Bias Rasa

Bias Rasa
Tersenyum Tipis


__ADS_3

Kami makan malam dalam hening, meski duduk bersebelahan di atas satu ranjang. Perlahan rasa gondok di hati, meleleh menjadi air mata yang keluar melintasi pipi. Akhirnya aku makan dengan asinnya air mata.


Jika aku harus bertahan dengannya, aku hanya ingin kami berkomunikasi dengan baik. Dan dia menjelaskan semuanya, bukan hanya diam penuh teka-teki. Aku bukan detektif yang sudi memecahkan kasusnya.


Aku tahu dia menatapku, mungkin dia mendengar isakan yang sedang kucoba tahan agar tak keluar suaranya. Namun, itu malah membuat dadaku sakit dan sesak.


“Kenapa?”


Aku lekas menoleh mendengar pertanyaannya. Jika perempuan lain mungkin berkata tidak apa-apa. Aku justru tidak ingin menjawabnya begitu karena dia seharusnya tahu kalau semua tak baik-baik saja. Namun, lidahku terkunci, sehingga aku tak dapat menjawab pertanyaan itu dengan mudah. Air mataku malah semakin deras.


Seharusnya, dia meletakkan piringnya di meja, lalu beringsut ke dekatku dan memberikan pelukannya, namun tidak. Kurasa dia tidak akan melakukannya untukku.


“Aku mau pulang,” kataku lirih.


“Pulang aja, nggak ada yang menahan kamu di sini, selain rasa sakit kamu itu.” Dia menatap kakiku.


Dadaku malah semakin sakit. Jika seperti ini terus aku takut akan berharap lebih pada hubungan ini.


“Hubungan ini memberatkan aku. Jika memang tak ada yang menahanku di sini, maka bebaskan aku.”


“Sejak kemarin kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau, bahkan meski itu menyulitkan kami. Apa itu bukan sebuah kebebasan?”


Jantungku mencelus, dadaku bergemuruh. “Bukan itu. Aku tahu sebenarnya kamu mengerti apa yang aku mau.”


“Aku nggak ngerti.” Dia bangkit dan meninggalkanku di kamar sendirian bersama semua rasa yang membuatku semakin terluka.


Pada akhirnya aku hanya bisa menikmati semua ini sendirian tanpa ada yang mau mendengarkan, ataupun mencoba mengerti. Aku tidak ingin menceritakan pernikahan ini pada siapapun, termasuk pada Yuri, orang yang selama ini aku percaya menjadi sahabat.


 Aku menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Tuhan percaya aku kuat maka dari itu, Tuhan mengirimku untuk menghadapi pria itu dan menjalankan semua ini. Namun, kata-kata tak cukup membuatku tenang. Aku hanya ingin pelukan. Dua puluh detik saja, mungkin itu akan membuatku merasa lega.


Beberapa saat kemudian seseorang membuka pintu. Siapa lagi kalau bukan pemilik kamar ini. Dia membuka pintu dengan lebar dan seorang wanita tua masuk ke dalam.


“Kakinya keseleo.”

__ADS_1


Wanita itu mengangguk dan mendekat padaku. Aku tercenung. Benarkah? Dia bisa secuek itu, tapi dia juga bisa lebih perhatian dari yang aku pikirkan.


Wanita itu tak memintaku terlentang. Jadi, aku diizinkan untuk tetap duduk dengan kaki memanjang. Dia bilang kalau ingin dipijat seluruh badan, seharusnya perutku dalam keadaan kosong. Karena takut ada tekanan yang membuatku muntah.


Wanita itu mulai memijat dengan gerakan pelan, tapi berhasil membuatku ingin menjerit. Namun, aku hanya meringis.


“Jangan tegang,” katanya sambil memelankan pijatannya. “Nanti malah semakin sakit.


Aku kembali meringis menahan sakit. Sementara orang-orang malah berdiri menyaksikan rasa sakitku termasuk pria yang mengaku sebagai suamiku. Suami pada umumnya mungkin akan menenangkan rasa sakit istrinya. Tapi, kenapa aku berharap begitu, bukankah aku tidak menginginkannya?


***


Tak ada yang istimewa dalam hubungan ini meski sudah hari keempat. Rasanya untuk menuju satu minggu saja seperti butuh waktu sampai ribuan jam. Bahkan untuk menghabiskan satu hari saja terasa begitu lama.


Sama seperti hari kedua, hari ini pun aku tak pergi kemana-mana. Duduk di kasur dan menghabiskan waktu dengan membaca buku. Sedangkan pria itu entah pergi kemana. Dia kembali hanya untuk tidur di malam hari. Jika dikatakan tidak bosan, itu bohong. Aku bukan orang yang bisa diam di rumah dalam jangka waktu yang lama.


“Sahabatku, Yuri. Dia akan bertunangan hari Minggu nanti. Jadi, aku harus pulang,” kataku pada Kak Iyash saat dia bersiap untuk tidur.


“Dari mana saja?” tanyaku tak peduli jika dia benar-benar tidur.


“Bertemu teman-temanku,” jawabnya.


“Hm. Kamu bilang kamu sudah punya istri?” tanyaku penasaran. Tapi, aku berharap dia berkata tidak.


“Ya. Istri dan satu anak.”


Kedua mataku terbuka lebar. Sementara kulihat dia tersenyum tipis, lalu berbalik membelakangiku.


“Kenapa harus bohong?”


Dia malah mengedikkan bahu.


“Terserahlah, aku nggak mau ikut campur. Kamu sewa aja, wanita anak satu untuk menjalankan sandiwara kamu.”

__ADS_1


“Kenapa harus nyewa?”


“Kamu pikir mereka akan percaya, aku bahkan masih terlihat seperti anak SMA,” kekehku.


“Berarti aku beruntung karena punya istri yang awet muda.”


Bibirku tersungging dan mendadak hatiku melambung.


“Itu bukan pujian, jadi berhenti tersenyum.”


Seketika senyumku memudar. Dan kulihat dia memang sedang memperhatikanku di cermin. Aku lekas merebahkan tubuh dan berbalik membelakanginya agar wajahku tak terlihat lagi di cermin dan dia tak akan tahu kalau aku masih memikirkan pujiannya, sehingga bibirku kembali tersenyum.


***


Pukul sepuluh pagi ada banyak tamu di rumah Nenek. Aku juga diminta untuk berdandan yang rapi oleh cucunya Nenek, pria yang lima hari lalu menikahiku. Dia tidak memintaku untuk berdandan yang cantik, kurasa dia sudah sadar kalau aku memang cantik tanpa dia harus memintanya.


Ternyata itu adalah teman-temannya sewaktu SMA. Mungkin merekalah yang ditemuinya kemarin.


Aku bersalaman dengan temannya satu persatu, dari mulai Kak Bagas, pria yang rapi dengan pakaian serba necis. Rambut mengkilap dan kemeja dengan kancing yang tak terlewat sama sekali, ujung kemeja bahkan dimasukan ke dalam celananya. Lalu Ada Kak Dennis, pria dengan mata sipit, seperti orang cina, tapi memiliki kulit kecoklatan. Dan Kak Umam, kurasa dari semuanya, Kak Umam paling humoris. Mungkin dari tubuhnya, dia yang lebih tepat kupanggil beruang, tapi tetap tak cocok karena dia sangat menyenangkan secara pembawaan.


 Rata-rata mereka sudah memiliki istri dan anak. Pantas Kak Iyash bilang sudah punya satu anak, kurasa dia tak ingin kalah dengan mereka.


“Jadi, Mariss–”


“Icha,” tukasku pada Kak Umam saat dia hendak menyebut namaku. Namun, Kak Iyash menyela dan memintanya agar tetap memanggilku Marissa, seperti dirinya, karena sejauh ini dia tidak pernah memanggil nama panggilanku. Bahkan kalau aku tidak salah mengingat, dari kecil dia memanggilku dengan panggilan sekaku itu.


“Iya, terserah deh, mau Marissa atau Icha, sama aja,” kataku kikuk.


“Nggak nyangka, bisa meluluhkan Iyash,” kata Kak Umam.


“Kenapa nggak. Kata Nenek juga, kalau beruang itu akan tunduk sama pawangnya,” jawabku bangga. Padahal aku juga tak yakin bisa melakukannya. Hubungan kami bahkan terlalu banyak dibumbui dengan pertengkaran. Aku harus banyak menelan kalimat pedas dan aku juga harus sabar menghadapi sikap dinginnya.


Tak elak ketiga temannya tertawa. Sementara kulihat Kak Iyash hanya menggeleng dengan senyum tipis di bibirnya. Jangan harap aku bisa melihatnya tersenyum lebar, karena sampai teman-temannya pulang, dia tak menyunggingkan bibir sampai terlihat gigi sama sekali. Hanya senyum tipis, khas pria dingin. Namun, aku bersyukur dia tak menunjukkan senyum sinisnya.

__ADS_1


__ADS_2