
Byeol sedang belajar menulis, dan membaca saat ada suara-suara aneh dari arah jendela kamarnya. Ada orang yang melempari jendela kamarnya dengan batu kerikil berkali-kali. Terdorong rasa penasaran, Byeol pun membuka jendela.
Byeol melihat sosok yang sudah tak asing baginya. Wang So sambil bersandar di tiang tersenyum lebar ke arahnya. Byeol pun membalas senyum Wang So, lalu melambaikan tangan. Wang So memberi kode agar Byeol keluar dari kamarnya. Gadis itu pun keluar, lalu menghampiri Wang So.
"Apa yang mulia lakukan di sini? Apa hanya untuk menggoda seorang gadis?" tanya Byeol
"Aku akan merindukanmu Byeol-ah," ujar Wang So menatap Byeol.
"Apakah Anda sedang merisaukan sesuatu?" tanya Byeol
"Ya, kau tahu aku akan ke Pyeongyang dalam waktu yang lama," jelas Wang So
"Aku harap kau baik-baik saja selama kutinggal," lanjut Wang So
"Ya. Hamba akan menunggu kedatangan Anda kembali ke Songak," janji Byeol
Wang So menatap Byeol dengan sorot mata seakan tak rela berpisah lama dengan gadis itu.
Tuan Choi datang menyambut Wang So dan mempersilakannya ke ruang utama. Melihat Byeol masih berdiri di dekat Wang So, Tuan Choi memberi kode agar Byeol kembali ke kamarnya. Byeol sebenarnya merasa enggan, tapi sepertinya ada hal penting yang akan mereka bicarakan.
***
__ADS_1
Tuan Choi mempersilakan Wang So duduk. Sambil meminum teh yang dihidangkan pelayan. Raut muka mereka terlihat serius.
"Orang-orang Liao sudah mulai mengganggu desa-desa di perbatasan. Kemungkinan besar Wang Jung yang akan diutus menyelesaikan masalah ini," ujar Wang So.
Tuan Choi mengangguk-anggukkan kepala.
"Yang mulia raja mengutusku untuk mengurus perpindahan ibukota ke Pyeongyang," ujar Wang So.
Tuan Choi tertawa.
"Sepertinya Raja ingin menjauhkan duri-duri yang ada di sekeliling kakinya,"
Masih dalam posisi berlutut Wang So berkata, "Saya ingin menikahi Byeol. Izinkan saya meminta Byeol untuk menjadi pendamping hidup saya. Mungkin saat ini saya meminta dengan tidak selayaknya tapi setidaknya saya sudah meminta izin kepada Anda. Tuan Choi saya berjanji sepulang dari Pyeongyang saya akan mengirim tandu pengantin untuk Byeol," ujar Wang So merendah.
Tuan Choi merasa tak enak hati. "Aigoo, yang mulia bagaimana kami bisa menolak permintaan Anda."
***
Byeol dan Wang So berdiri di depan altar Budha dan abu leluhur untuk mengikat janji, disaksikan oleh Tuan Choi dan ibu Byeol. Yideum juga ada di situ menangis haru karena bahagia. Senyum merekah di bibir keduanya. Wang So berpikir, dia sudah memenuhi janjinya pada Byeol. Sedangkan jiwa Man Se dalam diri Byeol berpikir, seandainya Kang Min Hyuk di masa depan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Wang So pada Byeol, mungkin dia akan bahagia pada akhirnya.
***
__ADS_1
Byeol dan keluarganya mengantar kepergian Wang So yang akan berangkat ke Pyeongyang dalam waktu yang lama. Hujan mereda meninggalkan basah di tanah yang mulai menguap karena panas matahari. Kedua orang yang saling mencintai itu harus berpisah sementara waktu, dan berjanji akan kembali bertemu. Wang So berat hati meninggalkan Byeol tapi tugas dari raja harus ditunaikan terlebih dahulu.
***
Angan Byeol menyusuri malam sebelumnya. Mereka duduk berpelukan dalam selimut di depan pintu melihat tetesan air hujan yang deras mengucur dari atap dan jatuh di teras.
"Air memercik ke langit untuk kembali jatuh ke tanah. Manusia berawal dari tiada kembali tiada. Perjalanan hidup itu bukan sekedar perpindahan alam, tapi perjalanan pergi untuk kembali. Yang terpenting bukan ambisi dunia yang tak terbilang, bukan juga kemenangan, tapi perjuangan selama perjalanan kehidupan. Isi kehidupan adalah sebuah pilihan," ucap Byeol dalam hati.
Byeol memandang sosok laki-laki disampingnya, lalu tersenyum. Wang So mengeratkan pelukannya pada Byeol.
"Saat ini pilihanku adalah memenuhi janjiku padamu," ucap Wang So dalam hati lalu mengecup kening Byeol.
"Waktu kecil ada seseorang yang pernah berkata pada hamba ketika hamba sedih. Dia meminta hamba mengeluarkan kantong bintang kenangan," ujar Byeol
"Kantong bintang kenangan?" tanya Wang So penasaran
"Ya. Kantong itu ada dalam memori kita yang berisi hal-hal yang manis yang pernah terjadi dalam kehidupan kita. Ketika kita sedih, terpuruk, dan lelah dalam hidup, kita bisa mengeluarkan bintang-bintang itu dari kantong kita, untuk kita lihat kembali. Terkesan kekanakan memang, tapi itu memberi kita pikiran yang lebih positif," terang Byeol.
"Hmm ... aku harap aku bintang termanis yang kau miliki," ucap Wang So sambil tersenyum, "Kupikir lebih baik kita menciptakan bintang-bintang kenangan kita banyak-banyak mulai saat ini," lanjut Wang So lalu menutup pintu kamar mereka.
Saat itu, masa yang meninggalkan rasa manis untuk mereka kenang dalam kantong bintang mereka. Mereka tak menghiraukan lagi rinai hujan yang sedang merangkai cerita mereka sendiri di luar sana. Berdua, mereka sedang merangkai cerita mereka sendiri.
__ADS_1