
Kakek masuk ke dalam kamar Kak Iyash untuk melihat kondisi cucunya, sementara aku terhalang Kak Edgar. Pria itu malah menarik tanganku dan mengajakku ke tepi dinding.
“Aku dengar kamu ke sini untuk menjemputku?”
Aku termangu, mungkin dia hanya menduga, tapi sebaiknya aku menyangkal. “Membujuk, bukan berarti menjemput.” Awalnya memang aku ingin pulang bersamanya. Namun, setelah melihat kondisi Kak Iyash seperti ini, aku tidak tega meninggalkannya sendirian. Apalagi mungkin tadi Kak Iyash mendengar pembicaraanku dengan Kak Edgar.
Pria itu melepaskan genggamannya.
“Kalau Kak Edgar tidak bisa menerima Kak Iyash di sini, sebaiknya Kak Edgar pulang karena Bunda jauh lebih butuh Kak Edgar.”
Kak Edgar tak menanggapiku, dia malah berbalik dan hendak melangkah pergi.
“Nggak ada yang perlu disesali. Ini bukan salah Kak Edgar. Nggak ada anak yang minta dilahirkan,” tambahku.
Seketika dia menoleh. “Kamu tahu?”
Aku mengangguk. “Maaf, Icha nggak bermaksud. Memang Bunda yang meminta Icha ke sini menyusul Kak Edgar.”
“Kenapa kamu–” Kalimat pria itu terhenti saat Nenek datang membawa baskom berisi air suhu ruang.
“Sugeng sedang memanggil Dokter Seto. Sekarang kamu bisa kompres Iyash dulu.”
“Baik, Nek.” Aku lekas mengambil alih baskom tersebut dari tangan Nenek. Lalu pergi ke kamar Kak Iyash dan kembali mengabaikan Kak Edgar. Sebenarnya aku tak bermaksud seperti itu. Namun, mungkin keadaan yang membuat semuanya tampak begitu.
Kak Iyash masih menggigil kedinginan, tapi tubuhnya terasa panas. Aku memeras handuk kecil, lalu meletakkannya di atas kening Kak Iyash.
“Kak Iyash lupa nggak bawa obatnya,” gumamku sembari menatap pria itu. Tak tampak di wajahnya gurat angkuh yang pernah melukai hatiku. Kalimat pedas dan hinaan yang pernah kudengar seharusnya kulupakan saja. Mungkin waktu itu suasana hatinya sedang buruk sehingga melampiaskannya padaku. Aku berharap setelah ini tak ada lagi kalimat yang akan melukai hatiku.
Aku mengambil handuk yang sebelumnya kuletakkan di kening Kak Iyash, lalu kembali mencelupkannya ke baskom berisi air, saat hendak mengulang hal yang sama. Seseorang datang dan masuk.
“Siapa yang sakit, Pak?”
“Cucu saya, Dok.” Kakek bangkit dan mundur.
Aku pun ikut bangkit seraya membawa baskom tersebut. Mbak Lastri segera mengambilnya dariku. “Biar Mbak bawa ke belakang.”
Aku mengangguk. Lalu kulihat Dokter sedang memeriksa keadaan Kak Iyash.
“Sebelumnya kenapa?” tanya Dokter.
“Kak Iyash habis operasi Dok.”
“Ini?”
Aku mengangguk. “Dia mengalami luka tembak.”
“Oh.” Dokter mengernyit khawatir.
__ADS_1
“Kak Iyash nggak infeksi, ‘kan, Dok?” tanyaku takut.
“Ini memang menunjukkan gejala awal infeksi, tapi, untungnya bisa segera ditangani.”
Jantungku mencelus sampai tak terasa air mataku terjatuh. Kalau bukan karena melindungiku Kak Iyash tidak akan seperti ini. Perlahan kurasakan seseorang merangkul bahuku. Lalu aku menoleh. “Nenek,” panggilku seraya memeluknya.
“Nggak apa-apa. Iyash anak yang kuat. Sepuluh tahun yang lalu dia pernah mengalami hal yang lebih parah dari ini,” tutur Nenek.
“Obatnya ada?”
“Ketinggalan,” jawab Nenek, beliau lalu menjelaskan kalau aku dan Kak Iyash datang dari Jakarta sore tadi.
“Oh, jadi, Iyash ini masih dalam perawatan? Lalu kenapa bisa pergi dari rumah sakit? Kabur?” tanya pria berjas putih tersebut.
Aku tertunduk mendengar tuduhan Dokter Seto. Disanggah pun tak ada gunanya karena memang Kak Iyash pergi diam-diam.
“Saya resepkan obat. Nanti Mas Sugeng bisa ambil ke rumah.”
Pak Sugeng langsung mengangguk.
“Saya sarankan Iyash tetap di sini sampai benar-benar pulih.” Dokter kemudian mengganti perban di lengan Kak Iyash.
Kak Iyash kembali meringis, sebelumnya tadi kulihat dia menahan sakit dari jarum suntik.
“Untung kamu cepat ditangani. Lain kali jangan begini lagi.”
“Bapak,” sahut Nenek. Sepertinya Nenek ingin membela cucu kesayangnnya.
“Ibu ingat kapan terakhir kali Iyash ke sini?”
Nenek mengangguk.
“Cucu kita ini tidak punya waktu untuk berlibur, bahkan istirahat pun sepertinya jarang, mungkin tidur juga cuma satu jam sehari,” tutur Juragan Hartanto.
“Kakek benar. Tak ada yang kebetulan, mungkin Tuhan mengirim Kak Iyash ke sini untuk istirahat,” jawabku.
“Tuh, Ibu dengar? Marissa juga setuju sama Bapak.”
“Iya. Ibu setuju sama Icha.”
“Loh, bukannya sama Bapak?”
Kami tersenyum. Begitupun dengan Kak Iyash.
“Tuh, Yash. Kamu tenang aja, selama kamu di sini tidak akan ada yang membuat kamu lelah, seperti lelahnya kamu diperbudak ibu kota,” kata Dokter Seto.
Kulihat Kak Iyash kembali menyunggingkan bibir.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi, Pak, Bu.”
“Terima kasih, Dok,” kata Nenek.
Dokter mengangguk. “Yash, cepat sembuh. Nanti obatnya jangan lupa diminum.”
“Tenang, Dok. Ada calon istrinya di sini, dia yang akan merawat Iyash.” Tiba-tiba Nenek merangkul bahuku.
Aku terperangah menatap Nenek. Kenapa Nenek bisa menyimpulkan kalau aku calon istri Kak Iyash. Apa karena rasa khawatirku yang berlebihan?
“Oh, begitu? Jadi, Iyash ke sini untuk mengenalkan calon istri?” goda Dokter Seto. “Bagus. Cuma mungkin waktunya kurang tepat.”
“Ehem.” Akhirnya Kak Iyash berdehem. “Kepala saya sakit, Dok, apa saya sudah boleh istirahat?”
Kupikir Kak Iyash akan menyangkal tuduhan semua orang terhadap kami. Jujur aku tidak enak pada Kak Edgar di sini.
“Tentu. Kalau begitu saya permisi, mari, Pak, Bu.”
Dokter segera keluar diikuti Pak Sugeng, kemudian disusul Kak Edgar. Sedangkan Nenek sendiri membelai puncak kepala Kak Iyash sebelum keluar, begitupun dengan Kakek. Aku semakin penasaran kenapa Kak Iyash bersikap keras jika selama ini dia dibesarkan dengan cinta?
“Kenapa kamu masih di sini?” tanya Kak Iyash.
Aku terpegun seraya membasahi tenggorokan. Aku ingin bertanya tentang perkataan Nenek yang menyebut kalau aku ini calon istrinya. Aku ingin mendengar sanggahannya. Namun, aku tak mungkin menanyakan hal itu saat ini.
“Nanti aku ke sini lagi buat ngasih obat.”
“Terserah.” Kak Iyash langsung memejamkan mata.
Aku hanya bisa menghela napas melihat dia kembali bersikap keras. Aku tak berharap banyak, aku juga tak ingin dia takluk padaku, hanya saja aku berharap dia bisa menghargaiku di sini. Setidaknya sebagai orang yang akan merawatnya, meski dia begini karena aku.
Aku keluar usai mematikan lampu. Lalu pergi ke kamar yang akan menjadi tempatku malam ini. Namun, begitu masuk, aku terkejut dengan keberadaan Kak Edgar.
“Sepertinya kita harus bicara,” kata pria yang entah berapa lama dia duduk di atas ranjang dan menungguku di sana.
Aku lekas menutup pintu kamar. “Apa?” tanyaku pelan.
“Kamu nggak bilang kalau Iyash calon suami kamu.”
Aku terperangah. Dan mungkin dia tahu kalau aku bingung harus menjawab apa.
“Oke, aku nggak mau membahas itu, lagi pula itu bukan urusanku.”
“Maaf, tadi aku mendengar kamu berbicara dengan Bunda di telepon.”
Aku hanya mengangguk untuk menanggapi pengakuannya.
“Tapi, kenapa? Kenapa kamu ke sini bersama Iyash?”
__ADS_1
“Cuma dia yang tahu jalan ke sini.” Meski aku sendiri tidak tahu kenapa kami bisa dipertemukan di sini, bahkan sampai saat ini aku tidak tahu apa tujuan Kak Iyash selain untuk mengunjungi kakek dan neneknya.