
Byeol ikut ayahnya ke tempat latihan para pangeran. Byeol berjalan dengan gembira di belakang ayahnya. Hari ini ia akan melihat para pangeran berlatih. Tempat latihan masih sepi, hanya beberapa prajurit istana yang sedang mempersiapkan peralatan. Dilihatnya juga beberapa dayang istana yang mempersiapkan hidangan di meja.
Byeol melihat senjata-senjata yang berjajar dan pedang-pedang kayu yang dipakai untuk berlatih. Byeol mengambil satu dan memainkannya. Tuan Choi memperhatikan segala tingkah laku Byeol. Dia tak menyangka gadis itu tertarik dengan pedang, padahal Byeol yang asli tak pernah belajar pedang apalagi beladiri.
"Man Se ... bukan Byeol-ah ... kau bisa memainkan pedang?" tanya Tuan Choi
Byeol mengangguk sambil tersenyum.
"Boleh kucoba?" tanya Byeol dengan wajah ceria.
Tuan Choi tersenyum pertanda setuju. Jiwa Oh Man Se dalam diri Byeol merasa tertantang untuk unjuk kemampuan. Dia bukan ahli pedang masih kalah dibanding Woo Jin guru wushunya di masa depan. Oh Man Se terkenang sosok laki-laki yang sudah dianggapnya kakak.
Tuan Choi melemparkan sebuah pedang sungguhan pada Byeol. Gadis itu menangkap lalu memandang setiap lekukan pedang di tangannya. Byeol turun ke lapangan. Dia memulai dengan kuda-kudanya, dan memulai gerakannya. Tuan Choi kagum ternyata gadis yang bernama Oh Man Se dalam tubuh Byeol itu mahir bermain pedang.
Tuan Choi mengambil sebilah pedang lalu turun lapangan untuk menyerang Byeol. Gadis itu tanggap, dan langsung menangkis serangan Tuan Choi. Mereka beradu pedang, dan jurus. Sampai akhirnya Tuan Choi berhasil menjatuhkan pedang milik Byeol. Byeol dan Tuan Choi tertawa bersama-sama. Serentak terdengar tepuk tangan meriah dari para dayang dan prajurit yang mendapat tontonan gratis yang seru.
Dua orang pangeran, Wang So dan Wang Wook baru saja datang melihat keseruan antara Tuan Choi dan Byeol. Mereka juga memberi tepuk tangan. Pangeran Wook berjalan ke arah mereka sambil tersenyum, tapi tidak dengan Wang So. Wajahnya terlihat dingin tanpa senyum melihat tajam ke arah Byeol. Tuan Choi dan Byeol membungkuk memberi hormat. Byeol memandang pada Wang So, tapi yang dipandang hanya memandang balik tanpa senyum. Huuh, berbeda dengan adiknya Wang Wook, dan Wang Jung, mereka murah senyum, pikir Byeol
Tuan Choi mempersilakan para pangeran duduk di gazebo sambil menunggu para pangeran yang lain datang. Byeol tak ikut duduk, tapi asyik melihat, dan mengagumi senjata-senjata yang ada di situ. Byeol sedang merenggangkan tali busur ketika seseorang datang. Menyadari ada yang datang dari arah belakangnya, Byeol berbalik lalu membungkukkan badannya memberi hormat. Orang yang lewat di di depannya menoleh sekilas. Byeol terkejut setengah mati melihat siapa yang lewat.
Bruuk!
__ADS_1
Busur yang di tangannya terjatuh dari tangan karena ketakutan. Tubuh Byeol tiba-tiba panas dingin dan jantungnya berdegup kencang. Laki-laki itu ada dalam penglihatan Byeol yang akan mengeksekusi laki-laki tua. Siapa dia? pikir Byeol. Tuan Choi berdehem saat melihat tingkah Byeol, seakan mengingatkan. Byeol segera mengambil dan mengembalikan busur yang jatuh. Tuan Choi menyambut laki-laki itu.
"Selamat datang yang mulia Wang Yo," sambut Tuan Choi.
Yang disambut hanya diam lalu duduk. Raut wajahnya bak es tanpa senyum. Terkesan angkuh itu yang ditangkap Byeol. Gadis itu hanya berdiri di belakang ayahnya sambil menunduk tak berani melihat wajah para pangeran terutama Wang Yo.
Para pangeran dan bangsawan yang akan berlatih mulai berdatangan. Mereka turun ke lapangan. Beberapa prajurit pelengkap atraksi juga sudah siap. Byeol hanya duduk di gazebo melihat mereka berlatih. Musik mulai dimainkan. Diawali dengan tarian pedang solo oleh Wang Jung, lalu diikuti para pangeran yang lain. Setelah para pangeran selesai gerak jurus, beberapa prajurit turun dari atas dinding bergerak menuju lapangan untuk atraksi yang selanjutnya.
Tak lama kemudian tiba-tiba ada yang terjatuh di bagian tengah formasi. Wang Jung kakinya terkilir karena tak hati-hati melakukan gerakan membuat proses latihan terhenti. Para pengawal istana dan para dayang membawa Wang Jung ke tempat teduh untuk diperiksa oleh Tabib istana.
Istana ribut hanya karena seorang pangeran terkilir kakinya. Byeol mendekat tapi dihalau untuk menjauh. Wang Jung dibawa kembali ke kediamannya. Tuan Choi dan para pangeran masih di gazebo memikirkan tentang festival. Siapa yang akan menggantikan posisi Wang Jung di formasi.
"Kenapa kita tak minta Byeol menggantikan. Tidakkah gadis itu juga pintar bermain pedang?" usul Wang Wook mengejutkan semuanya.
"Ham ... hamba?" tanya Byeol gugup.
Para hadirin memandang Byeol dengan tatapan tak percaya. Tuan Choi agak sangsi.
"Kupikir patut dicoba," cetus Wang So menyetujui pendapat Wang Wook yang membuat semua terkejut.
"Bagaimana bisa seorang perempuan menggantikan posisi Wang Jung. Kita akan dijadikan bahan tertawaan," ucap seorang bangsawan yang memakai baju sutera hitam yang ikut dalam formasi.
__ADS_1
Beberapa pangeran sangsi kalau Byeol bisa melakukannya, karena dia seorang perempuan. Apalagi dia bukan anggota keluarga istana. Mereka ribut dengan argumentasi masing-masing.
Braaak!
Wang So menggebrak meja.
"Apa kalian bisa memberi solusi selain hanya bicara merendahkan orang lain. Pertunjukkan kurang dua hari lagi?" ucap Wang So membantah mereka.
Melihat Wang So marah, para pangeran dan bangsawan tak berani membantah perkataannya. Wang Yo hanya tersenyum sinis selama perdebatan. Tuan Choi hanya diam melihat mereka memperdebatkan kemampuan Byeol. Mereka belum melihat kemampuan Byeol, pikir Tuan Choi. Sedangkan Byeol hanya berdiri menundukkan kepala di belakang ayahnya tanpa berkata sepatah pun.
"Baiklah kita biarkan saja gadis itu masuk ke dalam formasi," ucap Wang Yo akhirnya bersuara.
Mereka semua diam dalam hening sesaat dari perdebatan. Wang So menyetujui pendapat Wang Wook karena dia sudah melihat dengan mata kepala sendiri Byeol menari di bawah rinai hujan seperti yang dibawakan oleh Wang Jung. Itulah yang membuat Wang So tertarik dengan sosok Byeol waktu itu. Wang So mengingat kenangan bertemu dengan Byeol pertama kali. Wang So memandang Byeol. Tatapan mata mereka bertemu dan Byeol pun hanya diam lalu menundukkan pandangannya.
"Baiklah, kita coba Byeol ikut dalam formasi," putus Tuan Choi
"Abeoji," ujar Byeol dengan suara agak tercekat yang sebenarnya tak mau ikut campur.
Tapi bagaimana lagi, mereka sudah mengambil keputusan.
Wang Wook mengambil sebilah pedang kayu dan diletakkan di tangan Byeol. Wang Wook tersenyum sambil menganggukkan kepalanya pada Byeol untuk memberi semangat. Byeol hanya menatap laki-laki itu lalu memandang pada Tuan Choi. Ayahnya mengangguk memberi semangat lewat senyum yang terkembang. Lalu pandangannya beralih kepada Wang So, yang dipandang malah melihat dia sekilas lalu membuang mukanya. Byeol kecewa melihat reaksi Wang So. Byeol pun tak ambil pikir lalu menganggukkan kepala, setuju.
__ADS_1
Latihan dimulai. Tuan Choi mengajari gerakan kepada Byeol terlebih dahulu, dan nyatanya memang Byeol gadis yang cerdas. Dia bisa mengikuti dan mempelajari gerakan-gerakan yang diajarkan ayahnya dengan cepat. Lalu diteruskan dengan menggabungkan gerakan bersama para pangeran. Byeol lambat laun bisa menyesuaikan diri.
Senyum tipis merekah di sudut bibir Wang So ketika melihat Byeol. Begitu juga dengan Wang Wook, senyumnya mengembang tak lepas memandang Byeol. Gadis itu pun tersenyum membalas senyum lebar Wang Wook. Dua hari Byeol ikut berlatih. Penilaian orang akhirnya berubah terhadap Byeol, walau dia seorang perempuan, dia bisa melakukan semuanya dengan baik.