
Tepat pukul sepuluh lewat beberapa menit, Om Hasa dan Tante Ira, tak lupa Mama juga, dia benar-benar datang. Turun dari mobil wajahnya tampak pucat. Mama terlihat konyol, mungkin Tante Ira dan Om Hasa puas menertawakannya.
“Mama seperti mau mati,” kata Mama berlebihan.
Aku tertawa melihat ekspresi dan penampilannya yang berantakan.
“Ira minta Mama bertahan satu setengah jam.”
“Dan Mama berhasil,” selaku sembari memeluk lengannya.
“Jangan gelendotan, Cha, berat, Mama lemas.”
Tante Ira tertawa. “Sini.” Dia menarik tanganku. “Gelendotan sama Tante aja.”
Aku melihat semua orang tertawa, kecuali Kak Iyash. Sudahlah lupakan, entah apa yang bisa membuatnya tertawa. Tak ada yang paham jalan pikirannya.
Nenek dan Kakek benar-benar menyambut Mama. Sudah kubilang kalau mereka hanya ingin bertemu. Mungkin Nenek meminta Om Hasa mengajak Mama ke sini.
Mama menceritakan semua yang Mama alami setelah Papa tidak ada, tentu saja dia menyebutkan jasa Om Hasa dan Tante Ira. Sudah kuduga dan aku malas Mama pasti akan mengulangi semuanya dari A sampai Z, kecuali mungkin lamaran Om Rudi.
“Gimana, Yash?” tanya Om Hasa pada Kak Iyash. Aku tak bermaksud menguping hanya kebetulan saat aku menoleh ke tempat yang berbeda, Om Hasa bertanya demikian pada Kak Iyash.
Tiba-tiba kulihat Kak Iyash mengangguk. “Asal kalian tidak berpisah,” kata pria itu.
Kedua mataku seketika membola mendengar apa yang baru saja Kak Iyash katakan pada Om Hasa. Aku tidak ingin melewatkan satu kata pun dari mereka, sehingga aku berusaha keras mendengarkan mereka, tanpa merasa terecoki oleh obrolan Mama.
“Apa Mama terlalu buruk sampai Papa tega meninggalkan Mama?”
Hmm … kurasa inilah satu dari sekian alasan kenapa Kak Iyash bersikap dingin dan keras terhadap dirinya sendiri. Dan mungkin ini alasan Kak Iyash pergi dari rumah sakit secara diam-diam.
“Icha.” Tiba-tiba aku mendengar suara Mama. Kedua mataku terbuka lebar. Aku gagal mendengarkan pembicaraan Kak Iyash dan kedua orang tuanya.
“Kamu tidur di mana, Mama pengen istirahat.”
“Loh, memang nggak apa-apa? ‘Kan lagi ngobrol sama Nenek.”
“Udah kok,” jawab Mama.
“Iya, sudah. Kasihan Mama kamu mabuk udara, sebaiknya istirahat,” kata Nenek.
Aku mengangguk. “Ya udah, ayo. Icha antar Mama ke kamar.” Aku bangkit dan membantu Mama berdiri, lalu mengajaknya berjalan perlahan.
“Kepala Mama sakit. Kamu bawa obat nggak?” tanya Mama pelan sembari melangkah.
“Ada, obat pereda nyeri punya Kak Iyash.”
“Masa itu?”
“Sama aja ibuprofen.”
Akhirnya kami sampai di depan kamar dan Mama lekas masuk. Aku sudah tidak sabar untuk kembali ke ruangan di mana Kak Iyash dan keluarganya berkumpul.
“Cha, bantu Mama lepas kaos kaki,” kata Mama yang sudah merebahkan tubuh di kasur.
“Mama ih.”
“Buka kaos kaki, Cha, bukan buka baju, jadi kamu nggak perlu protes.”
“Iya.”
Aku merasakan helaan napas Mama. Mungkin Mama masih merasa seperti di awang-awang.
“Begitu ya rasanya naik pesawat,” gumam Mama seraya menatap langit-langit kamar.
“Sssshhhh, udah istirahat, Ma. Katanya sakit kepala.”
“Mana? Katanya ada ibuprofen.” Mama membuka telapak tangannya.
__ADS_1
“Memang Mama nggak bawa obat?”
Mama terdiam dan mencoba mengingat. “Ada kayaknya di tas, tapi tas Mama ketinggalan di ruang tamu.”
Akhirnya aku ada alasan untuk menguping pembicaraan mereka lagi. Aku segera kembali ke ruang tamu dan melewati mereka.
“Selama Papa menepati janji.”
Kedua mataku terbuka lebar.
“Perlakukan dia dengan baik.”
“Seperti Papa memperlakukan Mama?” kata Kak Iyash.
“Icha, ada?” teriak Mama dari kamar.
Aku segera kembali sembari membawakan tas Mama. “Mama bawa koper, memang mau berapa hari?” tanyaku.
“Itu punya kamu.”
“Hah?”
“Iya.”
“Besok juga Icha pulang, Ma.”
“Udah terlanjur dibawa. Mana obatnya.”
“Mama persis seperti ibunya beruang,” dengkusku sembari memberikan sekantong obat tersebut ke telapak tangannya.
“Airnya, Cha.”
Aku menghela napas, kemudian pergi ke dapur. Kamar kami memang ada di belakang, jadi kami tak perlu kembali ke ruang tamu untuk bisa sampai ke dapur.
Aku memberikan segelas air. Mama menenggak obat, lalu mengembaikan gelas tersebut padaku.
“Pulang tadi pagi.”
“Pulang?” Mama mengernyit.
“Kenapa?” tanyaku heran.
“Syukurlah.”
“Syukur apa?”
“Ya bersyukur kamu nggak ikut pulang.”
“Kan Mama menelpon, masa aku pulang kalau Mama mau ke sini.”
“Ah, bukan itu, kamu nggak jadi pulang dengan Edgar karena Iyash, ‘kan?”
“Hmmm.” Bibirku mencebik.
***
Kami melaksanakan makan siang bersama. Dengan adanya Tante Ira, aku terbebas dari tugas tambahanku merawat bayi beruang itu. Semoga besok bisa pulang dan meninggalkan tempat ini.
“Papa sudah kirim alamatnya,” kata Om Hasa. “Nanti sore dia sampai ke sini.”
Mungkin hanya aku yang penasaran apa yang Om Hasa bicarakan. Mama sendiri tampak biasa dan tak bertanya apapun.
“Syukurlah, semakin cepat semakin baik,” timpal Kakek.
Kurasa ini hanya sebatas pekerjaan atau mungkin tentang keluarga mereka yang lain. Sudahlah sebaiknya aku segera menghabiskan makananku.
“Mirasih dan suaminya kapan datang?” tanya Tante Ira.
__ADS_1
“Di jalan, sama Iqbal juga.”
“Wah? Kejutan. Ibu senang keluarga kita bisa berkumpul semuanya,” kata Nenek. Aku menatap wajah riangnya, polos dan persis seperti anak-anak.
“Mas Irwan dan istrinya juga akan datang, Bu,” kata Om Hasa lagi.
“Pak, biasanya kita berkumpul cuma pas hari raya.” Bibir Nenek kembali tersungging.
“Iya, Bu.”
Kakek juga mungkin tak kalah bahagia, kedua mata beliau berbinar seperti Nenek, memang berapa lama Nenek dan Kakek tidak berkumpul dengan anak-anaknya? Mendadak aku jadi penasaran.
“Kamu sudah bilang sama Icha?” Tiba-tiba Tante Ira bertanya demikian pada Mama.
Tentu saja aku mengernyit tak paham. “Bilang apa?”
“Om Rudi,” jawab Mama singkat.
“Oh.” Aku kembali melanjutkan makan. Mungkin soal lamaran itu.
“Nanti aku bilang semuanya,” kata Mama pada Tante Ira.
“Mama terima Om Rudi?” Bibirku tersungging menggodanya.
“Ssstttt.” Kedua mata Mama terbuka lebar.
“Eh.” Aku lekas tertunduk dan kembali makan. Mungkin Mama malu, jika yang lain tahu akan hal ini.
***
Pukul tiga sore sebelum adzan ashar berkumandang, semua anak dan cucu Nenek berkumpul di rumah. Tante Ira tak hentinya mengenalkanku pada semua orang. Tak sedikit yang menggodaku dengan menyebutku sebagai calon istri Kak Iyash sama seperti ketika Kak Rasya menggodaku.
“Ini calon kamu, Yash?” tanya Om Irwan, anak kedua Nenek.
Kak Iyash tersenyum tipis, namun, tampak sinis. Aku merasa kesal, kalau tidak suka kenapa dia diam saja dan tidak menyangkal semua drama ini? Mungkin ini juga ulah Nenek, semalam dia mengenalkanku sebagai calon istri Kak Iyash pada Dokter Seto. Kurasa sekarang pun Nenek berkata hal yang sama pada anak-anaknya.
Tiba-tiba saat sedang bermain dengan anak-anak kecil, Mama menarik tanganku dan mengajakku ke kamar. “Mama mau bicara sama kamu.”
Kurasa Mama mulai menyadari kejanggalan ini.
“Sejak kapan mereka–”
“Mama Icha juga bingung,” kataku memotong pertanyaan Mama. Aku kemudian duduk di dekatnya. “Tiba-tiba semalam Nenek Alma mengenalkan Icha sebagai calon istri Kak Iyash pada Dokter Seto.”
“Kamu senang?” tebak Mama.
“Nggaklah,” tolakku cepat. “Dari semalam Icha mau bilang kalau Nenek salah paham. Tapi, mungkin karena Nenek udah pikun kali ya.”
Mama menggeleng, kemudian meraih kedua tanganku. “Cha, soal Om Rudi itu Mama hanya mengarang.”
“Hah?”
“Dua hari yang lalu Om Rudi memang datang ke rumah, tapi itu Mama yang minta. Mama meminta Om Rudi menjadi wali nikah buat kamu.”
“Ma?”
Mama mengangguk.
“Kamu, ‘kan tahu, Papa besar di panti asuhan dan cuma Om Rudi satu-satunya sahabat Papa yang Mama tahu, selain Om Hasa.”
Aku mengangguk karena memang dari sanalah Papa dan Tante Ira mulai berteman. Tante Ira sendiri adalah anak dari pemilik panti asuhan dan Papa adalah salah satu anak yang kurang beruntung itu.
“Tapi, kenapa harus Om Rudi, kenapa bukan Om Hasa aja, bukannya dari dulu Om Hasa yang mengambil alih tanggung jawab Papa?” tanyaku.
“Itu nggak mungkin, Cha.” Mama memberi jeda dan dia semakin erat menggenggam tanganku. “Karena kamu akan menikahi anaknya.”
“Hah?” Jantungku mencelus. Aku terkejut sampai aku tak bisa berkata apa-apa.
__ADS_1