BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 32 BINTANG KENANGAN TERAKHIR


__ADS_3

Matahari terasa menyengat, dan udara panas terasa pengap. Rombongan utusan dari Liao pamit kepada raja dan membawa serta Byeol yang duduk dalam kerangkeng kayu di atas gerobak. Wang Jung memandang Byeol dengan tatapan sedih. Dia tak berdaya untuk membela Byeol. Dia berharap Wang So segera datang untuk Byeol agar tak ada penyesalan untuk kakaknya. Tapi yang ditunggu belum juga muncul.


Wang Wook juga memandang Byeol dengan sedih. Wang Wook tak sanggup lagi memandang wajah Byeol yang kuyu, tirus dan kumal. Wang Wook membalikkan badannya, ketika gerobak kayu yang memuat Byeol mulai bergerak menjauh. Air matanya menetes di sudut matanya.


Wang Wook merasa bersalah terhadap Byeol, tapi dia tak punya pilihan lain. Di hari setelah Wang Jung datang mengabarkan Byeol dalam masalah, dia sudah curiga dengan adiknya sendiri, Sunhwa. Dia langsung mendatangi Sunhwa di kamar gadis itu. Namun, dia urung masuk ketika di dalam kamar itu dia mendengar Sunhwa dan seorang kasim sedang berbicara dengan seorang laki-laki pengurus paviliun di bukit. Mereka membicarakan tentang uang dan kesaksian palsu. Semua terdengar jelas di telinga Wang Wook. Bahkan tentang surat yang dikirim kepada Feng Zhu sudah berhasil mereka dapatkan kembali dan dibakar oleh Sunhwa demi menghapus jejak.


Wang Wook langsung bersembunyi ketika kasim dan pengurus paviliun itu keluar dari ruangan Sunhwa. Wang Wook langsung masuk dan membuat Sunhwa terkejut dengan kedatangan kakaknya yang mendadak.


"Rencana apa yang kau susun untuk menjatuhkan Byeol?" tanya Wang Wook langsung pada Sunhwa.


"Apa yang kakak bicarakan?" tanya Sunhwa seakan tak terjadi apa-apa.


"Kau jangan bohongi aku Sunhwa. Aku tahu kau sedang menutupi sesuatu," ujar Wang Wook.


"Kau tahu ... apa yang kau lakukan bisa menyebabkan kita semua dihukum mati jika terjadi kesalahan sedikit saja," lanjut Wang Wook agak keras dengan nada marah.


"Aku tak melakukan apa-apa," ujar Sunhwa masih mengelak


"Aku sudah mendengar semuanya dari luar gadis bodoh!" teriak Wang Wook marah, "Bahkan tentang menghilangnya Munhye aku tahu kau yang menyuapnya agar tak tampil malam itu," ujar Wang Wook keras.


Sunhwa terbelalak terkejut mendengar semua ucapan kakaknya. Dia tak menyangka kakaknya telah mengetahui semuanya.


Wang Wook melakukan pencarian terhadap Munhye, dan didapati gadis itu bersama anaknya hendak naik kapal. Anak buah Wang Wook berhasil menangkap dan menginterogasi Munhye. Gisaeng itu mengaku di hadapan Wang Wook, bahwa dia dibayar oleh Sunhwa untuk tidak tampil di acara pertunjukkan perdamaian Goryeo-Liao. Wang Wook akhirnya membiarkan perempuan itu pergi dan menutupi kesalahan adiknya Sunhwa.


"Sudah terlanjur semua terjadi. Kau berhutang kepadaku seumur hidupmu Sunhwa. Kau tahu Byeol adalah gadis yang aku cintai. Sekarang aku akan kehilangan dia hanya karena kebodohan dan sifat keras kepalamu," ujar Wang Wook menatap tajam pada adiknya. Wang Wook pergi meninggalkan Sunhwa dengan wajah sedih dan frustasi.


Sunhwa hanya menundukkkan kepalanya dan diam tak bisa berkata apa-apa. Yang ada dipikirannya dia ingin menyingkirkan Byeol, itu saja. Dia tahu Wang So hanya mencintai Byeol. Keberadaan Byeol hanya akan menjadi halangan baginya menjadi ratu kelak. Sunhwa ingat perkataan Byeol pada Wang So, setelah kejadian Byeol terluka saat bermain sitar di acara pesta yang diadakan oleh Ratu Janghwa. Byeol mengatakan bahwa Wang So kelak yang akan menggantikan Raja Jeongjeong. Saat itu dia berusaha membuat impiannya menjadi kenyataan. Wang So menjadi raja dan dirinya menjadi ratu.


***


Wang Wook duduk merenung di ruang kerjanya. Dia harus memilih antara mengungkap kejahatan adiknya yang berujung semua keluarganya dihukum mati atau harus kehilangan Byeol. Dia memutuskan untuk tega kehilangan Byeol dan membiarkan gadis itu dibawa ke Liao untuk dihukum mati. Terlintas semua kenangannya bersama Byeol. Sebuah keputusan yang diambilnya, akan membuatnya menyesal seumur hidup. Dia memilih untuk menjadi pengecut.


***


Iring-iringan utusan Liao melakukan perjalanan yang jauh. Sudah beberapa hari mereka berjalan tanpa istirahat. Terlihat Byeol tertidur dalam kerangkeng kayu. Mereka bermalam di sebuah padang rumput dan membuat api unggun. Wajahnya kuyu dan bibirnya pecah-pecah.


Dalam tidurnya dia seakan bermimpi dibawa oleh seorang perempuan ke sebuah padang rumput yang indah. Mereka duduk di bawah pohon. Byeol tak mengenal perempuan yang rambut yang diikat ekor kuda dan berpakaian seperti orang di masa depan. Gadis itu membacakan sebuah buku untuknya, tapi Byeol tak bisa mendengar dengan jelas suaranya. Byeol hanya menatap perempuan itu tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


"Saya Hye Bin, Jung Hye Bin ...," ucap perempuan itu dan hanya itu yang bisa Byeol tangkap dari sekian kata-kata yang diucapkan oleh perempuan dalam mimpinya.


Sesekali dilihatnya perempuan itu tersenyum ramah padanya, tapi entah mengapa, Byeol merasa seakan sudah lama mengenal perempuan itu. Byeol mengangkat tangannya untuk menyentuh sang Perempuan cantik, tapi seakan tangannya kembali menangkap bayangan. Dilihatnya kedua belah tangannya, lalu tiba-tiba Byeol menangis karena ketidakberdayaannnya.

__ADS_1


Sebuah suara kayu dipukul dengan keras membangunkan Byeol. Seorang prajurit memandangnya, lalu memberi Byeol sekerat daging dendeng untuk dimakan dan secangkir air. Byeol tanpa menunggu lama memakan daging itu dengan lahap.


"Kau masih beruntung. Kami memberimu makan walau akhirnya kau akan mati. Yah, nikmatilah makananmu selama kau masih bisa makan dan masih hidup," ucap prajurit itu.


Byeol bisa menangkap jelas pembicaraan orang-orang Khitan dari Liao itu bahwa besok mereka sudah sampai di perbatasan. Byeol sudah hampir sampai di hilir kehidupannya.


***


Wang So terlihat tanpa lelah memacu kudanya bersama puluhan prajurit. Terlihat Wang Jung ikut serta di rombongan itu. Mereka berniat untuk membebaskan Byeol. Beberapa hari sebelumnya Wang So sudah sampai di Songak, tapi terlambat, Byeol sudah dibawa oleh orang-orang Liao. Tanpa menunggu keesokan harinya dia bersama Wang Jung menyusul rombongan Liao. Wang So tak ingin kehilangan Byeol.


Keesokan harinya rombongan dari Liao sudah sampai di perbatasan. Matahari menyengat di atas ubun-ubun. Mereka menyeberangi sabana dan disambut beberapa prajurit penjaga perbatasan dari Liao. Mata mereka menangkap hal ganjil dari kejauhan. Serombongan pasukan berkuda bergerak cepat ke arah mereka menimbulkan debu yang berterbangan ke udara.


"Ada pasukan Goryeo yang menyusul kita. Cepat bentuk formasi," perintah Tian Zuo.


Pasukan Goryeo yang dipimpin Wang So sudah berhenti, dan berhadapan dengan pasukan dari Liao. Wang So mengendarai kuda mendekat ke arah Tian Zuo. Dilihatnya Byeol yang memandang Wang So dengan rasa khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk. Byeol tak menyangka laki-laki itu akan menyusulnya sampai ke perbatasan.


"Siapa kalian dan mau apa?" tanya Tian Zuo


"Aku, Wang So, pangeran Goryeo. Perempuan itu istriku," terang Wang So.


"Aku ingin kau membebaskannya, karena dia tak bersalah. Dia hanya ingin membela kehormatannya sebagai perempuan," lanjutnya


"Apakah kau kira nyawa seorang Liao tak berharga? Mata dibalas mata, nyawa dibalas nyawa. Perempuan itu telah membunuh utusan Liao," bela Tian Zuo


Tian Zuo bergeming.


"Satu ... dua ...tiga," hitung Wang So lalu dia bergerak menyerang pasukan Liao dengan cepat.


Semua pasukan Wang So adalah pasukan perang yang terlatih. Satu persatu prajurit Liao mati ditebas pedang prajurit Goryeo. Wang So terus merangsek ke depan menuju kerangkeng kayu tempat Byeol yang ketakutan dan kebingungan di tengah-tengah peperangan yang berkecamuk. Badannya terasa lemah. Apa yang dia lihat di depan gerbang istana menjadi kenyataan. Semua terlihat seperti slow motion di mata Byeol.


Sebuah perang melawan orang-orang yang mirip bangsa Mongol, dan Byeol ada di tengah-tengah perang itu. Dia melihat Wang So sekuat tenaga mengalahkan prajurit-prajurit yang mencoba menghalanginya. Byeol tersadar dari lamunannya, ketika pedang Wang So berhasil memutus rantai gembok kerangkeng.


Wang So membuka pintu kerangkeng dan menarik Byeol keluar. Laki-laki itu langsung memeluk Byeol begitu perempuan itu menjejak tanah karena tubuh Byeol terlalu lemah. Namun, tanpa disadari dari arah belakang Tian Zuo menyerang Wang So yang lengah. Byeol yang tahu bahwa Wang So dalam bahaya, lalu memutar badan kekasihnya agar terhindar dari sabetan pedang.


Craaaakk!


Alhasil, sabetan itu mengenai Byeol. Darah muncrat dan membasahi tanah. Kalung Byeol pun putus karena sabetan pedang. Wang So masih terlihat syok lalu secepat kilat memeluk Byeol agar tak jatuh ke tanah.


Wang Jung yang melihat kejadian itu lalu menyerang Tian Zuo. Sebuah sabetan pedang berhasil memisahkan kepala laki-laki itu dari tubuhnya. Perang akhirnya usai. Semua pasukan Liao mati tak tersisa. Wang Jung mendekat pada Wang So yang terduduk memeluk Byeol.


Wang So terlihat syok dan menangis melihat Byeol yang terluka dan napasnya tersengal-sengal.

__ADS_1


"Byeol-ah bertahanlah," ucap Wang So sambil memeluk erat Byeol.


Byeol tersenyum pada Wang So. Darah menetes melalui mulutnya.


"Yang mulia, hamba bahagia bisa melihat yang mulia. Akan menjadi bintang kenangan yang indah bagi hamba. Mungkin sudah saatnya kantong bintang kita penuh dan tak muat lagi," ujar Byeol tersenyum di tengah nafasnya yang semakin sesak.


"Byeol-ah, bertahanlah," pinta Wang So sambil menangis terisak.


"Anda harus kuat dan menjadi lebih kuat lagi setelah ini. Anda adalah raja selanjutnya. Gwangjong ... Anda adalah Gwang ... Jong," ucap Byeol lalu menutup matanya dan terkulai lemas.


Tangis Wang So semakin tergugu ketika menyadari Byeol sudah menghembuskan nafas terakhirnya. Dia pun berteriak sekencang-kencangnya karena dia merasa sedih dan kecewa pada kenyataan hidupnya. Dia harus kehilangan Byeol untuk selamanya.


Jiwa Byeol memandang Wang So dengan berurai air mata. Disentuhnya wajah Wang So, tapi tangannya tak mampu lagi membelai wajah kekasihnya.


"Palingkan kepalamu dan menangislah. Aku benci engkau yang seperti ini. Akhirnya kau membuat aku juga menangis. Aku merindukanmu, sangat merindukanmu, hingga diriku tersiksa. Berharap kau akan bahagia bersama rasa cintaku, walau diriku telah tiada. Aku harap engkau bahagia. Palingkan kepalamu jika kau lelah, aku akan berada di sana, maaf ... aku pergi meninggalkanmu menangis sendirian, padahal aku tak ingin melihatmu sendirian. Setelah ini aku takkan bisa mencintaimu lagi. Semoga kau bahagia," ucap Byeol pada Wang So yang tak bisa melihat keberadaannya.


Terlintas di benak Wang So kenangannya bersama Byeol, terutama ketika Byeol menyampaikan bahwa dirinya akan menjadi raja Goryeo selanjutnya. Di saat Byeol terluka pipinya di acara jamuan yang diadakan oleh Ratu Janghwa.


"Yang Anda dengar tak salah. Hamba memiliki kemampuan melihat masa depan. Entah ini sebuah berkah ataukah sebuah musibah, hamba hanya ingin menjalaninya seperti air yang mengalir. Ketika Anda bertanya pada hamba, mengapa hamba menjadi tameng Anda ketika festival ulang tahun putra mahkota, karena hamba tahu Anda sangat berharga bagi rakyat Goryeo. Anda adalah Raja Gwangjong, Anda akan menjadi raja yang akan tertulis dalam sejarah manusia. Dan hamba hanya sebagai alat untuk memastikan semua berjalan semestinya," terang Byeol dalam lintasan kenangan Wang So.


Wang So mendekap tubuh perempuan yang dicintainya. Tubuh yang sudah tak bernyawa itu semakin dingin dan memucat. Diambilnya kalung unik di tangan Byeol yang bersimbah darah. Diusapnya dengan jemarinya perlahan. Semua yang tersisa hanya kenangan.


***


Man Se seakan berjalan di sebuah lorong yang panjang dan terang benderang. Samar di telinganya terdengar suara mesin pendeteksi detak jantung. Lalu terdengar suara seseorang di ujung lorong itu.


"Bangun ... buka matamu ... bangunlah. Ini aku Hye Bin anakmu yang kau tinggalkan. Bangun kau perempuan egois. Aku tahu kau pasti mendengarkanku. Kau perempuan egois. Kau lebih memilih mengakhiri hidupmu tanpa berpikir tentang aku. Aku mohon ... bangunlah Oh Man Se ... Bangunlah Eomma ... aku mohon," ujar suara yang terus memohon agar Man Se bangun


Man Se perlahan membuka matanya yang silau karena cahaya mentari pagi yang masuk melalui sela-sela korden. Dia berada di sebuah kamar yang asing baginya. Suara pendeteksi jantung terdengar jelas sekarang. Lalu dilihatnya seorang perempuan cantik tertidur di dekat tangannya. Perempuan itu yang ada dalam mimpinya, lalu diangkatnya tangannya untuk membelai gadis itu. Terlihat gadis itu membuka matanya perlahan dan langsung terkejut dengan apa yang terjadi di hadapannya. Lalu dengan ekspresi gembira bercampur terkejut dia lalu berdiri.


"Halmeoniee!" teriak gadis yang bernama Hye Bin itu.


Dua orang perempuan langsung berlari ke lantai atas. Mereka terkejut dengan keajaiban di hadapan mereka. Man Se memandang mereka tanpa berkata sepatah pun, tapi senyum tersungging manis di wajahnya.


Dia melihat Min Ji langsung berlari keluar memanggil Kang Min Hyuk dan yang lainnya. Man Se melihat sosok Kang Min Hyuk masuk ke dalam kamar dan memandangnya seakan tak percaya. Lalu laki-laki itu memeluk erat Man Se. Mereka berdua sama-sama menangis karena bahagia dan terharu.


"Apakah mimpimu indah Man Se-ah?" tanya Min Hyuk


Man Se tersenyum sambil menangis. Dia mengangguk-anggukan kepalanya lalu memeluk Min Hyuk lagi. Dia sudah kembali ke masa depan. Mimpi panjangnya yang indah meninggalkan kenangan yang membekas dalam dirinya.


Dipandanginya sosok Kang Min Hyuk lelaki yang dicintainya di masa depan. Sama tapi berbeda dengan sosok Wang So yang menjadi bagian dirinya di alam mimpi yang terasa nyata dalam pikirannya. Min Hyuk tersenyum memandang Man Se.

__ADS_1


"Byeol, ceritamu sudah berakhir, dan aku lanjutkan ceritaku di masa depan. Menciptakan bintang-bintang kenangan indah bersamanya," ujar Man Se dalam hati sambil memandang Min Hyuk lelaki yang dia cintai di masa depan.


__ADS_2