Bias Rasa

Bias Rasa
Pahlawan Berhelm


__ADS_3

Tepat pukul sepuluh, kami sampai di sebuah tempat dengan lahan parkir yang cukup luas, ada banyak mobil mewah berjajar di sana. Ellen turun dari motorku.


“Di sini tempatnya?” tanyaku tak yakin.


“Iya.”


Aku mengedarkan pandangan. Kulihat tak sedikitpun tempat ini layak dikatakan sebuah perusahaan. Ini persis seperti tempat pembuangan barang bekas.


“El, aku serius nanya, ini tempat apa?”


Ellen malah tersenyum. “Di sini kamu nggak perlu capek, nggak akan ada yang marahin kamu kalau kamu salah. Di sini kita kerja sesukanya aja.”


“Maksudnya gimana?”


“Udah, kamu pasti betah.” Dia menarik tanganku.


“El, aku pulang aja deh.”


“Jangan gitu, kamu udah jauh datang ke sini, masa nggak masuk.”


“El, tapi–” Aku menyeret kakiku dan mengikuti Ellen dari belakang.


Ellen menanggalkan jaket abu tuanya. Dia memamerkan lekuk tubuh dan kaki mulusnya. Dari lahan parkir menuju pintu masuk begitu jauh. Namun, kami tak menggunakan pintu depan, Ellen malah mengajakku masuk dari pintu belakang. Dia kemudian menyimpan barang-barangnya di loker.


“Aku usahakan kamu bisa bekerja di sini.”


Mendadak aku berubah pikiran. Aku tidak mungkin bergabung dengan dunia malam, seperti yang Ellen lakukan, meski aku sendiri tidak tahu pekerjaan apa yang Ellen geluti.


Aku masih mengikutinya menaiki anak tangga. Aku bisa saja melarikan diri dari sini tanpa harus aku tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi ini seperti sebuah kejutan dan itu membuatku merasa penasaran.


Ellen membuka pintu dan melangkah masuk, sementara aku mematung di tempatku berdiri. Ellen tersenyum menatapku.


“Nggak apa-apa, aku udah lama kerja di sini.”


“Sejak kapan?”


“Saat usiaku tujuh belas tahun.”


Aku membasahi tenggorokan. “Aku sarjana, El.”


“Aku tahu, tapi ijazah kamu, gelar kamu, nggak ada gunanya di sini. Yang kita tahu kita akan dapat uang.”


“Halal, ‘kan?” Keningku mengernyit.


Ellen menatapku lama. “Ayo. Cha.”


“El, kayaknya aku–”


Aku tak sempat menahan tangan Ellen. Dia sudah terlanjur melambai pada seorang pria berjas dan berpenampilan rapi.


“Pi, ini teman aku.” Ellen mendekat dan merangkul bahuku. “Dia lagi butuh kerja. Bisa nggak terima dia disini?”


Jantungku mencelus. Pria itu memegang bahuku, lalu memutar tubuhku.


“Cantik, bodinya bagus, cuma perlu didandanin sedikit.”

__ADS_1


“Ah, itu mah gampang,” kekeh Ellen. “Nanti aku ajarin dia make up. Jadi, gimana?”


Jantungku berdegup kencang. Seketika aku teringat pada Mama, dia pasti menungguku di ruang tamu dengan cahaya lampu yang temaram. Tak dapat dibayangkan perasaan apa yang Mama rasakan saat ini.


“El, aku pulang aja, Mama menungguku di rumah.” Saat aku berbalik, seseorang menarik tanganku.


Aku melihat tangan kekar pria itu menahanku.


“Kamu yakin? Di Jakarta cari pekerjaan susah.”


Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu.


“Susah, bukan berarti tak ada pekerjaan yang halal.”


Pria itu terkekeh. Dia kemudian menoleh pada Ellen, lalu duduk di sofa panjang dekat pintu. “Sweetheart, kamu nggak jelasin pekerjaan kamu di sini apa?”


“Aku bingung harus jelasin apa, Papi.”


“Begini ya–” Pria itu menahan kalimatnya, kemudian menatap Ellen dan bertanya tentang namaku.


“Marissa.”


Pria itu tersenyum. “Coba sini duduk.” Dia menepuk kursi di sebelahnya dan memintaku duduk.


Aku tetap mematung di depan pintu.


“Di sini, setiap malam akan ada satu juara, setiap juara akan memberikan dua puluh persen dari pendapatannya dan kami menggaji karyawan kami dengan uang itu. Adapun bonus yang mereka dapatkan itu seratus persen milik mereka.”


Jujur aku tidak paham maksud dari perkataan pria yang Ellen sebut Papi itu.


“Aku nggak jadi kerja di sini,” kataku cepat.


“Kenapa, Cha? Belum juga dilihat, masa sudah menyerah.”


Melihat penampilan Ellen, aku sangat yakin kalau pekerjaannya di sini tidak benar.


“Kamu masuk, Pak Bima sudah menunggu, dia tidak akan menang tanpa kamu. Biar teman kamu Papi yang urus,” kata pria itu.


Aku mengernyit. Di sini pikiranku sudah tak karuan. “Permisi.” Aku berbalik, namun saat hendak melangkah pria itu kembali menahan tanganku.


“Kamu nggak bisa pergi semudah kamu memutuskan untuk datang ke sini.”


“Tapi, saya nggak ada urusan disini. Saya cuma mengantar Ellen.”


“Saya lebih percaya Ellen. Dia bilang kamu datang untuk mencari pekerjaan.”


“Tapi, saya nggak mau bekerja di tempat seperti ini.”


Pria itu tertawa sembari mengempas tubuhnya ke sofa. Aku tak berpikir lagi, mungkin inilah kesempatanku untuk lari.


Sekuat tenaga aku pergi dari sana, berlari sekencang yang kubisa. Namun, orang-orang mereka sudah berdiri di depan gerbang.


“Mau apa kalian?” tanyaku terengah.


“Bos Marlo melarang kamu pergi sebelum kamu menemuinya.”

__ADS_1


Aku mengedarkan pandangan. Setidaknya ada lima orang berbadan besar yang berdiri menghadang langkahku.


“Ayo ikut.” Salah seorang dari mereka menarik tanganku. Namun, aku menepisnya dan langsung melayangkan kaki sampai mengenai perutnya. Mereka tidak tahu kalau aku tidak selemah yang mereka pikirkan. Sejak dulu aku dibekali dengan ilmu bela diri.


Setelah kepergian Papa, tak banyak yang bisa aku lakukan. Aku hanya hidup berdua bersama Mama, jika bukan aku yang menjaga Mama lalu siapa?


“Aku sudah ketemu bos kalian, buat apa lagi aku bertemu dengan pria tua itu?” tanyaku usai menendang salah satu dari mereka.


“Tidak usah banyak bicara. Ayo ikut.” Pria yang lain hendak menyeretku. Namun, aku kembali memukul mereka, melempar satu tinju, melayangkan kaki hingga mendarat di perut mereka. Memang tenagaku tak sebanding, kurasa mereka juga tidak lemah, tapi aku tahu mereka hanya mengalah.


“Berhenti!” bentakku saat salah satu dari mereka kembali menarikku. “Katakan sama bos kalian, kalau berani, hadapi aku di sini, sekarang juga atau aku laporkan bisnis haram kalian ini.”


Mereka mematung. Tanpa berpikir lagi aku segera melesat pergi dengan motorku. Namun, mereka baru saja mengejarku. Kulihat ada tiga motor di belakang.


Aku terus memutar gas, hingga aku merasa seperti terbang. Namun, mereka berhasil menyusulku.


"Berhenti!" teriak salah satu dari mereka. "Bos kami cuma ingin bertemu."


Aku tak mempedulikan kalimat itu dan terus melaju secepat yang kubisa sampai mereka tak terlihat. Setelah cukup jauh, aku memelankan laju kendaraanku. Tiba-tiba salah satu motor mereka sudah berhenti di depanku.


Aku menekan rem sesegera mungkin sebelum terjadi tabrakan. Tak berapa lama yang lain sudah berada di sisi kanan dan kiriku. Aku baru tahu kalau mereka menggunakan jalan pintas.


Aku turun dari motor dan membuka helm. Kujadikan helm itu sebagai senjata untuk menyerang mereka.


"Kami tidak ingin berbuat kasar karena bos minta agar Anda tidak lecet sedikitpun, jadi kami meminta secara baik-baik agar Anda mau bertemu dengan bos kami."


Aku terdiam dan berhenti menyerang. Namun, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan kami dan dua orang pria berbadan besar itu menahan tangan kanan dan kiriku.


Aku menjerit sekeras yang kubisa berharap ada pengendara yang lewat dan menolongku. “Tolong!”


Mereka menyeretku masuk ke dalam mobil. “Nggak!” pekikku.


“Ayo, masuk!”


Aku mencoba untuk melawan mereka kembali, namun cengkraman dan pertahanan mereka begitu kuat.


“Tolong!” teriakku sekali lagi.


Tiba-tiba kudengar sebuah hantaman, hingga motor pria berbadan besar itu jatuh dan terseret cukup jauh.


Kami menoleh pada seorang pria berjaket leather coklat yang perlahan turun dan mendekat ke arah kami.


Tanpa perintah atau aba-aba. Pria berhelm itu langsung menyerang mereka satu persatu. Aku terperangah melihat betapa memukaunya pria itu.


Kedua pria yang memegangikupun segera melepaskanku dan langsung membalas serangan pria berhelm itu.


Aku tak bisa tinggal diam dan segera membantunya melawan kelima pria gahar tersebut, hingga kelimanya tumbang. Mereka kemudian berlari pontang-panting dan melesat pergi dengan motornya.


Pahlawan berhelm itu pun melenggang pergi tanpa melihatku.


“Makasih, Mas,” teriakku seraya menghela napas dan memasukan kedua tangan ke dalam kantong hoodieku. Aku meraba selembar kertas yang terselip di dalam saku. Ada sebuah tulisan dengan huruf kapital di sana, “Telpon polisi, aku sudah tidak kuat.”


“Mas,” panggilku pada pria itu.


Namun, saat pria itu menoleh, tiba-tiba aku merasakan aroma obat yang menyengat tepat di depan hidung, perlahan pandanganku pun kabur, dan aku tak ingat apapun lagi.

__ADS_1


__ADS_2