Bias Rasa

Bias Rasa
Pahlawan Bertopeng Helm


__ADS_3

Pukul lima pagi aku terbangun di rumah sakit di temani Mama. Panik yang berpendar di wajahnya membuatku merasa bersalah. “Mama maafin Icha.”


Mama mendengkus. “Untung kamu selamat.”


Aku lekas duduk. “Orang yang nyelametin Icha mana, Ma?”


“Baru selesai operasi. Untungnya peluru cuma merobek bagian luar kulitnya saja, tidak sampai masuk ke dalam.”


“Syukurlah.”


“Dia siapa?” tanya Mama.


“Icha nggak tahu, Ma. Soalnya dia pakai helm.” Aku lekas turun dari ranjang. “Icha harus lihat dia.”


“Pelan-pelan.” Mama membantuku dan perawat mendekatkan kursi roda. “Duduk, takutnya kamu masih pusing.”


Aku mengangguk dan lekas duduk di kursi roda tersebut. Mama mendorongnya dan membawaku ke ruangan tempat pria itu di rawat.


Kami berhenti di depan sebuah ruangan. Mama membukakan pintu, seketika Om Hasa dan Tante Ira menoleh ke arah kami.


“Icha,” panggil Tante Ira. “Kamu baik-baik aja?”


“Dia cuma pingsan,” jawab Mama.


“Pingsan gara-gara lihat darah?” tanya Om Hasa.


Aku mengangguk.


“Pahlawan berhelm itu mana, Om?” tanyaku tak bermaksud membuat mereka tertawa karena aku tak tahu namanya dan yang aku ingat cuma itu.


Om Hasa dan Tante Ira tak berhenti terkekeh.


“Maksud kamu anak sombong ini?” tanya Tante Ira seraya bergeser.


“Kak Iyash?”


Pria itu menoleh dan menatapku datar. Wajah angkuhnya terlihat pucat.


“Jadi, orang itu Kak Iyash?” Aku lekas bangkit. “Nggak-nggak ini pasti bohong. Ini pasti rekayasa. Kakak sembunyiin di mana orang itu?” Aku memukul tangannya yang disangga arm sling.


“Arrrggghhh!!!” Dia meringis kesakitan.


“Eh, hati–hati,” kata Tante Ira khawatir.


“Icha,” pekik Mama.


“Ah maaf-maaf.” Aku lekas membelai tangannya yang kupukul barusan.


“Habisnya Icha nggak percaya, masa dia yang nolong Icha.”


“Maaf, Icha masih saja kekanak-kanakkan,” seru Mama.


Tante Ira dan Om Hasa tertawa. Sedangkan aku tak bisa berhenti menatap wajah angkuh pria itu. Dia pun menatapku tanpa berkedip.


“Kenapa harus pakai helm? Malu, gengsi? Atau takut mukanya lebam kena tonjok?” tebakku.


“Sssttt … berisik,” kata pria itu pelan.


Aku mengerjap.


“Cha, duduk lagi, takutnya kamu masih pusing,” kata Tante Ira perhatian.

__ADS_1


“Iyash pasti kaget tahu kalau Icha ini tukang berkelahi. Nggak ada anggun-anggunnya sama sekali,” kata Mama.


“Udah kelihatan,” dengkus Kak Iyash.


 “Jago, ‘kan aku?” tanyaku bangga.


“Kalau jago, kamu udah bisa ngalahin mereka, kamu nggak butuh bantuan saya.”


“Aku juga kaget, tiba-tiba ada pahlawan bertopeng helm datang.”


Kami semua tergelak. Hanya Kak Iyash yang bahkan mungkin sudah lupa caranya tersenyum.


“Kamu ini selalu bisa bikin kami tertawa,” kata Tante Ira sembari membelai puncak kepalaku. “Kalau punya menantu seperti kamu, mungkin rumah nggak akan sepi.”


“Nggak ah, berisik,” tolak Kak Iyash cepat. “Cerewet.”


“Ih, siapa juga yang mau ngelenong sendirian. Aku mau suami yang humoris, bukan yang kaku, angkuh dan nggak pernah tersenyum kayak kamu.”


Seketika semua orang terdiam.


“Eh ….” Aku tengadah menatap Tante Ira. “Tante, maaf, Icha jadi jelekin anak Tante.”


“Nggak apa-apa. Iyash memang kayak gitu,” kata Tante Ira.


Aku tertawa mengejeknya dan hilanglah rasa bersalah itu. Tiba-tiba Kak Iyash memukul kepalaku.


“Aw,” pekikku. “Mama.” Aku langsung menoleh pada Mama sembari memegang kepalaku sendiri.


 “Salah kamu. Lagian kenapa bercandain orang yang lebih tua. Itu nggak boleh,” omel Mama.


“Terlalu serius juga bikin stress. Mama tahu, ‘kan alasan aku keluar dari kantor. Ini gara-gara dia bilang–” Seketika Kak Iyash membekap mulutku dengan telapak tangannya. Kedua matanya membola menatapku. “Dia bilang kalau aku belum diterima, jadi kalau mau keluar-keluar aja nggak usah pakai surat pengunduran diri.”


“Ish, kamu ini ngomong apa,” ucap Mama.


“Nanti kamu pingsan lagi,” balas Kak Iyash sengit.


“Nanti Kak Iyash operasi lagi.”


“Ih.” Dia hendak memukul kepalaku lagi, namun, Tante Ira menahannya.


“Nggak boleh gitu, Yash. Dia perempuan.”


Kak Iyash menghela napas seraya mendelik.


“Maaf, Bu Rahma, kadang Iyash sulit mengendalikan diri.”


“Iya, nggak apa-apa. Maaf, Icha juga kadang nyebelin, suka menguji kesabaran orang.”


“Mama,” dengkusku sebal.


“Papa harus ke kantor,” kata Om Hasa sembari melirik arlojinya.


“Mama juga ada pesanan catering, mau diambil siang ini,” sahut Tante Ira.


“Duh, Cha, Mama lupa ada barang yang harus di packing. Terus nanti jam sembilan ada barang baru yang akan datang.”


“Ya udah Icha juga mau pulang.”


“Nggak,” cegah Mama, Tante Ira dan Om Hasa bersamaan.


Seketika aku mengernyit. “Kok kalian gitu sih?”

__ADS_1


“Kamu harus rawat Iyash. Dia kayak gini, ‘kan juga gara-gara kamu,” kata Mama.


“Mama, tapi Icha pengen mandi. Udah nggak enak lengket.”


“Mandi aja, Mama udah bawa handuk sama baju ganti.” Mama meletakkan goodie bag di atas pangkuanku. “Parfum, deodorant, dan skincare kamu yang lainnya, udah Mama siapin.”


“Mah, tapi, Icha pengen keramas.” Aku beralasan hanya agar ada cara untuk pergi dari sana dan lepas dari tanggung jawab yang mereka bebankan padaku.


 “Mama juga bawa shampo kamu. Nih sama pengering rambutnya sekalian.”


“Mama,” rengekku pelan. “Mama pasti lupa bawa pembalut. Iya, ‘kan?”


Mama malah tertawa. “Kamu nggak haid. Mama tahu itu.”


Aku mendengkus pelan. Sudahlah aku menyerah, tak ada lagi cara untuk pergi dari sini.


“Motor Icha di mana, Ma?”


“Saya sudah minta orang buat bawa motor kamu ke bengkel.”


 “Kok dibawa ke bengkel? Motorku baik-baik aja.”


“Iya saya lupa kalau seharusnya kamu yang dibawa ke bengkel ketok magic,” katanya datar.


“Ha-Ha-Ha-Ha.” Itu bukan tertawa, tapi huruf H dan A yang dibaca menjadi Ha.


Kak Iyash mendelik. “Syukur saya tidak meninggalkan motor kamu di jalan.”


“Oh iya, terima kasih udah amankan motor saya, sudah menolong saya dari preman, sudah menghalau peluru yang hampir menembus jantung ini.” Aku memegang dadaku sendiri.


“Ma, bawa aja, telinga Iyash sakit ada dia di sini,” kata Kak Iyash pada ibunya.


“Jangan terlalu ditanggepin, nanti rindu,” goda Tante Ira.


“Dih, amit-amit,” kataku dan Kak Iyash bersamaan.


“Sudah ah. Mama pamit ya.” Tante Ira membungkuk dan mengecup puncak kepala Kak Iyash.


“Papa juga.” Om Hasa hanya membelai puncak kepala anaknya. “Cha, kalau ada apa-apa, telepon aja.”


Aku mengangguk.


“Cha, nitip ya,” kata Tante Ira.


Aku kembali mengangguk.


“Cha, Mama pulang ya.” Mama mengecup puncak kepalaku. “Hati-hati di sini.”


“Nanti sore, Tante Ira ke sini, ‘kan? Jadi, Icha bisa pulang.”


Tante Ira mengangguk.


“Sip.” Aku mengacungkan telunjuk.


“Mama pulang sendiri?”


“Nggak, Mama sama Tante Ira.”


“Oh, kirain Tante Ira sama Om Hasa.”


“Om harus ke kantor, Cha,” jawab Tante Ira.

__ADS_1


“Hmm.” Padahal aku tahu Om Hasa sudah tak tinggal serumah dengan Tante Ira. Isu perceraian itu sudah santer terdengar. Om Hasa tinggal sendiri di apartemen yang berada satu gedung dengan apartemen anaknya. Setiap hari selama seminggu, aku melihatnya ada di sana.


__ADS_2