
Keesokan harinya, Byeol sudah siap untuk berangkat. Dia menggunakan baju dayang istana berjalan keluar istana bersama Kasim Han. Langit masih gelap, di tengah kota ada seorang laki-laki membawakan dua ekor kuda untuk mereka. Mereka berkuda keluar kota, ke sebuah pegunungan yang jauh dari kota.
Perjalanan di tempuh seharian, pada senja hari mereka memasuki sebuah rumah yang besar dengan pagar kayu, di sebuah gunung. Area itu tidak ada penjaga, bahkan seperti rumah penduduk biasa. Seorang perempuan keluar dari sebuah paviliun ketika mendengar suara ringkikan kuda.
"Ahh, kalian sudah datang," sapa perempuan yang berwajah ramah, dandanan dan bajunya sederhana seperti kebanyakan perempuan desa.
Byeol dan Kasim Han turun dari kuda lalu disambut oleh perempuan itu.
"Mari masuk, kau pasti Byeol," sapa perempuan itu.
"Panggil saja aku Nyonya Joo," lanjut perempuan itu.
Byeol memberi hormat sambil mengulas senyum. Dari dalam rumah keluar seorang perempuan dengan wajah yang agak dingin. Dinilai dari dandanan dan bajunya dia pasti memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding Nyonya Joo. Kasim Han memberi hormat begitu melihat perempuan itu.
Mereka bertiga duduk dalam sebuah ruangan. Kasim Han memberi sebuah surat kepada perempuan itu. Dibacanya surat itu lalu dibakar dalam tungku di sebelahnya.
"Nyonya Soo, saya titipkan Byeol pada Anda," ucap Kasim Han
"Ya, saya mengerti," ucap Nyonya Soo
Nyonya Soo memanggil Nyonya Joo untuk mengantar Byeol.
***
Byeol mengikuti Nyonya Joo ke belakang rumah agak jauh dari rumah utama. Di sana ada sebuah rumah panggung dari kayu. Suara perempuan-perempuan berlatih pedang semakin terdengar jelas. Di halamannya ada tiang-tiang kayu untuk latihan fisik dan lapangan yang luas di sebelahnya. Byeol melihat ada sekelompok perempuan berlatih pedang di lapangan. Mereka dilatih oleh seorang instruktur perempuan berbaju warna merah.
Nyonya Joo mempersilakan Byeol untuk istirahat dulu hari itu di sebuah kamar sambil menunggu beberapa orang yang akan datang. Kamar itu luas dengan beberapa dipan yang terlihat sudah ada yang punya. Sepertinya itu milik senior-senior Byeol yang sedang berlatih saat itu. Nyonya Joo memberi Byeol sebuah baju untuk dipakai selama pelatihan. Baju hanbok pendek warna biru tua, dan putih, sama dengan yang dipakai para seniornya.
Begitu Nyonya Joo pergi, Byeol berganti baju. Tak lama kemudian datang seorang perempuan yang bermata sipit berkulit putih dan berbibir tipis. Dia memakai baju biasa seperti rakyat jelata dengan membawa kotak kayu serta buntalan kain di pundaknya.
"Hai, apa di sini kamar untuk prajurit yang baru?" tanya perempuan itu sambil tersenyum.
"Ya, apakah kau baru datang?" tanya Byeol.
"Ya, namaku Hwa Young, kamu?" ujar perempuan itu
"Nama yang cantik. Namaku Byeol," ucap Byeol
__ADS_1
"Aaah, semoga kita bisa berteman baik," ucap Hwa Young
"Bisa bantu aku memasang baju sepertimu itu?" tanya Hwa Young
"Tentu saja," jawab Byeol lalu membantu Hwa Young memasang baju.
Hwa Young menaruh barang bawaannya, sebuah bungkusan baju, dan kotak kayu di dekat dipan milik Byeol. Hwa Young membuka kotak kayu itu, dan memeriksa isinya. Sebuah guci abu, sebuah pedang, dan nisan kayu dikeluarkannya dari dalam kotak lalu di tata di meja, di sebelah ranjang mereka.
"Abu siapa itu?" tanya Byeol
"Kakak laki-lakiku. Aku sudah tak memiliki siapa-siapa lagi selain kakakku. Namun, sekarang dia juga meninggalkanku selamanya. Dialah yang menjadi alasanku untuk menjadi prajurit wanita. Dia meninggal di medan perang.
Byeol terdiam.
"Maaf," ucap Byeol
Hwa Young tersenyum.
"Kakakku seorang tabib, karena ayahku tabib istana. Aku juga sebenarnya seorang tabib," jelas Hwa Young
***
Para prajurit berkumpul berbaris di lapangan, temasuk Byeol dan Hwa Young. Dengan seksama mereka mendengarkan apa yang disampaikan oleh Nyonya Soo
"Kalian para prajurit khusus dilatih untuk mengabdi pada negeri ini, dan mengawal anggota istana. Tak hanya dilatih dengan kemampuan fisik, dan beladiri untuk berperang. Kalian juga akan dilatih secara khusus tentang pengobatan, seni, dan pekerjaan perempuan. Tentang sandi, dan memata-matai. Kalian adalah perempuan-perempuan terpilih. Tak sembarang orang bisa menjadi prajurit. Maka kalian harus bangga menjadi bagian dari divisi militer. Kalian paham tugas kalian?" terang Nyonya Soo
"Ya, kami paham!" jawab para prajurit perempuan dengan serempak
"Tak boleh ada yang lengah dan lalai. Negara dalam kondisi tidak stabil karena perang dengan Liao. Perang bisa saja tiba-tiba meletus kembali. Jadi siapkan diri kalian dengan sebaik-baiknya, bahkan kalian harus siap mengorbankan nyawa kalian," lanjut Nyonya Soo.
Setelah Nyonya Soo selesai berpidato, para prajurit berbaris berjalan menuju ruang makan. Byeol melihat ada dua orang yang berbicara berbisik-bisik
"Siapa dia?" tanya perempuan yang berjalan di depan Byeol
"Dia Nyonya Soo Yeon, mantan dayang di istana Ratu Shin. Setahuku dia diusir dari sana oleh Ratu Shin karena cemburu. Ratu Janghwa merekrut kembali perempuan itu untuk mengurus tempat ini," terang perempuan di sebelahnya.
Byeol dan Hwa Young menyimak pembicaraan mereka.
__ADS_1
***
Di ruang makan mereka duduk rapi. Ada sekitar dua puluh orang di ruang itu. Byeol memperhatikan mereka satu persatu. Gadis itu berpikir, mereka datang dari berbagai macam latar belakang, dan kemampuan masing-masing. Lalu datang seorang perempuan yang masih muda memakai baju prajurit warna merah.
"Perkenalkan aku adalah instruktur kalian. Panggil saja aku Nona Park. Selain aku, kalian juga akan dilatih oleh Nyonya Joo dan Nyonya Soo. Silakan kalian makan, setelah ini kalian ke ruang teh untuk berlatih membuat teh dan ramuan obat-obatan," terang Nona Park
Semua prajurit mulai makan.
"Dia anak Jendral Park. Sudah sering ikut perang bersama ayahnya. Dia ahli dalam persenjataan," jelas seseorang di sebelah Byeol sambil berbisik.
Byeol hanya mengangguk paham.
***
Sore itu di tengah lapangan ramai para prajurit berdiri mengelilingi dua orang perempuan yang sedang gulat. Dua orang perempuan saling jegal dan berusaha saling menjatuhkan satu sama lain. Debu terhambur ke udara, ditingkahi suara teriakan-teriakan para perempuan yang memberi semangat pada yang sedang berduel. Tak lama kemudian salah satu perempuan berhasil di jatuhkan. Sorak sorai pendukung perempuan yang menang pun menggema.
"See Hee ... See Hee ..,"sorak sorai pendukung perempuan yang menang, yaitu Kim See Hee.
Byeol dan Hwa Young diam tanpa memihak siapapun. Mereka orang baru jadi masih belum berani unjuk diri. Nona Park menenangkan para prajurit, dan mulai mengundi lagi siapa nama yang akan melawan See Hee.
"Kau tahu, See Hee itu prajurit senior dan paling ditakuti di kamp ini. Kemampuannya hampir setara dengan Nona Park. Dua kali dia ikut mendampingi Nona Park turun ke medan perang. Jadi bisa dibilang, dia tangan kanannya. Dia sanggup mengalahkan lima orang sekaligus ketika gulat," jelas seseorang yang ada di samping Byeol.
Byeol takjub tapi hanya diam dan menganggukkan kepala. Dalam pikirannya tergambar kekuatan prajurit khusus itu tak sembarangan.
"Choi Han Byeol," panggil Nona Park mengejutkan Byeol.
Nama Byeol terpilih untuk melawan See Hee. Byeol menaikkan alisnya karena tak percaya dia yang dipanggil. Hwa Young juga khawatir. Nona Park menyuruh Byeol ke tengah lapangan. Jantung Byeol berdebar tak karuan. Dia berusaha menguasai diri, dan rasa takutnya. Nekat, itu yang saat ini bisa dia lakukan. Keringat dinginnya mulai bercucuran
Byeol dan See Hee sudah berhadapan. Dalam hitungan tiga mereka saling menerkam pundak, dan saling berangkulan untuk menjatuhkan. Riuh rendah suara para suporter gulat menyemangati kembali kedua perempuan yang saling menjatuhkan itu. Beberapa kali Byeol dijegal, tapi tak berhasil jatuh. Byeol berusaha menjegal dan membanting See Hee, tapi tenaga perempuan itu luar biasa. Byeol melihat kaki See Hee yang kiri agak goyah, karena luka lebam di pertandingan pertama. Byeol mencoba menyerang kaki kiri See Hee. Sebenarnya tidak adil jika See Hee kalah, karena ini pertandingan keduanya. Berkali-kali Byeol menendang kaki kiri See Hee, dan akhirnya tak tertahankan lagi sakit di kaki perempuan itu. See Hee mulai menyeringai karena kesakitan, kakinya goyah. Tak lama kemudian Byeol berhasil mengangkat, lalu menjungkir balikkan See Hee ke tanah. Semua orang bersorak-sorai atas kemenangan Byeol. Terdengar suara genta dipukul menandakan waktu mereka berlatih fisik selesai. Semua bubar atas komando Nona Park.
Byeol masih berdiri mengatur nafasnya. Lalu didekatinya See Hee yang masih duduk di tanah. Byeol mengulurkan tangannya pada See Hee. Perempuan itu mendongak, memandang Byeol. Dia masih mengatur napas dan mengumpulkan tenaga kembali. See Hee tersenyum pada Byeol. Byeol membalas senyum See Hee.
Tak ada dendam, itu yang ada di pikiran Byeol yang polos. Lalu tangan See Hee pun menyambut tangan Byeol. Tiba-tiba See Hee menarik Byeol hingga jatuh ke tanah.
Bruuugh, Buaaagh...buaaagh!
See Hee memukuli Byeol yang kewalahan. Byeol bertahan dan berguling-guling di tanah menghindari serangan See Hee. Byeol berusaha untuk berdiri tapi sebuah tendangan telak di perut menjatuhkan Byeol kembali ke tanah. Byeol meringis kesakitan. See Hee berhenti menyerang. Dia memandang Byeol dengan tajam, lalu pergi begitu saja dengan kaki terpincang-pincang. Byeol pun berusaha berdiri. Dia merasa kesal, tapi tak bisa membalas pada seniornya. Hwa Young yang terkesiap melihat adegan antara Byeol dan See Hee pun tersadar dan membantu Byeol berjalan kembali ke asrama.
__ADS_1