
Byeol kembali ke kamp pelatihan. Nyonya Soo memanggil Byeol ke ruangannya..
"Byeol-ah, besok pagi bersama Hwa Young masuklah ke Istana Dalam. Ini perintah Ratu Janghwa. Ada indikasi orang dalam yang mencoba meracuni Putra Mahkota. Kasim Han akan mengantar kalian,"
"Ya, Nyonya," jawab Byeol memberi hormat tanda mematuhi perintah atasannya.
Pagi buta mereka bertiga masuk ke istana. Mereka langsung diantar oleh Kasim Han ke Istana Dalam tempat para ratu dan selir raja tinggal. Istana Dalam di bawah kepengurusan Ratu Shin, sehingga proses masuk ke dalamnya harus hati-hati.
Byeol bersama para gadis yang lain berbaris berjajar di depan paviliun Ratu Shin. Mereka semua cantik-cantik. Byeol dan Hwa Young merasa minder, tapi demi misi yang mereka jalankan, maka mereka harus melakukannya. Tak membutuhkan waktu lama bagi Byeol untuk masuk ke istana karena koneksi Kasim Han. Uang bisa melancarkan segala urusan.
Para dayang baru berbaris berkeliling istana dan masuk ke lingkungan Istana Dalam. Byeol ikut berjalan dalam barisan dengan percaya diri. Matanya tak henti-hentinya melihat kesana-kemari melihat ornamen istana yang serba mewah. Pada saat yang sama, dari kejauhan ada Wang So dan Wang Jung yang sedang berjalan melihat barisan itu menuju istana dalam.
"Hyung, mereka dayang-dayang baru yang direkrut Istana Dalam," ujar Wang Jung
Wang So menajamkan matanya melihat sosok-sosok perempuan yang sedang berbaris berjalan di kejauhan. Seakan tak percaya dengan penglihatannya, dia seperti melihat Byeol dalam barisan dayang-dayang itu. Tapi Wang So tak yakin dengan apa yang dilihatnya.
Byeol berhasil masuk Istana Dalam. Dia bekerja melayani raja dan anggota istana yang lain. Byeol tak hanya memasak, membuatkan teh, menyediakan makan minum anggota istana, menyiapkan air mandi dan baju mereka.
"Kita tak bisa lama-lama di sini Young-ah. Segera setelah mendapatkan bukti tentang racun itu kita keluar dari sini," terang Byeol pada Hwa Young saat di sekeliling mereka tak ada siapa pun. Hwa Young menganggukkan kepala tanda paham
***
Byeol dan Hwa Young membawa teko dan kudapan untuk Ratu Janghwa. Di lorong istana mereka bertemu Ratu Shin yang berjalan menuju istananya bersama para dayang. Byeol dan Hwa Young berdiri sambil memberi hormat. Napas mereka terasa tertahan, jantung mereka berdebar diliputi rasa takut ketahuan. Begitu rombongan itu lewat, Byeol dan Hwa Young baru bisa bernapas lega. Sosok ratu negeri Goryeo yang ambisius, pikir Byeol.
***
Byeol dan Hwa Young duduk di depan Ratu Janghwa.
"Sebelumnya aku ucapkan selamat. Kalian sudah bisa masuk istana dalam," ucap Ratu Janghwa dengan ramah.
"Ya, yang mulia Ratu," ucap mereka berdua sambil membungkukkan badannya memberi hormat
"Apa yang sudah kalian dapatkan. Aku ingin orang-orang yang mencelakai Putra Mahkota di tangkap," terang Ratu Janghwa
"Kami baru masuk hari ini yang mulia, kami membutuhkan waktu untuk memeriksa semuanya. Bisa jadi racun itu dimasukkan dari ramuan obat rendaman yang dipakai oleh yang mulia putra mahkota, atau dari makanan dan minuman yang di konsumsi. Kami akan mencari buktinya," terang Byeol
"Aku tunggu kabar dari kalian," ujar Ratu Janghwa dengan nada harap cemas.
__ADS_1
Mereka pun pamit pada sang Ratu. Byeol dan Hwa Young berbagi tugas mengawasi beberapa pelayan yang mengurusi makanan, minuman, dan air mandi Putra Mahkota.
***
Byeol sedang berjalan di koridor saat tiba-tiba seseorang menariknya ke sebuah bangunan. Byeol terkejut, tapi laki-laki itu memberi kode untuk diam.
"Yang mulia," ucap Byeol dengan mata terbelalak.
"Sudah kuduga itu kamu," ujar Wang So.
"Kenapa kamu ada di sini dan baju itu ...?" tanya laki-laki itu sambil mengernyitkan dahi ketika melihat baju dayang yang dipakai Byeol.
Byeol sejenak diam menimbang apakah dia akan jujur pada Wang So apakah tidak.
"Hamba sudah berjanji pada yang mulia raja untuk membantu Putra Mahkota. Tidakkah kita dalam kapal yang sama?" tanya Byeol.
Wang So diam tak bisa berkomentar apa-apa sambil memandang Byeol.
"Hamba harap Anda tak memberitahukan siapa pun bahwa hamba ada di sini," mohon Byeol
"Kau tahu kehidupan di istana tak mudah Byeol-ah, Mengapa kau mau mengorbankan kebebasanmu di luar sana dan masuk pusaran yang bisa saja merenggut nyawamu. Kau selalu saja membuatku khawatir," terang Wang So.
"Tapi nasi sudah menjadi bubur yang mulia, Kita nikmati saja jalan hidup ini," jelas Byeol sadar bahwa dia harus ada di istana demi suksesi Wang Mu sebagai Raja Hyejong sesuai yang seharusnya.
"Banyak yang harus hamba lakukan. Hamba harap Anda berkenan mampir ke Istana Dalam," ujar Byeol tersenyum lalu pamit pada Wang So.
Gadis itu memberi hormat lalu pergi. Wang So berat hati melepas Byeol. Dia tak percaya gadis itu memilih untuk masuk ke istana tempat yang berbahaya di Goryeo. Di istana tempat pusaran konspirasi dimana semua berhadapan dan saling menjatuhkan. Dia tak ingin Byeol menjadi pion yang hanya akan di korbankan.
Byeol melangkah di lorong menuju istana putera mahkota untuk melakukan investigasi. Dalam hati Byeol berkata, "Hamba selalu memikirkan kondisi Anda yang mulia. Apakah Anda baik-baik saja? Kasus Monk's Hood, dalangnya bisa jadi orang terdekat Anda sendiri. Ibu dan saudara Anda,"
***
Tuan Park sedang minum-minum di ruang kerjanya malam itu. Dia merasa depresi karena tekanan dari Ratu Shin atas kasus Monk's Hood yang dijalankannya. Dia memanggil pelayannya untuk membawakan lagi minuman. Seorang pelayan perempuan masuk membawakan sebotol minuman lagi. Tanpa menunggu lama, Tuan Park langsung meminum anggur itu. Tak di sangkanya, minuman itu terasa membakar tenggorokan, jantung dan tubuhnya. Busa keluar dari mulutnya. Tuan Park merasa dikhianati. Matanya melotot sambil menunjuk-nunjuk pada pelayan perempuan itu. Tuan Park mati seketika karena keracunan. Sang Pelayan tersenyum sinis lalu keluar dari ruangan itu diam-diam
***
Seorang pelayan perempuan masuk ke dalam kamar Nyonya Hae sambil membawa nampan berisi obat. Nyonya Hae sudah bersiap untuk istirahat. Pelayan itu memberikan obat pada Nyonya Hae. Tanpa ada prasangka apa pun, Nyonya Hae meminumnya. Perempuan itu terkejut ketika minuman itu membuat tubuhnya terasa terbakar dan mulutnya berbusa. Nyonya Hae pun mati, senasib dengan Tuan Park. Pelayan perempuan itu pun tersenyum dan meninggalkan kamar Nyonya Hae secara diam-diam.
__ADS_1
***
Wang So sedang di paviliun Tuan Choi saat Wang Jung datang berlari-lari ke arahnya.
"Hyung ... gawat. Orang-orang yang kita tangkap di lembah semua mati minum racun. Mereka semua tutup mulut dan kami tak mendapatkan informasi apa pun. Menteri Park serta Nyonya Hae, mereka mati diracun di rumahnya," terang Wang Jung
Wang So geram, rahangnya mengeras ketika mendengar kabar bahwa orang-orang yang menjadi kunci kasus semua mati. Wang So pun berpikir keras mengurai benang kusut kasus itu lagi. Lalu dia pun pergi ke paviliun Ratu Shin. Sejak awal dia curiga ibunya yang sudah menjadi dalang kasus ini.
Wang So langsung masuk ke ruangan ibunya, walau dayang dan kasim penjaga melarangnya masuk. Dengan sorot mata kebencian dia memandang ibunya yang sedang santai minum teh.
"Apa lagi rencana Anda untuk menjatuhkan Putra Mahkota?" tanya Wang So langsung.
"Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Ratu Shin tenang.
"Sebaiknya Anda berhenti membuat masalah sebelum korban menjadi lebih banyak lagi," ucap Wang So
"Berbicaralah yang sopan pada ibumu. Apakah kau sedang menuduh aku melakukan kejahatan?" tanya Ratu Shin seakan tidak bersalah.
"Kami tahu menteri Park adalah orang Anda. Kasus Monk's Hood adalah rekayasa Anda. Dan sekarang Anda sedang mencuci tangan yang berlumuran darah dengan membunuh semua saksi kunci kasus ini. Berhentilah atau Anda akan berhadapan denganku," ujar Wang So mengancam ibunya dengan nada yang tegas. Setelah memberi hormat, Wang So pergi tanpa pamit. Ratu Shin geram, lalu melempar cangkirnya ke lantai. Tak disangka, anaknya berani melawan.
***
Byeol sedang mengikuti seseorang malam itu yang diam-diam keluar dari istana dalam. Dia pelayan yang mengurusi makanan dan minuman yang disajikan pada Putra Mahkota. Dayang itu melihat ke segala arah. Dia terlihat menunggu seseorang, sampai akhirnya muncul dari balik tembok seorang kasim dari paviliun Ratu Shin. Entah apa yang mereka bicarakan. Byeol berusaha mendekat agar bisa mendengar pembicaraan mereka.
"Ini bukan yang seperti biasa. Masukkan dalam obat herbal Putra Mahkota atau oleskan di pinggir mangkoknya. Yang mulia Ratu ingin Putra Mahkota mati besok. Ingat, keberhasilan rencana ini ada di tanganmu," ujar kasim itu sambil memberikan sebuah botol racun yang berbeda dari biasanya.
"Ya, Tuan," ujar dayang itu yang terlihat cemas.
Kedua orang itu pun berpisah. Byeol mengikuti kemana perginya dayang itu. Sang Dayang masuk ke dalam kamarnya. Byeol langsung menahan pintu kamar. Dayang itu terkejut dengan kemunculan Byeol.
"Keluarkan botol racun itu," perintah Byeol
"Siapa kau?" tanya dayang itu sambil memegang erat botol racun itu dalam bajunya.
"Aku tahu kau yang bekerjasama dengan Ratu Shin meracuni Putra Mahkota," ujar Byeol sambil menunjukkan lencana prajurit khususnya.
"Apa yang kau bicarakan?" ujar dayang itu seakan tak tahu apa yang sedang dibicarakan Byeol
__ADS_1
"Ibumu dan adikmu baik-baik saja di desa. Ratu Janghwa menjamin keselamatan mereka. Berhentilah, Aku tahu kamu melakukannya karena tekanan dan ancaman Ratu Shin. Kami akan minta keringanan hukuman untukmu jika kau mau bekerjasama dengan kami. Jika kau melakukannya, maka tak hanya nyawamu yang melayang, bahkan nyawa keluargamu," ucap Byeol meyakinkan dayang itu.
Byeol sudah memeriksa latar belakang dayang itu sebelumnya dan meminta bantuan Ratu Janghwa untuk mengungsikan keluarga sang Dayang. Wajah dayang itu terlihat dilema, lalu perlahan mengeluarkan botol racun dari bajunya. Byeol pun tersenyum, misinya berhasil.