Bias Rasa

Bias Rasa
Merasa Bersalah


__ADS_3

Setelah jauh berjalan dan kurasa dia juga sudah sangat lelah, akhirnya kami melihat sebuah cahaya, mungkin kami sudah sampai di pemukiman warga. Dimanapun itu terpenting kami bisa keluar dari hutan.


“Alhamdulillah,” seru kami bersamaan.


“Aku mau turun,” kataku sadar diri. Dia baru sembuh dan mungkin saja dia akan sakit lagi setelah ini. Namun, dia tak mendengarku.


Hari ini aku merasa seperti mimpi. Beberapa hari terakhir aku merutuki nasibku sendiri, tapi ternyata aku tak bisa mengatasi pilihanku. Bukankah pergi ke sungai dan berenang di sana merupakan pilihan? Hingga akhirnya seseorang datang menggangguku, mengusik dan hampir melecehkanku. Kalau saja–


“Kalau saja aku tak datang,” kata pria itu di tengah keheningan.


Jantungku mencelus. Dia seperti sedang menyusuri jalan pikiranku.


“Mungkin kamu pulang tinggal nama.”


Aku menghela napas. “Aku haus,” keluhku.


Dia berhenti, lalu memintaku turun dan aku duduk di pinggir jalan dengan kaki memanjang. Kemudian kudengar panggilan masuk di ponselnya. Dia langsung menjawab panggilan tersebut.


“Udah di pertigaan. Bisa minta Mas Sugeng buat jemput ke sini nggak? Pakai motor aja, kaki Marissa keseleo.”


Beberapa detik kemudian dia memutus panggilan dan langsung memasukan ponsel itu ke saku celananya. Dia lalu menatapku. “Tunggu di sini.”


Aku menatap ke arah lain tanpa menjawabnya. Seharusnya aku mengambil pelajaran dari setiap kejadian. Hari ini untuk kedua kalinya aku hampir kehilangan nyawa. Beruntung Tuhan masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, sebelum segala sesuatunya terlambat.


Kak Iyash kembali dan memberikan sebotol air. Aku tengadah menatapnya. “Aku minta maaf,” kataku seraya mengambil botol mineral dari tangannya.


“Akhirnya.” Pria itu kemudian duduk di sebelahku. “Kamu sadar juga dengan kesalahan kamu.” Dia membuka botolnya sendiri, kemudian minum.


Aku juga segera membasahi tenggorokanku.


“Besok kamu pergi lagi ke sana, sekalian jangan pakai baju.”


Aku hampir tersedak mendengar omelannya.


“Kamu pikir aku mau?” Aku lekas bangkit dan berdiri di depannya. Namun, badanku terhuyung dan hampir jatuh, tapi akhirnya aku bisa mengendalikan tubuhku sendiri.


“Kali aja kamu mau, siapa tahu ketemu lagi orang kayak tadi.”


“Memang kamu pikir aku perempuan macam apa?”


“Memang macam apa, hm?” Dia berdiri di depanku. “Kamu pikir, perempuan yang pergi tanpa izin suami itu perempuan macam apa?”


Aku benci teriakannya, bahkan beberapa orang yang lewat sampai berhenti dan menatap ke arah kami.


“Kamu tenang aja, aku akan membatalkan semuanya sebelum pernikahan ini terdaftar di KUA.”


“Hah?” cibirnya. “Kamu pikir bisa?”

__ADS_1


Seketika aku diam tak mengerti.


“Wanita yang dinikahi secara siri, tidak akan bisa menggugat apapun sebelum pernikahan ini terdaftar di KUA, kecuali–”


“Kalau begitu talak aku,” potongku.


Dia menatapku sampai beberapa detik. “Aku tidak akan pernah melakukannya,” kata pria itu dengan suara yang lebih pelan seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Karena kamu takut? Takut kalau kedua orang tua kamu akan berpisah?” tebakku. Dan aku enggan menyebut namanya lagi, jika harus pun aku tidak akan lagi memanggilnya dengan sebutan “Kak”.


Kulihat dadanya naik turun.


“Kalau Om Hasa tidak bahagia, kenapa harus dipaksa? kebahagiaannya mungkin bukan ada pada Mama kamu. Kenapa memang, kalau dia ingin menyatukan cinta sejatinya? Apa itu salah?”


Tiba-tiba tangannya melayang dan hampir mendarat di pipiku. Aku hanya bisa terpejam kuat, tanpa bisa menghindar. Namun, tidak. Saat aku membuka mata kulihat dia menahan tangannya sendiri dan menjatuhkannya ke samping.


“Cinta tak bisa dipaksa, aku yakin kamu tahu itu.”


Namun, pria itu tak menanggapiku. Dia malah memberhentikan motor yang hendak melewati kami. Motor tersebut lekas memutar arah dan berhenti di depanku.


“Bawa dia pulang.”


“Den Iyash gimana?”


Ternyata itu Pak Sugeng.


Aku mematung. Apalagi saat dia mundur menjauhi motor Pak Sugeng.


“Ayo, Mbak.”


Aku terpincang, lalu naik ke motor Pak Sugeng. Sesaat kemudian kami melesat pergi. Aku sempat menoleh ke belakang dan kulihat pria itu tengah berdiri di pinggir jalan seraya mengangkat wajahnya ke langit. Sekejap aku merasa bersalah dengan perkataanku tentang kedua orang tuanya.


Pak Sugeng bilang kalau perintah Iyash tak bisa ditolak. Sekali dia memerintah tak ada yang berani membantah.


Aku termenung mendengar penuturannya. “Apa kalau dia bilang, dia akan jalan kaki dari sana ke rumah, apa kalian akan biarin gitu aja?” tanyaku.


“Ya, mau bagaimana, Non. Dia bahkan sudah tak memedulikan hidupnya sendiri sejak Non Aruna meninggal.”


Seketika aku terpegun.


“Siapa, Pak?” Aku bukannya tidak mendengar, aku hanya ingin Pak Sugeng mengulanginya lagi.


“Nggak, Non.”


Jantungku mencelus.


“Pak, apa dulu pacarnya Kak Iyash tinggal di sini?” tanyaku ragu.

__ADS_1


“Iya, Non. Satu SMA sama Den Iyash.”


“Oh, siapa tadi namanya?” tanyaku masih penasaran.


“Sudah sampai, Non.” Pak Sugeng berhenti di depan rumah Nenek. Dan dia tidak menjawab pertanyaanku.


Aku segera turun dari motornya. Di depan pintu Nenek menghadang langkahku. “Dari mana saja? Bikin orang khawatir?”


“Maaf, Nek.”


“Iyash mana?”


“Masih di jalan.”


“Sugeng, kamu jemput dia,” kata Nenek.


Mas Sugeng lekas pergi dengan motornya. Semetara Nenek kembali menatapku. “Kamu itu–” Kemudian Nenek berdecak kesal. “Kebiasaan buruk sebelum kamu menikah, sebaiknya buang. Kasihan Iyash.”


Aku hanya bisa tertunduk. Aku tahu ini memang salahku.


“Sekarang kamu mandi. Kotor begitu.”


Aku mengangguk. Lalu masuk melewati Nenek yang sejak tadi berdiri di depan pintu.


“Cha, kaki kamu kenapa?”


Aku menggeleng. “Nggak apa-apa, Nek.” Aku terus berjalan dan masuk ke dalam kamar, lalu mengambil handuk dan pergi mandi.


Tak berapa lama ketika aku baru saja mematikan keran air, kudengar suara pintu kamar yang baru saja dibuka. Pikirku mungkin Kak Iyash sudah pulang. Aku lupa membawa pakaian ganti untuk berpakaian di kamar mandi seperti yang sering kulakukan.


“Cepat,” kata pria itu seraya mengetuk.


Jantungku berdegup kaget. Aku segera membalut tubuhku dengan handuk. Lalu berdiri di depan pintu. “Bisa keluar dulu sebentar nggak? Aku lupa bawa baju ganti,” kataku baik-baik. Bahkan aku tak bermaksud menyinggungnya sama sekali.


“PD banget, lagi pula siapa yang mau mengintip?”


Justru aku yang tersinggung dengan kata-katanya. Aku lekas membuka pintu, meski hanya berbalut handuk. Dia sendiri langsung masuk ke kamar mandi tanpa menoleh atau menatapku. Kurasa dia ingin membuktikan perkataannya.


Usai berpakaian, aku duduk di ranjang dengan kaki memanjang. Aku membalurkan minyak kayu putih pada kakiku yang sakit. Tiba-tiba kulihat dia keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk dari pinggang ke bawah. Dia pergi ke depan lemari dan mencari pakaiannya. Daripada memperhatikannya aku lebih baik memperhatikan diriku sendiri.


Tak berapa lama kudengar, seseorang mengetuk pintu. Kak Iyash terlihat buru-buru memakai kaos, namun masih mengenakan handuk. Lalu pergi membuka pintu.


“Ini makan malamnya, Den. Tadi Ndoro Putri minta Lastri mengantarnya ke sini.”


“Iya, makasih.” Kak Iyash membawa nampan dan meletakkannya di meja. Sementara pintu kembali tertutup. Dia lalu pergi dan melanjutkan berpakaian di kamar mandi. Setelah selesai dia duduk di tepi ranjang.


“Makan,” katanya seraya menyodorkan sepiring nasi yang sudah ditumpuk lauk berupa ikan goreng dan sayur kacang merah.

__ADS_1


Aku merasa lega karena walaupun kami masih selalu bertengkar, tapi setidaknya dia tidak mendiamkanku.


__ADS_2