
Kami tak terlibat obrolan apapun di sepanjang perjalanan. Dia sibuk dengan dirinya sendiri, pun denganku. Sesekali kulihat dia memilih tidur. Aku tahu dia lelah, karena tak seharusnya dia di sini. Seharusnya dia berbaring dan beristirahat di rumah sakit, kesehatannya mungkin akan semakin memburuk.
Kami sudah menempuh dua jam perjalanan, tapi aku belum tahu kapan kami akan sampai dan kemana Kak Iyash membawaku. Aku bertanya tentang seberapa jauh lagi jarak yang akan kami tempuh, tapi Pak sopir hanya menjawab lumayan.
“Jadi, gimana? Lumayan dekat, lumayan jauh?” tanyaku memastikan.
“Dekat,” sahut Kak Iyash tiba-tiba. Entah sejak kapan dia terbangun. Tampak pria itu sedang mengetik pesan, lalu kemudian mengambil satu gambar dengan kamera ponselnya, kemudian mengirimkannya entah pada siapa.
“Nanti di depan ada pertigaan, Bapak lurus aja,” katanya sembari menatap lurus. Dia kemudian menoleh padaku dan aku segera menyembunyikan pandanganku darinya.
Tak sampai satu menit kami melihat pertigaan yang dimaksud Kak Iyash. Pak sopir lurus dan kami masuk ke kawasan perkebunan teh. Jalan yang halus dan udara yang sejuk membuatku merasa nyaman. Jika memang Kak Edgar ada di sini, wajar dia tak ingin pulang, setidaknya di sini dia bisa merasa tenang dengan kesendiriannya.
“Di sini, Pak,” pinta Kak Iyash. Dia kemudian membayar ongkos, lalu turun. Aku segera mengikutinya.
Kami berdiri di depan rumah bergaya tradisional. Nyaman dan penuh kehangatan.
“Iyash.” Tiba-tiba kudengar suara seseorang memanggil. Kami lekas menoleh dan tampak seorang wanita tua berlari dan merengkuh kak Iyash ke dalam pelukannya.
Wanita tua itu bilang kalau Iyash sudah lama tidak ke sini. Kuedarkan pandangan ke sekeliling interior rumah tersebut. Halamannya luas, terdapat pohon mangga di samping kiri, lalu kemudian kulihat ada banyak rumah-rumah panggung berjejer di sampingnya. Sementara perkebunan teh membentang di belakang rumah tersebut.
Aku dengar Kak Iyash bilang kalau tangannya mengalami patah tulang. Dasar pembohong, kenapa tidak bilang saja yang sebenarnya. Lagi pula tidak begitu memalukan kalau pada akhirnya dia kalah dalam berkelahi, bukankah dia bisa lebih sombong dengan mengatakan dia baru saja menyelamatkanku dari timah panas yang hampir membuatku terbaring koma di rumah sakit, atau mungkin membuatku meninggal?
“Nggak usah khawatir, Nek. Iyash baik-baik aja kok,” katanya pada sang Nenek.
“Eh, ini siapa?” tanya Nenek itu padaku.
“Marissa.” Aku tersenyum dan langsung meraih tangan keriput itu lalu mengecupnya.
“Marissa.” Nenek mengulangi namaku sembari tersenyum. Wajah ramahnya membuatku merasa yakin kalau Kak Iyash dikelilingi oleh orang-orang yang baik.
“Anaknya Om Restu,” kata Kak Iyash seraya melenggang pergi dan masuk ke dalam rumah tersebut.
“Restu? Kamu anaknya Restu?” Nenek itu terkejut.
Aku terperangah. Tak pernah sedikit pun aku mengira kalau Papa juga mengenal keluarga Om Hasa.
“Cantiknya.” Nenek itu mencubit ujung daguku. “Ayo, masuk,” ajak Nenek. “Jangan sungkan.”
Aku kembali mengangguk. Nenek merangkul pinggangku lembut.
“Dulu waktu Papa kamu masih bujang, dia sering main ke sini. Bahkan, meski Hasa tidak bisa pulang ke sini, Restu tetap datang. Dia sudah seperti anak kami,” tutur Nenek.
Aku hanya bisa tersenyum mendengar kisah Papa. Aku duduk di sebelah Kak Iyash. Tampak pria itu tengah duduk bersandar. Sementara Nenek pergi ke tempat yang lebih dalam dari rumah tersebut. Tak berselang lama, seorang pria tua datang, lalu disusul seorang wanita paruh baya yang membawa nampan berisi dua gelas air putih.
__ADS_1
Kak Iyash bertegur sapa dengan kakek tua itu. Sampai akhirnya Nenek mengenalkan aku pada suaminya.
“Marissa, Pak. Anaknya Restu, Bapak masih ingat? Terakhir ke sini, waktu Iyash masih SMA.”
Kakek itu mengangguk seraya tersenyum. Aku menjabat dan mengecup punggung tangannya.
“Umur nggak ada yang tahu.” Kakek menghela napas seraya duduk.
Papa memang pergi terlalu cepat.
“Di minum dulu,” kata Nenek. “Kebetulan Mbak Lastri sedang masak. Nanti kita makan.”
Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil gelas berisi air putih tersebut. Rasanya menyegarkan, khas air pegunungan.
“Marissa nggak banyak bicara ya, beda sama ayahnya.”
“Jangan minta dia bicara, cerewet, berisik,” sahut Kak Iyash seraya bangkit, lalu pergi.
Aku membasahi tenggorokan seraya tersenyum kikuk.
“Oh begitu?” Nenek kembali mencubit ujung daguku.
Tiba-tiba ponsel berdering.
“Ah, iya, sebentar ya.” Bersamaan dengan Nenek yang baru saja pergi meninggalkan sofa, wanita yang tadi membawakan air, kembali dengan sepiring pisang goreng yang mengepulkan asap tipis. Dia kemudian meletakkannya di meja.
Cukup lama Nenek pergi dan Kak Iyash pun tak kembali. Dia meninggalkanku di ruang tamu bersama kakeknya. Kakek sudah terlihat tak bergairah, napas sedikit tersenggal dan dia memegang tongkat di tangan kanannya.
“Gimana Mama kamu, sehat?” suaranya kembali kudengar.
“Sehat, Kek. Alhamdulillah.”
“Hasa sering cerita tentang kamu. Kakek pernah memintanya untuk mengajak kamu ke sini. Tapi, sampai sekarang belum terwujud, alhamdulillah, Iyash yang membawa kamu ke sini. Akhirnya Kakek bisa bertemu kamu.”
Aku hanya bisa tersenyum.
Kakek kemudian berdehem, kedua matanya menatap lurus ke luar jendela. Cuaca yang sejuk mungkin membuatnya bisa berlama-lama menatap ke sana.
“Bagaimana sekolah kamu?” Kakek kemudian menatapku.
“Icha udah lulus, Kek.”
“Oh. Alhamdulillah. Kerja?”
__ADS_1
“Belum,” jawabku jujur.
“Hm, kenapa nggak kerja di perusahaan Hasa?”
Kembali kusunggingkan bibir. Rasanya tidak pantas jika aku menceritakan bagaimana aku dihina oleh cucunya di perusahaan tersebut, lalu kemudian kami bisa pergi bersama sore ini.
“Nanti, Kakek bilang sama Hasa, agar dia mau menerima kamu di perusahaannya.”
“Nggak usah, Kek,” tolakku halus. “Icha sudah diterima di perusahaan lain, baru mau mulai Senin depan,” bohongku kali ini. Aku hanya tidak ingin beliau ikut memikirkan masa depanku.
“Oh, bagus.”
Aku kembali tersenyum. Setelah cukup lama, tiba-tiba kulihat Kak Iyash kembali.
“Ikut saya,” ajak pria itu.
Seketika aku mengernyit heran.
“Cepat,” kata Kak Iyash sembari menarik tanganku dengan tangan kirinya. Wajah datarnya yang jarang tersenyum membuatku sedikit geram.
“Mau kemana, Yash? Sebentar lagi magrib,” kata Kakek.
“Keluar sebentar, Kek,” jawab Kak Iyash sembari terus menarikku. Aku menoleh ke belakang dan kulihat Nenek baru kembali ke ruang tamu.
“Mau kemana, Yash?”
“Nenek, Icha–”
“Keluar sebentar,” jawab Kak Iyash.
Sesampainya di luar rumah, dia melepaskan genggaman tangannya. Tanganku yang kecil sedikit panas, mungkin akibat genggamannya yang keras.
“Kamu bilang kalau saya mengusir kamu dari rumah sakit?” tanya pria itu.
“Iya, ‘kan?” Aku terdiam beberapa detik untuk menyusuri isi pikiran pria itu lewat kedua matanya. Namun, dia menghindariku dan malah pergi. “Kak Iyash yang minta aku pergi.” Susulku.
Kak Iyash terus berjalan dan bahkan meninggalkanku. Aku memanggilnya dan memintanya menungguku. Namun, tampaknya dia tak peduli, sehingga aku hanya bisa menggerutu.
Kupikir semua jalan di sini baik, tapi ternyata tidak, mungkin untuk tetap melestarikan suasana perkampungan, sehingga warga di sini lebih suka menggunakan batu-batu sungai ini sebagai pijakan. Tapi, aku tidak terbiasa berjalan cepat di atas batu-batu licin ini.
Kulihat Kak Iyash juga sudah terlalu jauh, kurasa dia ingin membuatku tersesat. Namun, kedua kakiku tiba-tiba berat untuk terus melangkah. Rasanya seperti dunia baru saja menghampiriku dan aku tak perlu lagi mengejarnya. Edgar. Aku baru saja melihatnya dan dia juga melihatku hanya saja mungkin Kak Edgar tidak melihat Kak Iyash sehingga dia melewatinya begitu saja.
Tanpa senyum, tanpa sepatah katapun Kak Edgar mendekat dan langsung memelukku. Telingaku dapat mendengar gemuruh dibalik dadanya. Dagunya menancap di atas puncak kepalaku. Aku bahagia karena Tuhan tak membiarkanku berlama-lama tinggal dengan Kak Iyash, tujuanku sudah tercapai, aku hanya tinggal meyakinkan Kak Edgar agar dia mau pulang bersamaku.
__ADS_1