
Acara perburuan dilaksanakan. Suara tambur dan terompet menggema ke seantero negeri. Iring-ringan Raja Taejo Wang-goen beserta ratu dan para pangeran Goryeo berarak keluar kota. Para penduduk bersujud di pinggiran jalan. Tak ada yang berani mengangkat kepala walau hanya sekedar melirik sedikit ke arah raja.
Terlihat dalam iring-iringan itu Byeol dan ayahnya menaiki kuda di belakang para pangeran Goryeo. Perburuan di hutan pada musim semi adalah kegiatan yang mengasyikkan bagi keluarga istana. Mereka akan mengadakan lomba perburuan secara berkelompok dan pesta di hutan. Bagi pemenang lomba akan diberikan hadiah langsung oleh yang mulia raja.
Iring-iringan itu berhenti di tanah lapang di sebuah lembah di pinggir hutan, Pemandangannya indah, terhampar didepan mata perbukitan hijau dan hutan yang luas, ada sebuah sungai yang mengalir membelah lembah. Mereka mendirikan tenda-tenda di pinggiran sungai.
Tak perlu waktu lama tenda-tenda itu berdiri, karena semua prajurit dan para pangeran Goryeo saling bahu membahu mendirikannya. Bahkan terlihat Byeol yang juga ikut membantu mendirikan tenda-tenda yang besar-besar dan berat itu.
Ayahnya sudah melarangnya, tapi Byeol tetap bersikeras ingin ikut membantu. Terlihat Wang Jung membantu Byeol mendirikan tenda untuk Ratu Janghwa yang saat itu mendapat undian untuk ikut mendampingi raja di acara perburuan tahun ini. Melihat Wang Jung datang membantu, Byeol tersenyum lebar. Sampai pada saat Byeol tak sanggup memukul pasak menggunakan palu yang berat dan besar, tiba-tiba ada tangan yang mengambil alih palu itu dan memasangkan pasak-pasak tendanya. Wang So mengambil alih pekerjaan Byeol. Mereka saling melempar senyum.
***
Malam hari mereka berkumpul di di tenda utama. Raja sendiri yang akan mengundi di antara para pangeran itu untuk berkelompok dan berlomba satu sama lain. Mereka akan masuk hutan dan melakukan perburuan. Siapa yang paling cepat dialah pemenangnya. Mereka diberi waktu 1 hari 1 malam dalam hutan.
Semua menunggu dengan hati yang berdebar-debar. Satu persatu mereka mengambil batangan kayu yang sudah diberi tanda. Byeol benar-benar terkejut ternyata namanya juga dipanggil ke depan oleh ketua kasim. Dia satu-satunya perempuan yang diizinkan ikut serta dalam perburuan. Melihat Byeol yang seorang perempuan, mereka semua berharap Byeol tidak masuk ke dalam anggotanya. Gambaran seorang perempuan lemah dan tak bisa apa-apa terbayang di benak mereka. Tapi mereka salah sangka, Byeol berbeda dengan perempuan pada umumnya.
Ketika kayu pilihan Byeol dicabut. Dia satu kelompok bersama Wang So, Wang Jung dan Wang Eun. Wang Jung tertawa lebar dan gembira ketika tahu Byeol masuk ke dalam kelompoknya. Begitu juga dengan Wang Eun yang langsung memanggil Byeol dengan panggilan kakak. Sedangkan Wang So hanya diam dan tersenyum tipis saja walau dalam hati dia benar-benr bersyukur bisa satu kelompok dengan gadis itu. Mereka tahu kemampuan Byeol yang setara dengan prajurit laki-laki. Byeol tersenyum penuh arti. Saatnya kemampuannya diuji.
***
Byeol tak bisa tidur karena saking semangatnya membayangkan besok pagi masuk ke dalam hutan untuk berburu. Byeol merasa di antara optimis dan pesimis. Dia khawatir kalau dia hanya akan jadi beban bagi anggota kelompok yang lain, karena dia seorang perempuan. Byeol keluar tenda dan jalan-jalan menuju sungai. Terlihat di sana-sini para prajurit berjaga dan obor-obor besar semua menyala terang.
__ADS_1
Malam terasa gerah, karena sudah masuk musim semi. Dia ingin bermain-main air di sungai. Byeol ingin berenang. Dia celingak celinguk kanan kiri memastikan tak ada orang. Byeol menggulung rambutnya dan melepas baju luarnya. Setelah itu dia langsung menceburkan diri ke air sungai yang dalam hanya menggunakan baju dalam dan celana panjangnya. Tak lama kemudian Byeol muncul di permukaan. Tanpa disadari ada sosok dari dalam air sudah mengincarnya. Sosok itu mendekat, lalu...
Splaaaassh!
Sosok itu muncul dari dalam air dan berdiri tepat di depan Byeol. Byeol terkejut setengah mati lalu berteriak hingga nyaris jatuh ke belakang dan tenggelam. Ternyata sosok itu adalah Wang So yang dengan sigap menarik tangan Byeol. Posisi mereka begitu dekat dan tatapan mata mereka menyatu. Setelah sadar Byeol menarik pergelangan tangannya yang sedang dipegang oleh Wang So.
"Anda mengagetkanku," ujar Byeol masih dengan jantung yang berdebar-debar.
"Prajurit harus selalu waspada dan hati-hati apalagi ketika dalam air. Melihat keteledoranmu seperti ini entah apa yang akan terjadi esok. Pulanglah, istrahat," tegas Wang So.
Byeol diam, dia tahu dia lalai dan tak siaga bahaya. Byeol pun keluar dari dalam air menuju ke tepian. Wang So mengikuti dari belakang.
"Tunggu," perintah Wang So membuat Byeol menghentikan langkahnya menuju ketepian.
"Byeol-ah, aku berhutang nyawa padamu. Bekas lukamu itu menjadi cacatmu seumur hidup. Aku ingin bertanggung jawab atas bekas luka yang ada di punggungmu?" ujar Wang So.
"Bagaimana cara Anda akan bertanggungjawab?" tanya Byeol tanpa menoleh ke belakang.
"Jadilah milikku ... berada di sisiku," jawab Wang So yang menyatakan bahwa dia ingin memiliki gadis itu.
Byeol menoleh. Dia paham maksud Wang So. Dia teringat ketika pulang ke rumah dalam keadaan sakit karena luka itu. Ibunya menangisi nasib anak gadisnya. Terutama tentang jodohnya nanti. Di zaman itu perempuan sebuah aset yang harus dijaga fisiknya terutama para gadis bangsawan. Sempurna, cantik dan tak memiliki bekas luka saja yang bisa masuk sebagai calon selir raja atau dinikahkan dengan laki-laki dari kalangan bangsawan. Seperti keramik porselen yang putih dan cantik. Tapi Byeol termasuk keramik porselen yang retak.
__ADS_1
"Kasihan anakku. Siapa yang mau dijodohkan dengan perempuan yang memiliki bekas luka seperti itu. Mengerikan!" ucap ibu Byeol saat membahas perjodohan untuknya.
Byeol langsung menunduk sedih mendengar langsung perkataan ibunya dari balik partisi ruang. Perempuan dianggap hanya sebuah komoditas untuk menaikkan pamor keluarga dan memperluas pengaruh klan.
"Yang mulia," ujar Byeol tanpa menoleh ke arah Wang So.
"Hamba paham apa yang mulia maksudkan. Fisik hanyalah sekedar fisik, yang akan hilang musnah ketika sudah terbakar api. Ketika Anda hanya ingin memiliki diri ini saja, Anda hanya akan mendapatkan badan tanpa jiwa. Tapi ketika Anda berusaha memiliki seorang perempuan bersama hatinya. Maka Anda akan memiliki segalanya," terang Byeol pada Wang So agar laki-laki itu paham bahwa perempuan tidak bisa disamakan dengan barang yang bisa dipakai seenaknya.
"Perempuan juga manusia, dia tidak hanya punya raga tapi juga punya hati dan jiwa yang bisa merasa sakit jika disakiti dan gembira ketika dibahagiakan".
Mendengar hal itu Wang So diam. Byeol beranjak berjalan ke tepian, tapi tiba-tiba tangan Wang So menarik tangan Byeol.
"Aku mencintaimu dengan tulus Byeol-ah," ujar Wang So spontan membuat Byeol terkejut lalu menoleh pada Wang So.
Ditatapnya mata laki-laki itu. Man Se dalam tubuh Byeol teringat pada Kang Min Hyuk. Saat ini dia berpikir ulang terhadap setiap perkataan laki-laki. Tak semua laki-laki bisa dipercaya. Itu yang ada dalam pikiran Man Se dalam tubuh Byeol.
"Anda mengatakan sesuatu yang membuat hamba dilema. Kalau memang Anda mencintai hamba, memangnya apa yang bisa Anda lakukan? Anda seorang pangeran yang kelak pasti akan mewarisi tahta. Hidup Anda sudah diatur oleh langit, tak sembarangan menentukan langkah. Apa Anda akan berani melepas kebangsawanan Anda demi perempuan yang berasal dari klan rendahan seperti hamba, yang bahkan memiliki bekas luka yang tergores di punggung hamba? Kupikir takkan semudah itu. Hamba hanya akan jadi bahan tertawaan orang lain yang akan membuat Anda malu," jawab Byeol.
Man Se dalam tubuh Byeol sendiri terkejut dengan perkataannya sendiri yang begitu fasih menyampaikan apa yang ada di dalam hatinya kepada Wang So. -Andai sejak awal Man Se juga mengatakan dan melakukan hal ini kepada Kang Min Hyuk di masa depan. Mungkin kehidupannya juga akan jelas tidak menggantung sedemikian rupa oleh Kang Min Hyuk-. Wang So diam tak menjawab tapi dia mulai berpikir.
"Sebagai siapa hamba berada di sisi Anda?" tanya Byeol.
__ADS_1
Byeol menarik tangannya lalu meninggalkan Wang So sendirian. Wang So diam dan hanya memandang kepergian Byeol.