
Keesokan harinya, Byeol sudah mempersiapkan diri sebaik dan secantik mungkin. Dia mengenakan baju sutera warna biru. Dipakainya hiasan rambut yang paling indah dan sebuah untaian mutiara di atas kepalanya. Berkali-kali dilihatnya wajahnya di cermin logam. Wajahnya cantik dengan lesung pipit yang menawan. Yideum yang menyisir rambut Byeol pun tersenyum-senyum melihat nona mudanya begitu bersemangat.
Byeol berpamitan kepada ibunya, lalu masuk ke dalam tandu. Yideum dan beberapa pelayan ikut dalam rombongan yang dikepalai Tuan Choi. Rombongan Tuan Choi berjalan membaur di tengah keramaian kota.
Mereka sampai di depan gerbang istana. Byeol membuka jendela tandunya lalu melihat keluar. Dia melihat gerbang masuk istana yang kokoh dan megah. Sesampainya di depan pintu, Byeol turun dari tandu. Dia berdiri menatap gerbang istana yang lebar dan tinggi.
Tiba-tiba pandangan matanya seakan berputar. Byeol hanya terdiam mematung. Badannya tiba-tiba terasa panas dingin. Di matanya seakan melihat kejadian demi kejadian bergantian. Dia melihat Byeol masuk gerbang istana, lalu muncul sebuah peristiwa mengerikan. Seakan ada pertumpahan darah terjadi di istana.
Dia melihat sebuah festival yang kacau oleh sebuah pertarungan. Muncul wajah seorang anak muda yang dieksekusi oleh laki-laki yang tak ia kenal, lalu muncul wajah seorang laki-laki yang sudah tua juga ikut dieksekusi oleh seorang laki-laki yang Byeol sendiri tak tahu siapa itu. Lalu muncul wajah seorang laki-laki yang mendekatinya, mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Sebuah peperangan dengan orang-orang yang memakai baju seperti orang-orang Mongol, dan dirinya ada di tengah peperangan itu.
"Byeol-ah ... Byeol-ah ... apakah kau baik-baik saja?" tanya Tuan Choi menyadarkan Byeol yang diam mematung dengan tatapan mata kosong. Byeol memandang ke arah gerbang istana. Byeol tersadar setelah suara Tuan Choi memanggil-manggil namanya. Byeol seakan baru bangun dari sebuah mimpi.
"Aaah, ya Ayah, aku hanya sedikit merasa gugup dan ragu untuk masuk," jelas Byeol.
Tuan Choi menatap Byeol dengan tatapan curiga. Melihat wajah Byeol yang tiba-tiba pucat, tatapan matanya kosong, dan diam mematung begitu lama. Dia merasa khawatir terjadi sesuatu pada anaknya.
"Sudah terlanjur kita sampai di depan istana. Mari kita masuk," ajak Tuan Choi sambil menepis prasangkanya pada Byeol.
Byeol dan rombongan Tuan Choi masuk ke dalam istana yang luas dan megah. Mereka disambut oleh seorang kasim dan para dayang di pelataran istana. Byeol melihat pengawal ada di mana-mana. Bangunan di istana besar-besar dan indah. Kasim itu tersenyum lalu mengantar mereka ke sebuah komplek istana. Para pelayan dan pengantar barang diantar oleh seorang dayang ke tempat lain.
Tuan Choi berbincang sambil berjalan bersama kasim yang bernama Kasim Han. Byeol berjalan di belakang mereka sambil melihat ke sana kemari mengagumi keindahan dan kemegahan istana. Mereka akan ke istana Ratu Janghwa, salah satu ratu kerajaan Goryeo. Mendengar nama ratu tersebut, Man Se dalam diri Byeol merasa terkagum-kagum, dan penasaran tentang sosok besar dalam sejarah Goryeo itu. Seingat Man Se dia ibunda dari Wang Mu.
Akhirnya mereka sampai di depan istana Ratu Janghwa. Jantung Byeol berdegup kencang seakan dadanya mau meledak saking gugupnya. Terdengar suara dayang yang memberitahu kedatangan mereka. Lalu terdengar suara perempuan dari dalam mempersilakan mereka untuk masuk. Mereka pun masuk. Byeol melihat seorang perempuan setengah baya dengan dandanan yang anggun, memakai hiasan rambut yang indah di atas kepalanya. Bajunya terbuat dari sutera merah dan hitam dengan sulaman benang emas. Dilihat dari garis wajahnya beliau seorang yang ramah. Ratu Janghwa tersenyum menyambut kedatangan mereka. Tuan Choi memberi hormat, dan Byeol mengikuti gerakan ayahnya dari belakang.
"Choi Ji Mong lama tak melihat Anda," sambut Ratu
__ADS_1
"Salam hormat hamba, yang mulia," jawab Tuan Choi.
"Siapa gadis dibelakang Anda?" tanya Ratu Janghwa penasaran
"Aaah, ini anak gadis hamba, yang mulia," jawab Tuan Choi.
"Beri salam pada yang mulia Ratu," perintah Tuan Choi pada Byeol.
"Salam hormat hamba, yang mulia," ujar Byeol sambil membungkukkan badannya ke lantai.
"Aah, manis sekali," puji Ratu Janghwa
"Byeol masih kecil, yang mulia, mohon bimbingan Anda untuk anak gadis hamba,"ujar Tuan Choi merendah.
Ratu Janghwa membicarakan acara festival ulang tahun Putra Mahkota dan detail acaranya. Para Pangeran ingin menampilkan pertunjukkan istimewa untuk Putra Mahkota. Ratu meminta Tuan Choi membantu melatih para pangeran untuk pertunjukkan tarian pedang dan mengatur acara bersama Pangeran Wang Jung. Byeol hanya duduk mendengarkan di belakang ayahnya.
***
Tuan Choi dan Byeol keluar dari komplek istana Ratu Janghwa menuju ke sebuah paviliun tempat Tuan Choi tinggal selama di istana. Sebuah bangunan kayu dua tingkat di pinggir kolam yang besar. Byeol berdecak kagum melihat ruangan ayahnya. Banyak buku-buku tersusun rapi di rak. Byeol mengambil buku sebuah, tapi sayang Byeol tak bisa membacanya, lalu dilemparnya kembali buku itu ke atas meja. Dia melihat sebuah balkon yang menghadap ke kolam yang terdapat kursi panjang untuk bersantai. Byeol dengan gembira duduk dan merebahkan diri di atasnya. Ayahnya tersenyum melihat tingkah Byeol
"Kau di sini saja. Jangan kemana-mana. Akan kusuruh Yideum dan dayang istana mengurusi keperluanmu. Ayah akan mengurusi latihan para pangeran," perintah Tuan Choi.
Byeol hanya mengangguk-anggukan kepala sambil menikmati suasana yang indah di depannya. Tuan Choi pun meninggalkan Byeol sendiri di balkon.
Byeol memejamkan mata, dia merasa suasana di rumah itu terlalu hening. Dia ingin jalan-jalan, tapi tak ada siapa pun yang datang. Akhirnya Byeol nekat keluar rumah dan jalan-jalan di sekitaran istana. Sesekali dilihatnya pengawal istana lewat, tapi Byeol bersembunyi. Dia terus berjalan jauh semakin ke dalam, sampai dia mendengar suara orang-orang sedang berlatih beladiri. Byeol penasaran. Dia mengintip dari pintu gerbang batu, ternyata ada sebuah lapangan yang luas di dalamnya.
__ADS_1
Ada banyak orang sedang berlatih pedang. Gerak mereka serempak dan berirama. Byeol kagum melihat apa yang dilihatnya. Ada ayahnya yang sedang melatih mereka. Byeol tahu pasti mereka para pangeran istana. Ada Wang Wook juga dalam barisan itu. Laki-laki yang bertemu dengan Byeol di pasar. Byeol terpesona melihat pangeran Wook, sampai dia tak sadar ada seseorang di belakangnya sedang membawa pedang. Laki-laki itu mengetuk-ngetukkan pangkal pedangnya ke pundak Byeol. Byeol terkejut. Merasa ada orang di belakangnya, reflek Byeol menoleh. Mata Byeol terbelalak kaget begitu juga dengan laki-laki tadi.
"Kau? Pria berkuda?" pekik Byeol lalu menutup mulutnya agar tak terdengar teriakannya.
"Byeol? Apa yang kau lakukan di sini?" tanya laki-laki itu.
"Aku hanya jalan-jalan di sini. Ayahku mengajakku melihat-lihat istana," jelas Byeol bangga sambil tersenyum.
Laki-laki itu tersenyum.
"Anda sedang apa di sini? Apakah Anda pengawal istana?" tanya Byeol.
"Apakah aku seperti seorang pengawal? Yaaa, bolehlah dibilang seperti itu," jawab laki-laki itu sambil tersenyum geli.
Lalu muncul Tuan Choi dari dalam, mengejutkan Byeol.
"Apa yang kau lakukan? Di sini bukan tempat untuk perempuan. Kembalilah ke pondok," perintah Tuan Choi kepada Byeol.
Raut muka Byeol langsung merengut tanda protes.
"Maafkan kelancangan anak gadis hamba Pangeran Wang Jung," tambah Tuan Choi.
Byeol terkejut, ternyata laki-laki di depannya adalah seorang pangeran.
"Ups, dia juga seorang pangeran?" batin Byeol, "Maafkan saya," ucap Byeol spontan sambil membungkukkan badannya, memberi hormat.
__ADS_1
Byeol berlari pergi karena malu, karena mengira laki-laki itu seorang pengawal istana. Wang Jung tertawa melihat Byeol berlari pergi.