
Mama membelai pipiku. “Kamu berhak marah karena semua serba mendadak.”
Aku memang ingin marah karena semua melampaui batas hidupku. Dadaku bergejolak seperti ada bom yang hendak meledak.
Namun, Mama meletakkan tanganku di dada kirinya. “Mama takut suatu saat nggak bisa menyaksikan kamu menikah.”
“Kenapa Mama bilang begitu.” Aku menarik tanganku darinya.
“Cha, sakit Mama semakin parah dan jantung Mama bisa kapan aja berhenti.”
“Papa yang sehat dan nggak sakit sama sekali aja bisa tiba-tiba meninggal.”
“Iya, justru itu.”
“Bukan itu maksud Icha,” sanggahku cepat. “Mama nggak boleh putus asa.” Napasku tercekat.
“Rasa takut yang Mama rasakan itu wajah, Cha. Cuma kamu satu-satunya harapan Mama, Mama takut kamu jatuh cinta pada orang yang salah.”
“Nggak, nggak, nggak.” Aku bangkit dan mundur. “Icha nggak mau nikah sama Kak Iyash.”
“Mama sudah tahu bagaimana Iyash. Dia anak yang baik, sopan.”
“Tapi, dia kasar.”
Mama menggeleng. “Mama menjenguknya saat dia kecelakaan sepuluh tahun yang lalu. Waktu Papa masih ada. Pacarnya meninggal dalam kecelakaan tersebut. Dia marah dan membenci hidupnya sampai selama itu, Cha.”
Aku terdiam sejenak menatap Mama. “Icha nggak bisa.” Suaraku mulai bergetar. “Icha udah nganggap Kak Iyash seperti Kakak Icha sendiri. Lagi pula Tante Ira sudah menganggap Icha seperti anak perempuannya, ‘kan? Jadi kayaknya–” Aku menarik napas untuk menyembunyikan amarah dan rasa sedihku.
“Cha.”
“Icha nggak perlu jadi menantunya,” tambahku pelan.
“Kalau ini permintaan terakhir Mama. Apa yang akan kamu lakukan?”
Tiba-tiba Mama memberi pertanyaan yang sulit kujawab.
“Kalau ini masalah cinta, Mama yakin kamu bisa mencintai dia, kelembutan hati kamu bisa mengalahkan kerasnya dia.”
Aku menggeleng. Harus dengan cara apa lagi agar Mama mau menghentikan niatnya.
“Apa rencana ini sudah lama?” tanyaku pelan.
Anggukan Mama membuat jantungku mencelus. Dan aku kembali duduk di depannya. “Kapan?”
“Sebelum Papa meninggal. Papa sempat bilang sama Om Hasa untuk mencarikan kamu suami yang baik suatu saat nanti, tapi seminggu yang lalu Om Hasa bilang buat apa mencari yang belum pasti, kamu bisa menikah dengan anaknya.”
“Mama ….” Aku berdecak kesal.
__ADS_1
“Mama minta maaf, Cha.”
“Tapi, itu cuma penawaran, kenapa harus disetujui?”
“Iya, tapi Mama udah setuju.”
“Kenapa, Ma?” Aku menarik napas untuk meredakan sesak di dada.
“Mama cuma mau kamu hidup bersama orang yang tepat.”
“Kenapa Mama bisa yakin kalau Kak Iyash orang yang tepat?”
“Mama rasa kalian sudah ditakdirkan satu sama lain. Kalau tidak, mungkin Iyash sudah menikah dengan pacarnya yang ternyata masih hidup atau dengan wanita lain.”
“Hah?” pekikku kaget.
Mama mengangguk. “Iya, Cha, pacar yang dia anggap sudah meninggal ternyata masih hidup dan dia sudah menikah dengan pria lain.”
“Mama ini nggak mungkin.”
“Nggak ada yang nggak mungkin kecuali menjilat siku kamu sendiri,” kekehnya.
Aku cemberut, tapi Mama malah tertawa dengan leluconnya sendiri. Itulah yang sulit dipercaya, Mama seperti tidak sedang sakit.
“Cha, ini serius,” tapi Mama sambil tergelak. Kalau seperti ini siapa yang percaya. “Menikah ya sama Iyash. Om Hasa sudah melamar kamu kemarin untuk anaknya. Ini juga sebagai bentuk balas budi kamu sama Om Hasa.”
“Icha.” Tampaknya Mama juga tidak bisa menahan tawa. Sudahlah, kami memang seperti ini, terkadang hal serius pun menjadi bahan lelucon.
“Mama.” Aku masih tak bisa menahannya. “Icha akan lakukan apapun untuk membatalkan semuanya.”
Mama pun masih tertawa. “Kamu tidak bisa semua sudah terlambat. Malam ini adalah acaranya.”
“Hah?” pekikku. Kali ini aku tak bisa tertawa lagi. Jika memang seperti ini artinya ini tak bisa dijadikan lelucon.
Aku mencoba memikirkan cara untuk menggagalkan acara malam ini, sedangkan Mama berdiri dan mengarahkanku ke cermin. “Kamu cantik.” Dia lalu menunjuk dadaku. “Dari sini. Kamu tidak punya masalah apapun dengan psikologis kamu, kamu sehat secara lahir dan batin.”
Mendengar Mama berkata demikian, aku hanya ingin tersenyum sinis. itu saja. Lagi pula siapa yang peduli?
“Iyash pernah pacaran dengan wanita bermasalah secara psikis dan tentu saja itu tidak baik,” tambah Mama.
“Kurasa sebenarnya dia yang sakit secara psikis.”
“Mungkin. Itulah kenapa dia tidak bisa memaafkan dirinya selama ini. Dan sekarang dia butuh perempuan yang bisa berpikir logis bersamanya.”
Aku lekas mengambil tasku dan memasukkan semua barangku ke dalamnya. “Kalau Mama sayang aku, bantu aku kabur dari sini. Mama nggak mau, ‘kan Icha menikahi pria yang sakit jiwa?”
“Cha, dia nggak sakit, dia cuma butuh kepercayaan dirinya kembali. Dia butuh seseorang untuk bisa membantu mencintai dirinya sendiri.”
__ADS_1
Aku termenung. Dan gerakanku tertahan.
“Kalau kamu menikah sama dia. Mama janji kamu bebas melakukan apapun, kalau tidak kerja pun tidak masalah.”
“Mama yang bilang, aku harus mandiri karena ada laki-laki yang tidak tahu diri.”
“Cha, itu kalau kamu menikah sama wartawan itu, atau sama pilihan Tante kamu. Sedangkan Iyash memiliki masa depan yang jelas.”
“Kak Edgar juga, Ma.”
“Tapi, dia belum tentu mau menikah sama kamu.”
“Memang Mama pikir Kak Iyash mau?” Aku berdecak. “Icha bukan perawan tua, Ma. Icha bisa mendapatkan yang lebih. Lagi pula siapa yang mau menikah secepat ini?”
“Gini, Cha. Menikahlah dulu, urusan cinta belakangan.”
“Mama ini bukan soal cinta,” sanggahku. “Icha nggak bisa.” Resah membuatku mondar-mandir tak tentu arah.
“Jangan buat Mama masuk rumah sakit dan kamu terpaksa menikah di depan orang koma.”
“Astaghfirullahaladzim. Mama ini bukan sinetron.”
“Justru sinetron terinspirasi dari kisah nyata.”
“Dan Mama salah satu korban sinetron,” dengkusku.
“Cha, Mama tahu ini berat buat kamu.” Kali ini kudengar nada bicara Mama lebih serius. “Tapi, nggak ada pilihan. Ini juga amanat Papa kamu. Papa minta Om Hasa mencarikan calon buat kamu.”
Sudah biasa jika Mama mengulangi deretan kalimat dari atas sampai ke bawah. Apalagi jika kubilang orangnya bukan berarti harus Kak Iyash, dia kasar dan bla-bla-bla. Mama mungkin akan menjelaskan kembali dari awal sampai akhir.
“Ma, kalau aku tidak menikah dengannya, apa ada pilihan lain?”
“Tentu saja, pilihannya cuma dua, menikah dihadiri Mama, atau tidak.”
Aku menghela napas panjang. “Mama, itu bukan pilihan.”
“Cha, sama seperti kamu, Mama juga nggak punya pilihan saat Papa pergi. Mama membesarkan kamu sendirian, atau pergi menyusul Papa.”
Aku tergemap dan aku tak yakin bisa mempertahankan keinginanku.
“Lakukan demi Mama, demi Papa dan demi Om Hasa,” pinta Mama.
Aku kehilangan ribuan kalimat yang bisa kujadikan sanggahan untuk menolak keinginan semua orang, tapi jika ini sudah melibatkan orang-orang yang aku sayang. Aku bisa apa?
Mama membelai puncak kepalaku, lalu kemudian mengecup keningku. “Kamu bisa menenangkan diri kamu dulu. Acaranya dimulai setelah sholat isya. Jangan coba-coba lari karena penyakit jantung Mama bisa kambuh dan kamu nggak akan bisa melihat Mama lagi.”
Aku tertunduk mendengar kalimat terburuk yang pernah Mama ucapkan.
__ADS_1