
Setelah Kak Iyash mengusirku, aku memilih pulang. Aku yakin Mama akan mencecarku dengan banyak pertanyaan tentang pria itu.
“Assalamualaikum,” kataku seraya masuk ke dalam rumah. Jawaban Mama terdengar pelan.
“Loh, kenapa kamu pulang?” tanya Mama saat keluar dari ruangan tempatnya berjualan online. Aku yang mendesain ruangan itu agar terlihat instagramable.
“Cha?” Mama menyusulku. “Kenapa pulang?”
“Icha capek, Ma.”
“Di sana juga kamu istirahat.”
“Nggak,” tolakku cepat. “Icha dibebani dengan menjaga cowok nyebelin itu. Mama ingat?” Aku memberi jeda untuk melihat ekspresi Mama.
“Cha, dia begini juga untuk melindungi kamu. Kamu lupa?” Mama menirukan nada bicaraku.
“Icha nggak akan pernah lupa, tapi buat apa Icha di sana? Dia yang minta Icha pulang.”
“Icha ….” Mama menyebut namaku dengan nada yang panjang. “Kamu sabar dong.”
“Sabar buat apa?”
“Mamanya sudah cerita sama Mama apa yang sebenarnya terjadi pada Iyash. Dulu dia nggak kayak gini, Cha.”
“Icha nggak peduli.” Sedetik kemudian aku pergi.
“Cha,” teriak Mama kesal. “Icha, ih. Kamu ini.”
Aku mematung di depan pintu kamar seraya menatap ke lantai bawah. Tampak di sana Mama sedang sibuk menelepon. Jantungku mencelus saat Mama melaporkan pada Tante Ira kalau aku pergi dari rumah sakit dan membiarkan Iyash sendiri.
“Ma.” Aku maju beberapa langkah. “Kenapa Mama nggak bilang kalau sebenarnya Kak Iyash yang memintaku pergi? Ih.”
“Iya-iya,” sahut Mama.
Aku lekas masuk ke kamar. Tak peduli Mama menyampaikannya pada Tante Ira atau tidak. Terserah dua wanita itu saja mau percaya siapa.
Hhhhhhh ….
Aku mengempas tubuh ke ranjang. Rasanya bebas bisa lepas dari pria sombong itu. Buat apa aku di sana, dia tidak menghargai keberadaanku. Menyebalkan!
Semalam dia tampak lihai dalam bergulat. Kuakui dia hebat, wajarlah, dia bebas mau sombong atau tidak. Tidak kupungkiri, dia tampan, kaya, berkuasa dan jago berkelahi. Mungkin itulah yang menjadikannya merasa di atas.
Ih! Mau sampai kapan aku memikirkan dia. Pria seperti itu tak boleh dipuji, yang ada semakin meninggi.
“Icha … Icha, sini Mama mau bicara.”
Aku menutup telingaku dengan bantal. Beberapa saat kemudian kudengar ketukan di daun pintu.
“Cha, ada tamu.”
Aku terpegun.
“Katanya dia ibunya Edgar.”
“Hah?” Aku lekas bangun, lalu berjalan ke depan pintu. “Di mana?” tanyaku usai membuka pintu.
“Dibawah.”
Aku segera pergi sementara Mama berjalan di belakangku. “Edgar itu–”
__ADS_1
“Iya, keponakannya Om Ben,” tukasku memangkas pertanyaan Mama.
“Cha, kayaknya kita harus bicarakan tentang niat Tante Mila.”
Aku langsung berbalik menatap Mama. “Iya, nanti, Ma. Kasihan Bunda nungguin di bawah.”
“Bunda?”
“Iya.” Aku kembali berjalan. Mama mungkin kaget melihatku bersemangat seperti ini.
“Bun?” Aku mendekat.
“Cha….” Tante Miranti tersenyum lembut. “Rumah kamu bagus, nyaman.”
Aku membalas senyum tersebut seraya duduk. “Bunda udah sehat?”
Tante Miranti menggeleng. “Bunda akan baik-baik aja kalau saja Edgar ada di sini.” Dia kemudian meraih kedua tanganku. “Tolong bawa dia pulang, Cha.”
Aku mengernyit.
“Bawa dia kembali pada Tante.”
“Icha ….”
“Please, Cha, cuma dia yang Bunda punya di dunia ini.”
Aku menoleh pada Mama yang duduk di sofa lain yang masih satu meja dengan kami. Wajah Mama tampak tak suka melihat Tante Miranti di sini, entah untuk alasan apa yang jelas aku bisa melihatnya.
Aku menghela napas. Sementara Tante Miranti langsung merogoh tas. “Ini.” Dia memberiku amplop kuning. “Kamu pergi ke Surabaya, ini buat ongkosnya.”
“Tante, Icha–” Aku kembali menoleh pada Mama.
Mama menggeleng seraya tersenyum, namun, kulihat senyum Mama justru terlalu memaksakan. “Iya, tapi bukan berarti kamu bisa memanfaatkan Icha.”
“Saya tahu, Mbak. Tapi, untuk saat ini cuma Icha yang bisa membantu.”
“Ma, Icha akan pergi ke Surabaya.”
“Icha, kamu belum dapat izin Mama.”
“Ma, sama seperti Mama punya Icha, Bunda juga cuma punya Kak Edgar.”
Mama menghela napas dan terdiam beberapa detik.
“Ma, cuma sehari Icha janji.”
“Ya sudah.”
Aku tersenyum. Lalu kutatap wajah lega Tante Miranti.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Aku senang bisa bantu Bunda sama Kak Edgar.”
Tante Miranti tersenyum.
“Kapan aku berangkat?” tanyaku ragu.
“Kalau sekarang? Bisa, ‘kan? Bunda akan mengantar kamu ke Bandara.”
__ADS_1
Aku langsung menatap Mama, setelah kejadian semalam, aku tidak ingin pergi tanpa restunya, aku takut terjadi sesuatu lagi, apalagi perjalananku sekarang akan menggunakan pesawat terbang.
“Lebih cepat lebih baik, Cha, agar urusannya cepat selesai,” kata Mama.
Aku tak berpikir apapun lagi, selain perkataan Mama memang ada benarnya. Meski, kudengar kata “urusan” yang Mama ucapkan barusan mengandung konteks yang tak baik. Seharusnya Mama mengganti kata tersebut dengan “masalah”, “agar masalahnya cepat selesai”. Mungkin itu terdengar lebih baik.
“Kalau begitu Icha siap-siap dulu.” Aku bangkit. “Permisi.” Lalu pergi menuju kamar. Sesampainya di tempat ternyamanku, aku lekas mengganti pakaian, untungnya tadi sempat mandi di rumah sakit, sehingga aku bisa lebih cepat bersiap.
Kumasukan satu stel pakaian ganti dan satu stel pakaian tidur. Aku tidak suka memakai piyama, aku lebih suka memakai kaos longgar dengan celana pendek. Aku juga memasukkan beberapa keperluan pribadiku dan aku juga tak lupa membawa dompet beserta isinya. Meski Tante Miranti akan memberiku uang, aku tetap harus membawa bekal sendiri.
Setelah selesai bersiap, aku langsung kembali ke ruang tamu.
“Begini aja? Kamu nggak bawa koper?” tanya Tante Miranti.
Aku tersenyum kering. "Cuma semalam, 'kan, Bund?"
"Kamu yakin?" tanya Tante Miranti.
"Kalau ragu kenapa meminta Icha untuk pergi menyusul Edgar?"
"Bukan, Mbak. Saya tanya barang bawaan Icha, apa nggak ada yang tertinggal?"
“Icha ke sana bukan untuk liburan, ‘kan?” tanya Mama. "Barang bawaan segini mah cukup. Dia sudah biasa pergi ke luar kota tanpa membawa banyak baarang."
"Ya sudah," kata Tante Miranti. "Kalau begitu kita berangkat.” Tante Miranti kemudian berjalan lebih dulu. Sementara aku mengikutinya dari belakang.
Di depan pintu aku berpelukan dan aku bersalaman dengan Mama. Sementara Tante Miranti menungguku di dalam mobil usai berpamitan pada Mama.
“Setelah semuanya selesai. Jauhi keluarga itu,” bisik Mama saat aku memeluknya. “Mama nggak mau kamu hanya dijadikan alat untuk kepentingan mereka saja.”
“Mama cuma salah paham,” kataku seraya melepas pelukan. “Mereka nggak mungkin kayak gitu, Ma.”
“Tahu dari mana kamu? Belum juga sebulan kamu mengenal mereka.”
Mama benar, bahkan dua MInggu saja belum, tapi aku yakin mereka tidak seperti itu, terutama Tante Miranti. Mama mungkin cuma khawatir, salahku memang karena aku tidak pernah menceritakan tentang Kak Edgar, Mama hanya mendengar sepintas dari Tante Mila.
“Mama doakan Icha. Semoga Icha berhasil mengajak Kak Edgar pulang.”
“Edgar mau pulang atau tidak, itu bukan sepenuhnya tanggung jawab kamu.”
“Tapi, sekarang jadi tanggung jawab Icha.”
“Itu karena Miranti membebankannya sama kamu. Seharusnya kalau dia ada masalah dengan anaknya. Dia selesaikan sendiri.”
“Icha cuma ingin membantu mereka, Ma.” Kalau aku terus menentang Mama, mungkin obrolan ini akan semakin panjang.
Mama menghela napas. “Ya sudah Mama doakan, semoga Allah melindungi kamu dalam perjalanan dan kamu bisa kembali ke sini dengan selamat.”
“Aamiin.” Aku mengangguk.
“Urusan Edgar mau pulang atau tidak, itu diluar tanggung jawab kamu. Kamu tidak bisa memaksanya.”
Aku menghela napas sembari kembali mengangguk.
“Hati-hati.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Aku segera pergi dan menyusul Tante Miranti di mobilnya. Setelah di dalam mobil, aku menurunkan kaca, lalu melambaikan tangan pada Mama.
__ADS_1