BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 31 JEBAKAN


__ADS_3

Feng Zhu berdiri di sebuah gazebo dekat kolam ikan di istana. Dia sedang menunggu seseorang. Tak lama kemudian datang Sunhwa di dampingi para dayang-dayang istana menghampiri laki-laki itu.


"Bagaimana isirahat Anda, Tuan?" tanya Sunhwa menyapa laki-laki itu


"Udara Goryeo lebih sejuk dibanding di Liao, saya bisa tidur nyenyak tadi malam," jawab Feng Zhu dengan posisi menghormat.


"Saya perhatikan Anda begitu menikmati acara hiburan tadi malam, Apakah ada yang menarik hati?" tanya Sunhwa.


"Perempuan-perempuan Goryeo benar-benar cantik-cantik seperti bunga. Begitu juga dengan Anda," ucap Feng Zhu.


Sunhwa tersenyum lalu memberi hormat begitu mendengar pujian Feng Zhu.


"Terima kasih atas pujiannya. Saya akan membalas pujian Anda nanti. Saya permisi," ucap Sunhwa lalu memberi hormat dan berlalu dari tempat itu.


Wajah Sunhwa berubah licik, senyum ramahnya hilang begitu menjauh dari laki-laki itu.


***


Seorang Kasim datang ke paviliun tamu menemui Feng Zhu. Begitu dipertemukan, kasim itu memberikan sebuah surat dari Sunhwa kepada Feng Zhu. Surat itu berisi bahwa Sunhwa akan mengirimkan "Bintang dari Goryeo" pada Feng Zhu nanti malam sebagai balasan pujian dari Feng Zhu. Laki-laki itu diminta datang ke sebuah tempat. Feng Zhu tersenyum dia paham apa maksud dari kata "bintang" itu. Dia tak sabar menunggu datangnya malam.


***


Malam itu Byeol baru saja keluar dari kediaman Wang Wook ketika seorang kasim berlari mengejar, dan memanggil namanya. Kasim itu memberitahu bahwa Byeol ditunggu oleh Sunhwa di paviliun di atas bukit di luar istana. Byeol tak menaruh curiga pada permintaan Sunhwa yang memintanya datang ke sebuah paviliun di sebuah bukit. Dia pun berjalan kaki sendiri menuju tempat yang di tentukan.


Byeol sudah sampai di paviliun itu. Rumah itu terlihat terang benderang, tapi tak ada seorang pun di situ. Tanpa ragu Byeol pun masuk ke dalam rumah. Byeol pikir mungkin Sunhwa datang terlambat. Byeol melihat sekeliling ruang itu. Byeol duduk menunggu kedatangan Sunhwa tanpa rasa curiga. Tak lama kemudian pintu rumah itu terbuka. Byeol mengira yang datang adalah Sunhwa. Tapi diluar dugaannya, Feng Zhu datang dengan wajah memerah karena mabuk.


Feng Zhu baru saja diundang jamuan makan oleh Sunhwa, dan akhirnya mabuk. Seorang kasim mengantarnya ke paviliun di atas bukit dan meninggalkannya di sana. Kasim itu berpesan pada Feng Zhu, bahwa "Bintang dari Goryeo" sudah menunggu di paviliun itu. Dengan semangat Feng Zhu pun membuka pintu rumah dan menemukan Byeol sedang duduk sendiri dalam ruang itu.


Byeol beringsut dari tempat duduknya ketika Feng Zhu mulai mendekat.


"Kau gisaeng yang dikirim oleh putri Sunhwa ... he he he cantik sekali," ucap Feng Zhu sambil mendekat pada Byeol.


Byeol langsung berdiri menjauh ketika bau minuman keras menyengat hidung.


"Anda ... mengapa Anda bisa sampai ke sini?" tanya Byeol masih heran karena yang datang bukanlah Sunhwa.


"Hal itu tak penting, yang penting sekarang adalah malam ini kita bersama," jawab Feng Zhu sambil tertawa terkekeh.

__ADS_1


"Apa yang Anda bicarakan," tanya Byeol sambil beringsut menjauh ketika Feng Zhu membelai pipi Byeol.


Semakin ditolak oleh Byeol, Feng Zhu semakin agresif mendekati Byeol. Tangan gadis itu pun di tahannya di lantai ketika Feng Zhu berhasil menjatuhkan Byeol. Tak kalah kuat, Byeol menendang ************ Feng Zhu. Laki-laki itu terjatuh dan menjerit kesakitan.


Byeol berdiri dan mengeluarkan pisau dari balik bajunya. Feng Zhu berdiri dan mulai menyerang Byeol yang tak mau tunduk. Sebuah perkelahian terjadi dan reflek Byeol menusukkan pisaunya pada laki-laki itu. Darah muncrat mengenai wajah Byeol. Pisau itu menancap tepat di jantung Feng Zhu. Feng Zhu pun menjemput maut.


Tak lama kemudian pintu paviliun terbuka dan prajurit istana datang menangkap Byeol yang masih syok dengan kejadian yang dialaminya. Mata Byeol terbelalak, tangannya masih memegang pisau berlumuran darah ketika para prajurit dan pengurus paviliun datang memergoki aksi Byeol.


"Ini jebakan ... ini jebakan ... lepaskan aku ... lepaskan aku," teriak Byeol meronta ketika para prajurit istana menangkap dan mengikatnya.


***


Kabar tentang kematian Feng Zhu dan ditangkapnya Byeol mulai menyebar. Raja dan pejabat istana mengadakan rapat mendadak karena kasus itu bisa menyebabkan batalnya perdamaian antara Goryeo dan Liao. Tian Zuo murka mendengar kabar temannya mati dibunuh seorang wanita penghibur. Dia meminta bertemu dengan raja dan meminta pelaku yang membunuh Feng Zhu dibawa ke Liao dan dihukum mati di sana, kalau tidak maka perang akan berkobar lagi. Raja Jeongjeong meminta Tian Zuo bersabar karena kasus itu harus diselidiki terlebih dahulu sebelum memutuskan sebuah hukuman untuk pelaku.


***


Wang Wook sedang di ruang kerjanya ketika Wang Jung datang menghadap dan mengabarkan bahwa Byeol sudah membunuh Feng Zhu. Wang Wook terkejut mendengar kabar itu, lalu dia diam berpikir. Dia mencurigai Sunhwa terlibat kasus ini, mengingat Byeol bukan orang yang dengan mudah membunuh orang. Tak mungkin Byeol melakukannya, atas motif apa? Sedangkan selama acara pertunjukkan untuk perdamaian, Byeol yang paling semangat agar perdamaian bisa diwujudkan. Tak mungkin Byeol akan menghancurkan impiannya sendiri. Wang Wook langsung berdiri dari duduknya dan pergi menemui Sunhwa.


***


"Byeol-ah," panggil Tuan Choi


Byeol pun menoleh dan mendekat ke jeruji.


"Abeoji."


"Anakku, wajahmu pucat. Apa yang terjadi sebenarnya," tanya Tuan Choi dengan suara bergetar karena sedih melihat kondisi anaknya.


"Aku baik-baik saja Abeoji. Bagaimana kondisi ibu?" tanya Byeol yang lebih mengkhawatirkan kondisi ibunya dibanding dirinya sendiri.


"Ibumu baik-baik saja. Dia belum tahu bahwa kau ada di sini," terang Tuan Choi bohong agar Byeol tak khawatir, karena fakta yang sebenarnya ibu Byeol sedang sakit karena memikirkan anak gadisnya.


"Syukurlah. Aku ingin Abeoji tetap menyimpan rahasia ini jangan sampai ibu tahu," ujar Byeol


"Ya ... Byeol-ah aku tahu kau pasti dijebak oleh seseorang. Kau tahu siapa dia?" tanya Tuan Choi


"Putri Sunhwa. Dia yang mengundangku malam itu untuk datang ke paviliun di bukit. Tapi dia tak datang. Orang Liao itu yang datang dan mencoba memperkosaku. Aku terpaksa melakukannya untuk membela diri," ungkap Byeol

__ADS_1


"Namun, tetap saja kau akan dipersalahkan, jika tak ada bukti sama sekali yang meringankanmu. Utusan Liao meminta pada raja agar kau dibawa ke Liao dan dihukum mati," terang Tuan Choi


"Hmm ... sudah takdirku, Mungkin saat itu aku harus kembali ke masa depan. Saatnya sudah dekat. Aku sampai di hilir kehidupanku, Abeoji," jawab Byeol tenang dan memahami keadaan dirinya.


Tuan Choi tiba-tiba menangis. Air matanya deras menetes. Tuan Choi memegang pipi anak gadisnya dari sela jeruji. Byeol pun akhirnya ikut menangis.


"Apakah kita akan berpisah dan takkan bertemu lagi Oh Man Se?" tanya Tuan Choi menyadari bahwa telah datang masa akan berpisah dengan Man Se yang ada dalam tubuh Byeol, "Aku akan berlutut di depan raja meminta pengampunan dan meminta agar kau tak dihukum mati," ujar Tuan Choi sambil menangis.


"Kupikir Abeoji tak perlu melakukannya," ujar Byeol di sela isak tangisnya.


Ayah dan anak itu menangis. Tangan mereka saling bertaut, seakan ingin saling memberi kekuatan dan dukungan.


***


Byeol duduk merenung sendiri di penjara setelah ayahnya pergi meninggalkannya. Dia berpikir tentang Wang So. Apa yang sedang laki-laki itu lakukan saat ini ketika dia dirundung masalah. Tapi Byeol berusaha untuk tetap tegar walau tak kuasa menahan butiran air matanya menetes lagi dari sudut matanya. Byeol merindukan laki-laki itu. Akhirnya Byeol tertidur karena kelelahan.


Byeol berjalan di sebuah lorong gelap. Di ujung lorong ada sebuah cahaya dan seseorang yang memanggilnya.


"Bangunlah Man Se-ah, semua orang menunggumu kembali," terdengar sebuah suara lembut seakan diucapkan dekat dengan telinganya.


Byeol berjalan sampai ujung lorong dan tiba-tiba dirinya ada di sebuah kamar berdinding putih. Di tengah ruang ada sosok perempuan berambut pendek sedang tertidur dengan alat bantu kehidupan yang menempel di tubuhnya. Dipandangnya sosok itu dengan raut sedih. Di sebelah perempuan yang terbaring ada seorang perempuan tua menggunakan penutup kepala. Dia duduk dengan tatapan iba.


"Itu aku?" batin Man Se dalam tubuh Byeol yang berjalan mendekat dan mencoba menyentuh sosok perempuan yang sedang berbaring di ranjang, tapi jemarinya menembus tubuh itu begitu saja.


Byeol tak bisa menyentuh tubuh Man Se. Sang Perempuan tua mengambil sebuah buku yang ada di atas lemari kecil dekat ranjang dan mulai membacanya. Suaranya merdu dan membuat Byeol terpana.


"Apakah itu sutera Budha? Aaah, bukan, tak mungkin dibaca dengan seindah itu," batin Byeol. Dia tetap berdiri memandang apa yang ada di hadapannya.


Braaak...braaak!


Sebuah suara pukulan pada kayu membuat Byeol terbangun, lalu membuka matanya. Byeol sadar, dia hanya bermimpi. Dilihatnya seorang penjaga penjara menyodorkan makanan dan minuman untuknya dengan wajah dingin. Penjaga itu keluar dan mengunci pintunya kembali. Byeol hanya memandang makanan di depannya tanpa selera.


***


Wang So sedang dalam perjalanan pulang ke Goryeo dengan mengendarai kuda. Dia langsung pulang begitu mendapat kabar dari utusan Wang Jung yang mengatakan bahwa Byeol sedang dalam masalah.Wajahnya terlihat cemas akan nasib perempuan yang dicintainya. Wang So dan beberapa pengawalnya mengendarai kuda-kuda pilihan melaju cepat menempuh perjalanan Pyeongyang ke Songak. Perjalanan yang membutuhkan waktu berhari-hari.


Tuan Choi duduk di halaman balai agung raja meminta pengampunan untuk Byeol. Sudah dua hari laki-laki tua itu memohon tanpa beranjak sedikit pun dari tempat duduknya. Sampai akhirnya dia roboh dan pingsan. Wang Jung dan Wang Wook yang mengawasi aksi Tuan Choi akhirnya membantu laki-laki itu kembali ke rumah. Raja tak bergeming dengan keputusannya. Byeol akan dibawa ke Liao dan dihukum mati di sana. Tak ada bukti yang bisa meringankan Byeol, karena memang saksi melihat Byeol masuk ke rumah itu sendiri. Saksi itu adalah pengurus paviliun yang sudah dibayar oleh seseorang untuk bersaksi palsu.

__ADS_1


__ADS_2