Bias Rasa

Bias Rasa
Bukan Pernikahan Impian


__ADS_3

Aku tak bisa berhenti menangis, bahkan hingga menjelang malam. Aku menyesal sempat menertawakan dan menjadikan ini sebagai lelucon. Aku tidak mau terjebak dengan seseorang yang mempunyai komunikasi yang buruk.


Namun, malam itu Tante Ira terus membujuk agar aku berhenti menangis. Rasa marah, kesal dan dongkol yang melingkupi hatiku hanya bisa diluapkan lewat air mata, karena aku sadar, tidak mungkin aku mengamuk di sini.


“Awalnya Tante juga kepayahan membujuk agar Iyash mau menikah sama kamu.” Tiba-tiba kudengar Tante Ira berkata demikian.


Seketika aku menoleh menatapnya. “Terus kenapa dipaksa. Ini nggak akan baik buat kami.”


“Terkadang yang baik berawal dari hal yang kamu anggap buruk,” kata Tante Ira. “Tante minta maaf, Tante nggak mau melihat Iyash seperti ini terus. Dia harus bangkit, Tante nggak mau seumur hidup dia seperti ini. Dulu dia anak yang manis, Cha, sama seperti kamu. Cuma kamu yang bisa mengembalikan Iyash.”


“Kalau memang Kak Iyash begini karena perempuan dari masa lalunya, kenapa harus libatkan Icha?” tanyaku sembari menyeka air mataku.


Tante Ira memejamkan mata sembari mengetuk-ngetuk ujung jari kakinya ke lantai. Kurasa dia menahan perasaan marah karena aku terus membantahnya. “Nggak ada salahnya.”


Aku lekas tertunduk sembari memegangi keningku sendiri. Tampaknya semua orang lupa kalau aku adalah manusia, bukan boneka.


“Semua orang menyukai kamu, Cha,” kata Tante Ira. “Kamu lihat Kakek sama Nenek. Dia menerima kamu sebagai anak Restu sekaligus calon menantu mereka. Tante nggak mau memilih menantu lain, selain kamu.


Restu beruntung karena dari sekian banyak anak asuh Papa, dia yang Papa pilih menjadi anak angkatnya, disekolahkan sampai sarjana, lalu bekerja di perusahaannya, bahkan diberi saham. Dan sekarang kamu lebih beruntung, dengan menikahi Iyash semua harta Hasa akan menjadi milik kamu dan anak-anak kamu. Tidak akan habis, bahkan sampai tujuh turunan.”


Jantungku mencelus. Tante Ira baru saja menghina aku dan Papa. Tidak pernah sedikitpun aku berharap demikian. Aku akui keluarganya berperan besar pada kehidupan kami, tapi apakah pantas, Tante bersikap sombong?


“Icha dengar, Tante pernah menjodohkannya? Kenapa dulu tidak dipaksa seperti sekarang Tante memaksanya?”


“Kami tidak memaksa Iyash. Dia secara sadar menerima perjodohan ini dan acara malam Ini murni permintaannya sendiri.”


Aku membasahi tenggorokan yang terasa begitu kerontang. Akhirnya aku mengerti perkataan kak Iyash saat aku tak sengaja mengupingnya.  “Ini ada hubungannya dengan perceraian kalian?” tebakku.


Tante Ira terpegun.


“Kenapa, Tante?”


“Cha, sebaiknya kamu jangan bertanya kenapa? Nggak semuanya harus kamu tahu. Kamu cukup jalani saja.”


“Icha nggak mau,” tolakku seraya bangkit.


“Kamu akan buat Mama kamu kecewa?”


Seketika aku tergemap.


“Kamu nggak akan menyesal menikah dengan Iyash. Apa yang salah? Bukannya dulu kamu juga suka sama anak Tante?”


“Itu dulu, waktu Icha belum mengerti apa itu suka. Tante mendengar kata suka dari bocah SD pada anak SMA? Apa yang Tante pikirkan waktu itu?”

__ADS_1


Tante Ira menarik napas, lalu menepuk dan mengusap bahuku. “Sekarang kamu sudah dewasa. Tante akan bantu kamu mengenakan gaun pengantin dan Priska akan meriasmu, jadi berhentilah menangis dan jangan marah. Ini hari istimewa buat kamu dan Iyash.”


Dadaku semakin bergejolak. Kurasa sifat angkuh Kak Iyash tak akan bisa diubah karena ada darah Tante Ira di dalamnya.


Akhirnya aku hanya bisa pasrah. Aku mandi, berendam air hangat sampai aku merasa lebih baik. Tak hentinya Tante Ira dan Mama memanggilku dari balik pintu. Ya Tuhan, tidak adakah pilihan lain?


“Cha, cepat, semua orang sudah menunggu,” kata Mama.


“Mama please, kenapa harus seperti ini,” gumamku di depan cermin.


“Cha.”


“Icha, cepat. Kita nggak punya banyak waktu,” kata Tante Ira setengah berteriak, bahkan dia memukul pintu sampai aku terkesiap.


“Tenang, Ra, Icha pasti keluar kok,” kata Mama.


“Aku takut dia bunuh diri.” Prasangka Tante Ira membuat aku lekas membuka pintu.


“Kamu lihat? Icha tidak seperti apa yang kamu pikirkan,” bela Mama. Namun sedetik kemudian Mama keluar, kurasa sebelum dia mendengar kalimat pedas Tante Ira lagi. Mungkin sudah jalannya aku harus tahu sifat asli wanita itu.


“Cepat pakai pakaian kamu.” Dia meletakkan kebaya putih beserta perlengkapan lainnya di atas kasur. “Hari ini hanya ada acara akad, kita akan lakukan resepsi di Jakarta. Semewah yang kamu mau. Jadikan ini sebagai pernikahan impian kamu.”


Aku menarik napas dan memilih untuk membungkam mulutku sendiri ketimbang harus membungkam mulut wanita itu. Aku lekas mengenakan pakaian yang sudah disediakannya di atas kasur. Lalu kemudian Kak Priska datang. “Maaf, lama, Prince rewel,” keluhnya.


“Ini nggak akan lama kok. Paling setengah jam,” kata Kak Priska sembari menyiapkan peralatan make up.


“Sekarang Prince di mana?” tanya Tante Ira.


“Sama Tante Rahma.”


“Aduh kenapa dikasih ke Rahma, dia lagi sakit.”


Seketika aku memalingkan wajahku dari depan cermin. Kulihat betapa takut dan menjijikannya ibuku di mata Tante Ira.


“Aku nggak tahu kalau Tante Rahma lagi sakit,” ucap Priska.


“Rahma nggak boleh dekat anak kecil, dia punya TB paru. Gimana kalau Prince ketularan. Kamu ini.”


Kak Priska meringis khawatir. Sementara aku merasa kepalaku bergolak. Mungkin aku dan Mama jatuh ke lubang yang salah. Jika melihat sikap Tante Ira, wajar kalau Om Hasa ingin berpisah dan menyudahi rumah tangga mereka. Kupikir selama ini Tante Ira begitu tulus, ternyata tidak. Entah apa yang membuat wanita itu mengeluarkan taring aslinya.


“Kamu sudah siap?” tanya Priska.


“Mama sakit jantung, Kak. Bukan TB paru,” kataku pada Kak Priska.

__ADS_1


“Oh, biasalah Mama suka melebih-lebih, ‘kan,” kata Kak Priska sembari membantu menyisir rambutku, lalu memakaikanku bando agar anak rambutku tidak menghalangi dahi ketika di make up.


Kak Priska mungkin sudah sangat mengenal ibu mertuanya sendiri. Sehingga dengan entengnya dia berkata demikian.


“Sejak kapan Tante Rahma sakit jantung?” tanya Kak Priska.


“Sekitar enam bulan yang lalu, katanya mengalami pembengkakan akibat hipertensi.”


“Oh. Kakak turut prihatin, Cha.”


Aku mengangguk seraya menatap wajahnya yang terpantul di cermin. Kak Priska piawai mengoleskan kuas dan benda lainnya ke permukaan wajahku. Menyulap tampilanku yang tadinya polos menjadi terlihat lebih segar dengan sentuhan make up natural.


“Kamu jangan kaget kalau nanti sudah menjadi istrinya Iyash. Iyash sebenarnya baik, dia cukup royal, bahkan dia terlampau loyal pada orang yang dia cintai.”


Aku tak begitu ingin mendengarkan Kak Priska membanggakan Kak Iyash. Lagi pula aku tidak yakin Kak Iyash akan seperti apa yang Kak Priska katakan.


“Kalau Mama mungkin kamu sudah tahu.”


Aku lekas menggeleng. Bukan tidak tahu, tapi aku memilih untuk tidak mau tahu, mendengar racauan Tante Ira malam ini saja membuat telingaku berdengung.


“Setahun pertama mungkin kamu akan kesulitan. Aku pun begitu, tapi setelah Queensha lahir, Mama perlahan berubah.”


Aku memejamkan mata seraya menarik napas pelan. Dadaku panas bukan main. Aku tak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi di depanku nanti. Benarkah Kak Iyash akan bersikap baik, atau pria itu akan berpihak pada ibunya suatu saat nanti dengan berpikir kalau aku menerima perjodohan ini hanya agar bisa hidup enak dan menikmati harta Om Hasa yang konon tidak akan habis sampai tujuh turunan?


Kulihat di cermin Kak Priska tengah menata rambut panjangku. Aku suka. Cukup sederhana, tapi terlihat mewah. Namun, saat riasan ini sepenuhnya selesai, aku tak terkesan dengan kebaya yang membalut sampai menampakkan lekuk tubuhku. Secantik apapun aku hari ini, aku tak terkesan. Aku malah membenci diriku sendiri karena untuk kali pertama aku membiarkan orang lain bertindak atas keputusan dalam hidupku.


“Sudah siap?” tanya Tante Ira yang baru saja datang sambil menggendong Prince.  Bocah yang baru satu setengah tahun itu langsung ingin turun dari pangkuan Neneknya. Sepertinya dia ingin segera memeluk ibunya. Kurasa anak kecil lebih tahu mana yang tulus dan mana yang tidak tulus.


“Sudah, Ma.” Kak Priska merapikan peralatannya. Dia kemudian mengambil alih Prince dari gendongan Tante Ira.


Setelah Tante Ira menyerahkan Prince, dia merangkul tanganku dan mengajakku ke ruang keluarga, tempat diadakannya akad nikah.


Di sana sudah ada banyak orang, namun keluargaku di sini hanya Mama. Bahkan Nenek dan Kakekku di Bandung mungkin tidak tahu dengan pernikahan yang serba mendadak ini. Tante Mila, Kurasa dia juga tidak tahu.


Aku diminta duduk di sebelah Kak Iyash. Pria itu menanggalkan penyangga tangannya. Dia mengenakan kemeja putih dibalut jas hitam. Meski dia suku jawa dan aku suku Sunda nyatanya kami tak mengusung adat apapun, lalu apa masih bisa Tante Ira menyebut ini sebagai pernikahan impianku?


Om Rudi tersenyum menatap kami. Aku baru ingat, orang pertama yang menuduh kalau aku dan Iyash ada hubungan adalah pria itu. Pria yang sekarang akan menjadi wali di pernikahanku.


“Bapak tahu, ‘kan, konsekuensi dari pernikahan siri?” tanya Pak Penghulu. Seketika aku mengangkat wajah. Kupikir pernikahanku akan sah menurut agama dan negara. Jelas ini bukan pernikahan yang aku impikan.


“Kebetulan dokumen anak kami belum siap. Baru bisa siap minggu depan. Setelah semuanya selesai, kami akan segera mendaftarkan pernikahan anak kami ke KUA setempat,” kata Om Hasa.


“Baik.” Penghulu kemudian bertanya kesiapan kami sebagai calon pengantin. Kak Iyash mengangguk, sementara aku hanya diam mematung. Tentu saja buat apa aku bilang siap, jika sebelumnya aku sempat memberontak.

__ADS_1


Semua mengawalinya dengan bismillah dan kudengar Om Rudi menyerahkanku, lalu kemudian Kak Iyash menerima dengan melantunkan janji sucinya. Tak sampai dua puluh detik, tiba-tiba kudengar semua orang bersorak “Sah”.


__ADS_2