BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 9 SUN HWA


__ADS_3

Seorang dayang dari istana Wang Wook terlihat berlarian di sepanjang koridor istana menemui seorang gadis yang sedang menyulam bersama para gadis yang lain. Melihat seorang dayang datang dengan tergesa-gesa, mereka menghentikan aktivitasnya. Dayang itu memberi hormat, lalu membisikkan sesuatu ke telinga gadis yang memakai baju berwarna ungu muda. Gadis yang berbaju ungu membelalakkan matanya.


"Siapa gadis itu. Sungguh berani sekali," ujar gadis berbaju ungu itu geram.


"Setahu hamba dia anak gadis Tuan Choi Ji Mong, yang mulia," jawab dayang itu.


Lalu dia berdiri dan berjalan menuju tempat latihan para pangeran. Para gadis yang lainnya mengikutinya, begitu juga para dayang tergesa-gesa ikut di belakangnya. Rombongan itu berhenti di depan gerbang batu. Gadis itu melihat Byeol dan para pangeran selesai berlatih. Mereka tertawa lepas bersama. Gadis berbaju ungu itu memandang dengan wajah tak suka dan segera berlalu dari tempat itu, setelah memastikan bahwa berita yang dibawa dayangnya benar.


***


Keesokan harinya Tuan Choi sudah mendahului ke tempat latihan. Byeol menyusul ditemani Yideum berjalan berdua melewati taman istana. Tak selang berapa lama datang gadis yang berbaju ungu bersama para dayang mencegat langkah Byeol dan Yideum. Melihat seorang gadis yang terlihat seperti bangsawan, Byeol membungkukkan badan memberi hormat. Dia tak tahu siapa gadis itu. Byeol merasa tak enak hati karena tatapan mata gadis itu yang terasa menusuk.


"Kau yang bernama Byeol?" tanya gadis itu.


"Iya, yang mulia," ujar Byeol masih dengan posisi menghormat.


Yideum menunduk di belakang Byeol.


"Kau tahu peraturan tak boleh sembarangan orang yang akan tampil di festival ulang tahun Putra Mahkota?" tanya gadis itu lagi


"Iya, yang mulia," jawab Byeol


"Lalu kenapa kau bisa berada diantara para pangeran berlatih untuk pertunjukkan nanti? Siapa yang menyuruhmu?" selidik gadis itu lagi.


"Aku yang menyuruhnya menggantikan Wang Jung," ujar sebuah suara membuat mereka semua menoleh.


Ternyata Wang Wook yang datang.


"Kakak," ujar gadis itu.


Byeol langsung memberi hormat ketika melihat Wang Wook datang .


"Wang Jung kakinya terkilir, dan tak ada yang bisa menggantikan selain Byeol," jelas Wang Wook.


"Tapi ... Kakak tahu seorang perempuan dari luar tak boleh bergaul dengan orang dalam apalagi membawa senjata," ujar gadis itu.


"Sunhwa sebaiknya kau tak ikut campur. Waktu kita tinggal satu hari lagi. Pergilah urusi urusanmu sendiri,"ujar Wang Wook


Sunhwa memasang muka sebal, memberi hormat pada kakaknya, lalu beranjak pergi. Byeol memandang kepergian gadis itu dengan lega. Benar-benar tak membuat nyaman di hati melihat sikap gadis yang ternyata bernama Sunhwa itu


"Kau tak apa-apa Nona?" tanya Wang Wook.


"Ya ... hamba tak apa-apa, terimakasih," ujar Byeol masih menunduk


"Kau mau ke tempat latihan? Ayo sama-sama," ajak Wang Wook


"Ya," jawab Byeol singkat seakan menjaga jarak.


Wang Wook tersenyum lalu mereka berjalan bersama, tapi Byeol dan Yideum memilih berjalan di belakang sang Pangeran. Wang Wook berhenti, lalu menoleh. Dia merasa heran dengan Byeol. Mengapa dia berjalan di belakangku? pikir Wang Wook. Byeol juga ikut berhenti bahkan Yideum hampir menabrak Byeol karena berhenti mendadak.


"Sini ... mendekatlah. Terasa tak nyaman berjalan dengan posisi seperti ini," ujar Wang Wook sambil mengulurkan tangan ke arah Byeol. Gadis itu mendekat di samping Wang Wook. Mereka berjalan bersama lagi.


"Jangan merasa sungkan. Jangan dipikirkan sikap Sunhwa. Istana memang punya peraturan tak sembarang orang membawa senjata. Mengingat kau anak Tuan Choi, orang kepercayaan yang mulia, kupikir kau masih berhak bergaul dengan kalangan istana. Asal kau hati-hati di istana, bahkan yang mulia raja pun tak kan bisa membelamu apabila kau melakukan sedikit saja kesalahan," ujar Wang Wook mengingatkan.

__ADS_1


"Ya, yang mulia," ujar Byeol singkat.


Wang Wook tersenyum melihat Byeol.


Byeol ingat nasehat ayahnya untuk berhati-hati dengan orang-orang di istana. Tinggal hari ini, dan esok dia berada di istana. Byeol berharap bisa segera pulang ke rumah.


Akhirnya mereka sudah sampai di tempat latihan. Semua berjalan seperti biasa. Byeol sedikit gugup, dan kakinya agak kaku sampai dia limbung dan terjatuh. Semua langsung berhenti melihat Byeol terjatuh. Wang Wook tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Byeol. Byeol menyambut tangan pangeran itu lalu bangkit dari posisinya. Wang So memandang dengan tidak suka adegan antara Byeol dan Wang Wook. Dia terbakar cemburu. Latihan hari itu berakhir dengan baik.


***


Di siang hari yang terik Byeol ditemani Yideum jalan-jalan mengelilingi istana. Mereka ingin melihat keramaian istana mempersiapkan pesta. Dilihatnya para dayang, dan kasim istana sibuk kesana kemari untuk mempersiapkan ulang tahun Putra Mahkota. Mereka memasang lampion dan hiasan-hiasan bunga.


Langkah mereka sampai di tempat latihan memanah. Dilihatnya ada Wang So, Wang Jung dan seorang pangeran yang masih muda. Byeol tak pernah melihat pangeran yang masih remaja itu. Byeol berjalan mendekat. Wang Jung melesatkan anak panahnya dan tepat sasaran. Melihat kehebatan sang Pangeran, tak sadar Byeol pun bertepuk tangan kegirangan. Para pangeran langsung menoleh. Melihat Byeol datang, Wang Jung langsung melambaikan tangannya dan tersenyum lebar.


"Byeol-ah!" sapa Wang Jung sambil melambaikan tangannya.


Byeol datang mendekat. Wang So melihat sekilas pada Byeol, sedangkan pangeran muda itu diam dengan wajah bingung penuh tanda tanya melihat Byeol yang diam menatapnya. Byeol memandang pangeran muda itu, di pikirannya muncul sebuah bayangan penglihatan. Dia remaja yang dieksekusi oleh seseorang dalam penglihatan Byeol di depan gerbang istana.


"Byeol-ah ... kau bisa memanah?" tanya Wang Jung membuyarkan pikiran Byeol.


Byeol tersadar lalu tersenyum.


"Ya ... Ya, hamba bisa sedikit," jawab Byeol tergeragap.


"Mau coba?"tawar Wang Jung


Byeol tersenyum ceria.


"Bolehkah?" tanya Byeol


"Bagaimana kondisi kaki Anda yang mulia? Apakah sudah baik-baik saja?" tanya Byeol.


"Seperti yang kau lihat, kakiku masih ada," canda Wang Jung.


Byeol tersenyum lebar. Wang Jung mengangsurkan busur dan anak panah pada Byeol. Byeol sudah memasang kuda-kuda. Tangannya membentangkan busur.


"Pegang busurnya seperti ini," ujar Wang Jung memberi instruksi pada Byeol sambil memegang tangan Byeol dari arah belakang.


Wang So melihat adiknya yang mengambil kesempatan memegang tangan Byeol langsung menarik kerah baju Wang Jung dari belakang. Wang Jung terkejut dan protes.


"Hyuung," protes Wang Jung.


"Bersikaplah sopan," ucap Wang So mengingatkan.


Wang So tersenyum dan pangeran muda tertawa melihat Wang Jung merengut. Melihat tingkah mereka, Byeol juga ikut tertawa. Dia bersiap lagi melepas anak panah. Byeol menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Dilepasnya anak panah itu dan tepat mengenai sasaran di tengah papan. Semua orang bertepuk tangan. Tanpa mereka sadari datang rombongan putra mahkota Wang Mu. Putra Mahkota bertepuk tangan melihat kemampuan Byeol. Orang-orang yang hadir langsung menoleh dan memberi hormat. Byeol terkejut melihat siapa yang datang. Dialah laki-laki yang akan mengeksekusi pangeran muda yang ada di sampingnya saat ini.


"Tak kusangka anak gadis Choi Ji Mong begitu hebat dalam seni beladiri dan senjata. Kau pantas masuk kesatuan prajurit wanita," puji Putra Mahkota kepada Byeol.


"Ah, yang mulia, hamba merasa tersanjung," ucap Byeol sambil membungkukkan badannya.


"Bagaimana kalau kita bertaruh main panah. Kutantang kau memanah. Yang menang boleh meminta apa saja pada yang kalah," ucap Putra Mahkota.


Wang So membelalakkan matanya karena terkejut. Dia paham apa maksud pertaruhan ini. Putra mahkota sebenarnya merasa tak suka dengan kemampuan Byeol. Byeol tak boleh menyetujuinya, pikir Wang So. Laki-laki itu khawatir terjadi sesuatu yang menimpa Byeol ketika menang atau kalah.

__ADS_1


"Yang mulia lebih baik hamba yang menggantikan Byeol untuk pertandingan ini. Yang mulia lebih berpengalaman dan sudah ditempa dengan banyaknya peperangan. Hamba pikir tak sepadan kemampuan gadis kemarin sore dengan yang mulia," ucap Wang So ingin menyelamatkan Byeol


Putra mahkota mengernyitkan dahi tanda tak suka. Byeol hanya tertunduk merasa khawatir.


"Ya ... benar yang dikatakan Wang So, yang mulia lebih baik mengurungkan niat yang mulia," ucap pangeran muda itu.


"Wang Eun ... kau masih kecil, lebih baik kau tak ikut campur," jawab Putra Mahkota.


Byeol terkejut, setelah tahu nama pangeran muda itu, hatinya menjadi tak karuan sekarang. Wang Jung memberi isyarat agar Wang Eun diam.


"Baiklah, siapkan busur dan anak panahnya Kasim Choi, biar gadis ini dulu yang memanah,"


Kasim Choi menyiapkan busur dan anak panah, lalu diberikan kepada Byeol. Tiga putaran, tembakan pertama dan yang kedua nilai sempurna. Putaran terakhir membuat semua orang berdebar. Tangan Byeol berkeringat dingin. Meleset sedikit dari titik tengah.


Giliran Putra Mahkota yang memanah. Semua hening seakan tak ada yang berani bernafas. Hanya terik matahari semakin garang di ubun-ubun. Putaran pertama dan kedua tepat di tengah sasaran. Tersisa putaran terakhir. Putra mahkota sudah mengambil sikap sedia dan kuda-kuda. Keringatnya menetes di kening, matanya menyipit karena silau cahaya matahari. Tiga ... dua ... satu ... semua seakan menghitung mundur ketika putra mahkota menarik tali busur.


"Aaaawww!" sebuah teriakan kesakitan datang dari belakang Putra Mahkota.


Sreeett!


Anak panah meluncur tak tepat sasaran karena Putra Mahkota hilang konsentrasi. Dia terkejut oleh teriakan tersebut. Semua orang yang hadir terkejut lalu menoleh ke arah Kasim Choi yang sedang jongkok kesakitan memegang kakinya.Di samping kanan kirinya ada Wang So dan Wang Jung pura-pura bersikap simpati. Padahal Kasim Choi kesakitan karena ulah mereka berdua.


Wang So menginjak kaki dan Wang Jung menendang tulang kering Kasim Choi. Otomatis Kasim Choi berteriak kesakitan, dan teriakannya membuyarkan konsentrasi Putra Mahkota. Sang Putra Mahkota memasang muka masam karena kalah.


"Baiklah, kalian berhasil mengalahkanku. Byeol berhak meminta apa pun yang dia inginkan," ujar Putra Mahkota sambil membuang busurnya ke tanah.


"Yang mulia, bolehkah permohonannya hamba minta lain kali di masa yang akan datang. Tidak sekarang," ujar Byeol sambil belutut.


"Baiklah, kukabulkan keinginanmu," ujar Putra Mahkota lalu pergi meninggalkan mereka.


Byeol masih berlutut. Dia pikir siapa tahu permohonannya kelak bisa menyelamatkan Wang Eun dari eksekusi mati. Sekalipun sia-sia dia ingin merubah sejarah. Melihat rombongan putra mahkota menjauh, mereka lalu menegakkan badan lagi. Mereka saling melirik lalu...


"Yeeeeaaayy," sorak kubu Byeol serempak kegirangan.


Byeol tertawa senang, senyumnya lebar lalu mengajak high five pada Wang Jung, tapi karena Wang Jung tak paham dia hanya memandang tangan Byeol, lalu Byeol mengangkat tangan Wang Jung lalu ditepukkan di tangannya. Lalu mereka ber-high five dan tertawa bersama. Byeol juga mengajak Wang Eun high five, mereka kompak. Tapi ketika mengajak high five Wang So, dengan wajah datar Wang So tak menanggapi malah pergi menjauh. Melihat hal itu Byeol pun cemberut. Untuk merayakan kemenangan Byeol, Wang Jung mengajak mereka minum-minum di kediamannya. Senyum Byeol merekah kembali.


***


Mereka bertiga duduk di gazebo, sedangkan Wang So tidak ikut bersama mereka. Dia lebih memilih duduk di ujung tebing melihat pemandangan kota dari atas. Byeol duduk menikmati tehnya sambil melihat Wang Jung mengajari gulat Wang Eun.


Ada kesedihan di mata Byeol, para pangeran sama-sama anak-anak Raja, tapi mereka bisa saling membunuh hanya demi kekuasaan. Wang Eun masih remaja, bahkan dia kelak mati sebelum tumbuh menjadi dewasa. Wang Jung, walaupun dia ahli gulat dan bela diri, dia tak memiliki ambisi untuk berkuasa, dia akan menjadi jenderal perang yang hebat. Lalu pandangannya beralih ke arah Wang So yang masih duduk termenung di tepi tebing. Dia akan menjadi raja yang hebat dalam sejarah Georyeo.


Namun, bagaimana jalan cerita takdirnya bisa tersambung dengan Wang So? Itu masih misteri bagi Byeol. Sosok laki-laki yang tersenyum kepadanya sambil mengulurkan tangannya. Byeol tenggelam dalam pikirannya sampai dia tersadar ada telapak tangan yang diayun-ayunkan menutupi pandangannya ke arah Wang So.


"Apa yang sedang kau pikirkan? Badan Wang So bisa lobang hanya karena tatapan matamu, Jangan-jangan kau sedang berpikiran kotor tentangnya?" goda Wang Wook yang tanpa disadari oleh Byeol sudah duduk di sampingnya.


Byeol hanya tersenyum.


"Maafkan hamba yang tak sadar akan kehadiran yang mulia. Hamba berpikir tentang kehidupan di istana,"jawab Byeol.


Wang wook berdiri lalu mendekati rumpun mawar liar dekat gazebo.


"Kehidupan di istana memang seindah mawar Byeol-ssi tapi kita harus berhati-hati terhadapnya, kalau tidak kita akan tertusuk durinya," terang Wang Wook.

__ADS_1


Byeol tersenyum sambil memandang Wang Wook. Laki-laki itu, sosok aristokrat keturunan Silla, cerdas, tampan, berwibawa, dan sebenarnya dia lebih cocok menjadi raja, tapi jalan hidupnya kelak tak demikian. Dia hanya akan menjadi orang di belakang layar ketika sosok Gwangjong berkuasa dan uniknya dari keturunannyalah yang akan menjadi raja-raja Goryeo selanjutnya.


__ADS_2