
Kondisi Songak sudah mulai tenang. Seperti yang dijanjikan oleh Raja, Pangeran Wang So akan dinikahkan dengan putri Gyeonghwa, putri dari Putra Mahkota Wang Mu. Sebuah strategi agar Putra Mahkota memiliki dukungan dari saudara-saudaranya yang lain. Persiapan pernikahan agung dilakukan dengan teliti. Warga istana sibuk dengan tugas masing-masing.
Byeol hanya diam termenung di bawah pohon rindang di taman rumahnya. Wang So akan menikah. Dia bertanya dalam hati, mengapa dia merasa sedih dan cemburu dengan semua ini. Apakah karena selama ini dia selalu di hujani perhatian dari laki-laki itu. Dan sekejap saja dia akan menjadi milik orang lain.
Byeol berdiri lalu berjalan ke pinggir kolam. Dipandangi wajahnya di permukaan kolam yang bak cermin. Tak lama kemudian, ada sosok bayangan Wang So di sebelah bayangan dirinya. Byeol menyadari kehadiran Wang So lalu menoleh ke arah laki-laki itu.
"Apa yang kau pikirkan? Kau sedih dengan rencana pernikahanku?" tanya Wang So.
"Mengapa kau menangis?" tanya Wang So melihat mata Byeol berair
Byeol langsung membalikkan badannya.
"Tidak, mataku agak sakit hari ini hingga sedikit berair," ujar Byeol mengelak sambil berusaha menutupi perasaannya
Wang So membalikkan badan Byeol lalu mengangkat dagu Byeol agar menatapnya. Byeol memandang wajah sosok laki-laki yang baru saja mengisi hatinya itu.
"Dengarkan aku. Apa pun yang terjadi. Aku tetap mencintaimu Byeol-ah. Pernikahan ini hanya sebuah siasat politik. Tak lebih. Aku harap engkau tenangkan hatimu. Aku akan meminta yang mulia raja untuk menjadikanmu sebagai pendampingku," ucap Wang So lalu memeluk Byeol. Byeol tak menolak.
"Aku hanya merasa cemburu," ujar Byeol lirih pada Wang So
Byeol meletakkan kepalanya pada bahu Wang So. Dia ingin percaya dengan janji Wang So apa pun itu keadaannya.
"Ikut aku. Ada yang ingin kutunjukan kepadamu," ajak Wang So sambil menuntun Byeol untuk mengikutinya
Wang So mengajak Byeol ke kediamannya. Byeol melihat dengan kagum istana milik Wang So. Ini pertama kali Byeol menginjakkan kaki ke rumah seorang bangsawan. Wang So meminta Byeol menutup matanya. Lalu dituntunnya gadis itu ke sebuah dinding yang terpajang sebuah lukisan seorang gadis memakai baju ala Goryeo warna putih peach sedang memegang bunga. Di belakang gadis itu terdapat pemandangan bukit dan matahari di waktu senja. Wang So membuka penutup mata Byeol. Gadis itu terpekik kagum melihat lukisan yang cantik di hadapannya.
"Itu kamu Byeol-ah, Aku melukisnya untukmu, terinspirasi kecantikanmu di reruntuhan benteng senja itu," terang Wang So
"Cantik sekali," puji Byeol.
__ADS_1
Byeol menyentuh lukisan itu dengan ujung jemarinya. Flashback ingatannya pada masa depan. Kang Seo Woo pernah menunjukan lukisan itu kepada Man Se. Seo Woo mengatakan kalau lukisan itu dibuat oleh Wang So, dan Min Hyuk menghadiahkannya kepada Seo Woo. Wajah gadis dalam lukisan itu mirip dengan Man Se. Jiwa Man Se dalam tubuh Byeol memastikan bahwa memang itu adalah lukisan Byeol, gadis yang wajahnya mirip dirinya.
Wang So mengambil sesuatu dari balik bajunya. Sebuah kalung liontin biru safir dan kerang milik Myungwool.
"Ini untukmu," ucap Wang So sambil memasangkan kalung itu di leher Byeol.
"Mau kah kau hidup bersamaku?" ujar Wang So.
Man Se dalam tubuh Byeol merasa tak asing dengan kalung itu. Kalung itu sama persis dengan kalung yang diberikan oleh Kang Min Hyuk ketika melamarnya. Byeol dilema apakah dia akan menjawab ya atau tidak. Sedangkan tak ada jaminan kedudukan apapun juga bagi dirinya di sisi Wang So. Dia seorang prajurit yang sudah bersumpah setia untuk mati demi negerinya.
"Anda belum menjawab pertanyaan hamba, Sebagai apa hamba di sisi Anda?" tanya Byeol
"Tak bisa kah kau sekedar ada di sisiku? Sebagai orang yang akan menemaniku sampai akhir hayatku. Apa pun yang terjadi aku akan melindungimu, sebagai wanitaku," ujar Wang So pada Byeol.
Byeol menundukan kepalanya lalu memandang Wang So dalam-dalam. Byeol mendekat lalu memeluk laki-laki itu.
***
Kedua pengantin sedang duduk berhadapan dalam kamar yang di dominasi warna merah. Terlihat pengantin perempuan hanya tertunduk dan pandangannya sedih.
"Putri, kau tahu pernikahan kita hanya sebuah pernikahan politis. Secara hukum engkau memang istriku. Tapi kau tahu dalam hatiku sudah ada seorang perempuan yang aku cintai,"ujar Wang So terus terang.
Perempuan itu tersenyum lalu mengangkat wajahnya. Gyeonghwa memandang wajah Wang So dengan tatapan mata lurus.
"Yang mulia, bermurah hatilah," ucap perempuan itu.
"Aku tak bisa mencintaimu,"jelas Wang So
"Baik, aku akan pergi selamanya dari hadapan Anda," ucap putri Gyeonghwa berdiri lalu beranjak pergi dari hadapan Wang So. Setelah memberi hormat dia keluar dari kamar Wang So.
__ADS_1
Wang So hanya diam memandang kepergian perempuan itu. Dia teringat beberapa waktu yang lalu sebelum pernikahan berlangsung. Wang So sempat melihat Putri Gyeonghwa menangis dalam pelukan seorang laki-laki di luar istana. Wang So tahu bahwa putri Gyeonghwa juga mencintai laki-laki lain. Wang So merebahkan dirinya di tempat tidur sendirian.
Gyeonghwa berjalan ke paviliunnya sendiri melewati ruang kerja Wang So. Perempuan itu berhenti dan memandang ke dalam ruang kerja yang terbuka. Di pandanginya lukisan Byeol yang di pasang Wang So tepat menghadap arah pintu. Tatapan mata Gyeonghwa terlihat sedih. Di satu sisi dia adalah istri yang tidak diinginkan suaminya, sedangkan di sisi lain dia tak bisa mencintai dan memiliki laki-laki yang sudah mengisi hatinya. Hatinya bergelung kabut awan yang entah kapan akan sirna.
***
Beberapa waktu berlalu, di istana tersebar rumor bahwa putri Gyeonghwa ingin menjadi biksu di kuil Budha. Ternyata rumor itu benar adanya. Sebuah iring-iringan keluar dari istana melewati jalan raya menuju kuil. Saat ituByeol dan Yideum sedang jalan-jalan mencari kain untuk baju. Ramai orang berkerumun dan membicarakan sosok yang lewat di dalam kereta kencana.
"Nona, lihat itu iring-iringan Putri Gyeonghwa. Kudengar kabar dia akan menjadi biksuni," jelas Yideum pada Byeol yang ada di sebelahnya.
Byeol hanya menatap iring-iringan itu dengan tatapan empati dan sedih. Byeol tak tahu apa alasan Putri Gyeonghwa menjadi biksuni tak lama setelah menikah dengan Wang So.
"Yang mulia, Apakah kau memperlakukan perempuan itu dengan buruk? Ah tidak, aku tahu kau tidak seburuk itu. Kau pria berhati lembut," batin Byeol dalam hati seakan mempertanyakan sosok Wang So.
Istri Wang So memutuskan untuk menjadi rahib, itu sebuah berita yang luar biasa. Para pejabat mengkhawatirkan tentang keturunan raja. Semua membicarakan sosok Wang So dan bertanya-tanya, mengapa dia merelakan istrinya untuk menjadi rahib? Tapi pembicaraan itu lambat laun berlalu begitu saja, karena ada berita besar yang datang, yaitu bangsa Khitan dari Liao mulai menabuh genderang perang dengan Goryeo. Rakyat kecil mulai resah dengan kondisi negara. Setiap saat perang bisa pecah dan hanya rakyat kecil yang akan menderita.
***
Pada tahun 943 M, Raja Taejo Wang-goen mangkat dan digantikan oleh Wang Mu yang bergelar Raja Hyejong. Wang Gyu masih buron, dan klannya masih menjadi tahanan di istana. Di siang yang terik, Byeol berlari sepanjang jalan diikuti dengan Yideum yang tergopoh-gopoh lari di belakangnya. Mereka mendapat kabar bahwa keluarga Wang Eun akan dieksekusi di depan gerbang istana.
Mendengar hal itu Byeol melobi ayahnya untuk meminta kepada raja untuk tidak mengeksekusi Wang Eun.
"Ayah, aku mohon bicaralah pada yang mulia raja agar tidak mengeksekusi Wang Eun. Yang mulia raja dulu pernah berhutang padaku satu permintaan yang ditangguhkan. Aku mohon ayah untuk menagih janji itu. Aku minta yang mulia Hyejong untuk mengampuni Wang Eun," pinta Byeol.
Saat itu juga Tuan Choi meminta izin menghadap raja untuk menyampaikan permohonan Byeol, tapi tak disangka Raja Hyejong tak menepatinya dan mengancam hukuman mati bagi siapa pun yang membela klan Wang Gyu. Tuan Choi pulang dengan tangan hampa, yang disambut dengan raut sedih Byeol. Tak lama kemudian Yideum membawa kabar bahwa eksekusi Wang Eun akan dilaksanakan. Byeol sontak mengajak Yideum menuju gerbang istana.
Tak disangka hari dimana tragedi klan Wang-goen sudah dimulai. Byeol tak bisa ke bagian depan melihat proses eksekusi sampai Yideum yang mendesak orang-orang agar minggir. Tepat saat itu algojo sudah mengayunkan pedangnya menebas kepala Wang Eun. Byeol terkesiap, matanya terbelalak seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Anak itu masih muda, tak bersalah. Nasibnya saja yang malang karena dia cucu Wang Gyu, sehingga semua keluarga bahkan orang-orang yang terlibat juga harus mati.
Satu persatu pedang algojo menebas tubuh-tubuh mereka. Semua putri Wang Gyu dieksekusi, tak terkecuali istri Hyejong dan kedua saudarinya yang menjadi ibu tiri sang Raja. Para pelayan dan dayang istana yang terkait dengan kediaman Wang Gyu juga tak luput dari eksekusi. Darah mengalir membasahi bumi. Tragedi perebutan kekuasaan yang menyayat hati.
__ADS_1
Eksekusi itu untuk memancing Wang Gyu keluar dari persembunyiannya. Byeol tahu bahwa sebenarnya Wang Mu tak tega untuk menghabisi adik-adiknya sendiri, tapi desakan dari klan yang berkuasa agar membersihkan rezim dari orang-orang Wang Gyu menjadikan dia sebagai malaikat maut bagi adiknya sendiri. Wang Mu merasa tertekan, karena harus menghabisi keluarga adiknya sendiri. Raja Hyejong pun jatuh sakit karena depresi. Desas-desus tersebar bahwa sang Raja Hyejong umurnya tak lama lagi karena tekanan yang luar biasa sebagai seorang raja.