Bias Rasa

Bias Rasa
Kedua Kalinya


__ADS_3

Kakiku terhenti di bibir jurang, ada banyak pohon, ranting dan dedaunan di bawah sana, kalau tidak aku yang jatuh mungkin mereka berdua yang akan binasa karena perbuatan mereka sendiri.


“Mau lari kemana, Icha?” Mereka mendekat. Aku tak ingin bermain-main lagi, jadi kuhajar mereka. Namun, memang tak adil jika satu orang perempuan melawan dua orang pria. Tapi, tak ada salahnya, bela diriku juga tak begitu buruk.


“Aku suka cewek perkasa,” kekeh Kevin.


“Aku benci pria idiot,” teriakku sembari hendak meninjunya, namun dia menghindari bogemku. Beberapa kali aku juga berhasil menghindar dari hadangan mereka. Kurasa, meski mereka terbiasa berbuat jahat, kenyataannya mereka tidak begitu lihat berkelahi, hanya jago menangkap, tapi aku lebih jago menghindar, namun aku tak sadar dan kehilangan kendali sampai akhirnya aku sendiri yang terjatuh ke jurang.


Aku memekik dan aku tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhku nanti, kalau mati pun setidaknya aku tidak ternodai.


Tubuhku tak melayang seperti jatuh ke dalam air. Kupikir jurang ini dalam ternyata tidak, mungkin cuma lima sampai tujuh meter dari atas sana, hanya saja tampak begitu gelap, sehingga aku berpikir ini begitu dalam dan mengerikan. Beruntung tubuhku tidak menimpa benda tajam, hanya tanah lembab dengan banyaknya dedaunan kering.


Dari bawah sini, aku masih bisa mendengar kedua orang jahat itu memanggil namaku. Ya Tuhan, semoga mereka tidak mencariku sampai ke bawah.


Tubuhku terasa sakit dan ngilu, lima atau tujuh meter mungkin seperti jatuh dari atap rumah. Tapi, tetap saja menyakitkan.


“Marissa.” Aku kembali mendengar sebuah suara. Lalu kudengar dua suara di belakangnya. “Icha.”


Jantungku mencelus. Aku segera bangkit, namun, begitu melangkah kurasakan nyeri dibagian pergelangan kaki kananku. Kurasa kakiku terkilir, selain itu pinggangku juga terasa sangat nyeri.


Kedua penjahat itu mungkin belum menyerah untuk mendapatkanku. Entah harus kemana karena di sini terlihat gelap dan hanya ada pepohonan yang menjulang. Mungkin aku sudah terlalu dalam masuk ke dalam hutan.


“Marissa.” Lagi-lagi kudengar suara itu memanggil. Aku yakin dia bukan penjahat itu karena aku tak mengenalkan diriku sebagai Marissa. Namun, kembali kudengar dua suara di belakangnya. “Icha.”


Aku mencoba menenangkan diri, menarik napas dan mencoba untuk tidak panik. Mungkin saja itu Kak Iyash ditemani dua orang temannya, tapi apa mungkin dia akan mencariku?


Terseok-seok aku berjalan di dalam gelapnya tempat ini, padahal aku sangat yakin ini masih siang, tapi kenapa matahari tak dapat menjangkau tempatku berada, jangan-jangan aku berada di perut dinosaurus.


“Icha.” Semakin dekat kudengar suara itu memanggil. Aku semakin tak dapat berpikir kemana aku harus mengambil langkah. “Ketemu.”


Seketika aku menjerit. Namun, kedua pria itu malah kegirangan.


“Kalian mau apa?”


“Meminta sedikit kesenangan, Nona.” Kevin menjawil daguku.


Aku menghela napas panjang. Kurasa meminta mereka melepaskanku tak ada gunanya karena aku tak tahu jalan keluar dari tempat ini. Jadi, aku mencoba bersikap tenang, agar mereka mau membantuku keluar dari tempat ini.


Namun, tiba-tiba saja seseorang mendekat dan berdiri di depanku. Pria itu, pria yang tiga hari lalu menikahiku. Dia langsung mengangkat tubuhku dan meletakkanku di bahu kirinya tanpa berkata apa-apa. Tangan kanannya mengacung memberi isyarat perpisahan pada kedua pria gila itu. Namun, mereka mengikuti kami dari belakang, sambil kudengar keduanya berbisik.


“Dia memanggulnya seperti karung beras, seharusnya kita lakukan itu sejak tadi,” kekeh Kevin.


“Lihat badannya yang besar, mungkin kita akan kalah.”

__ADS_1


“Tidak apa kalau kita kebagian sisa, aku cuma ingin melukisnya tanpa busana.”


“Ah, bohong kau.”


Dadaku bergemuruh kesal mendengar perkataan mereka, kalau saja keadaanku tidak seperti ini, sudah kuhajar mereka sampai babak belur. Tapi, sialnya pria yang memanggulku seperti karung beras ini diam saja dan terus berjalan, entah berapa lama sampai aku merasa tak nyaman karena terus menungging, napasku juga rasanya tercekat.


“Bisa turunkan aku, dadaku sakit,” pitaku pelan. Namun, dia mengabaikanku dan terus berjalan entah berapa lama lagi, yang jelas aku merasa ini terlalu lama. Siapa yang nyaman digendong dengan cara seperti ini.


Kak Iyash kemudian berbalik. “Kenapa kalian mengikuti kami?”


“Kami menunggu bagian.”


“Tidak ada bagian. Sebaiknya kalian pergi.”


“Enak saja pergi.” Mereka tertawa.


Kak Iyash kembali berjalan. Di sini kepalaku mulai berdenyut nyeri, karena mungkin membuat kepala terkulai ke bawah sepertiku bukan perkara yang baik, apalagi aku baru saja terjatuh.


Aku memukul punggungnya. “Turunkan aku, dadaku sakit.”


Dia berhenti melangkah, lalu menurunkanku. Aku duduk dan bersandar pada batu. Sementara pria itu terus menatapku.


“Bos, jadi gimana?” tanya Kevin.


Aku terperangah saat Kak Iyash mengeluarkan uang dan memberikannya pada kedua pria itu.


“Itu sudah cukup, sekarang kalian pergi.”


“Uh dasar! Sudah mengambil jatah orang dan sekarang mengusir kami. Kalau bukan karena kami, kamu tidak akan menemukan perempuan ini. Iya, ‘kan, Sur?”


Temannya Kevin mengangguk.


Aku memaksakan tubuhku untuk berdiri. “Kamu menyuruh mereka?”


Kak Iyash terdiam.


“Jawab!” pekikku kesal.


“Kenapa marah? Harusnya aku yang marah. Kamu pergi dari rumah, berenang sendirian, apa kamu pikir itu nggak berbahaya?”


“Jangan sok peduli! Aku bisa jaga diriku sendiri.  Dengan kamu menyewa mereka, kamu hampir membahayakan nyawaku.”


Dia menggeleng. “Aku tidak menyewa siapapun. Aku cuma meminta mereka menunjukkan jalan kemana kamu pergi.”

__ADS_1


“Bohong!” teriakku menggema.


“Kalau kamu bisa menjaga dirimu sendiri. Silakan pulang.” Dia menunjuk jalan. “Cepat. Aku akan mengikutimu dari belakang.”


Aku segera berbalik. Sementara kulihat Kevin dan temannya sudah pergi ke arah lain.


“Dasar wanita tidak tahu diuntung, sudah diselamatkan masih saja menuduhku yang bukan-bukan.”


“Diam!” Aku terseok karena kakiku semakin terasa sakit saat aku menginjakkannya ke tanah.


“Dengar, apa yang kamu tuduhkan itu nggak benar. Aku sama sekali nggak kenal mereka. Aku mencari kamu karena–”


“Jangan sok peduli,” pangkasku.


“Aku nggak peduli, sama sekali aku nggak peduli,” kata pria itu. Entah sejak kapan dia menghilangkan kata “saya” dan menggantinya menjadi “aku”.


“Bahkan kalau kamu diapa-apakan sama mereka, aku nggak peduli,” tambahnya.


Jantungku mencelus ngilu. Namun, kemudian dia berjongkok di depanku. “Aku cuma peduli sama Mama kamu. Aku peduli dengan kesehatannya. Kalau dia tahu kamu di sini dalam bahaya mungkin aku dalam masalah.”


Aku termenung menatap punggungnya.


“Naik,” titah pria itu.


Aku masih mematung, namun, kemudian dia mundur sampai kakiku mengenainya. “Cepat naik, aku akan menggendong kamu sampai rumah.”


Perlahan aku membungkukkan tubuh dan memeluk punggungnya. “Tapi, jangan pernah berpikir hubungan kita baik-baik saja.”


“Terserah.” Lalu dia mengangkatku dan berjalan.


Jantungku bergemuruh, aku seperti sedang berada di pundak kakakku sendiri. Aku tahu mungkin dia–


Sudahlah lupakan. Aku malas memikirkan ini. Sekarang lebih baik aku berhenti memikirkan hal yang seharusnya tidak aku pikirkan.


Langit semakin gelap dan udara semakin dingin. Sedangkan kami masih berada di hutan, aku tak yakin dia tahu jalan keluar dari tempat ini.


“Yakin tahu jalan?” tanyaku.


“Aku lupa,” jawabnya. Namun, dia tetap berjalan.


“Ini jam berapa?”


“Hampir maghrib.”

__ADS_1


“Hah?” pekikku. Aku menghela napas. “Jadi, selama itu aku ada di sini?”


Dia tak menanggapiku dan tetap berjalan. Sampai langit benar-benar gelap. Aku tidak menyangka akan tersesat di sini, kalau dia tidak datang, entah apa yang akan terjadi. Mungkin aku berutang nyawa untuk kedua kalinya.


__ADS_2