BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 17 MEMULAI INVESTIGASI


__ADS_3

Byeol, Wang So, Wang Jung dan Wang Wook duduk di gazebo di sebuah bukit membicarakan rencana mereka selanjutnya.


"Penyuplai obat-obatan herbal dikuasai oleh seorang pedagang perempuan yang bernama Nyonya Hae. Bahkan barang dari Tang juga disuplai melalui perempuan itu. Malam ini ada pesta di rumah Nyonya Hae. Kesempatan buat kita untuk menyusup ke rumahnya dan memeriksa catatan distribusi herbal," terang Wang So


"Sepertinya aku ada ide yang menarik," ujar Wang Jung sambil melirik Byeol.


Byeol memandang Wang Jung dengan penuh tanda tanya, laki-laki itu meliriknya sambil senyum-senyum.


"Kami sudah mendatangi tempat praktik para tabib. Ada yang aneh menurut kami, karena ada beberapa pasien yang mengalami penyakit yang sama dengan Putra Mahkota. Kulit mereka meruam dan mengalami halusinasi akut. Akhirnya mereka mati. Ada satu anak perempuan masih hidup dan dalam perawatan. Mungkin hyung bisa mendatanginya," jelas Wang Wook.


Byeol memahami kondisi kekinian di Songak. Selama di asrama, Byeol tak mendapatkan berita apa pun juga. Dia baru tahu ternyata setelah kericuhan di istana, Putra Mahkota mengalami sakit yang aneh. Kulit Putera Mahkota mengalami gatal-gatal dan tubuhnya mulai melemah. Tak hanya itu, Wang Mu juga mulai sering tidur dan berhalusinasi.


***


Wang So, Wang Wook dan beberapa pengawal mendatangi sebuah rumah dari kayu beratap daun di pinggir kota. Seorang laki-laki keluar sambil membawa mangkuk.


"Aku tutup hari ini. Kalian esok saja datang kalau mau berobat," ujar laki-laki itu ketika melihat tamu yang datang.


"Kami tidak hendak berobat. Kami ingin melihat pasienmu. Seorang anak kecil yang sakit ruam kulit," ujar Wang Wook


"Ooh, Anda yang kemarin datang. Silakan-silakan," ujar tabib itu.


Wang So dan Wang Wook masuk ke dalam ruang perawatan. Mereka melihat seorang gadis kecil sedang terlihat kesakitan, mukanya penuh ruam, dan nafasnya tesengal-sengal.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Wang So


"Aku menemukannya pingsan di pinggir hutan kemarin, ketika aku mencari herbal. Sepertinya dia terkena racun. Pemberian racun secara frontal bisa menyebabkan kematian, tapi jika diberikan secara sedikit demi sedikit efeknya mengendap dan teracuni secara perlahan sampai korban mati. Entah apa yang terjadi pada gadis malang ini. Aku belum berhasil membuat antidotnya," ujar tabib itu.


Wang So duduk di sebelah si Gadis Kecil. Disentuhnya dahi gadis itu. Mata sang Gadis terbuka. Gadis itu tersenyum.


"Bantu aku Tuan. Aku harus menemukan Tabib Hong. Kakakku dalam bahaya di lembah terkutuk itu," ujar si Gadis kecil lemah di dekat telinga Wang So.


Gadis itu susah payah melepas kalung berornamen batu biru dan kulit kerang. Wang So membantu si Gadis melepaskan kalung itu.


"Ini kalung kakakku, dia berpesan untuk memberikan kalung ini pada Tabib Hong," ujar gadis kecil itu dengan nafas yang semakin tersengal.


Wang So menganggukkan kepala sambil menggenggam kalung itu. Gadis itu semakin susah bernafas, dan akhirnya pingsan.


"Kita harus mencari seseorang yang bernama Tabib Hong," ujar Wang So pada Wang Wook


"Kupikir aku tahu dimana dia berada," ujar Wang Wook.


"Tabib, jaga gadis ini dan usahakan buat antidotnya," ujar Wang So sambil memberi sekantung uang kepada sang Tabib.


Mata sang Tabib berbinar-binar menerima uang yang banyak, dan menyanggupi permintaan Wang So.


"Anak ini dalam bahaya, tempatkan beberapa orang untuk menjaganya. Kita harus memeriksa hutan di gunung tempat anak ini di temukan," ujar Wang So pada Wang Wook.


"Baik," jawab Wang Wook.


Wang So dan Wang Wook pergi dari rumah tabib. Mereka berencana untuk mencari Tabib Hong, dan memeriksa hutan tempat gadis kecil itu ditemukan. Demi mengungkap racun dan sakit putra mahkota yang saat ini masih dirahasiakan. Mereka akan menempuh jalan yang berliku yang tak mudah, karena mereka tahu orang dalam istanalah pelakunya, tapi siapa? Itu masih misteri.

__ADS_1


***


Byeol dan Wang Jung berjalan di tengah kota lalu berdiri di depan sebuah gyobang, tempat tinggal para gisaeng. Byeol menampakkan wajah penuh tanda tanya, mengapa Wang Jung mengajaknya ke gyobang.


"Ayo masuk," ajak Wang Jung.


Byeol hanya mengangkat alisnya, lalu mengikuti langkah Wang Jung masuk ke dalam gyobang. Di dalam gyobang mereka disambut oleh seorang laki-laki.


"Tuan, selamat datang, Nyonya Chun ada di dalam," sambut laki-laki itu


"Ayo," ajak Wang Jung


Mereka masuk ke dalam rumah. Ada beberapa gisaeng yang berdandan cantik mondar mandir di lorong. Di bagian rumah lain ada suara musik bergema menandakan mereka sedang berlatih. Wang Jung langsung membuka pintu sebuah kamar tanpa permisi. Byeol melihat seorang perempuan cantik sedang duduk merias mukanya. Wang Jung langsung duduk, dan Byeol juga ikut duduk di sebelah Wang Jung.


"Anda selalu saja seenaknya sendiri," protes perempuan yang dipanggil Nyonya Chun itu


"Bantu aku. Masukkan dia dalam rombongan gisaeng yang akan menghibur di rumah Nyonya Hae malam ini," ujar Wang Jung langsung pada intinya.


Perempuan itu langsung mengerucutkan bibirnya seakan ingin protes. Lalu dipandanginya Byeol dengan wajah meremehkan.


"Cantik, tapi dia terlalu pucat. Emm ... Apa pun yang terjadi nanti aku tak bertanggungjawab," ucap Nyonya Chun mengelus dagunya sambil meneliti wajah Byeol yang tanpa riasan.


Wang Jung mengeluarkan sekantong uang lalu mendekat pada Nyonya Chun. Sang Pangeran mengintimidasi Nyonya Chun. Perempuan pemimpin gyobang itu memundurkan kepalanya ke belakang


"Kalau sampai kau tak mau kerjasama denganku, kau tahu sendiri akibatnya," ucap Wang Jung di telinga Nyonya Chun sambil menaruh kantong uang ke tangan perempuan itu.


Perempuan itu pun langsung ceria, lalu tersenyum kepada Byeol.


"Ayo ikut aku, aku akan menjadikanmu cantik malam ini," ujar Nyonya Chun sambil mendorong Wang Jung menjauh.


Nyonya Chun mengeluarkan baju yang indah dan hiasan-hiasan rambut dari kotak.


"Lepas bajumu, pakailah baju ini," perintah Nyonya Chun pada Byeol.


Byeol melepas bajunya dan memasang baju yang diberikan oleh Nyonya Chun. Gisaeng senior pemilik gyobang itu membantu Byeol memasang segala aksesorisnya.


"Siapa nama, Agassi?" tanya Nyonya Chun


"Byeol," jawab Byeol singkat.


Nyonya Chun tersenyum.


"Seandainya Anda benar-benar seorang gisaeng. Anda akan menjadi Bintang Merah yang cantik di Goryeo ini," puji perempuan itu sambil menyisir rambut Byeol yang panjang dan hitam legam.


Byeol berpikir sosok-sosok gisaeng seperti Nyonya Chun seakan sudah ditakdirkan demikian ketika sistem kasta dibuat. Banyak dari mereka yang tak hanya cantik, tapi juga cerdas dengan berbagai macam keahlian. Tapi mereka tetap saja termasuk kasta cheonmin. Kasta terendah dalam masyarakat Goryeo.


Para gisaeng seakan berfungsi sebagai thinner untuk cat. Mereka bisa menjadi pencair keruhnya permasalahan dalam sebuah hubungan yang ruwet di kalangan para yaban atau bangsawan. Tak sedikit peran para gisaeng dalam peta politik sejarah Goryeo. Tapi cheonmin tetaplah cheonmin, sehebat dan secantik apa pun mereka takkan bisa naik kasta menjadi yaban. Kejam!


"Selesai," ucap Nyonya Chun pada Byeol setelah memulas bibir Byeol dengan kuas lipstik.


Nyonya Chun menggiring Byeol ke sebuah cermin besar. Terlihat jelas bayangan seorang perempuan cantik berdandan ala gisaeng. Byeol terbelalak sambil memegang pipinya. Seakan tak percaya itu adalah dirinya. Baju gisaeng berwarna merah dan hijau emerald itu begitu pas dengan kulitnya yang putih, dipadu dengan hiasan rambut yang ada di atas kepalanya.

__ADS_1


"Tuan, kami sudah selesai," ucap Nyonya Chun sambil membuka pintu penghubung kamarnya ke kamar sebelah dimana Wang Jung sedang menunggu dengan gelisah.


Begitu pintu dibuka, Byeol pun tersenyum manis pada laki-laki itu. Wang Jung terbengong dan terpesona pada kecantikan Byeol sampai sikunya terpeleset dari meja. Dia pun berdehem untuk mencairkan rasa groginya.


Byeol duduk di depan Wang Jung di temani Nyonya Chun.


"Kau masuklah bersama para gisaeng nanti. Kami akan masuk lewat jalan lain. Jaga dirimu baik-baik Byeol-ah. Cari informasi siapa saja yang datang dan awasi jalannya acara itu," ucap Wang Jung.


"Ya, hamba mengerti," jawab Byeol.


***


Wang So dan Wang Wook mendatangi sebuah rumah yang agak jauh dari keramaian kota. Rumah itu milik Tabib Hong. Di sana hanya ada seorang perempuan yang sudah tua sedang duduk mengupas kacang.


"Apakah Anda mencari tabib gila itu? Cari saja di pasar, dia sedang menggonggong di sana," ujar si Nenek tua.


Wang So dan Wang Wook pun heran, mengapa Tuan Hong, tabib ternama di Songak itu menggonggong di pasar. Mereka berdua pergi menuju ke pasar. Memang sesuai dengan perkataan nenek tua itu, Tuan Hong sedang dalam kondisi mabuk meniru gonggongan anjing di depannya seakan mengajak berkelahi.


Melihat hal yang tak pantas itu, mereka mengangkat Tuan Hong dan membawanya ke pinggir sungai. Mereka menceburkan tabib itu ke dalam sungai yang dangkal agar segera sadar dari mabuknya. Laki-laki tua itu gelagapan dan berteriak-teriak. Wang So hanya memandang dengan wajah dingin pada laki-laki itu, sedangkan Wang Wook tertawa melihat Tuan Hong berteriak menyumpah serapah.


Mereka bertiga duduk di pinggir sungai di bebatuan. Tabib Hong sudah mulai sadar dari mabuknya. Dia tahu dengan siapa dia berbicara. Tabib Hong menangis sambil memegang sebuah kalung di tangannya. Kalung berornamen batu biru dan kulit kerang yang diberikan oleh Myungwool lewat Wang So.


"Kasihan anak-anak itu. Soon Joon kakak Myungwool ahli obat-obatan dan herbal. Mereka yatim piatu. Terakhir kali aku datang berkunjung, rumah mereka sudah kosong dan berantakan. Aku tak tahu mereka kemana," terang Tuan Hong.


"Apakah kau tahu tentang obat ini?" tanya Wang So sambil mengambil sebutir obat dalam kain dari selipan bajunya lalu diberikan pada Tuan Hong.


Tuan Hong mengambil obat itu lalu dibauinya.


"Ini racun bunga Monk's Hood. Darimana Anda mendapat racun langka ini?"tanya Tuan Hong


"Ini obat yang diminum oleh para penari gadungan yang mengacau di acara ulang tahun Putra Mahkota," terang Wang Wook.


"Soon Joon sebenarnya sedang mengadakan penelitian tentang Monk's Hood. Aku khawatir ada pihak yang menyalahgunakan kemampuan Soon Joon demi kepentingan tertentu," ujar Tuan Hong


"Itu yang kami khawatirkan," jawab Wang So.


"Yang mulia, antar aku ketempat Myungwool dirawat," minta Tabib Hong.


Wang So menganggukkan kepala. Mereka bertiga beranjak ke rumah tabib yang merawat Myungwool.


***


Di dalam ruang perawatan, Tabib Hong memeriksa kondisi Myungwool. Dia menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Kondisinya parah, racun itu menyebar melalui aliran darahnya. Melihat kondisinya bisa jadi racun itu diberikan sedikit demi sedikit melalui makanan atau minuman sampai mengendap dan membunuhnya secara perlahan. Kita harus membuat antidotnya. Apakah Anda sudah membuatnya?" tanya Tabib Hong kepada tabib yang merawat Myungwool.


"Sudah saya buat Tuan. Sementara obat dari saya cuma bisa mengurangi rasa sakit dan halusinasinya, sehingga dia bisa tidur dengan tenang tanpa mengigau dan demam. Saya kurang ilmu tentang racun," ujar tabib itu lalu menundukkan kepalanya.


Tabib Hong menganggukkan kepala. Wang So tiba-tiba mendengar suatu pergerakan di luar rumah tabib. Begitu juga Wang Wook yang langsung waspada. Mereka beranjak keluar rumah.


"Wook-ah, bawa pergi Myungwool dari sini, kami akan coba menghalangi mereka," perintah Wang So saat sekelompok orang bercadar hitam sudah mengepung rumah itu.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama Wang So dan beberapa pengawal menghunuskan pedangnya. Kelompok penyerang itu pun mulai menyerang Wang So. Pertempuran tak terelakkan, dengan kemenangan di pihak Wang So.


"Mereka gerombolan Monk's Hood," ujar Wang So setelah memeriksa mayat para penyerang. Ada tato simbol bunga Monk's Hood di tangan bagian dalam mereka.


__ADS_2