BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 16 MONK'S HOOD


__ADS_3

Dalam kegelapan malam, di tengah hutan berlarian dua sosok manusia di terangi rembulan separuh. Sosok-sosok itu seorang laki-laki muda bersama seorang anak perempuan. Sekelompok orang membawa obor sedang mengejar mereka. Suara gonggongan anjing terdengar membuat malam itu seperti malam jahanam bagi mereka berdua. Sambil terengah-engah mereka akhirnya duduk bersembunyi di balik batu yang besar di lereng lembah.


"Wool-ah. Kau bersembunyi di sini saja. Aku akan mengalihkan perhatian mereka. Minta tolonglah pada Tabib Hong dan beritahu tempat terkutuk itu. Ini pakai kalungku dan berikan padanya," ujar laki-laki yang memakai baju putih lusuh itu.


"Tidak ... tidak ... kakak ... kau harus ikut denganku," ujar gadis kecil yang bernama Myungwool itu. Wajahnya penuh ruam seperti terkena penyakit. Dia memegang erat tangan kakaknya.


"Sudahlah, aku akan kembali. Tunggu saja aku di sini. Minum obat yang sudah kuberikan padamu untuk mengurangi efek racunnya," ujar laki-laki itu sambil menutupi badan gadis kecil itu dengan semak-semak di bawah batu besar agar tak ditemukan oleh orang-orang yang mengejar mereka.


Laki-laki muda pun berlari menjauh dari batu besar. Orang-orang yang mengejarnya terpancing mengejar laki-laki itu. Sang Laki-laki malang tak sanggup berlari lagi lalu jatuh terguling-guling. Seorang laki-laki berkepala gundul mendekat lalu menghunuskan pedangnya ke arah leher laki-laki muda.


"Kau kira akan berhasil melarikan diri. Bawa dia kembali ke lembah. Gadis kecil itu, cari dia sampai ketemu, hidup atau mati," ujar laki-laki tua berbaju bangsawan berwajah dingin di belakang laki-laki gundul itu.


"Ya, yang mulia," jawab laki-laki berkepala gundul.


Beberapa orang mengikat dan menyeret kakak Myungwool kembali ke lembah.


***


Byeol sudah sampai di kota. Ia merindukan hiruk pikuk suasana kota setelah sekian lama di asrama. Dia berjalan-jalan keliling kota dan akhirnya singgah di sebuah kedai di pinggir jalan. Sambil menunggu makanan pesanannya datang, pandangannya menyusuri sekitar.


Tiba-tiba terjadi kegaduhan. Byeol melihat seorang laki-laki berlari menyibak orang-orang yang lalu lalang di jalan. Laki-laki berkepala gundul di kejar oleh sosok yang Byeol kenal. Wang Jung dengan gesit mengejar si Gundul. Sebenarnya Byeol ingin membantu Wang Jung mengejar buronan itu. Namun, ada yang lebih menarik perhatian Byeol yang luput dari perhatian khalayak ramai.


Seorang laki-laki berkepala gundul dengan baju yang sama sedang berlari lalu melompat di atas atap rumah orang. Dilihatnya Wang So juga sedang memburu si Gundul. Kelihatannya mereka satu komplotan dan para pangeran sibuk mengejar mereka. Byeol berdiri dan memutuskan membantu Wang So mengejar buruannya.


Pemilik kedai berteriak ketika Byeol pergi tanpa membayar karena terburu-buru. Byeol melemparkan sekeping uang kepada pemilik kedai sebagai ganti makanan yang belum termakan. Byeol mencari jalan alternatif untuk mengikuti buruan Wang So. Laki-laki gundul itu tidak menyadari keberadaan Byeol.


Setibanya di sebuah hutan bambu, Byeol langsung menghadang si Gundul.


"Siapa kau?" tanya si Gundul.


"Aku ... ?" tanya Byeol balik sambil menghunus pedangnya.


"Minggir kau," teriak laki-laki itu


Tanpa menunggu jeda si Gundul langsung menyerang Byeol dengan pedangnya. Wang So datang, lalu berhenti mengatur nafas. Wang So hanya berdiri sambil melihat pertarungan itu. Byeol tak mudah di kalahkan sampai titik Byeol lengah lalu jatuh ke tanah.

__ADS_1


Si Gundul pun merasa di atas angin, lalu diayunkan pedangnya ke arah Byeol. Wang So tak tinggal diam. Dia pun menangkis pedang si Gundul. Wang So berhasil mengalahkan dan memukul jatuh si Gundul.


"Siapa yang mengutusmu," tanya Wang So sambil meletakkan ujung pedang di leher si Gundul.


Tanpa menjawab pertanyaan Wang So, laki-laki itu mengambil sebutir obat dari ikat pinggangnya lalu di telannya. Keluar busa dari mulut si Gundul.


"Brengsek ... lagi-lagi seperti ini," Wang So kesal, buruannya mati sia-sia tanpa mendapat informasi apa pun.


Wang So menghela napas panjang, lalu berjalan menuju Byeol yang berusaha berdiri.


"Kau tak apa-apa. Lama tak berjumpa denganmu, kau membuat aku khawatir," ujar Wang So sambil membantu Byeol berdiri.


"Yang mulia ... hamba baik-baik saja," ujar Byeol.


"Siapa dia?" tanya Byeol


"Kami menginvestigasi secara diam-diam tentang kericuhan di acara ulang tahun Putra Mahkota, dan kematian para penari gadungan di penjara. Sekarang sia-sia. Kami belum memiliki petunjuk yang cukup untuk mengungkap siapa dalang semua ini. Sebaiknya kita cari Wang Jung, dia mengejar laki-laki satunya lagi,"


"Baik yang mulia," ujar Byeol


"Byeol-ah ... lama tak jumpa," ucap Wang Jung ingin memeluk Byeol tapi di halangi oleh Wang So. Byeol tertawa dan Wang Jung pun merengut.


***


Di sebuah ruangan ada beberapa tabib memeriksa mayat laki-laki yang mereka kejar tadi siang. Wang So, Wang Jung dan Byeol berada di ruang itu. Mereka menemukan fakta bahwa mereka sekte sesat yang ahli dalam obat-obatan. Di tangan bagian dalam mayat-mayat itu ditemukan tato berbentuk bunga Monk's Hood. Simbol tato itu sama dengan yang dimiliki para penari pedang gadungan pada acara ulang tahun Putra Mahkota. Bisa jadi mereka dibayar oleh seseorang untuk mengacau di istana. Wang So mencium pil obat yang ditemukan dari tubuh mayat itu. Byeol memeriksa juga pil itu, lalu dahinya mengernyit. Bahan obat itu adalah bunga Monk's Hood. Gila, siapa yang memproduksi obat-obatan beracun seperti ini, pikir Byeol.


Wang So dan Byeol keluar dari ruang mayat.


"Aku mencarimu kemana-mana selama ini. Tapi tiba-tiba kau muncul di hadapanku," terang Wang So


"Ayah memintaku berkunjung ke rumah saudara," jawab Byeol bohong untuk menjaga rahasia.


"Kau, jangan pergi lagi tanpa izinku," pinta Wang So


Byeol hanya tersenyum tanpa berkomentar

__ADS_1


"Mereka meminum racun Monk's Hood. Sama seperti yang diminum para penari pedang gadungan itu. Sepertinya kita harus mencari tahu dimana obat langka itu dibuat," terang Wang So.


"Hamba akan membantu yang mulia," ucap Byeol


Wang So langsung mengerutkan dahi sambil menatap Byeol.


"Misi ini berbahaya. Lebih baik kau tak ikut," jelas Wang So yang mengkhawatirkan Byeol.


"Tidakkah kemampuan hamba sudah teruji saat acara Putra Mahkota? Hamba bahkan mempertaruhkan nyawa hamba untuk Anda," terang Byeol berusaha untuk merayu Wang So agar diizinkan untuk ikut terlibat dalam investigasi.


Wang So diam mempertimbangkan.


"Tidak, kau tak boleh terluka lagi kali ini. Lebih baik tak usah ikut,"


Byeol memandang Wang So dengan pandangan memohon. Wang So pun tak sampai hati.


"Baiklah, Jangan lagi gegabah. Bantu aku menyelidiki di setiap toko obat dan pemasok herbal. Biar Wang Jung dan Wang Wook mendatangi tempat praktik tabib dan balai-balai kesehatan. Tapi ingat, jangan bertindak sendiri tanpa pemberitahuan. Tetap bersamaku,"jelas Wang So.


Byeol mengangguk sambil tersenyum cerah.


***


Mereka mulai bergerak. Wang So dan Byeol mendatangi toko-toko yang menjual herbal untuk obat-obatan dan menanyai siapa pemasoknya. Satu persatu mereka mendatangi toko-toko itu. Hasil investigasi mereka mengerucut pada satu nama pemasok obat, yaitu seorang saudagar perempuan yang bernama Nyonya Hae. Perempuan itulah yang memonopoli pasokan herbal di Songak.


"Yang mulia apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Byeol ketika mereka berdua sudah di depan kediaman Nyonya Hae.


"Kita cari informasi tentang Nyonya Hae dan kegiatannya. Dengan pejabat siapa saja dia terhubung, pasti ada catatannya. Kita cari buku itu. Aku curiga racun yang digunakan itu ada kaitannya dengan Nyonya Hae," terang Wang So


"Tunggu di sini," lanjut Wang So pada Byeol lalu pergi memata-matai rumah itu.


Wang So berjalan mengelilingi rumah besar dan luas itu sekedar mencari celah untuk masuk dan melihat ke dalam. Dia melompat ke dalam dan berhasil memasuki taman. Rumah itu sepi. Wang So mengendap-endap memasuki ruangan demi ruangan, lalu terdengar suara orang yang sedang berbicara


"Persiapkan acara nanti malam, karena para saudagar Songak akan datang begitu juga para pejabat negara," ujar seorang perempuan berbaju bangsawan pada seorang laki-laki yang diduga pengurus rumah tangga Nyonya Hae.


Laki-laki itu pergi dan Nyonya Hae berjalan masuk ke ruangannya. Wang So bersembunyi, lalu memutuskan untuk keluar dari rumah itu secara diam-diam. Dalam benak Wang So sudah tergambar sebuah rencana.

__ADS_1


__ADS_2