
Waktu berlalu. Para dayang istana heboh dengan kabar kepulangan Wang Jung dari medan perang melawan Liao. Mereka mengidolakan Wang Jung yang terlihat gagah dalam baju perangnya. Dia terlihat berwibawa berjalan bersama pasukannya masuk ke istana membawa kabar gencatan senjata dengan Dinasti Liao. Setelah menghadap raja dia langsung mencari Wang Wook yang sedang di kediamannya.
"Raja memintamu mempersiapkan acara penyambutan utusan dari Liao untuk perdamaian," ujar Wang Jung, "Peperangan sudah mengorbankan banyak nyawa di pihak mereka. Mereka kewalahan dan meminta perdamaian."
Wang Wook menerima tugas itu.
"Apakah ada kabar dari hyung-nim di Pyeongyang?" tanya Wang Jung
"Urusannya belum selesai dan membutuhkan waktu lama," jawab Wang Wook
"Bagaimana dengan Byeol?" tanya Wang Jung penasaran.
Wang Wook tersenyum. "Kenapa kau bertanya tentang gadis itu? Tidakkah kau ingin bertemu dengan Hwa Young?"
Wang Jung tersenyum. Dia memang merindukan Hwa Young.
***
Gadis-gadis yang mereka bicarakan sedang menari, dan bermain musik di kamp. Terlihat Nyonya Joo mengawasi aktivitas mereka yang sedang duduk membentuk lingkaran. Di tengah lingkaran beberapa gadis sedang menari termasuk Byeol. Semua tersenyum gembira. Mereka memilih orang yang akan melatih gisaeng istana untuk menari di hadapan utusan Liao. Begitu selesai menari Nyonya Joo akan memilih salah satu dari mereka untuk masuk ke istana melatih gisaeng.
"Byeol-ah ... kau yang kali ini masuk ke istana," ujar Nyonya Joo.
Byeol tersenyum gembira.
"Ikut aku," ajak Nyonya Joo
Byeol langsung mengikuti Nyonya Joo ke dalam ruangannya. Byeol duduk di depan Nyonya Joo.
"Byeol, aku memilihmu karena aku tahu kedekatanmu dengan para pangeran. Saat ini yang mulia Wang Wook yang diminta untuk mempersiapkan semua urusan pertunjukkan, dan perundingan damai dengan Liao. Bekerja samalah dengan baik bersama yang mulia Wook."
"Ya, Nyonya," jawab Byeol lalu membungkukkan badan memberi hormat.
"Byeol-ah, kesuksesan acara ini akan menjadi tonggak perdamaian Goryeo-Liao. Jika tak berhasil maka perang bisa pecah kembali. Berhati-hatilah," pesan Nyonya Joo.
***
Byeol datang ke paviliun Wang Wook. Seorang pelayan menyambutnya, dan mempersilakan gadis itu masuk ke dalam. Ratu Shinjeong dan Seonui istri Wang Wook menyambut kedatangannya.
"Byeol-ah. Apa kabarmu?" tanya Ratu Shinjeong
Byeol membungkukkan badan memberi hormat.
"Aku tahu kedatanganmu untuk membantu Wang Wook mempersiapkan acara di istana. Yang mulia Wook masih di istana. Aku harap kau sabar menunggu. Istirahat saja dulu," ujar Ratu Shinjeong, lalu meminta Seonui mengantar Byeol ke ruang tamu.
"Para gisaeng datang nanti siang. Aku senang bisa bertemu denganmu Byeol-ah,"ujar Seonui sambil berjalan di samping Byeol
"Ya, Nyonya saya juga senang bisa bertemu dengan Anda," ujar Byeol
"Aaah, kan sudah kubilang jangan memakai bahasa sopan denganku. Kita seumuran. Apa tema yang akan dibawa nanti?" tanya Seonui
Byeol diam tak langsung menjawab pertanyaan Seonui. Matanya tertarik pada bunga sakura yang sedang mekar di musim semi dan kelopaknya jatuh berputar tertiup angin lalu mendarat anggun di atas air kolam.
__ADS_1
"Flower dance," jawab Byeol.
"Pasti akan jadi pertunjukkan yang menarik. Aku penasaran," komentar Seonui.
Lalu mereka berjalan kembali menyusuri taman.
***
Para gisaeng dari penjuru Goryeo yang terpilih masuk berbaris di gazebo kediaman Wang Wook. Merekalah yang akan tampil menghibur di acara pertemuan perdamaian antara Goryeo-Liao. Byeol memperkenalkan diri lalu memberi arahan kepada para gisaeng dan musisi. Byeol meminta mereka untuk membawakan sebuah tarian untuk menentukan siapa penari utama dan siapa penari pendamping.
Satu persatu para gisaeng menari menunjukkan kemampuan mereka. Akhirnya Byeol memilih gisaeng yang bernama Munhye sebagai penari utama. Mereka duduk berkeliling ketika Byeol memberikan contoh Flower Dance.
Suara gayageum mengalun di tingkah suara triangle besi mendenting dan gendang. Disambung dengan alunan guzheng tiongkok. Konsep musiknya tradisional dan unik. Perpaduan antara ciri khas Goryeo dan Tiongkok.
Byeol mulai menari berputar, melangkah perlahan, menjejak, melompat kecil dan tangannya meliuk gemulai seiring alunan musik. Mimik wajahnya ceria seperti seorang gadis yang bebas bermain berlarian di padang rumput di bawah hujan kelopak bunga sakura. Wang Wook datang dan memandang Byeol dari jauh, diikuti Sunhwa di belakangnya. Sunhwa ikut berhenti begitu kakaknya berhenti memperhatikan Byeol yang sedang menari.
"Gadis itu, selalu saja membuat kagum banyak orang," ujar Wang Wook pada dirinya sendiri, tapi cukup di dengar oleh Sunhwa yang langsung saja cemberut mendengar kakaknya memuji Byeol.
"Perempuan seperti itu hanya cocok tinggal di gyobang daripada di istana," cibir Sunhwa
Wang Wook melirik Sunhwa. Alis Wang Wook bertaut menahan marah, dia tak suka dengan komentar Sunhwa. Dari jauh Ratu Shinjeong dan Seonui datang menyambut kedatangan mereka dari istana.
Begitu Byeol selesai menari, Wang Wook datang mendekat dan bertepuk tangan. Byeol tersenyum ceria menyambut Wang Wook lalu membungkuk memberi hormat.
"Kau luar biasa Byeol-ah," puji Wang Wook
"Terima kasih pujiannya, yang mulia," jawab Byeol
Semua orang mengundurkan diri begitu Wang Wook mengizinkan mereka undur diri. Byeol masih bersama Wang Wook.
"Byeol-ah, utusan Liao memiliki tipikal kasar, aku harap kau tak terkejut melihat perangai mereka. Pertemuan perdamaian ini hal yang penting, apabila gagal aku khawatir perang akan pecah kembali," terang Wang Wook pada Byeol.
Byeol mengangguk paham. Wang Wook beranjak dari hadapan Byeol dan memetik sekuntum bunga di dekatnya. Dipandanginya Byeol, lalu diselipkan kuntum bunga itu di telinga perempuan yang ia kagumi. Byeol pun menundukkan wajahnya karena malu. Wang Wook terpesona, tapi ditahannya hatinya. Dia hanya menarik napas panjang dan menghembuskannya Dia tahu siapa Byeol dan siapa yang mencintai Byeol, dia tak mungkin mengkhianati Wang So.
"Kau cantik seperti bunga Byeol-ah. Jaga dirimu baik-baik karena ada banyak orang yang ingin menyuntingmu," pesan Wang Wook.
Byeol tersenyum mendengar ucapan Wang Wook.
"Hamba bunga mawar yang berduri yang mulia, tak sembarang orang yang akan sanggup menahan perihnya tertusuk duri demi mendapatkan hamba,"
Wang Wook pun tersenyum
"Kupikir, aku sedang tertusuk durimu saat ini," ujar Wang Wook dengan raut wajah memerah, karena malu dengan pengakuannya pada Byeol. Wang Wook pun berdehem lalu beranjak pergi dari hadapan Byeol.
Byeol memandang sosok Wang Wook yang semakin menjauh darinya.
"Yang mulia...," gumam Byeol.
Dari balik tiang Sunhwa terlihat sinis melihat keakraban Byeol dengan kakaknya.
***
__ADS_1
Sepuluh hari berlalu. Istana sudah mempersiapkan semua hal untuk menyambut utusan dari Liao. Di jalan menuju istana terlihat iring-iringan kecil dua buah kereta berkuda, pajurit berkuda, dan gerobak-gerobak yang penuh muatan untuk dipersembahkan kepada Raja. Iring-iringan itu cukup mengambil perhatian masyarakat.
Setibanya di depan gerbang benteng luar istana, mereka disambut oleh Wang Wook dan Wang Jung. Dari dalam kereta keluar seorang laki-laki muda dan seorang laki-laki tua menggunakan baju, dan topi berbulu khas bangsa Khitan dari Liao. Wajah mereka terkesan seperti perisai dengan wajah lebar, hidung pendek, dan mata sipit.
"Selamat datang yang mulia, Tian Zuo," ujar Wang Wook menyambut rombongan untuk masuk ke istana.
Utusan Liao yang muda memandang benci pada Wang Jung. Mereka punya dendam masa lalu yang tak terlupakan. Wang Jung tidak suka dengan mereka. Laki-laki muda yang bernama Feng Zhu itulah yang membunuh Hae Jin, kakak Hwa Young.
***
Sore menjelang malam pertunjukkan, terlihat Munhye gelisah di depan cermin. Dia duduk di ruang khusus penari. Para gisaeng yang lain sudah mulai memasang kostum menari mereka, tapi Munhye belum berdandan sama sekali. Wajahnya seakan terbebani hal yang membuat dia dilema. Teringat malam sebelumnya, dia di datangi dua orang perempuan. Satu seperti seorang dayang, dan satu lagi seorang perempuan yang memakai topi berkain tipis.
"Engkau yang bernama Munhye?" tanya perempuan yang bertopi itu.
"Ya saya Munhye,"
Lalu perempuan bertopi itu memberi kode agar dayangnya memberikan sesuatu pada Munhye. Dayang itu memberi sebuah kantung besar berisi uang.
"Untuk apa ini, Nona?" tanya Munhye heran
"Aku kira itu cukup untuk menutup mulutmu. Aku minta kau tak tampil di acara pertemuan damai dengan Liao. Aku ingin acara itu kacau. Pergilah jauh dari Songak atau anakmu di desa akan kubunuh. Orangku akan menyediakan perahu untukmu besok malam untuk menyeberang,"
Munhye pucat pasi mendengar anaknya dijadikan sandera perempuan tak dikenal demi menggagalkan acara yang diadakan di istana. Munhye masih bimbang. Dia bak memakan buah simalakama.
"Baiklah," ucap Munhye pada akhirnya menyetujui permintaan perempuan bertopi.
"Pergilah dan sembunyilah dengan baik," ucap perempuan bertopi.
Setelah kepergian Munhye, perempuan bertopi itu membuka kain penutup topinya. Ternyata Sunhwa yang sedang merencanakan kekacauan. Terdorong rasa dengki, dan iri pada Byeol. Dia ingin acara itu kacau, dan Byeol akan dihukum.
Saat ini Munhye masih duduk memegang kostum tarinya. Akhirnya dia berdiri lalu pergi dari tempat itu secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun.
Waktu pertunjukkan sudah dekat. Byeol dan Kasim Han mengecek persiapan. Mereka tak melihat sosok Munhye di antara para penari, sedangkan Munhye adalah penari utama malam itu. Byeol dan Kasim Han cemas. Kasim Han melapor kepada Wang Wook. Sang Pangeran mengerahkan orang-orangnya untuk mencari Munhye. Sunhwa yang sedang duduk di kursi jamuan melihat tanda-tanda tak beres sudah mulai tampak. Perempuan itu tersenyum sinis.
Musik tak lekas mengalun sedangkan para hadirin termasuk raja, dan utusan Liao sudah menunggu pertunjukkan selanjutnya. Kekacauan yang diharapkan Sunhwa tak menjadi kenyataan. Musik mulai mengalun dan para penari Flower Dance sudah masuk panggung. Di antara mereka ada Byeol yang menggantikan Munhye. Wang Wook mulai tenang, berbeda dengan Sunhwa yang mendengus kesal karena rencananya gagal.
Byeol mulai menari, meliuk, melompat kecil berputar dan membentangkan tangannya mengikuti alunan musik. Seperti bunga sakura yang jatuh dari pohon dan diterbangkan oleh angin. Semua mata memandang dengan penuh pesona seperti tersihir oleh Byeol, termasuk utusan Liao, Feng Zhu. Mata laki-laki itu tak berkedip melihat pesona, dan kecantikan Byeol malam itu. Hal itu ditangkap oleh Sunhwa yang akhirnya memiliki rencana lanjutan untuk menjatuhkan Byeol.
Pembicaraan untuk damai berjalan lancar. Byeol, Wang Wook, dan Wang Jung sedang minum sama-sama di kediaman Wang Wook.
"Terima kasih atas kerja keras kalian dalam membantuku," ucap Wang Wook
Byeol dan Wang Jung tersenyum ceria.
"Terutama kau Byeol-ah. Munhye harus mempertanggungjawabkan semua perbuatannya. Orangku akan mencarinya ke pelosok negeri sampai dapat," lanjut Wang Wook yakin.
"Yang mulia, hamba merasa janggal dengan menghilangnya Munhye. Apakah kira-kira ada orang yang memang ingin acara perdamaian dengan Liao tak berhasil?" tanya Byeol dengan nada penasaran.
"Ya Hyung-nim, aku pikir juga demikian," tambah Wang Jung
"Kalau memang demikian, berarti orang yang ingin kekacauan terjadi adalah orang yang bodoh. Aku akan menginvestigasi hal ini," ujar Wang Wook memastikan.
__ADS_1