BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)

BINTANG MERAH DI LANGIT GORYEO (The Scent Of Life 2)
BAB 15 UJIAN MENDADAK


__ADS_3

Para prajurit wanita berlatih fisik memanggul seikat besar jerami di punggung sambil naik turun gunung. Dalam kondisi cuaca panas terik, keringat mereka bercucuran. Mereka harus terbiasa dengan kondisi itu, agar mudah membawa teman mereka yang terluka apabila perang terjadi.


Tak mudah bagi Byeol menjalani semua itu, tapi dia harus bertahan. Bahkan beberapa teman satu kamarnya sempat menangis tiap malam karena menderita dan merindukan kampung halaman. Dia menjadi prajurit, karena dia ingin meringankan beban orang tuanya yang miskin. Ada juga yang langsung jatuh sakit karena tak terbiasa dengan latihan yang keras. Ada yang menjadi prajurit karena dipaksa orang tuanya daripada di jual menjadi gisaeng. Ada yang memang dengan senang hati menjadi prajurit, karena mereka hidup di jalanan. Rata-rata mereka tak punya orang tua atau sanak saudara lagi. Sedangkan dirinya benar-benar merindukan orang tua dan rumahnya. Sudah enam bulan tak terasa. Bagaimana kabar Wang So? Bahkan dia tak sempat berpamitan dan memberi kabar tentang keberadaannya di asrama.


"Kita istirahat sebentar di sana. Di depan sana ada sungai. Kalian boleh mandi, dan minum sepuasnya," teriak Nona Park


Suara Nona Park menyadarkan lamunan Byeol tentang kawan-kawannya. Para prajurit wanita berteriak kegirangan, begitu juga dengan Byeol. Akhirnya mereka mempercepat langkah agar cepat tiba di sungai.


Mereka langsung menyeburkan diri ke sungai dan berenang dengan gembira. Nona Park memang baik hati, itu yang ada dalam pikiran mereka. Nona Park tersenyum lebar melihat para anak buahnya gembira bermain air sambil melepas penat.


Byeol dan Hwa Young duduk di sebuah batu sambil merendam kaki. Sekelompok prajurit yang lain sedang duduk bergerombol di seberang mereka. Suara mereka terdengar jelas sedang membicarakan para anggota istana terutama para pangeran.


"Eh, kalian tahu, kemarin aku sempat mendengarkan bahwa akan ada inspeksi mendadak dari istana. Kalian tahu siapa yang akan datang?" cerita seorang gadis memulai pembicaraan mereka.


Para prajurit yang lain terlihat antusias mendengarkan.


"Yang mulia Wang Jung,"lanjut gadis itu.


Semua gadis gembira mendengar siapa yang akan datang. Mereka membicarakan dan menyanjung-nyanjung pangeran Wang Jung. Bak seorang idola. Bahkan mereka akan mempersiapkan hal-hal yang akan menarik perhatian pangeran itu.


Byeol dan Hwa Young mendengarkan pembicaraan mereka. Byeol melihat raut muka Hwa Young berubah menjadi murung dan kesal.


"Huuh, norak," dengus Hwa Young.


Gadis itu memukulkan kayu yang dibawanya ke air hingga tempias mengenai sekumpulan gadis-gadis yang sedang membicarakan Wang Jung. Para gadis berteriak protes. Hwa Young berdiri lalu pergi dari tempat itu. Byeol merasa heran dan berlari mengejar HwaYoung.


"Ada apa? Apa kau marah?" tanya Byeol begitu berhasil menyusul Hwa Young yang duduk di bawah pohon. Wajah Hwa Young masih kesal.


"Aku tak marah, hanya sedang tak ingin mendengar nama itu saja," jelas Hwa Young.


Belum sempat Hwa Young melanjutkan penjelasannya terdengar suara riuh dan denting pedang dari arah sungai. Byeol dan Hwa Young terdiam, lalu segera berlari ke arah sungai. Mereka secara hati-hati memeriksa keadaan. Terlihat oleh mereka sungai sudah sepi dari manusia, hanya onggokan jerami-jerami yang tertinggal. Byeol dan Hwa Young turun bukit perlahan untuk memeriksa keadaan. Dilihatnya jejak-jejak orang, dan ranting patah menandakan ada orang yang lewat di situ. Byeol diam tak bergerak karena merasa ada orang yang mengawasi mereka. Tiba-tiba sekelompok laki-laki memakai penutup muka menyerang dari tempat tersembunyi. Perkelahian tak terelakkan. Satu persatu laki-laki itu berhasil disabet pedang, dan terkapar. Satu orang yang melarikan diri dilempar pisau oleh Hwa Young dan terkena di bagian kakinya, lalu jatuh ke tanah.


"Siapa kalian? Kemana kalian membawa para prajurit yang lain?" tanya Byeol


Laki-laki itu diam dan tak menjawab. Dari kejauhan ada See Hee yang berlari mendekat.


"Apa yang terjadi?" tanya See Hee


"Para prajurit di sungai menghilang. Mereka juga melakukan penyergapan kepada kami,"


"Ikat dia," perintah See Hee.


Hwa Young pun patuh berusaha mengikat laki-laki yang terluka itu. Tapi tiba-tiba See Hee memukul tengkuk Hwa Young. Byeol pun terkejut melihat aksi See Hee.


"See Hee, kenapa ...?" tanya Byeol belum selesai, tapi dia juga pingsan setelah seseorang juga memukul tengkuknya dari belakang.


***


Byeol berusaha membuka matanya. Pandangannya buram. Dia geleng-gelengkan kepalanya berusaha untuk mengembalikan kesadarannya. Dia terkejut ketika melihat ternyata mereka berdua diikat di badan dan digantung di sebuah gudang.

__ADS_1


Hwa Young belum sadarkan diri. Byeol kesal dengan kondisinya yang tak berdaya. Makin kesal lagi ketika dia ingat sosok See Hee yang menjebak mereka, sebelum dia pingsan terkena pukul di tengkuk. Kepalanya masih pusing.


"Young-ah ... Young-ah!" panggil Byeol sambil menendangkan kakinya ke kaki Hwa Young di sebelahnya. Hwa Young akhirnya sadarkan diri. Dia juga merasa terkejut dengan kondisi yang terjadi.


"Apa yang terjadi? Siapa mereka?" tanya HwaYoung.


"Sebaiknya kita tak memikirkan dulu hal itu. Kita cari cara agar bisa lepas dari ikatan ini lalu turun," ucap Byeol.


Byeol memikirkan cara agar bisa lepas. Dia punya ide agar ikatan tali di badan bisa lepas.


"Young-ah, apakah mulutmu bisa menjangkau ikatan rambutku? Ambil tusuk konde rambutku. Ambil dengan mulutmu," perintah Byeol pada Hwa Young.


Hwa Young pun berusaha mendekat pada Byeol, tapi seakan sia-sia. Badan mereka yang tergantung jadi terayun-ayun. Lalu dilingkarkannya kakinya pada tubuh Byeol ketika posisi mereka saling berdekatan.


"Dekatkan kepalamu," pinta HwaYoung.


Byeol berusaha menekuk badannya sedemikian rupa agar Hwa Young mudah menjangkau kepalanya. Susah payah Hwa Young menarik tusuk konde Byeol. Akhirnya dia berhasil mengambil tusuk konde sederhana milik Byeol.


"Jatuhkan ke tanganku. Sini!" perintah Byeol sambil membalikkan badannya, memunggungi Hwa Young agar menjatuhkan tusuk konde itu ke tangan Byeol.


"Hati-hati. Kesempatan hanya sekali. Bila gagal, maka tak ada cara lain agar kita bisa lepas dari ikatan ini," ingat Byeol.


Hwa Young gugup, dan mendekat sedemikian rupa agar mukanya mendekat di tangan Byeol yang terikat di belakang pungggung. Satu dua tiga...


Slaaap!


Tusuk konde itu berhasil jatuh dan tertangkap tangan Byeol. Ditariknya ujung tusuk konde itu, dan sebilah pisau kecil dikeluarkan darinya.


Bruuugh!


Byeol jatuh ke tanah. Kakinya sakit, membuat dia meringis kesakitan.


"Byeol, cepat putuskan tali yang terikat di tiang itu," pinta Hwa Young agar Byeol memutus tali yang menahan badan Hwa Young tetap tergantung.


Ketika Byeol melangkah mendekati tiang untuk memutus tali, tiba-tiba masuk seorang laki-laki berbaju hitam ke dalam gudang. Melihat Byeol yang berhasil lepas, si Baju Hitam mendekat seakan mengancam Byeol. Dalam sekejap perkelahian terjadi. Laki-laki itu terjatuh ke belakang terkena tendangan. Byeol pun mengambil kesempatan untuk memutus tali yang mengikat Hwa Young. Tali itu pun putus, tapi belum sempat Hwa Young turun dengan selamat ke tanah, si Baju Hitam menyerang kembali.


Perkelahian kembali terjadi membuat Hwa Young tertarik ke atas kembali. Byeol tak kuat lagi menahan berat badan Hwa Young. Akhirnya dia melepaskan tali yang dipegangnya. Hwa Young jatuh ke bawah. Dia meringis kesakitan.


Byeol mengambil sebuah kayu dan menyerang laki-laki itu. Dalam kondisi lengah, si Baju Hitam berhasil dipukul jatuh oleh Byeol, dan akhirnya pingsan. Melihat lawan sudah kalah, Byeol pun membantu melepas ikatan tangan Hwa Young.


Mereka bersiap untuk keluar gudang ketika beberapa orang masuk menghadang jalan mereka. Byeol dan Hwa Young bersiap memulai pertarungan, tapi terhenti ketika seorang laki-laki yang Byeol kenal masuk bersama Nona Park dan See Hee. Laki-laki itu Pangeran Wang Jung.


"Yang mulia," ucap Byeol spontan karena terkejut melihat siapa yang datang.


Wang Jung terkejut melihat dua orang perempuan yang ada di hadapannya. Raut wajahnya tetap berusaha menunjukkan ketenangan. Dia tak menyangka dua orang prajurit wanita yang terakhir tertangkap dalam ujian sebagai prajurit adalah Byeol dan Hwa Young.


"Nona Park, apakah hanya ini saja kemampuan anak buahmu?" tanya Wang Jung.


"Yang Mulia, hamba pantas dihukum," jawab Nona Park yang merasa tak mampu mendidik dan melatih para prajuritnya dengan baik. Semua prajurit wanita berhasil ditangkap dan disergap dalam ujian mendadak yang diberikan oleh Wang Jung.

__ADS_1


Byeol mencoba mencerna apa yang terjadi dan akhirnya bisa memahaminya. Semua hal yang terjadi hanyalah sebuah jebakan untuk menguji kemampuan para prajurit wanita.


"Kita kembali ke asrama. Semuanya pergi. Byeol kau tetap di sini," perintah Wang Jung.


Semua orang pergi keluar dari gudang. Byeol melihat Hwa Young berjalan keluar gudang dengan tatapan mata yang sendu, ketika berjalan melewati Wang Jung. Laki-laki itu berjalan menuju ke arah Byeol. Ditatapnya Byeol lurus-lurus.


"Gadis bodoh, kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Wang Jung


"Hamba mendapat perintah langsung dari yang mulia raja," jawab Byeol


Wang Jung merasa masygul dengan pilihan Byeol.


"Kau tahu konsekuensi seorang prajurit harus siap mati di medan perang?" tanya Wang Jung.


"Apakah kau takkan menyesal kelak?" tanya Wang Jung lagi.


"Kalau memang itu sudah takdir hamba. Hamba akan jalani sampai akhir,"jawab Byeol


"Baiklah kalau itu pilihan hidupmu. Aku akan berada di sisimu," terang Wang Jung.


Mata Byeol menangkap sosok Hwa Young yang ternyata masih berdiri di depan pintu gudang. Wajahnya terlihat sedih memandang mereka berdua. Byeol merasa tak enak hati


"Young-ah," panggil Byeol begitu melihat Hwa Young di depan pintu gudang.


"Hamba pamit undur diri, yang mulia," ucap Byeol meninggalkan Wang Jung, lalu mengejar Hwa Young yang pergi dengan wajah sedih.


Wang Jung memanggil Byeol, tapi gadis itu tak mempedulikannya.


Byeol mengejar Hwa Young sampai ke kamar asrama. Dilihatnya Hwa Young duduk menyendiri sambil meneteskan airmata.


"Young-ah, Ada apa? Apa kau marah padaku?" tanya Byeol


Hwa Young tetap tak bergeming, dan masih terus menangis.


"Ceritakan padaku. Ada apa sebenarnya?" tanya Byeol.


Hwa Young mengambil pedang dalam kotak lalu diberikan kepada Byeol. Byeol mengambil pedang itu dan melihat hiasan pedang itu terlihat familiar baginya. Hiasan pedang itu sama dengan milik Wang Jung.


"Yang mulia Wang Jung, dia sahabat kakakku. Kami tumbuh sama-sama di istana. Sampai akhirnya kakakku mati karena melindungi Wang Jung di medan perang. Sejak saat itu Wang Jung tak pernah menemuiku, aku merasa sendirian. Sejak ayah ibu meninggalkan kami selamanya, aku tak punya siapa-siapa lagi selain kakak. Aku benci Wang Jung. Setiap kali melihatnya entah kenapa hatiku terasa campur aduk antara kesedihan dan kebencian. Aku mencintainya Byeol-ah, tapi aku juga membencinya, karena selama ini dia tak menghiraukanku lagi," terang Hwa Young di sela isak tangisnya.


Byeol diam tak bisa berkomentar apa-apa.


"Young-ah ... maafkan aku. Berusahalah berlapang dada untuk menerima takdir hidupmu. Aku akan bicarakan hal ini padanya," ujar Byeol beranjak berdiri.


Hwa Young pun menahan Byeol agar tidak melakukan apapun. Dia gelengkan kepalanya tanda tak setuju. Byeol pun mengalah dan tak melakukan apa-apa. Byeol menggenggam erat tangan Hwa Young untuk menguatkan hati gadis itu.


***


Waktu berjalan terasa lambat. Byeol banyak belajar memainkan berbagai macam senjata. Dia juga berlatih fisik setiap hari. Di pergelangan kakinya juga diberi beban agar terbiasa dengan kondisi medan yang berat. Mereka belajar membuat ramuan obat-obatan bersama Nyonya Joo yang ternyata dulu juga seorang tabib istana. Byeol juga belajar membuat teh, menyulam, seni dan alat musik bersama Nyonya Soo.

__ADS_1


Suatu hari Nyonya Joo memberi sebuah pengumuman bahwa para prajurit boleh pulang kampung selama beberapa hari. Byeol merasa gembira bisa pulang. Namun, tiba-tiba Nyonya Joo memberi sebuah surat dari Ratu Janghwa bahwa Byeol harus ikut serta dalam perburuan ke hutan yang akan diadakan istana. Byeol merasa berat hati, tapi sudah menjadi pilihannya untuk memenuhi permintaan raja agar selalu berada di sisi Ratu Janghwa, maka dia harus melaksanakan titah itu.


__ADS_2