
Kemarin, Mama, Tante Ira, Om Hasa, Kak Rasya dan Kak Priska serta kedua anak mereka pulang sesuai jadwal. Pagi ini aku memutuskan untuk kembali ke tempat kemarin. Tak ada yang peduli, termasuk Kak Iyash. Lagi pula aku tak punya cara lain untuk menyibukan diri selain dengan berenang. Katika aku melompat dari atas aku merasa bebas, semua belenggu negatif dalam pikiran dan hatiku terempas, meski setelah kembali aku harus bisa menjaga diriku untuk tetap waras.
Saat tengah asyik berenang, aku dikagetkan oleh seorang pria yang entah sejak kapan memperhatikanku.
Namun, kemudian pria itu mendekat. “Maaf, tidak bermaksud membuat kamu takut. Saya hanya kebetulan lewat.” Dia lalu berjongkok dan mengulurkan tangan “Kevin.”
Aku masih berada di dalam air, tapi aku tetap menyambutnya, tak ada salahnya karena aku sendiri membutuhkan teman untuk bisa diajak ngobrol. Seseorang mungkin tak akan paham dengan masalahku.
“Icha.”
“Hai, Icha.”
Aku tersenyum.
“Mau naik,” tawarnya.
Aku mengangguk. Dia menarik tanganku dan membantuku ke darat. Kami duduk di atas batu besar di bawah pohong yang rindang, sementara kaki kami terendam air sungai. Telapak tangannya terbuka di bawah bajuku yang meneteskan air.
“Asli orang sini?” tanya Kevin.
“Bukan, saya dari Jakarta,” jawabku seraya bergeser dan Kevin tersenyum sambil menghentikan tingkah konyolnya menampung air yang menetes dari bajuku.
“Aku dari Bandung.”
“Oh, sedang apa di sini?”
“Duduk. Mengasingkan diri dengan seorang perempuan yang sedang berenang.”
Keningku mengernyit. Kurasa ada yang salah dengan pria itu.
“Kamu sendiri?”
“Cuman jalan-jalan.”
“Oh. Jalan-jalan.” Dia mengulangi jawabanku.
“Orang tuaku punya vila di sini dan aku tinggal sama temanku untuk beberapa waktu. Kamu sendiri di sini tinggal di mana?”
“Di pemukiman warga.”
“Berenang di alam bebas seperti ini, memang kamu nggak takut ada orang jahat? Atau jangan-jangan kamu berpikir semua orang itu baik?”
Aku tersenyum sinis seraya menggoyangkan kakiku di air.
__ADS_1
“Aku serius, kamu nggak takut?”
“Justru saya takut seharian di rumah,” jawabku. “Tas itu apa isinya?” Aku mengalihkan pembicaraan.
Dia menatap tas yang kutunjuk. “Untuk menunjang hobi.”
“Hobi?”
Dia mengangguk. Tak berapa lama kemudian dia mengeluarkan sebuah kanvas dan kuas. “Aku suka melukis, tapi beberapa hari ini aku kehilangan inspirasi.”
“Hmmm. Kenapa?”
Dia menuangkan cat ke dalam pellet. “Kamu masih SMA?” tanyanya sembari mengaduk cat tersebut dengan kuas.
“Kalau saya bilang sudah menikah kamu mungkin nggak akan percaya.”
Dia malah tertawa. “Kalau orang sini mungkin iya, tapi orang kota mah nggak mungkin. Biasanya para perempuan di kota besar tidak membutuhkan laki-laki.” Dia kemudian menatap dadaku sebentar, lalu beralih ke wajah. “Boleh aku melukis kamu?”
Seketika aku menggeleng. Kemudian kembali melompat ke dalam air.
“Oke, nggak apa-apa. Tapi, besok kita masih bisa ketemu, ‘kan?”
Aku menggeleng. Aku berharap tidak bertemu dengannya lagi. Jujur perasaanku mengatakan kalau dia lebih menakutkan dari Kak Iyash, apalagi dia ingin melukisku, mungkin saja dia suka menggambar wanita telanjang.
“Kalau begitu aku akan menunggu kamu, sampai kamu selesai berenang.”
“Tadi aku melihat kamu melompat dari sana dengan sangat indah, maukah kamu mengulanginya lagi, nanti aku akan melukisnya di kepalaku sendiri.”
“Saya berenang untuk kesenangan diri saya sendiri, bukan untuk dinikmati orang lain,” ucapku.
“Masa sih? Bukannya orang kota suka menunjukkan apa yang tidak dimiliki oleh orang kampung?”
Jantungku mencelus dan kurasa dia benar-benar tak waras. Apalagi saat dia duduk bersila di atas batu dengan kedua tangan yang menumpu dagu. Mana ada laki-laki sehat yang bersikap seperti itu, apalagi pada wanita yang baru ditemuinya.
“Kevin,” panggilku tenang, meski sebenarnya aku ketakutan. “Saya mau pulang, ini sudah terlalu siang.”
Dia menatap arlojinya. “Ah, kamu benar ini sudah hampir dzuhur.”
Aku tersenyum kikuk. “Mana lihat.”
Dia menurunkan tangannya dan aku bisa melihat kalau jam yang dia kenakan mati. Aku hanya bisa membasahi tenggorokan.
“Mau aku bantu naik?”
__ADS_1
Kalau aku menolaknya mungkin dia akan marah dan melukaiku.
Aku meraih tangannya dan dia kembali membantuku naik ke darat. Kulihat pria plontos itu menggendong tasnya, sementara aku lekas memakai sepatuku.
“Nggak bawa baju kering?” tanyanya.
Aku menggeleng. “Nanti juga kering sendiri,” jawabku seraya bangkit, kemudian berjalan lebih dulu.
“Villaku nggak jauh dari sini,” katanya sembari berjalan di belakangku. “Kalau kamu mau, bisa mampir sambil mengeringkan pakaian.”
Aku kembali membasahi tenggorokan. “Lain kali,” kataku sembari menoleh.
“Kenapa nggak sekarang, sayang banget. Padahal aku ingin melihatnya.” Dia kembali melihat dadaku. Saat dia mengulurkan tangan hendak meraihku, aku lekas menangkisnya.
“Oh, kamu suka cara yang berbeda,” kekeh pria itu..
Aku segera menendangnya sampai dia jatuh ke air karena tak memiliki pertahanan berdiri di atas batu. Sayangnya dia jatuh ke tempat yang dangkal. Aku lekas berlari sebelum dia naik dan mengejarku. Pekikannya terlampau kencang sampai aku dibuat ngeri karena gema suaranya.
Dia terus berteriak menyebut namaku. Mengerikan, aku menyesal berkenalan dengan pria itu. Aku terus berlari dan sebisa mungkin menghindari dahan pohon yang pendek.
Mendadak aku lupa, kemana jalan keluar dari hutan ini? Saat ada pohon besar, aku bersembunyi dibaliknya. Dari sini aku dapat mendengar napasnya yang terengah. Jantungku semakin berdegup takut.
“Sudah lama aku tidak melihat melon yang indah.” Dia bernyanyi. “Oh melon.”
Aku terkesiap saat seseorang membekap mulutku dari belakang. Kedua mataku membola, aku mencoba berontak, namun dia menahan tubuhku. “Jangan banyak bergerak, ada ular di dekat kepalamu,” bisik pria itu.
Dadaku bergemuruh. Mungkin tempo hari saat aku tersesat, sebenarnya ada banyak binatang, hanya saja aku tidak menyadarinya dan mungkin ada manusia lain yang juga melihatku, bisa saja, ‘kan?
Aku tak tahu siapa pria di belakangku itu, aku berharap bukan Kevin, atau orang jahat lainnya.
“Marissa.” Tiba-tiba kudengar seseorang memanggil namaku. “Marissa!” persis seperti Kak Iyash.
Aku mengangkat kepala dan sebenarnya aku tak melihat ular atau apapun di sana. Aku mencoba berontak dengan menyiku pria yang menahanku tadi. Saat dia melepasku, aku segera berlari ke arah lain, namun, Kevin menghadang langkahku.
“Hai, Icha.”
Sementara di belakangku adalah pria tadi, entah siapa, mungkin sebenarnya dia teman Kevin juga.
“Tolong,” teriakku.
Kedua pria itu tertawa dan terus mendekat. “Sur, basah membuat punyaku berdiri.”
“Gila kau.”
__ADS_1
Aku lekas membungkuk saat Kevin hendak menangkapku, lalu berputar dan kutendang punggungnya sampai dia jatuh menimpa temannya.
Aku terus berlari, entah kemana. Yang jelas aku benar-benar lupa jalan keluar dari sini. Kurasa suara yang kukira Kak Iyash, mungkin itu hanya delusiku saja, apa itu karena aku terlalu berharap dia kembali datang sebagai pahlawan?