
Masa berkabung. Suasana serba putih, lambang kesedihan yang mendalam setelah kematian Raja Hyejong. Tak hanya istana yang dihiasi nuansa putih tapi di seluruh negeri. Mereka dilarang melakukan perayaan dan hal-hal yang menggembirakan demi menghormati masa berkabung atas kematian sang Raja.
Pihak istana mempercepat pengangkatan raja baru guna mengurusi negara dan kekosongan singgasana. Wang Yo memimpin upacara kematian dan masa berkabung bagi kakaknya. Setelah melakukan ritual-ritual itu, dia mulai melakukan strategi pembersihan orang-orang yang ada di sekelilingnya.
"Suruh Wang So datang menghadapku," perintah Raja Jeongjeong dari atas singgasana pada sang Kasim.
Sang Kasim pun menghormat, lalu beranjak pergi menjalankan perintah
Wang So berdiri di hadapan Wang Yo yang sekarang bergelar Raja Jeongjong. Ekspresi Wang So datar memandang kakaknya.
"Kau lihat sekarang So-ah. Aku duduk di singasana ini pada akhirnya," ujar Wang Yo, Raja Jeongjong.
"Siapa pun kamu, tak merubah pandanganku padamu," ujar Wang So
"Setidaknya tunjukkan rasa terima kasihmu padaku. Kau sudah menjegalku sebelumnya dan membuat ibu diasingkan. Tapi aku tak kan membunuhmu. Saat ini tidak ada lagi selain aku yang akan melindungimu dan rakyat Goryeo," ujar Wang Yo. "Begitu juga nyawamu," lanjut Wang Yo menyombong.
Wang So diam tak menjawab, saat ini dia masih ingin berdamai dengan saudaranya
"Aku ingin memindahkan ibu kota ke Pyeongyang. Aku ingin kau yang menangani masalah ini. Persiapkan segalanya," perintah Wang Yo
Wang So diam seakan berat hati menerima perintah walau akhirnya terucap kesediaannya.
"Baik," jawab Wang So lalu memberi hormat dan keluar dari ruangan raja.
Wang Yo memandang sinis pada sosok Wang So yang perlahan keluar dari ruangan raja. Wang Yo ingat saran ibunya, Ratu Shin agar menjauhkan Wang So dari istana. Dia ingin Wang So mengurus perpindahan ibukota ke Pyeongyang.
Ratu Shin juga menyarankan Wang Jung dikirim ke perbatasan agar tak menjadi batu sandungan. Untuk Wang Wook, Ratu Shin berpendapat masih bisa diikat kakinya untuk dikendalikan, karena klan nya bukan klan yang kuat. Kemungkinan memberontak sangat kecil.
__ADS_1
Wang So berjalan turun tangga istana memikirkan dirinya yang akan ke Pyeongyang. Dia akan merintis perpindahan ibu kota. Wang So akan meninggalkan Songak dalam waktu lama. Selama itu dia takkan bertemu dengan Byeol, sedangkan dia belum bisa memenuhi janjinya pada gadis itu.
***
Songak sudah mulai tenang. Masa berkabung selama tiga tahun menyisakan jejak kelam yang patut dikenang. Kehidupan di Songak mulai kembali normal. Sore itu Wang So sedang duduk di ruangannya ketika Sunhwa datang berkunjung. Sunhwa adik Wang Wook memberi hormat. Dipandangnya sosok Wang So yang dicintainya sejak kecil. Mereka tumbuh bersama, dan menganggap Wang So seperti kakaknya sendiri. Namun, waktu merubah pandangannya, dia tak lagi memandang Wang So sebagai kakaknya, tapi sosok laki-laki yang dicintainya. Walau dia tahu saat ini dia bertepuk sebelah tangan.
Sudah menjadi hal yang umum di zaman Goryeo seorang raja menikahkan antar anak mereka sendiri dari lain ibu, demi kemurnian darah, dan klan. Dengan begitu, kekuasaan takkan jatuh pada orang-orang di luar garis raja. Begitu juga dengan Sun Hwa yang berharap dia bisa menikah dengan Wang So, kakak tirinya.
"Lama tak jumpa yang mulia," sapa Sunhwa dengan ramah.
"Sunhwa."
"Aku kesini menyapamu. Kudengar kau akan dikirim ke Pyongyang," ujar Sunhwa
"Ya," jawab Wang So singkat
Sunhwa melihat sekeliling dan pandangan matanya berhenti pada lukisan Byeol.
"Aku merasa tak asing dengan wajah gadis dalam lukisan ini. Siapa ya? Aaah, anak gadis Tuan Choi," tebak Sunhwa mencoba mengungkit tentang Byeol.
Wang So hanya diam tak berkomentar. Tangannya masih asyik menulis sesuatu di kertas. Desir hati dan raut kecemburuan Sunhwa luput dari pandangan Wang So.
"Perpindahan ibukota. Suatu hal yang berat dan membutuhkan waktu lama. Apakah kau sadar itu hanya strategi raja untuk menyingkirkanmu?"
Wang So berhenti menulis dan memandang ke arah Sunhwa.
"Aku tahu itu," jawab Wang So datar.
__ADS_1
"Kita tumbuh besar bersama. Aku tahu benar tentangmu. Kau orang yang akan langsung bertindak, jika ada orang yang diperlakukan tidak adil. Aku tahu kau sosok yang ambisius dan mudah curiga walau kau tak menunjukkannya secara terbuka. Aku tahu kau seorang yang paling pengasih di antara para anak raja. Tak terbersitkah di benakmu untuk menjadi raja?" ujar Sun Hwa mencoba memprovokasi Wang So.
Wang So terkejut dengan perkataan Sunhwa, tapi tak berkomentar apa-apa.
"Kau lebih pantas menjadi raja dibanding Wang Yo. Seandainya kau menjadi raja, klan kami akan mendukungmu sepenuhnya," lanjut Sun Hwa.
"Kenapa kau ingin aku menjadi raja?" tanya Wang So.
"Klan kami tak punya pengaruh kuat. Kami orang-orang lemah. Hanya orang-orang sepertimu yang sanggup melindungi kami. Kau lihat sendiri kebijakan raja hanya berpihak pada klan Seogyeong bukan pada klan Silla seperti kami. Kau berbeda dari Wang Yo walau pun kalian bersaudara. Kami, klan Silla membutuhkan orang sepertimu,"jelas Sunhwa, "Aku ingin kau menikahiku dan akan kubantu menjadi raja negeri ini," hasut Sunhwa.
Wang So hanya diam memikirkan perkataan Sunhwa.
***
Sunhwa berjalan keluar meninggalkan Wang So sendiri. Dia berhenti lalu tersenyum. Hasutnya berhasil disampaikan kepada Wang So untuk memudahkan jalannya menuju tahta. Kalau Wang Wook tak mau jadi raja, maka dia yang akan mencari jalan agar Wang So yang menjadi raja. Malam sebelumnya dia berdebat tentang ambisinya dengan kakaknya, Wang Wook.
"Kak, kau harus menjadi raja untuk melidungi klan kita. Itu jalan satu-satunya. Dengan menjadi raja maka tak akan ada lagi kekuasaan yang dapat menekan kita. Wang Yo bisa saja akan melakukan hal-hal yang akan merugikan kita mengingat kau pernah menjegalnya. Kita harus mengambil pelajaran dari kasus Wang Gyu,"
"Apa yang kau katakan, Aku tak berambisi menjadi raja,"
"Kalau memang kau tak mau, maka izinkan aku yang akan merintis jalan menuju tahta. Hanya dengan menjadi yang berkuasa maka takkan ada yang berani menekan kita,"
"Apa yang kau rencanakan?" tanya Wang Wook
"Aku akan melakukannya sesuai dengan rencanaku sendiri, kalau kau tak mau mendukungku," ujar Sunhwa lalu keluar dari ruang kerja kakaknya
Wang Wook tak bisa berbuat apa-apa jika adiknya memiliki ambisi dan keinginan. Sunhwa berniat menjadi ratu negeri Goryeo. Dia ingin Wang So sosok laki-laki yang dicintainya sejak kecil menjadi raja. Dia ingin menikah dengan Wang So, dengan begitu klan Silla akan terlindungi. Tak ada lagi yang lebih kuat selain raja.
__ADS_1