimana kalau meleset hingga menembus dadanya?


Dia duduk di tepi ranjang. Sedangkan aku memilih untuk menggeledah tas ranselnya, namun, sayang aku tak mendapatkan apa yang aku cari, tapi pandangan mataku terpaku pada pita satin berwarna merah muda, di ujung pita tersebut ada huruf C. Persis seperti punyaku. Aku menarik pita itu dan menunjukkannya. “Ini?”


Kak Iyash menoleh dan segera merebutnya dariku. “Aku lupa bawa obatnya,” gumam pria itu.


Aku tertegun menatap pita yang Kak Iyash genggam. Huruf C yang tertulis diujung pita itu bukan ketersengajaan, melainkan bercak darah. Itu membuatku yakin kalau pita tersebut memang punyaku.


Perlu waktu lama untuk mengenang itu semua. Sekarang kulihat dia merebahkan tubuhnya di ranjang tanpa menjelaskan kenapa pita itu ada di dalam tasnya?


“Matikan lampu dan tutup pintunya, saya mau istirahat.” Tiba-tiba kudengar kembali nada dan gaya bicaranya yang formal. Aku hanya bisa menghela napas dan mengikuti perintahnya. Namun, sebenarnya aku tidak tega membiarkannya sendirian.


“Kak, kalau butuh apa-apa, bilang ya,” pintaku lembut. Aku kemudian mengambil langkah menuju pintu, menutupnya usai mematikan lampu, tapi sebenarnya aku tidak benar-benar keluar dari kamar. Hanya mematikan lampu dan menutupnya saja. Aku benar-benar tidak tega meninggalkannya sendirian.


Tiba-tiba kudengar lenguhannya yang panjang dan itu membuatku panik. Apalagi dia menggigil kedinginan. Aku lekas bangkit meninggalkan kursi dan mendekat padanya. Kak?” Kurasakan tubuhnya semakin panas dari sebelumnya.


“Icha akan minta Nenek untuk memanggil Dokter.” Aku segera keluar dari kamar, tapi aku terkejut dengan keberadaan Kak Edgar di depan pintu.


“Cha?” Kak Edgar menyebut namaku. Namun aku tak bisa menanggapinya dan hanya bisa melewatinya begitu saja. Di pikiranku saat ini hanya ada Kak Iyash, aku takut terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini? Bagaimana kalau dia kejang, atau sampai hilang kesadaran?


“Nek, Kek,” panggilku panik.


“Kenapa?” Nenek malah terlihat lebih khawatir dariku.


“Kak Iyash demam.”


“Apa?”


Aku hanya bisa mengangguk.

__ADS_1


“Minta Sugeng panggil Dokter Seto,” kata Kakek.


Nenek mengangguk. Lalu pergi ke belakang. Sedangkan aku dan Kakek kembali ke kamar Kak Iyash. Lagi-lagi aku melihat Kak Edgar berdiri di depan pintu, tapi pria itu hanya terdiam. Kenapa dia tidak berusaha melihat kondisi adiknya sendiri? Mendadak aku kesal dengan sikapnya. Beberapa saat lalu dia ingin pergi, lalu kemudian dia bilang kalau dia berharap Kak Iyash hanya kebetulan seperti yang lain. Kenapa?


__ADS_2