
Byeol berlari-lari kembali ke pondok. Dia duduk kelelahan di sebuah gazebo dekat kolam. Dia merasa malu, karena telah mengira Pangeran Wang Jung sebagai pengawal istana. Napasnya masih terengah-engah. Tak lama kemudian terdengar suara guntur, dan angin besar datang. Hujan deras turun membasahi bumi. Byeol tersenyum, lalu berjalan ke tepi gazebo menadah gemericik air yang jatuh dari atap gazebo.
Udara terasa sejuk. Byeol melangkah turun ke tanah. Dia melepas sepatu serta kaos kakinya, dan mulai bermain-main dalam hujan. Byeol menari-nari, dan berputar-putar dalam hujan. Dia merasa bahagia, dan senyumnya tak berhenti mengembang menikmati hujan yang deras. Rambut dan bajunya yang berwarna putih itu pun mulai basah kuyup, membayang kulit Byeol yang putih. Tanpa Byeol sadari ada seorang laki-laki yang berjubah merah berlari lalu berteduh di gazebo. Dia mengibaskan baju dan jubahnya yang basah terkena air hujan. Laki-laki itu melihat Byeol yang sedang bermain hujan di kejauhan. Pandangannya tak lepas dari semua gerak-gerik Byeol.
Byeol berhenti sebentar mengambil sebatang ranting pohon yang panjang. Hujan masih deras mengguyur bumi. Byeol memejamkan matanya lalu dia menari dengan menggunakan ranting pohon bak sebuah pedang. Dalam kepala dan telinganya mendengar rintik hujan seperti sebuah musik yang indah. Byeol benar-benar menikmati setiap gerak yang ia ingat ketika melihat para pangeran berlatih pedang.
Sebuah harmoni yang sempurna mempesona pandangan sang Laki-laki yang sedang berteduh . Dia berjalan turun mendekati Byeol. Laki-laki tersebut penasaran dengan gadis yang ada di bawah rinai hujan serta berharap dia memang bidadari yang turun dari langit. Byeol belum menyadari kedatangan laki-laki yang berjalan semakin mendekat. Gadis itu membuat gerakan berputar-putar dengan ranting di atas kepalanya. Byeol terus berputar, dan tanpa sadar hampir menabrak laki-laki itu.
Byeol terkejut. Laki-laki itu menatap intens pada Byeol. Hujan masih deras, membuat pandangan mata Byeol kabur, karena air masuk ke matanya. Setelah menyeka matanya, Byeol baru menyadari laki-laki di hadapannya mirip Kang Min Hyuk, lelaki yang dicintai Oh Man Se di masa depan.
Mata Byeol membulat seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Mungkin ini sebuah ilusi. Dikucek-kuceknya lagi matanya, tapi sosok itu masih tetap berada di depannya. Sosok laki-laki dengan wajah tampan, rahangnya kokoh, alisnya tebal dan matanya yang cokelat terang, benar-benar mirip kekasih Oh Man Se.
"Siapa kamu?" tanya laki-laki berjubah merah membuyarkan pikiran Byeol.
Byeol tergeragap menyadari bahwa laki-laki itu memang nyata dan bukan ilusi.
"A ... aa ... aku Byeol ... Choi Han Byeol," jawab Byeol tergagap.
__ADS_1
"Mau apa kamu di sini? Tidak sembarang orang bisa masuk istana," ujar laki laki itu
"Aku anak Choi Ji Mong. Ayahku mengajakku melihat-lihat istana sebelum festival ulang tahun Putra Mahkota diadakan," jelas Byeol.
Laki-laki itu diam menatap Byeol dengan mendalam. Merasa dipandangi dengan cara yang aneh. Byeol merasa tak enak.
"Kenapa Anda memandangi saya seperti itu?" tanya Byeol
"Pergilah. Jangan sembarangan berkeliaran di istana," perintah laki laki itu tanpa menjawab pertanyaan Byeol.
Byeol membungkukkan badan, memberi hormat, dan berlalu dari tempat itu.
Laki-laki itu berlalu pergi tanpa menoleh atau pun berkata-kata. Byeol terkejut dengan perlakuan yang didapatnya. Sekilas dia memandang laki-laki yang lewat di sampingnya. Byeol merasakan déjavu tentang penglihatannya, seorang laki-laki yang tersenyum dan mengulurkan tangan padanya. Ya, benar, laki-laki itulah yang ada dalam ingatannya. Byeol sekali lagi membungkukkan badannya memberi hormat dan berterima kasih.
***
Byeol kembali ke pondok kerja ayahnya dengan kondisi mengigil kedinginan. Pikirannya masih bertanya-tanya tentang laki-laki tadi. Siapa dia? Mengapa wajahnya mirip dengan Oppa Min Hyuk?
__ADS_1
Sesampainya di pondok ayahnya, Byeol disambut oleh Yideum. Pelayannya itu mengomel, karena Byeol tak ada di pondok. Ditambah lagi melihat Byeol pulang dalam kondisi basah kuyup. Dia terkejut melihat jubah merah yang dipakai oleh Byeol. Sebuah jubah yang bagus, dan bersulam indah.
"Ommoo ... darimana Anda mendapatkannya?" tanya Yideum sambil membantu nona mudanya mengganti baju.
"Seorang laki-laki melihatku berhujan-hujan, lalu dia memasangkan jubahnya ke badanku, karena aku basah kuyup," jelas Byeol
"Jubah ini bukan milik sembarang orang, apakah dia yang mulia raja?" tanya Yideum penasaran.
"Kalau dia yang mulia raja pasti sudah tua dan akan ada banyak pengawal di sekelilingnya," ujar Byeol menyanggah pendapat Yideum
"Dia laki-laki muda, yang entah darimana tiba-tiba dia ada di depanku. Aaaah, tampan sekali dia," ujar Byeol merasa gembira mengingat kejadian di dekat gazebo waktu itu.
"Apa mungkin dia salah satu dari para pangeran?" ujar Yideum.
"Aah, bisa jadi," ujar Byeol sepakat. Mereka tertawa kecil.
Yideum ikut bahagia Agassi nya bisa bertemu dengan pangeran tampan.
__ADS_1
"Hamba siapkan dulu air hangat. Agassi mandi lah dulu," ujar Yideum sambil memberi hormat.
Byeol senyum-senyum sendiri mengingat kejadian tadi. Sebuah pertemuan yang menghubungkan takdirnya pada sosok besar era Goryeo.